NovelToon NovelToon
Dibuang Di Jalan Tol, Mantan Suami Memohon Ampun

Dibuang Di Jalan Tol, Mantan Suami Memohon Ampun

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Hadid Salman

Hanya karena latar belakangnya yang miskin, Naya selalu menjadi keset kaki di rumah suaminya, Reza. Puncaknya, Ningsih—sang ibu mertua—menuduh Naya mencuri uang puluhan juta rupiah. Tanpa mau mendengarkan penjelasan, Reza yang telanjur murka menurunkan Naya begitu saja di pinggir jalan tol yang sepi dan gelap.
Mereka tidak tahu bahwa Naya bukanlah wanita lemah tanpa kuasa. Di balik penampilannya yang sederhana, Naya adalah pewaris tunggal konglomerat yang sedang menyamar.


Langkah demi langkah, Naya mulai membalas. Mulai dari membekukan rekening, memecat Reza dari posisinya di perusahaan, menyita mobil, hingga mengusir mertuanya dari rumah mewah yang ternyata dibeli dengan uangnya. Di saat Reza dan Ibunya jatuh miskin dan mengemis di jalanan, sebuah kebenaran pahit terungkap: pencuri asli uang Ningsih adalah bukan Naya Saat penyesalan datang, pintu maaf Naya sudah tertutup rapat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eksekusi Tanpa Suara

Keheningan di dalam ruang rapat utama PT Sinar Surya kini terasa lebih padat, seolah udara dingin dari pendingin ruangan telah membeku menjadi kristal-kristal es yang siap menyayat kulit. Di bawah tatapan ratusan pasang mata yang menahan napas, Reza Adijaya berdiri layaknya seorang terdakwa di hadapan tiang gantungan.

Bibirnya yang gemetar mencoba merapal nama yang pernah ia hinakan, namun lidahnya kelu, terkunci oleh rasa syok yang teramat sangat.

"N-Naya... bagaimana... bagaimana bisa..."

Suara Reza begitu tipis, nyaris menyerupai desis angin yang lolos dari celah pintu yang rusak. Seluruh keberanian yang beberapa menit lalu ia kumpulkan untuk menyambut "sang pewaris Atmadja" kini menguap tanpa bekas, meninggalkan raga yang mendadak terasa hampa dan rapuh.

Naya tidak menjawab bisikan parau itu. Ia bahkan tidak memberikan kepuasan kepada Reza dengan membalas tatapan matanya yang penuh keputusasaan. Bagi Naya, pria di hadapannya kini tak lebih dari sebuah berkas usang yang harus segera diselesaikan.

Ia membuka map kulit hitam yang diletakkan Baskara di depannya. Gerakan jemarinya yang lentik dan bersih begitu anggun, berhiaskan kuku-kuku yang terawat tanpa cacat.

"Pagi ini, kita berkumpul bukan hanya untuk menyambut transisi kepemimpinan," suara Naya mengalun datar, namun gema mikrofon di meja rapat membuat setiap kata yang diucapkannya terdengar seperti dentang lonceng pengadilan. "Tetapi juga untuk melakukan pembersihan internal. Saya tidak menyukai parasit di dalam rumah saya, begitu pula saya tidak akan membiarkan benalu merusak fondasi PT Sinar Surya."

Mendengar kata "parasit" dan "benalu", jantung Reza serasa dihantam palu godam. Kata-kata itu adalah kata yang sama yang sering ia dan ibunya lemparkan kepada Naya di meja makan mereka. Kini, kata-kata itu membalas dengan kecepatan ganda, menghantam ulu hatinya hingga menimbulkan rasa mual yang hebat.

Naya melirik Baskara, memberikan isyarat halus dengan anggukan kepalanya.

