NovelToon NovelToon
BISIKAN LUKISAN BERDARAH

BISIKAN LUKISAN BERDARAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Misteri / Penyelamat
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Andhig Rosdiana

Bagi Adista, barang antik bukan sekadar benda mati; mereka memiliki jiwa, cerita, dan keindahan tersendiri. Hobinya mengoleksi barang-barang unik dan kuno selalu berhasil membawa kepuasan tersendiri, hingga suatu malam di sebuah ruang pelelangan rahasia, matanya terpaku pada sebuah mahakarya yang unik.
​Sebuah lukisan tua berbingkai emas kusam yang menggambarkan sosok perempuan dengan air mata darah.
​Ada daya tarik magis yang tak kasat mata, seolah lukisan itu sengaja memanggil namanya. Tergiur oleh keunikan dan aura mistisnya, Adista berhasil memenangkan lelang tersebut tanpa tahu harga yang harus ia bayar bukan sekadar uang.
​Sejak lukisan itu tergantung di dinding rumahnya, atmosfer berubah mencekam. Langkah kaki misterius, bau anyir yang menguap di udara, hingga bisikan ghaib yang menyayat hati mulai meneror malam-malam Adista. Sosok perempuan dalam kanvas itu seolah hidup, dan tangisan darahnya perlahan mulai merembes keluar dari bingkai, menuntut balas yang mengerikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 22

Satu bulan telah berlalu sejak Adista menetapkan aturan ketat di rumahnya. Selama tiga puluh hari itu, suasana di dalam rumah besar tersebut benar-benar kembali normal. Tidak ada lagi tetesan cairan merah dari bingkai emas, tidak ada bau anyir darah yang menyengat, dan tidak ada bisikan dingin yang mengganggu di malam hari.

​Bik Sumi tetap bekerja dengan rajin dan bahagia. Setiap sudut rumah selalu bersih berkilau di bawah pengawasannya. Bagi mata orang awam, rumah itu tampak seperti sebuah hunian mewah yang damai dan tenteram. Adista bahkan mulai bisa tidur di kamarnya sendiri, meskipun ia tetap tidak berani menatap lukisan di ruang tengah terlalu lama.

​Namun, Adista tahu betul bahwa semua ketenangan ini tidak nyata. Kedamaian yang ia rasakan hanyalah sebuah kepalsuan yang sengaja diciptakan oleh makhluk di dalam lukisan tersebut. Hantu wanita itu tidak pergi, ia hanya sedang tidur dengan tenang karena tidak ada satu pun laki-laki yang menginjakkan kaki ke dalam rumah. Rumah itu telah menjadi sebuah wilayah tenang yang menyimpan bom waktu, menunggu seseorang memicu sumbunya.

​Dan sumbu itu datang pada suatu sore yang mendung.

​Hari itu, Adista masih berada di kantor garmennya karena harus menyelesaikan beberapa laporan keuangan. Di rumah, Bik Sumi sedang sibuk menyetrika pakaian di ruang belakang. Suasana sunyi sore itu tiba-tiba pecah oleh suara gedoran pintu depan yang sangat keras dan tidak sabaran.

​BRAK! BRAK! BRAK!

​Bik Sumi terkejut. Ia segera meletakkan setrikaannya dan berjalan cepat menuju ruang depan. Begitu pintu kayu yang besar itu dibuka, berdiri sesosok pria bertubuh tegap dengan pakaian yang tampak modis namun berantakan. Pria itu menatap Bik Sumi dengan pandangan mata yang meremehkan.

​Pria itu adalah Rian, mantan pacar Adista. Di mata Adista dan orang-orang yang mengenalnya, Rian adalah tipe pria "mokondo"—pria modal nekat yang tidak punya modal apa-apa selain wajah, namun selalu menuntut banyak hal. Selama berpacaran dulu, Rian selalu memanfaatkan kekayaan Adista, memaksakan kehendaknya, dan bersikap semena-mena serta arogan. Hubungan mereka kandas karena Adista tidak tahan lagi dengan sikap Rian yang kasar dan selalu menguras uangnya. Namun, Rian tidak pernah terima diputuskan begitu saja.

​"Adista mana?!" tanya Rian dengan nada suara yang membentak, tanpa ada sopan santun sedikit pun.

​Bik Sumi yang polos seketika merasa ciut mendapat bentakan seperti itu. Namun, ia langsung teringat akan pesan sangat serius dari Adista sebulan yang lalu.

​"Maaf, Den... Non Adista belum pulang dari kantor. Kalau boleh tahu, Aden ini siapa ya?" tanya Bik Sumi dengan suara gemetar, mencoba bersikap ramah.

​"Nggak usah banyak tanya, lo cuma pembantu di sini! Minggir, gue mau masuk dan nunggu Adista di dalam!" seru Rian sambil melangkah maju, hendak menerobos pintu depan.

​Melihat pria itu ingin masuk, Bik Sumi langsung panik. Ia segera menggeser tubuhnya untuk menghalangi jalan Rian. "A-jangan, Den! Mohon maaf sekali, Non Adista berpesan .Tamu laki-laki tidak boleh masuk ke dalam rumah kalau Non Adista belum pulang. Silakan Aden tunggu di teras depan saja, nanti saya telepon Non Adista," sahut Bik Sumi dengan berani, meskipun jantungnya berdegup kencang karena takut.

​Mendengar larangan dari seorang pembantu tua, harga diri Rian yang tinggi langsung terusik. Wajahnya memerah karena marah. Pria arogan itu menatap Bik Sumi dengan tatapan yang sangat tajam dan penuh kebencian.

