Nexus Academy bukan sekolah biasa. Hanya 1% siswa terbaik yang berhasil diterima setiap tahun. Dari lebih dari 120.000 pendaftar, hanya 600 siswa yang lolos melewati serangkaian tes yang hampir mustahil: tes logika ekstrem, simulasi kepemimpinan, wawancara psikologi, ujian ketahanan mental, hingga permainan strategi yang membuat ribuan peserta menyerah sebelum mencapai gerbang sekolah.
Mereka yang diterima disebut sebagai Elite One.
Namun tidak semua yang masuk mampu bertahan.
Setiap semester, siswa dengan nilai, etika, atau mental terburuk akan dikeluarkan tanpa kesempatan kedua. Di sekolah ini, tidak ada teman yang benar-benar bisa dipercaya. Tidak ada kemenangan tanpa pengorbanan dan tidak semua siswa jenius adalah orang baik. Sebuah rahasia yang membuat beberapa alumni menghilang tanpa jejak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 36: Surat Tanpa Nama
Atharva menatap amplop cokelat itu dengan dahi berkerut. Amplop tersebut tergeletak tepat di atas meja belajarnya, di antara tumpukan catatan taktis yang sedang ia pelajari. Tidak ada tanda-tanda kamera yang merekam siapa yang meletakkannya di sana seolah-olah benda itu muncul melalui celah dalam realitas.
Ia menarik keluar secarik kertas kaku dari dalamnya. Tulisan di atasnya rapi, tegas, namun terasa sangat dingin: “Berhentilah mencari Alvaro jika ingin tetap hidup.”
Di sudut kiri bawah kertas, sebuah lambang tercetak dengan tinta perak yang memantul di bawah cahaya lampu: Veritas Lux Fortuna. Kebenaran, Cahaya, Keberuntungan.
Nama itu mengirimkan getaran instan ke tulang belakang Atharva. Ia pernah melihat lambang itu sekali, tertanam samar di balik dinding kaca ruang direktur pada hari pertama orientasi. Itu adalah moto rahasia yang tidak pernah diajarkan di kelas sejarah akademi; itu adalah simbol dari kelompok elite yang mengendalikan Nexus jauh sebelum algoritma NRS diaktifkan.
"Alvaro..." gumam Atharva pelan.
Sebelum ia sempat memikirkan langkah selanjutnya, pintu asrama diketuk dengan irama yang sangat ritmis tiga kali ketukan panjang, dua kali ketukan pendek. Itu bukan cara para pengawas mengetuk. Itu adalah sandi yang pernah ia pelajari dari catatan kecil di Sektor 9-G.
Atharva membuka pintu dan mendapati Keisya berdiri di sana dengan wajah yang sangat tegang, disusul oleh Nabila yang tampak hampir menangis.
"Keisya? Apa yang terjadi?" tanya Atharva, namun ia tidak menunggu jawaban. Ia membiarkan mereka masuk dan segera menutup pintu rapat-rapat.
"Mereka akan memisahkan kita, Atharva," ucap Keisya tanpa basa-basi, suaranya bergetar menahan amarah. "Sistem mengeluarkan perintah pemindahan kelas secara mendadak. Mereka tahu kita terlalu kuat jika tetap bersama. Mereka ingin menghancurkan koordinasi kita sebelum kita bisa menemukan jawaban di Sektor 9-G."
Atharva tidak menunjukkan keterkejutan. Ia hanya menunjukkan secarik kertas dengan lambang Veritas Lux Fortuna kepada mereka.
Mata Keisya membelalak. "Di mana kau mendapatkan ini?"
"Di mejaku. Seseorang atau sesuatu sedang mencoba memperingatkanku, atau mungkin mengancamku agar tidak membawa kalian lebih jauh ke dalam lubang kelinci ini," jawab Atharva. Ia meremukkan kertas itu di tangannya, namun api di matanya justru menyala semakin terang. "Mereka mengirim surat ini karena mereka takut. Jika mereka benar-benar ingin kita mati, mereka tidak akan repot-repot menulis surat peringatan. Mereka akan langsung melenyapkan kita seperti yang mereka lakukan pada angkatan sebelumnya."
"Tapi bagaimana dengan perintah pemindahan kelas itu?" tanya Nabila cemas. "Jika kita dipisahkan besok pagi, kita tidak akan pernah bisa bertemu lagi di luar pengawasan ketat."
Atharva berjalan menuju papan tulis di sudut kamar, menggambar denah jalur ventilasi bawah tanah yang ia pelajari dari pad digital pemberian Bu Maya. "Mereka memisahkan kita untuk melemahkan kita. Maka, kita akan berpura-pura patuh."
"Apa maksudmu?" tanya Keisya, menatap Atharva dengan bingung.
"Biarkan mereka memindahkan kita," lanjut Atharva dengan nada dingin yang penuh rencana. "Saat mereka sibuk dengan proses administrasi pemindahan besok pagi, seluruh sistem keamanan sekolah akan mengalami beban overload karena sinkronisasi data angkatan. Itulah celah kita."
