NovelToon NovelToon
Putri Kesayangan Raja Iblis

Putri Kesayangan Raja Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Iblis / Fantasi Wanita / Menjadi bayi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Enzelynn

Semua orang menyebut Aelora anak kutukan. Ia dibuang, diburu, dan dibiarkan mati di hutan iblis. Tapi nasib berkata lain: Raja Iblis sendiri memungutnya dan menjadikannya putri kecil Nocthara. Kini Aelora harus menyembunyikan dua rahasia: ia pernah hidup di masa depan yang hancur, dan ia adalah anak malaikat yang dicari oleh Surga. Demi menyelamatkan ayah angkatnya dan mencegah perang tiga dunia, Aelora kecil harus mengubah takdir sebelum orang-orang yang ia cintai mati untuk kedua kalinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelajaran Pertama: Jangan Takut Iblis

Pelajaran Pertama: Jangan Takut Iblis

Aelora bangun dengan sebelah kaki berada di luar selimut dan Piko tertindih di bawah punggungnya.

Ia tidak langsung membuka mata. Ada suara orang berbicara di dekat jendela, pelan tetapi cukup jelas untuk terdengar dari ranjang.

“Sayapnya muncul berapa lama?”

“Tidak sampai satu menit.”

“Itu tetap terlalu cepat.”

Suara pertama milik Eirna. Suara kedua Kael.

Aelora menahan napas dan tetap diam.

“Apakah dia terbangun?” tanya Eirna.

“Tidak.”

“Kau yakin?”

“Aku memeriksa.”

“Anak-anak sering berpura-pura tidur.”

Aelora segera membuat napasnya lebih panjang.

Kasur sedikit turun ketika seseorang duduk di tepinya. Telapak tangan menyentuh dahinya, lalu pindah ke leher. Aelora berusaha tidak mengerutkan hidung ketika ujung rambutnya tersentuh.

“Demamnya turun,” kata Eirna.

“Sayapnya?”

“Tidak ada bekas luka.”

“Aku melihat darah.”

Aelora hampir membuka mata.

Darah?

“Darah itu berada pada bulunya, bukan tubuh Aelora,” kata Eirna. “Bisa saja sisa sihir dari segel.”

“Kau tidak percaya itu.”

“Saya percaya kita belum cukup tahu.”

Kael mengembuskan napas pelan. Kursi bergeser.

“Aku ingin semua catatan tentang Seraphiel dikeluarkan dari arsip.”

“Termasuk arsip yang disegel?”

“Semua.”

“Dewan akan tahu.”

“Mereka sudah terlalu banyak tahu.”

Aelora mencoba mengingat nama tersebut.

Seraphiel.

Nama itu terasa familier, tetapi ingatannya tidak memberi wajah. Hanya kilatan sayap putih yang terbakar dan suara rantai di tempat yang sangat terang.

Ia bergerak sedikit tanpa sengaja.

Percakapan berhenti.

“Aelora,” panggil Kael.

Ia tetap menutup mata.

“Aku tahu kau bangun.”

Aelora membuka satu mata. “Sejak kapan?”

“Sejak napasmu berubah seperti orang yang sedang meniup bubur.”

Eirna berdiri di samping ranjang dengan kedua tangan terlipat. “Saya sudah bilang anak-anak suka berpura-pura.”

“Aku tidak pura-pura. Aku sedang mencoba tidur lagi.”

“Dengan mendengarkan percakapan orang?”

“Suara kalian mengganggu.”

Kael menatapnya tanpa ekspresi. “Berapa banyak yang kau dengar?”

“Tidak banyak.”

“Aelora.”

Ia mengusap mata sambil duduk. Rambutnya kusut sampai sebagian menutupi wajah.

“Kau bilang ada sayap.”

Eirna dan Kael saling pandang.

Aelora menunggu.

“Di punggungmu,” kata Kael akhirnya.

Tangannya langsung meraba tulang belikat. Tidak ada apa-apa selain kain pakaian tidur.

“Sayap sungguhan?”

“Terbuat dari cahaya,” jawab Eirna. “Muncul ketika kau bermimpi.”

“Aku tidak ingat.”

“Apa yang kaumimpikan?”

Aelora ingat aula yang terbakar, Kael yang berdarah, dan dua suara yang menyuruhnya memilih. Namun ia tidak ingin memulai pagi dengan membicarakan kematian.

“Piko hilang satu telinga.”

Boneka itu masih memiliki kedua telinga, meski yang kiri hampir putus.