Baskara segera menekan tombol pengendali di tangannya. Layar proyektor raksasa di dinding belakang Naya menyala seketika, menampilkan grafik-grafik keuangan dan laporan operasional divisi logistik selama tiga tahun terakhir. Di bagian atas layar, terpampang foto Reza dengan tulisan tebal: LAPORAN EVALUASI KINERJA DIVISI LOGISTIK - REZA ADIJAYA.

"Pak Reza Adijaya," Naya menyebut nama suaminya dengan dingin. "Dalam tiga tahun terakhir, Anda selalu membanggakan bahwa divisi logistik berada di bawah kendali Anda yang tanpa cacat. Anda selalu mengklaim bahwa pencapaian target adalah buah dari kecerdasan kepemimpinan Anda."

Reza menelan ludah yang terasa seperti duri di tenggorokannya. "N-Naya... maksud saya, Nona Muda... laporan itu... semua target tercapai dengan baik..."

"Tercapai?" Naya menyela, suaranya naik setengah oktav, memotong pembelaan Reza bagaikan pisau bedah yang membelah jaringan busuk. "Mari kita lihat apa yang ada di balik angka-angka indah ini."

Naya mengetuk permukaan meja mahoni dengan ujung pena bulu emasnya.

"Berdasarkan audit independen yang dikirimkan oleh kantor pusat subuh tadi, terdapat ketidaksesuaian laporan keuangan yang sangat masif di divisi Anda. Sejak kuartal kedua tahun lalu, terdapat kebocoran dana operasional sebesar dua puluh persen pada jalur distribusi Sumatra dan Jawa."

Layar proyektor berganti menampilkan rincian transaksi ilegal, kuitansi ganda, dan manipulasi biaya bahan bakar armada logistik yang selama ini disembunyikan Reza dengan rapi di bawah karpet jabatannya.

"Anda memangkas anggaran perawatan armada truk demi menekan biaya pengeluaran, yang mengakibatkan tiga kecelakaan fatal di jalur lintas Sumatra dalam enam bulan terakhir. Dan di saat yang sama..." Naya menatap Reza dengan sorot mata yang begitu menusuk, seolah mampu menembus tulang rusuk pria itu dan membaca seluruh kebohongannya. "...Anda mencairkan dana representasi jabatan sebesar seratus lima puluh juta rupiah setiap bulannya untuk menjamu 'klien fiktif', yang setelah kami selidiki, mengalir langsung ke rekening pribadi Anda untuk membayar cicilan klub golf dan gaya hidup sosialita ibu Anda."

Bisik-bisik riuh langsung pecah di antara jajaran direksi. Beberapa direktur senior menatap Reza dengan pandangan jijik dan murka. Rian, yang berdiri di samping Reza, perlahan-lahan menggeser posisinya menjauh, seolah-olah Reza adalah pasien penyakit menular yang harus dihindari agar dirinya tidak ikut binasa.

"Tidak... itu tidak benar! Ini fitnah!" teriak Reza spontan, kepanikannya mengalahkan akal sehatnya. "Seseorang telah memanipulasi data ini! Naya, kamu sengaja melakukan ini untuk membalas dendam padaku, kan?! Kamu menggunakan kekuasaanmu untuk menghancurkanku!"

Mendengar tuduhan Reza, suasana ruangan mendadak menjadi senyap kembali. Keberanian Reza yang konyol itu justru membuat para direksi memandangnya seperti orang gila yang sedang menggali kuburnya sendiri.

Naya tersenyum tipis. Sebuah senyuman yang tidak sampai ke matanya.

"Pak Reza, di ruangan ini, saya adalah Anindya Naya Atmadja, CEO Anda. Dan data yang Anda lihat di layar adalah data hukum yang telah divalidasi oleh Otoritas Jasa Keuangan serta divisi audit forensik Atmadja Group," ujar Naya, suaranya tetap tenang tanpa emosi sedikit pun, kontras dengan Reza yang napasnya memburu bagai binatang buruan yang terpojok.