Atharva menoleh ke arah mereka, wajahnya kini terlihat lebih dewasa dan kejam dari sebelumnya. "Kita tidak akan mencari Alvaro lagi mulai malam ini. Kita akan mencari bagaimana cara meruntuhkan pusat kendali yang menggunakan nama Veritas Lux Fortuna itu. Jika mereka ingin kita berhenti, maka kita akan memastikan bahwa merekalah yang tidak akan pernah bisa melanjutkan permainan ini."
Atharva menyadari bahwa surat itu bukan hanya peringatan, melainkan sebuah undangan untuk perang terbuka. Malam ini, ia tidak akan menemui Leonard di Sektor 9-G sebagai pengikut. Ia akan pergi ke sana sebagai seseorang yang sudah tidak lagi takut pada ancaman eliminasi, karena ia tahu bahwa kematian fisik di Nexus hanyalah awal dari sesuatu yang jauh lebih mengerikan dan ia akan memastikan dirinya tidak akan menjadi bagian dari koleksi data mereka.
...****************...
Atharva menatap papan tulis itu sekali lagi, memastikan setiap titik jalur evakuasi yang ia gambar terekam sempurna di dalam ingatannya. Ia tahu, sekali ia melangkah keluar dari asrama malam ini, tidak ada jalan kembali. Ia tidak akan lagi menjadi siswa yang mengejar peringkat, melainkan seorang penyusup yang mengejar kebenaran.
"Nabila," panggil Atharva, suaranya kini tenang namun tajam. "Aku butuh kau melakukan satu hal. Besok pagi, saat proses pemindahan dimulai, kau harus meretas terminal admin asrama. Bukan untuk membatalkan perintah pemindahan, tapi untuk mengubah log data kita. Buat seolah-olah kita telah menerima perintah tersebut, tapi arahkan sistem ke koordinat asrama kosong di sayap utara."
Nabila menelan ludah, tangannya yang memegang pad tampak gemetar. "Itu artinya aku harus memanipulasi master server akademi dari dalam. Jika ketahuan, aku akan langsung dieksekusi, bukan lagi dieliminasi."
"Aku tahu," sahut Atharva. "Tapi itu satu-satunya cara agar kita memiliki waktu luang selama beberapa jam sebelum sistem menyadari ada data yang tidak sinkron."
Keisya menatap Atharva, menyadari bahwa rencana ini jauh lebih berbahaya daripada yang ia bayangkan. "Dan kau? Kau tetap akan pergi ke Sektor 9-G malam ini untuk menemui Leonard?"
"Ya," jawab Atharva sambil mengenakan jaket almamaternya. Ia memasukkan potongan kertas berlogo Veritas Lux Fortuna ke dalam saku, menjadikannya pengingat akan musuh yang sebenarnya. "Leonard adalah kunci. Dia mungkin menjadi budak sistem, tapi dia memiliki akses yang tidak dimiliki siapa pun. Jika dia memanggilku, artinya dia sudah tidak bisa lagi membendung rahasia itu sendirian. Dia butuh seseorang yang berani menghancurkan segalanya."
"Jangan kembali dengan tangan kosong, Atharva," bisik Keisya, matanya berkaca-kaca namun penuh keteguhan.
Atharva mengangguk. Ia tidak mengucapkan kata perpisahan. Ia tahu bahwa kata-kata hanya akan melemahkan tekad mereka. Ia mendekati pintu, memastikan lorong di luar asrama sepi melalui kamera pengintai yang ia retas sebelumnya.
Begitu pintu terbuka, ia melesat keluar. Koridor asrama terasa lebih panjang dari biasanya, disinari cahaya lampu neon yang berkedip-kedip tak beraturan. Setiap langkahnya terasa seperti menantang hukum gravitasi dan algoritma yang mengatur setiap detak jantung di akademi ini.
Saat ia sampai di pintu servis yang mengarah ke bagian bawah tanah, Atharva berhenti sejenak. Ia melihat sekeliling. Tidak ada penjaga. Tidak ada kamera. Itu terlalu mudah sebuah jebakan yang terlalu mencolok.
Namun, ia teringat surat itu. Jika ingin tetap hidup, berhentilah mencari.
"Jika hidup berarti tetap menjadi budak dalam simulasi ini," gumam Atharva sambil menekan kunci akses yang diberikan Leonard, "maka aku lebih memilih mati sebagai manusia bebas."
Pintu logam tebal itu perlahan terbuka dengan desis hidrolik yang berat, menelan tubuh Atharva ke dalam kegelapan pekat Sektor 9-G. Di balik pintu itu, udara terasa jauh lebih dingin, berbau logam berkarat dan ozon. Ia kini berada di jantung akademi, tempat di mana rahasia Alvaro, angkatan 17–31, dan simbol Veritas Lux Fortuna akan terkuak. Ia melangkah maju, siap untuk menghadapi apa pun yang menunggu di balik kegelapan tersebut.