Kael melihatnya. “Mimpimu buruk sekali.”

Aelora mengambil Piko dari bawah punggung dan merapikan telinganya.

“Seraphiel itu siapa?”

Kael tidak segera menjawab.

Aelora mengangkat wajah. “Namanya tadi disebut.”

“Seorang malaikat,” kata Eirna.

“Hanya itu?”

“Untuk sekarang,” jawab Kael.

Aelora memandangnya lama. “Kau berjanji akan bicara tentang masa depan setelah aku beristirahat.”

“Kau baru bangun.”

“Berarti sudah beristirahat.”

“Kau juga perlu sarapan.”

“Setelah sarapan?”

“Setelah pemeriksaan.”

“Setelah pemeriksaan?”

Kael mengambil sarung tangannya dari meja. “Kita lihat nanti.”

Aelora menjatuhkan tubuh ke bantal dengan kesal. “Kau suka menunda.”

“Dan kau suka bertanya sebelum orang lain sempat berpikir.”

“Itu karena kalau aku menunggu, semua orang membuat jawaban yang terlalu rapi.”

Eirna menutup mulut, tetapi Aelora sempat melihatnya tersenyum.

Kael berdiri. “Aku harus ke ruang arsip.”

“Untuk mencari Seraphiel?”

“Untuk bekerja.”

“Itu berarti iya.”

Kael tidak membenarkan atau membantah. Ia berjalan menuju pintu, lalu berhenti ketika mendengar keributan dari lorong.

Suara seorang anak perempuan terdengar di luar.

“Aku cuma mau melihat!”

“Putri sedang beristirahat,” jawab penjaga.

“Aku tidak akan berisik.”

“Kau sudah berisik.”

“Aku bisa berisik dengan lebih pelan.”

Kael menatap pintu.

Eirna menghela napas. “Dia datang.”

“Siapa?” tanya Aelora.

Pintu terbuka sebelum siapa pun sempat menjawab.

Seorang anak perempuan masuk melalui celah di antara dua penjaga. Usianya mungkin delapan atau sembilan tahun. Rambutnya merah gelap dan dikepang dua, meski salah satu kepangan sudah hampir terlepas. Tanduk kecil berwarna hitam muncul di antara rambutnya. Ia mengenakan gaun cokelat sederhana dengan celemek yang memiliki beberapa noda tepung.

Anak itu berhenti ketika melihat Kael.

Wajahnya langsung pucat.

“Yang Mulia.”

Kael menyilangkan tangan. “Nira.”

“Aku mengetuk.”

“Kau mendorong penjaga.”

“Mereka terlalu besar. Kalau tidak didorong, aku tidak bisa lewat.”

Dua penjaga di luar tampak malu karena berhasil ditembus anak bertanduk setinggi pinggang mereka.

Nira menunduk. “Maaf.”

Kael memandang Eirna. “Kenapa dia di sini?”

“Saya tidak membawanya.”

“Aku datang sendiri,” kata Nira. “Semua orang bilang ada putri manusia di kamar ini. Bram bilang dia suka roti buatanku.”

Aelora mengingat juru masak bertelinga kelelawar yang memberinya roti di dapur. “Kau yang membuatnya?”

Nira langsung menoleh. Ketakutannya pada Kael seketika kalah oleh rasa ingin tahu.

“Yang hitam dengan mentega?”

Aelora mengangguk.

“Itu buatanku. Bram yang memasukkannya ke oven karena aku dilarang menyentuh api besar setelah kejadian sebelumnya.”

“Apa yang terjadi sebelumnya?”

“Tidak penting,” kata Eirna.

Nira mengangkat satu kantong kain. “Aku membawa lagi.”

Kael menghela napas panjang. “Lima menit.”

Nira tersenyum lebar.

“Tidak mengajak Aelora keluar kamar.”

Senyumnya berkurang sedikit.

“Tidak menunjukkan jalan rahasia.”

Berkurang lagi.

“Tidak memberi makanan yang belum diperiksa.”

Nira menutup kantong rotinya dengan kedua tangan.

“Dan jangan menyentuh bonekanya,” lanjut Kael.

Nira memandang Piko.

Piko menatap balik dengan satu mata kancing.

“Aku tidak mau menyentuhnya,” kata Nira cepat.

Kael pergi setelah memberi satu tatapan terakhir kepada mereka bertiga. Dua penjaga kembali menutup pintu.

Beberapa detik setelah langkahnya menjauh, Nira memanjat ke ranjang tanpa diundang.

“Jadi kau benar-benar manusia.”