Naya mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Reza dengan kejam. "Anda terlalu terbiasa tidur di atas bantal kemewahan yang saya sediakan, hingga Anda lupa bagaimana caranya bekerja dengan jujur. Anda menganggap remeh pekerjaan Anda karena Anda merasa posisi Anda aman di bawah naungan Atmadja Group—yang tanpa Anda sadari, adalah milik wanita yang Anda sebut sebagai 'tikus selokan'."

Pukulan verbal itu mendarat dengan telak. Reza limbung. Ia merasa seolah bumi di bawah kakinya baru saja terbelah, memperlihatkan jurang api yang siap menelannya bulat-bulat.

Baskara melangkah maju, meletakkan selembar kertas putih tebal di atas meja di hadapan Naya. Kertas itu memiliki kop surat resmi PT Sinar Surya dengan garis batas merah di sekelilingnya.

Di bagian tengah atas, tertulis dengan huruf kapital tebal: SURAT PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA KARENA PELANGGARAN BERAT (PHK).

"Berdasarkan pelanggaran berat, manipulasi data, dan penyalahgunaan wewenang jabatan yang merugikan perusahaan sebesar miliaran rupiah," suara Naya mengalun dengan kepastian yang mutlak, "PT Sinar Surya, di bawah wewenang penuh dari Atmadja Group, menyatakan bahwa mulai detik ini, masa bakti Anda sebagai Manajer Logistik telah berakhir."

Naya mengambil pena bulu emasnya. Tanpa ragu sedikit pun, ia menorehkan tanda tangannya yang meliuk tajam di atas kertas tersebut. Bunyi goresan pena di atas kertas linen tebal itu terdengar bagai gesekan pedang algojo yang memutus kepala korbannya.

Sret.

Tanda tangan selesai. Hidup Reza sebagai eksekutif sukses telah resmi mati.

"Ini adalah surat pemecatan Anda, Pak Reza Adijaya," ujar Naya seraya menutup map tersebut dengan bunyi debuman yang dingin. "Tanpa pesangon. Dan seluruh berkas manipulasi keuangan Anda telah diserahkan kepada divisi hukum kami untuk diproses ke jalur pidana."

"Naya! Tolong, jangan lakukan ini!" Reza akhirnya kehilangan seluruh harga dirinya. Ia jatuh berlutut di lantai marmer yang dingin, merayap beberapa senti mendekati ujung meja oval tempat Naya duduk. Air matanya yang semula enggan keluar kini menetes, membasahi pipinya yang pucat. "Aku suamimu, Naya! Kita sudah tiga tahun bersama! Maafkan aku... maafkan ibuku... kami khilaf!"

"Suami?" Naya menatap Reza dari ketinggian singgasananya, tatapannya sedingin es utara yang tak pernah tersentuh matahari. "Suami mana yang menampar istrinya hingga berdarah hanya karena fitnah tanpa bukti? Suami mana yang membuang istrinya di bahu jalan tol yang gelap gulita di tengah malam?"

Naya berdiri dari kursinya, merapikan blazer hitamnya yang licin tanpa cela.

"Saya tidak memiliki suami yang kerdil dan pengecut seperti Anda, Pak Reza. Suami saya telah mati di KM 26 dua malam yang lalu."

Naya berbalik, melangkah meninggalkan ruang rapat tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Baskara berjalan di sampingnya, sementara dua ajudan berbadan tegap segera melangkah maju, mencengkeram lengan Reza yang masih bersujud di lantai dan menyeretnya keluar dari ruangan layaknya seonggok sampah yang mengotori keindahan kuil Atmadja.

1
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 rasain kesombongan dan keangkuhan kamu dan ibumu Reza
sunaryati jarum
Kok banyak cerita seperti ini, karena saking cintanya atau menguji kesetiaan pasangan
Grey Casanova: ceritanya pasaran dong kak🤭🤭
total 1 replies
sunaryati jarum
Baru mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!