Hanan mendekat perlahan ke arah istrinya. Senyum tipis namun tulus di wajahnya tak pernah hilang. “Alhamdulillah… sekarang kamu adalah istriku sepenuhnya, sah secara agama dan negara.” Kanza melirik suaminya itu dengan mata menyipit, berusaha menutupi rasa salting-nya yang luar biasa. “Iya, sudah sah secara dokumen, tapi kan belum sah secara dompet. Kado mana kadooo? Manaaa? Katanya dosen sukses!” Bella menepuk jidatnya sendiri. “Ya Allah, Kanza… baru semenit jadi istri sudah malak suami.” Hanan tertawa pelan, tawa yang jarang sekali ia tunjukkan di depan umum. Ia kemudian menyodorkan sebuah kotak kecil mungil yang manis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Fey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Setelah puas mengomel sepanjang pagi dan menyita seluruh stok kesabaran Hanan, Kanza akhirnya terdiam di balik selimut.
Hanya matanya yang bulat terlihat mengintip waspada dari lipatan selimut tebal itu, seperti kucing yang baru saja kelelahan setelah mengeong tanpa henti.
Di luar kamar, suara sendok yang beradu dengan panci terdengar ritmis. Aroma bawang tumis yang gurih dan kaldu hangat perlahan merayap masuk, menyelinap di sela-sela pintu kamar.
Kanza menghirup harumnya dalam-dalam, perutnya berdemo, namun ia justru meringis kecil saat mencoba mengubah posisi duduk.
“Pak Dosen...” panggilnya lemah, mencoba mencari perhatian.
Tak ada jawaban. Yang terdengar justru bunyi spatula yang mengaduk cepat di atas wajan.
“Ustad!” panggil Kanza lagi, kali ini volumenya dinaikkan satu baris.
"Mass!"
Beberapa detik kemudian, pintu kamar terbuka perlahan. Hanan muncul dengan penampilan yang sangat kontras dengan wibawanya di luar rumah.
Mengenakan celemek berwarna abu-abu, lengkap dengan handuk kecil melingkar di leher dan wajah yang tampak kalem namun fokus.
“Mas sedang siapin sarapan, sayang. Sebentar lagi jadi buburnya,” ujarnya lembut, seolah suara omelan Kanza tadi hanyalah musik latar baginya.
Kanza mendengus, bibirnya mengerucut sebal.
“Kanza tuh butuh disayang, bukan cuma disuapin. Masnya tega banget ninggalin Kanza sendirian di kamar. Udah sakit, trauma, jiwanya hancur, hatinya remuk!”
Hanan tersenyum kecil, tipe senyum yang sanggup meluluhkan kemarahan siapa pun.
Ia berjalan ke sisi ranjang, membungkuk pelan, lalu mengecup kening Kanza dengan penuh perasaan.
“Mas nggak ninggalin. Mas cuma masak biar Kanza cepet pulih. Kalau nggak kuat berdiri, nanti Mas suapin di kasur. Full service,” bisiknya.
Mendengar kata "suapin di kasur", pipi Kanza langsung memanas merona merah. Tapi dasar keras kepala, gaya bicaranya tetap barbar.
“Huh, dasar Mas! Udah ngerusak hidup Kanza semalem, sekarang mau suapin pula! Ini Kanza tuh udah rusak pabrik, Mas! Mana bawahnya sakit banget. Duduk salah, rebahan salah, berdiri apalagi! Rasanya kayak tulang-tulang ini dipretelin satu-satu!”
Hanan tertawa pelan, suara tawa rendah yang terdengar begitu seksi di telinga Kanza.
“Lagian siapa suruh manja-manjain Mas malem-malem? Kamu yang mancing, Mas yang selesaikan sampai tuntas, kan?”
Kanza langsung membuang wajah, menyembunyikan malu yang makin menjadi-jadi.
“Kanza lupa, Mas. Lupa kalau Mas tuh nggak bisa diajak main-main. Udah di-starter dikit langsung jadi Fast & Furious. Gaspol, Mas. Gaspol! Nggak ada remnya sama sekali!”
Hanan mengacak pelan rambut Kanza yang berantakan, menatap istrinya dengan binar penuh kasih.
