Alin, gadis yatim piatu yang dekil dan jerawatan, mendadak punya kekuatan magis: bisa berubah jadi bidadari glowing setiap kali makan ubi rebus! Sialnya, sihir ini punya kedaluwarsa dan luntur tepat tengah malam.
Masalah makin rumit saat Alin tidak sengaja merusak hoodie mahal seharga 8 juta milik Rakha Pratama Bagaskara—kakak kelas arogan yang ternyata tetangga kamar kosnya! Karena tidak bisa ganti rugi, Alin dipaksa menjadi budak pembersih kamar kos Rakha setiap hari.
Tensi makin memanas ketika Rayi Arjuna Bagaskara—kembaran Rakha yang super ramah—mulai gencar mendekati Alin. Sementara Rayi tulus menyukai Alin yang apa adanya, Rakha justru gila-gilaan mengejar sosok "Bidadari Glowing" malam hari, tanpa sadar kalau cewek itu adalah pembantu kosan yang setiap hari ia tindas!
Bagaimana jadinya jika sihir ubi rebus Alin habis tepat tengah malam di dalam kamar kos Rakha?
"Nggak usah panggil gue Kakak. Ntar kalau udah sah, baru lo panggil gue Sayang!" — Rakha.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5. Insiden Jus Buah Naga
"Kalian pada bubar! Bukannya kerja yang benar, malah asyik kepoin orang! Kalau Alin berubah jadi cantik ya bagus dong, ada kemajuan genetika! Nggak usah repot-repot ngurusin hidup orang. Ngerti kalian?!" teriak Bu Sinta dengan suara menggelegar, sanggup meruntuhkan mental para karyawan.
Para karyawan langsung bubar jalan, kembali ke pos masing-masing dengan ekor melipat ketakutan.
Bu Sinta menghela napas lega. Ia terpaksa galak demi membela Alin. Ia takut setengah mati jika Alin sampai kesal, lalu membocorkan kejadian menjijikkan di mana ada "lele kuning" menempel di dasternya akibat diare tempo hari.
Aib internasional itu harus terkubur bersama runtuhnya kekaisaran Romawi, titik gak pake koma.
****
Sementara itu, di sebuah kamar kos yang luasnya berbanding terbalik dengan kamar sempit milik Alin, Rakha sedang menikmati kenyamanan.
Meskipun judulnya "belajar hidup sederhana", isi kamar kos Rakha sungguh mencengangkan dunia per-kosan. Kamar itu dilengkapi ranjang King Size yang empuknya bisa membuat orang pingsan karena kenyamanan, dapur modern minimalis, kamar mandi luas berbahan marmer, hingga walk-in closet.
Ternyata, "hidup sederhana" versi tuan muda Bagaskara hanyalah mitos belaka. Mana sudi punggung mewahnya menyentuh kasur busa murah yang tipisnya mirip kerupuk kaleng seperti milik Alin?
Oh, dan ada satu fakta krusial lagi: Rakha tidak menyewa kamar tersebut. Dia MEMBELI seluruh bangunan kos-kosan itu beserta tanahnya secara tunai. Sultan mah bebas!
"Hufft... akhirnya selesai juga. Nah, sekarang tinggal mandi terus cari makan," gumam Rakha setelah selesai menata beberapa helai baju mahalnya.
Beberapa saat kemudian...
Cklek!
Pintu kamar mandi terbuka. Rakha keluar dengan uap air hangat yang masih menguar dari tubuhnya. Ia hanya mengenakan handuk putih bersih yang dililitkan di pinggang, memamerkan dada bidang dan perut kotak-kotak yang tercetak sempurna hasil olahraga keras. Penampilan yang sanggup membuat kaum hawa pingsan masal karena halusinasi.
Ia bergegas memakai pakaian: sebuah hoodie hitam oversize dan celana jeans selutut berwarna senada. Meski simpel, kegantengannya tetap berada di level maksimal. Rambut hitamnya yang agak gondrong diikat sebagian ke belakang, menyisakan beberapa helai yang jatuh estetik di dahi.
"Perfect," gumamnya saat menatap cermin, memberikan senyum tipis yang mematikan.
Rakha pun melangkah keluar mencari tempat makan untuk mengganjal perutnya yang mulai protes. Tak butuh waktu lama bagi kakinya untuk melangkah masuk ke dalam rumah makan Bu Sinta, berjalan dengan gaya angkuh bak model yang sedang melenggang di atas runway.
Di sudut lain, Alin yang sedang mengelap meja hampir saja menjatuhkan kain lapnya ke lantai. Matanya membelalak horor melihat cowok ketus yang tadi siang memergokinya bertingkah konyol menjadi babi di depan kosan, kini justru melangkah masuk ke tempat kerjanya.
"Gila! Ini benar-benar gila!"
Alin panik bukan main. Ia langsung tunggang-langgang berlari ke dapur, menggeledah laci untuk mencari masker kain hitamnya.
Dengan tangan gemetar hebat, ia memasang masker itu erat-erat agar identitas wajah barunya tidak terbongkar oleh cowok bermata elang itu.