Aelora melihat tanduknya. “Kau benar-benar iblis.”

Nira menyentuh tanduk kecil di kepalanya. “Ini belum besar.”

“Aku tidak bilang kecil.”

“Tapi kau melihatnya.”

“Sulit tidak melihat.”

Nira mengangguk, menerima penjelasan itu. Ia membuka kantong dan mengeluarkan tiga roti kecil berbentuk bulan sabit.

“Yang ini tidak ada racunnya.”

Eirna yang sedang menyiapkan obat menoleh cepat. “Kenapa kau merasa perlu mengatakan itu?”

“Karena kemarin ada tulisan darah di sup.”

Aelora menerima roti tersebut. Masih hangat.

“Bagaimana kau tahu?”

Nira mengangkat bahu. “Semua orang tahu.”

“Kael bilang jangan memberi tahu siapa pun.”

“Tidak ada yang memberitahuku. Aku mendengar Bram berteriak dari ruang belakang.”

Eirna menutup wajah sebentar.

Nira duduk bersila. “Apakah manusia benar-benar membuangmu ke Hutan Hitam?”

Aelora menggigit roti sebelum menjawab. “Iya.”

“Kenapa?”

“Katanya aku dikutuk.”

Nira memandang tanda di pergelangan Aelora. “Kalau dikutuk, biasanya matamu keluar asap atau gigimu tumbuh terbalik.”

“Gigi bisa tumbuh terbalik?”

“Sepupuku pernah.”

Eirna menyela, “Sepupumu memakai kalung kutukan yang ditemukan di selokan. Itu berbeda.”

“Dia tetap punya gigi terbalik.”

Nira kembali menatap Aelora. “Kau tidak kelihatan dikutuk.”

“Orang manusia tidak berpikir begitu.”

“Orang manusia aneh.”

Aelora tersenyum kecil. “Orang iblis juga.”

“Itu benar.”

Jawaban Nira terlalu cepat dan terlalu jujur hingga Aelora tertawa. Suaranya kecil karena ia sendiri tidak menyangka akan tertawa pagi itu.

Nira tampak puas.

“Kau mau lihat taman jamur?”

Eirna menatapnya tajam. “Kael sudah melarangmu mengajak Aelora keluar.”

“Aku hanya bertanya apakah dia mau.”

“Tidak.”

“Aku tidak bertanya kepadamu.”

“Nira.”

Anak itu memasukkan roti ke dalam mulut dan berpura-pura tidak bisa berbicara.

Aelora melihat ke arah jendela. Ia sudah bosan berada di kamar. Setiap sudut ruangan terasa terlalu rapi, terlalu lebar, dan terlalu sunyi ketika tidak ada orang lain.

“Kapan aku boleh keluar?” tanyanya kepada Eirna.

“Setelah pemeriksaan.”

“Pemeriksaan lagi.”

“Hanya memastikan demammu turun dan tanda itu tidak berubah.”

“Kalau baik-baik saja?”

Eirna memandang Nira, kemudian Aelora. “Boleh berjalan di taman dalam. Dengan pengawal.”

Nira langsung menelan roti. “Aku tahu jalan ke sana.”

“Itulah yang saya takutkan.”

Pemeriksaan selesai lebih cepat daripada dugaan Aelora.

Eirna hanya memeriksa suhu tubuh, tanda di tangan, dan bekas cahaya pada punggungnya. Tidak ada sayap yang muncul. Garis di bawah kulit juga tidak berubah.

Setelah Aelora menghabiskan sarapan dan berjanji tidak berlari, Eirna mengizinkannya keluar.

Dua penjaga mengikuti dari belakang.

Nira berjalan di depan sambil menjelaskan setiap ruangan yang dilewati, termasuk ruangan yang sebenarnya tidak perlu dijelaskan.

“Itu ruang pakaian musim dingin.”

“Kenapa pintunya punya tiga kunci?”

“Karena mantel Lord Sevran pernah memakan dua pelayan.”

Aelora berhenti. “Mantelnya hidup?”

“Katanya tidak sengaja.”

“Bagaimana mantel tidak sengaja memakan orang?”

“Nira,” tegur salah satu penjaga.

“Baik. Itu cuma cerita.”

Aelora tidak yakin.

Mereka melewati aula kecil, tangga sempit, lalu keluar ke taman dalam. Atap kaca menutupi seluruh halaman, membiarkan cahaya bulan masuk tanpa udara dingin. Tanaman tumbuh dalam petak-petak batu. Sebagian berwarna hitam, sebagian mengeluarkan cahaya biru, dan beberapa jamur setinggi lutut bergerak perlahan mencari bagian tanah yang lebih lembap.