“Kamu lucu banget sih kalau lagi protes begini.”
“Lucu matamu!” Kanza menepis tangan Hanan, tapi ujung bibirnya tak bisa menahan senyum.
“Udah sana lanjut masak. Tapi jangan lama-lama! Ini Kanza kelaparan, emosinya makin nggak stabil. Bisa-bisa bantal ini saya makan!”
Tak butuh waktu lama, Hanan kembali masuk ke kamar dengan nampan berisi semangkuk bubur ayam hangat yang uapnya mengepul cantik, lengkap dengan kerupuk dan sambal yang dipisah.
“Nah, giliran Mas yang suapin. Tuan Putri sudah siap?”
Kanza pun mencoba duduk dengan susah payah, meringis di tiap gerakan kecil yang melibatkan pinggangnya.
“Sumpah Mas, kalau bisa kulaporin ke polisi, udah Kanza laporin dari tadi. Ini tuh penyiksaan dalam rumah tangga berkedok nafkah batin.”
“Tapi dengan cinta yang tumpah-tumpah, kan?” timpal Hanan santai sambil meniup sesendok bubur sebelum diarahkan ke mulut istrinya.
Kanza diam, menerima suapan itu, lalu mengangguk kecil saat rasa gurih menyentuh lidahnya.
“Iya juga sih. Tapi tetap aja... sakitnya tuh kayak dihantam palu godam berkali-kali. Eh, tapi buburnya enak, Mas. Tumben amat?”
“Masak sendiri dong, bumbunya pakai perasaan.”
“Pantes! Rasanya penuh pengkhianatan dan cinta!” seru Kanza lebay, lalu tertawa geli sampai harus memegangi pinggangnya lagi karena rasa nyeri yang masih tertinggal.
Hanan hanya menggeleng pelan, menikmati setiap detik drama pagi ini.
“Mas udah meratukan Kanza dari tadi. Kayaknya sekarang Mas juga butuh disayang, deh. Capek loh masak sambil dengerin radio rusak.”
Kanza melotot, nyaris tersedak bubur.
“MAS HANAN, JANGAN NGOMONG YANG NGGAK-NGGAK LAGI DONG! Kanza masih trauma nih! Jangan dekat-dekat dulu!”
Hanan hanya tertawa renyah sambil terus menyuapkan bubur ke istrinya yang mulutnya tak pernah berhenti nyerocos.
Baginya, omelan Kanza adalah tanda bahwa dunianya sedang baik-baik saja, dan justru dari sanalah sumber bahagia terbesarnya berada.
Hari itu, Kanza Arumi akhirnya kembali ke kampus. Dengan langkah pelan yang sangat hati-hati, mirip nenek-nenek yang baru selesai piket ronda malam.
Ia berjalan menyusuri lorong menuju kantin, tempat biasanya ia menghabiskan waktu bersama Tasya.
Tasya yang sudah duduk manis sambil mengunyah tahu crispy langsung terbelalak.
Ia melihat Kanza datang dengan wajah yang sedikit pucat, langkah yang kaku, dan jaket tebal yang membalut tubuhnya seolah ia penderita masuk angin stadium akhir.
“WOY, KANZA! LU KENAPA?!” seru Tasya, suaranya hampir membuat tahu di mulutnya melompat keluar.
Kanza langsung menjatuhkan diri ke kursi di depan Tasya dengan napas berat.
“Gue… rusak, Tas… rusak total.”
Tasya langsung panik, matanya mencari-cari luka fisik di tubuh sahabatnya.
“HAH?! Siapa yang nyakitin lo?! Bilang sama gue, biar gue panggil anak-anak!”
Kanza menggeleng dramatis, matanya menerawang jauh.
“Bukan siapa-siapa… tapi suami gue sendiri, si Hanan Arkan…”
Tasya membelalak, bingung, kaget dan tidak percaya dengan apa yang baru saja keluar dari mulut Kanza.
“LAH?! Maksud lo apa, Kanza? Hanan Arkan?” Tasya nyaris tersedak potongan tahu crispy-nya.