"Hah... hah... kenapa dunia sesempit daun kelor sih? Kenapa harus ketemu dia lagi dalam radius sedekat ini?" Alin bersandar di dekat kulkas besar, mengatur napasnya yang memburu.
"Woy! Kenapa kamu, Lin? Kayak habis melihat setan penagih utang aja," tegur Emilio sambil tetap lihai menggoyang spatula di atas wajan.
"Iya, mukanya pucat kayak habis melihat hantu. Eh, tapi nggak mungkin ada hantu di sini, hantunya pasti takut duluan sama daster macannya Bu Sinta," sahut Diana sambil melirik Bu Sinta di kejauhan dengan suara berbisik.
"Kalau Bu Sinta dengar, habis lo di-smash pakai ulekan batu sama dia," timpal Emilio terkekeh.
"Itu Kak... Bang... tadi aku tiba-tiba bersin-bersin. Takut virusnya nular ke makanan pelanggan, jadi aku pakai masker deh, hehe," bohong Alin sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ya sudah, balik ke depan sana! Nanti dicariin Bu Sinta kalau ada pembeli yang nggak dilayani," usir Diana ramah.
Alin pun terpaksa kembali ke area depan dengan langkah ragu dan super waspada. Benar saja, Bu Sinta sudah berdiri di meja depan karena Alin tak kunjung muncul dari dapur.
"Alin ke mana sih? Ada yang mau beli malah ngumpet kayak main petak umpet!" gerutu Bu Sinta.
Ia terpaksa melayani sendiri dan menghampiri meja tempat Rakha duduk. "Silakan, Mas," ucapnya manis sambil menyodorkan buku menu lecek.
Rakha memesan nasi goreng seafood pedas dan segelas jus jeruk dingin. Bu Sinta mencatat pesanan itu dengan cekatan dan segera berbalik ke arah dapur untuk menyalurkan pesanan.
Namun, di tengah jalan...
Brukkk!
"Awss... shhh... maaf Bu, saya nggak lihat," keluh Alin sambil memegangi kepalanya yang terasa seperti baru saja menabrak truk tronton bermuatan semen tiga puluh ton.
Bu Sinta pun tak kalah menderita. Ia memegangi pantatnya yang bulat lebar—yang kalau digambarkan secara visual mirip dengan ukuran baskom plastik seharga lima ribuan di tukang perabot keliling.
"Sshhh! Kamu itu kalau jalan pakai mata dong, jangan pakai dengkul! Dari tadi saya cariin, eh malah asyik main tabrak-tabrakan. Cepat antar pesanan-pesanan ini ke meja pelanggan, jangan sampai mereka lumutan nungguin kamu!" omel Bu Sinta ketus.
"Baik, Bu!"
Alin langsung bergerak cepat seperti ninja konoha. Ia mengantarkan pesanan ke sana-kemari, mencoba bersikap seprofesional mungkin. Hingga akhirnya, tiba di momen yang paling ia hindari seumur hidup: meja nomor empat, meja tempat Rakha duduk.
Alin menunduk dalam-dalam, membiarkan poni rambutnya jatuh menutupi dahi, tak berani menoleh sedikit pun ke arah wajah tampan di depannya. Ia takut setengah mati jika Rakha mengenali sorot matanya yang jernih.
****
Rakha mulai menyantap nasi goreng seafood-nya dengan tenang dan elegan, mengabaikan suasana warung yang bising. Namun, bencana yang sesungguhnya baru saja bersiap dimulai dari arah belakang tubuhnya.
Alin, yang sejak tadi pagi hanya menyentuh nasi dengan lauk alakadarnya dan belum makan lagi sampai malam ini akibat terlalu sibuk meratapi wajah barunya, mendadak merasakan saraf motoriknya mengalami malafungsi akibat rasa gugup dan perut kosong.
Saat itu, tangannya sedang membawa nampan berisi segelas jus buah naga dingin berwarna merah pekat yang dipesan oleh pelanggan di meja sebelah Rakha.
Karena getaran hebat menjalar dari jemarinya yang lemas, keseimbangan nampan plastik itu goyah di udara. Gelas kaca setinggi dua puluh sentimeter itu meluncur indah dengan efek slow-motion...
Byurrrrr!
Jus buah naga berwarna merah darah yang kental dan super lengket itu tumpah dengan sukses, mendarat tepat di atas pundak hingga dada hoodie hitam mahal milik sang tuan muda.
Waktu seolah melambat berganti keheningan yang mencekam. Rakha mematung sempurna dengan sendok masih menggantung di udara, mulutnya bahkan sedikit terbuka karena baru saja bersiap menyuap sesendok nasi goreng. Bajunya kini basah kuyup, lengket, bernoda merah pekat, dan berbau manis buah.
Alin hanya bisa mematung dengan memegangi nampan kosong di tangannya. Matanya melotot horor di balik masker hitamnya, memandangi mahakarya bencana yang baru saja ia ciptakan di atas tubuh cowok paling galak sedunia.
Mampus gue! Kali ini dia pasti beneran bakal pecat aku dari kehidupan!