“Jamur bisa jalan,” kata Aelora.

“Yang kecil saja.” Nira menunjuk jamur bertopi merah yang sedang bersembunyi di balik pot. “Yang besar malas.”

Sebuah jamur ungu mendekati sepatu Aelora, lalu menyentuh ujungnya menggunakan akar kecil.

Aelora membungkuk.

“Boleh disentuh?”

“Yang itu boleh.”

Ia mengusap topinya. Jamur tersebut mengeluarkan suara seperti dengkuran, kemudian bersandar pada tangannya.

Aelora tersenyum.

“Di Asteria tidak ada yang begini,” katanya.

“Bagus?”

“Bagus.”

Nira memetik satu buah kecil dari tanaman merambat. Bentuknya seperti anggur, tetapi kulitnya berkilau.

“Coba.”

Salah satu penjaga berdeham.

Nira memutar mata. “Ini buah biasa.”

“Eirna bilang jangan memberi makanan yang belum diperiksa.”

“Aku memakannya setiap hari.”

“Itu tidak membuktikan aman untuk manusia.”

Nira memakan buah tersebut sendiri dengan wajah kesal.

Mereka melanjutkan jalan sampai ke kolam kecil. Ikan-ikan hitam berenang di bawah permukaan, meninggalkan garis cahaya pada air.

Di dekat kolam terdapat beberapa anak pelayan yang sedang mengumpulkan daun obat. Begitu melihat Aelora, mereka langsung berhenti bekerja.

Salah satu anak laki-laki bersembunyi di belakang keranjang.

Aelora memandang Nira. “Kenapa mereka takut?”

“Karena kau putri.”

“Baru kemarin.”

“Masih putri.”

Anak laki-laki yang bersembunyi mengintip dari balik keranjang. Telinganya runcing dan salah satu pipinya dipenuhi sisik hijau.

Aelora melambai.

Ia langsung bersembunyi lagi.

“Apakah mereka pikir aku akan memakan mereka?”

Nira tertawa. “Manusia yang biasanya berpikir iblis makan anak.”

“Orang-orang di sini juga membawa kandang waktu aku datang.”

“Itu Pelayan Mork. Dia memang bodoh.”

Salah seorang penjaga pura-pura batuk.

Nira berjalan ke arah anak-anak itu dan menarik keranjang dari depan si bocah bersisik.

“Ini Aelora. Dia tidak menggigit kecuali marah.”

“Aku tidak menggigit,” bantah Aelora.

Nira menoleh. “Kemarin kau bilang mungkin menggigit.”

“Itu bercanda.”

Anak laki-laki tersebut menatap Aelora dengan mata bulat.

Aelora berjongkok agar tidak terlihat terlalu tinggi, meskipun selisih usia mereka mungkin hanya satu atau dua tahun.

“Namamu siapa?”

“P-Peren.”

“Aku Aelora.”

“Aku tahu.”

Semua orang di istana rupanya tahu.

Peren melihat Piko di tangan Aelora. “Boneka itu seram.”

“Dia hanya rusak.”

Piko mengeluarkan bunyi pelan dari dalam jahitannya.

Peren langsung bersembunyi kembali.

Aelora menepuk kepala boneka. “Jangan begitu.”

Nira menatap Piko dengan kagum sekaligus curiga. “Dia mengerti?”

“Kadang-kadang.”

“Boleh kupinjam?”

“Tidak.”

“Aku belum menyentuh.”

“Jawabannya tetap tidak.”

Nira tidak memaksa. Sebaliknya, ia mengajak Aelora melihat kebun sayur para pelayan, tempat bawang tumbuh terbalik dengan akar di udara. Mereka juga melewati kandang burung malam. Burung-burung tersebut tidak memiliki dua kepala, tetapi salah satunya benar-benar memperlihatkan gigi ketika Aelora terlalu dekat.

“Eirna bohong,” katanya.

Nira mendekat. “Tentang apa?”

“Dia bilang burung tidak punya gigi.”

“Burung di Asteria mungkin miskin.”

Aelora tertawa lagi.

Menjelang siang, rasa nyeri mulai muncul di pergelangan kakinya. Ia berusaha menyembunyikannya, tetapi langkahnya menjadi lebih lambat.

Salah satu penjaga memperhatikan.

“Putri, sebaiknya kita kembali.”

“Aku belum capek.”