“Tunggu, tunggu… maksud lo ‘suami’ itu sebutan halu karena lo saking naksirnya, atau gimana? Kok pembicaraannya jadi makin dark begini?”
Kanza menyandarkan punggungnya dengan sangat pelan, seolah setiap inci gerakannya bisa membuat tulang ekornya protes.
“Bukan halu, as. Dia beneran suami gue. Suami dunia akhirat, suami sah secara negara, agama, dan… secara biologis.”
Tasya terdiam. Sendoknya terjatuh ke dalam mangkuk bakso, menciptakan bunyi klenting yang nyaring di tengah kantin yang ramai.
Ia menatap Kanza dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu kembali ke wajah pucat sahabatnya itu.
“Lo… bercanda kan? Mas Hanan? Dosen vampire Arab yang dinginnya ngalahin kutub utara itu… laki lo?” suara Tasya naik satu oktav.
“Kecilin suara lo, Tas!” bisik Kanza sambil meringis menahan nyeri di pinggang.
“Gue nggak bercanda. Kita udah nikah sebelum gue masuk kuliah. Dan semalam… semalam adalah malam 'pengeksekusian' gue sebagai istri seutuhnya. Gila, Tas! Gue pikir dia dosen kalem yang cuma tahu teori hukum, ternyata tenaganya kayak mesin diesel nggak ada matinya!”
Tasya menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya melotot hampir keluar.
“SUMPAH?! Jadi keributan lo di kantin kemarin, jambak-jambakan sama maba itu… karena lo beneran cemburu suaminya dikomentarin?”
“Ya iyalah! Mana ada istri yang ridho denger suaminya dibilang 'pengen disidang skripsi tiap hari'!” Kanza membuang muka, pipinya mendadak merah padam saat bayangan kejadian semalam melintas.
“Tapi ya gitu… gue nggak nyangka efeknya bakal se-remuk ini. Gue berasa habis ikut outbound satu galaksi, Tas. Jalan aja gue harus nyusun strategi biar nggak kelihatan kayak bebek pincang.”
“Gue kehilangan kehormatan, harga diri, dan struktur tulang belakang gue dalam satu malam, Tas!” Kanza menunjuk punggung dan pinggangnya dengan wajah nelangsa.
“Sakit semua! Sumpah, rasanya kayak abis digiling truk kontainer bolak-balik!”
Tasya makin bingung, otaknya mulai memproses informasi secara liar.
“Lah, emangnya lo ngapain semalem? Berantem sama Pak Hanan?”
Kanza mendekatkan wajahnya ke arah Tasya, berbisik dengan nada penuh rahasia.
“Gue… di-unboxing.”
Tasya sempat bengong selama dua detik, mencerna istilah itu, lalu tiba-tiba menyemburkan minumannya tepat ke arah meja.
“YA AMPUN KANZA! GUE BARU NGERTI MAKSUDNYA—GILA LU!”
“Eh, jangan teriak-teriak dong! Aib rumah tangga gue tuh!” protes Kanza sambil buru-buru menyeka meja dengan tisu.
“Lu yang mulai duluan ngomong pakai istilah teknis begitu,” balas Tasya sambil tertawa terpingkal-pingkal.
Kanza menopang dagunya, menatap kosong ke arah penjual bakso.
“Tas… ternyata dunia pernikahan nggak seindah drama Korea yang kita tonton. Ternyata itu tuh… lebih kayak laga WWE di atas kasur. Penuh aksi, keringat, dan sedikit air mata…”
“Udah kayak judul sinetron di TV: ‘Suamiku, Pemilik Cinta dan Rasa Nyeri di Pinggang’,” ledek Tasya yang masih belum bisa berhenti tertawa.
Mereka berdua tertawa terbahak-bahak sampai Ibu Kantin yang sedang mengelap meja di sebelah mereka nyeletuk.
“Eh, kalian ini mahasiswa atau lagi latihan acara stand up comedy? Berisik amat.”
Kanza langsung mencoba berdiri, namun gerakannya sangat kaku dan pincang.
“Bu, saya ini mahasiswa penuh luka. Tapi luka batin saya ternyata lebih dalam daripada luka fisik ini.”
Tasya menimpali dengan wajah tanpa dosa.