​"Heh, tua bangka! Lo berani ngatur-ngatur gue?!" bentak Rian sambil menunjuk tepat di depan wajah Bik Sumi. "Lo itu cuma babu di sini! Sadar diri dong! Nggak usah sok berkuasa di rumah orang lain! Lo tahu gak siapa gue? Gue ini calon pemilik rumah ini, jadi lo gak ada hak buat ngelarang gue!"

​Bik Sumi merasa sangat sedih dan terhina mendengar kata-kata kasar yang keluar dari mulut Rian. Air mata mulai menggenang di pelupuk mata tuanya. Selama hidupnya, ia jarang sekali dihina dengan begitu keji oleh orang lain.

​"Tapi... tapi ini perintah dari Non Adista langsung, Den. Saya cuma menjalankan tugas..." ratap Bik Sumi sambil menundukkan kepalanya, tidak berani menatap mata Rian yang melotot marah.

​"Halah, bacot lo! Minggir gak?!" Rian kehilangan kesabarannya. Dengan semena-mena, ia mendorong bahu Bik Sumi dengan kasar hingga wanita tua itu terhuyung ke samping dan hampir jatuh membentur pot bunga besar di teras.

​Bik Sumi yang bertubuh ringkih tentu saja tidak bisa menghentikan atau mengusir pria arogan berkekuatan besar seperti Rian. Dengan langkah kaki yang dihentak-hentakkan, Rian melenggang masuk ke dalam rumah mewah Adista tanpa memedulikan air mata Bik Sumi yang kini mulai menetes karena dihina habis-habisan.

​"Adista! Keluar lo! Jangan sembunyi!" teriak Rian bergaung di dalam koridor rumah, mengira Adista sengaja menyuruh pembantunya berbohong.

​Rian terus berjalan lurus menuju ke ruang tengah. Ia langsung menghempaskan tubuhnya ke atas sofa panjang yang empuk, lalu mengangkat kedua kakinya ke atas meja kaca dengan sikap yang sangat tidak tahu sopan santun. Pria itu sama sekali tidak menyadari bahwa keputusannya untuk menerobos masuk secara paksa telah mengaktifkan kembali sesuatu yang selama sebulan ini tertidur.

​Saat punggung Rian menyentuh sofa, hawa di dalam ruang tengah yang semula hangat tiba-tiba berubah menjadi sangat dingin secara drastis. Lampu gantung yang berada di atas meja kaca mulai berkedip-kedip halus dengan suara berdengung yang samar.

​Aroma wangi bunga mawar yang sangat manis mendadak muncul di udara, mengisi setiap celah ruangan dengan begitu cepat. Namun, Rian yang sedang dipenuhi rasa marah dan arogan sama sekali tidak peka dengan perubahan mistis di sekelilingnya. Ia justru sibuk mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Adista dengan emosi yang meluap-luap.

​Tepat di atas kepala Rian, lukisan perempuan menangis darah itu tampaknya mulai merespon kehadiran sang mangsa. Sosok wanita di dalam kanvas tersebut seolah-olah mengandalkan getaran kebencian dan keangkuhan seorang laki-laki untuk bangkit kembali. Setitik cairan merah kental mulai terbentuk di sudut mata gambar perempuan tersebut, berkilau di bawah lampu yang berkedip, siap untuk memulai kembali ritual teror berdarah yang sempat terhenti.

1
Ungkar Aj
maaf ya suy untuk saat ini author belum bisa update ,hape author rusak ,tunggu seminggu lagi insyaallah author up sampai tamat /Sob/
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
aduh piye sih di ulur3 mkin lama makin menjadiw saja
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
sesulit itukah berkata jujur

krn dosa lama kai skrg menempuh apa yg kau tabur

tp.setidaknjya klo berani mengakui dn bertibat akan lenih enteng tp ini tak ada niat ya sudah lah
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
ininlah akibatnya klo salah g mau ngaku salah jd ya di hantui rasa bersalah
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
kenapa g mengku saj biar g di hamtui rasa bersalah
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
waduhh ini knp rupanya lukisan itu smpe ke adista krn ada dalam li gakran keluarganya
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
jadi ini rupanya anak nya di bantai padahal anak nya tak tau apa2
apakah dgn riyan juga ya
nahhh ini jadi misteri
Iis Dawina
iya kali om Harun terlibat pembunuhan laras
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
lha jadi ada kaitanya ya
weehhh kira2 apa ya
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
lha apakah ada kaaitanya dgm rian
aduh entah lah
andhig Rosdiana
kita lupa tuntas apa yang sebenarnya om harun lakukan pada Laras , terimakasih udah like dan koment 👍😍
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ: ini dia yg bikin penasaran
total 1 replies
Iis Dawina
apa om Harun salah satu yg sudah membunuh Laras . trs Laras bls dendam ke bram
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
nahhh sekarang gmn kek buntu gitu sih
aduh kira2 kmn lagi akan melangkah
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
jadi belum di ceritakan ya perempuan iru

knp.sih susah sekali nyebut namanya hadeh
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
nahh kan semakin rahasia nya terkuak akhirnya akan bertemu di alam berbeda damar dan perempuan itu jgn bilang nama permouan itu nawang wulan/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
wow akan terkuak lah apa yg selama ini terpendam

tp setifak nya g ada yg mati dlu deh kasihan jiwa adista terguncang hebat dgn kejadian kematian yg tak wajar
andhig Rosdiana
tenang tahan nafas kita kupas tuntas ya dik ...🤭 terimakasih selalu setia di karya aku ,😍
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
apa mungkin lukisan itu minta di kemabalikan di rumah itu ya
waduh gmn dong
yg pasti kukisan nya g minta tumbal lagi
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
waduh bahayakah
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
jadi pere.puan itu tidak meneror karna akan menemukan apa kebenaran yg akan menguak sebuah misteri wow su guh perjalanan yg tak mudah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!