“Kau pincang,” kata Nira.

“Sedikit.”

“Kalau Kael tahu, dia akan menyuruh semua taman dipindahkan lebih dekat ke kamarmu.”

Aelora memandangnya. “Dia bisa melakukan itu?”

“Dia Raja.”

Itu terdengar cukup masuk akal.

Mereka kembali melalui jalur yang berbeda. Lorong tersebut melewati ruang penyimpanan kain dan tempat para pelayan memperbaiki perabot. Tidak banyak bangsawan menggunakan jalan itu, sehingga suasananya lebih santai.

Beberapa pelayan duduk di lantai sambil melipat seprai. Dua lainnya sedang memperbaiki kaki meja yang patah.

Di sudut ruangan, seorang perempuan tua menenun benang hitam.

Rambutnya putih seluruhnya. Kedua tanduk di kepalanya sudah retak dan dipotong pendek. Ia mengenakan pakaian pelayan lama tanpa lambang keluarga.

Ketika Aelora lewat, perempuan itu menjatuhkan alat tenunnya.

Suara kayu membentur lantai membuat semua orang menoleh.

Perempuan tua itu berdiri perlahan. Matanya tertuju pada pergelangan tangan Aelora.

Bukan pada tanda hitam.

Pada gelang perak yang sedikit terlihat dari lengan bajunya.

“Ada apa, Bi Maura?” tanya Nira.

Perempuan itu tidak menjawab.

Ia mendekat satu langkah, lalu berhenti seperti takut apa yang dilihatnya akan hilang.

“Gelang itu,” katanya. Suaranya serak karena usia. “Dari mana kau mendapatkannya?”

Aelora menutupi gelang tersebut secara refleks. “Punya ibuku.”

Wajah Maura berubah.

Ia menatap rambut putih Aelora, mata ungu, lalu Piko yang dipeluknya.

Tangannya mulai gemetar.

“Nona Mirael,” bisiknya.

Aelora maju satu langkah. “Kau mengenal Ibu?”

Perempuan tua itu tidak menjawab pertanyaan tersebut. Matanya sudah dipenuhi air.

Ia berlutut di hadapan Aelora.

Para pelayan lain saling pandang. Kedua penjaga langsung mendekat, tetapi Aelora mengangkat tangan agar mereka berhenti.

Maura memandang gelang itu dari dekat.

“Ukiran bulan di bagian dalam,” katanya. “Dan satu retakan dekat pengait. Saya yang memperbaikinya.”

Aelora membuka pengait kecil.

Benar. Ada retakan halus yang hampir tidak terlihat.

“Di mana kau bertemu ibuku?”

Maura mengangkat wajah.

“Tujuh tahun lalu, pada malam hujan.”

Jantung Aelora berdetak lebih cepat.

“Dia datang ke istana?”

Perempuan tua itu mengangguk.

Aelora menelan ludah. “Sendirian?”

Maura memandangnya cukup lama sebelum menjawab.

“Tidak.”

Ruangan seolah ikut menahan napas.

“Nona Mirael membawa seorang bayi.”

Tangannya terangkat, berhenti beberapa sentimeter dari pipi Aelora, seakan ingin menyentuh tetapi tidak berani.

“Bayi perempuan berambut putih,” lanjutnya. “Ia menangis sepanjang malam dan tidak mau dilepaskan dari pelukan Raja.”

Aelora tidak dapat bergerak.

Nira berdiri diam di sampingnya, untuk sekali ini tidak menyela.

“Apakah bayi itu aku?” tanya Aelora.

Air mata Maura akhirnya jatuh.

“Ya, Putri.”

Ia memandang tanda yang tersembunyi di pergelangan Aelora.

“Kau pernah tinggal di istana ini sebelum mereka mengambilmu.”

Aelora berlutut agar sejajar dengannya.

“Siapa yang mengambilku?”

Wajah Maura kehilangan warna.

Ia memandang kedua penjaga, para pelayan, lalu pintu di belakang Aelora. Ketakutan lama muncul di matanya.

“Bukan manusia,” bisiknya.

Aelora menggenggam tangannya.

“Lalu siapa?”

Maura membuka mulut, tetapi lampu-lampu rune di ruangan padam bersamaan.

Kegelapan menelan mereka.

Sebuah suara berbisik tepat di belakang Aelora.

“Orang yang masih berada di istana.”

1
Carina Yuda
Okee kak. Udah update yaaa
Septriani Margaret
lanjutannya kk
Carina Yuda: Okee kk. Sudah update yaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!