“Bu, maklumin aja, ini korban keganasan malam pertama.”
Ibu Kantin hanya menggeleng-gelengkan kepala.
“Ya Allah, anak zaman sekarang… bahasanya aneh-aneh saja.”
Kanza kembali duduk dengan sangat pelan, lalu menatap Tasya dengan serius.
“Tapi lu jangan bilang siapa-siapa ya. Gue tuh gengsi kalau anak-anak kampus tahu. Mereka kan belum pada nikah, nanti mereka pikir Kanza itu lemah dan nggak tahan banting.”
Tasya nyengir lebar. “Tenang, rahasia lo aman di tangan gue. Tapi masalahnya… kalau lo masih jalan kayak nenek-nenek kena linu begini, satu kampus juga bakal curiga, Kanza.”
Kanza menatap langit-langit kantin dengan pasrah.
“Gue butuh kursi roda… atau minimal punggung Mas Hanan dibawa ke kampus buat gue tumpangi.”
“JANGAN GILA, KANZA!”
“GUE SERIUS, TASYA! PUNGGUNGNYA TUH ENAK BANGET BUAT SANDARAN!”
Dan tertawalah mereka lagi seperti dua anak kecil yang baru saja menemukan hal lucu di buku gambar.
"Ehh iya, kok lo baru di-unboxing sekarang? Lo nggak ngasih haknya ya selama ini?" tuduh Tasya dengan nada menyelidik.
Kanza mendengus pelan, mengingat kejadian semalam yang bermula dari iseng-iseng.
"Enggak ah... gue sebenernya ngasih... lebih tepatnya, mempersilahkan dengan sangat tidak sopan."
Belum sempat Tasya memberikan respons lebih jauh, sosok yang dibicarakan muncul dari arah koridor fakultas.
Hanan Arkan, dengan kemeja navy yang licin dan wibawa yang meluap-luap, berjalan ke arah kantin.
Begitu melihat istrinya, langkah Hanan membelok. Ia menghampiri meja mereka, membuat seluruh mahasiswi di kantin mendadak senyap dan mulai berbisik-bisik.
“Kanza,” panggil Hanan dengan suara baritonnya yang tenang.
Tasya otomatis duduk tegak, kaku seperti papan cucian.
“P-pak Hanan…”
Hanan hanya mengangguk sopan pada Tasya, lalu perhatiannya kembali pada Kanza.
Ia membungkuk sedikit, meletakkan sebuah kantong kecil berisi botol minyak kayu putih dan beberapa vitamin di atas meja.
“Ini ketinggalan di meja makan tadi. Mas sudah bilang, kalau memang masih sakit, istirahat saja di rumah. Kenapa nekat ke kampus?” tanya Hanan lembut, namun ada nada protektif yang sangat kental. Tangan kanannya tanpa sadar mengusap puncak kepala Kanza sejenak.
Kanza cemberut, mencoba tetap terlihat cool di depan Tasya.
“Kanza bosan di rumah, Mas. Lagian kalau di rumah terus, nanti Mas makin dapet celah buat… ya gitu deh.”
Hanan terkekeh rendah, sebuah tawa yang hanya ditujukan untuk istrinya.
“Ya sudah, nanti Mas jemput jam dua. Jangan lari-lari, ingat pesan Mas semalam.”
Setelah Hanan berlalu dengan langkah berwibawa, Tasya baru bisa bernapas kembali.
Ia menatap Kanza dengan tatapan kosong, seolah jiwanya baru saja dicabut paksa.
“Gue… gue beneran nggak nyangka,” gumam Tasya lirih.
“Tangan itu… tangan yang biasa nulis rumus di papan tulis, baru aja ngusap kepala lo dengan gaya 'istriku milikku'. Kanza, fiks! Hidup lo kayak di Novel, tapi versi bar-bar!”
Kanza hanya bisa menyembunyikan wajahnya di balik tangan, menahan malu sekaligus rasa bangga yang meletup-letup.
“Berisik, Tas! Cepet habisin tahu lo, gue mau ke ruang kesehatan, mau numpang tiduran biar pinggang gue nggak copot!”
~~~NEXT~~~