Jodoh itu rahasia Allah. Takdir juga Allah yang menentukan. Tidak ada siapapun makhluk di dunia ini yang tau selain Dia.
Alea Widya Laksono (35 tahun) dinyatakan telah sembuh usai tiga tahun menjadi pasien di rumah sakit jiwa. Di usianya yang semakin bertambah, kedua orang tuanya cemas karena jodoh tak kunjung datang untuk putri mereka.
Suatu hari Alea akhirnya pasrah untuk menerima perjodohan yang disodorkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria yang berasal dari kalangan militer. Lelaki itu bernama Mayor Prabu Rasyid Wicaksono (38 tahun) yang berstatus duda tanpa anak.
Konon kabarnya, pernikahan Mayor Prabu sebelumnya harus kandas karena masalah ranjang. Desas-desus beredar bahwa sang suami yang menjabat sebagai Komandan Batalyon Infanteri (Danyonif) tersebut menderita impo_ten.
Apakah benar faktanya seperti itu? Benang merah seperti apa yang pada akhirnya mengikat takdir antara Mayor Prabu dengan Alea.
Simak kisah mereka.💋
Bagian dari Novel : Permata Hatiku🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 - Kedatangan Kinan
Satu bulan berlalu.
Setelah malam itu, Prabu mendapat tugas dadakan ke Sorolangun, Jambi. Di sana sedang terjadi ketegangan terkait konflik agraria antara orang rimba dengan petugas keamanan dari perusahaan ternama.
Prabu menggantikan sementara rekan sejawatnya yang seharusnya pergi bertugas ke sana. Dikarenakan rekannya tersebut mendadak mengalami kecelakaan lalu-lintas dan perlu masa penyembuhan yang tidak sebentar.
Sebelum pergi ke Jambi sebulan yang lalu, Prabu memberikan banyak informasi pribadi pada Alea.
"Sertifikat rumah, tanah, deposito, beberapa emas batangan dan dokumen sahamku dari investasi pribadi semua aku taruh di brangkas yang ada di dalam kamarku, tepatnya di rumah orang tuaku. Di dalam kamar mandi ada hiasan dinding. Di balik itu aku menyimpannya. Passwordnya tanggal pernikahan kita,"
"Untuk apa semua itu, Mas?"
"Tidak apa-apa. Hanya untuk berjaga saja bila sewaktu-waktu kamu memerlukannya," jawab Prabu sebelum pergi bertugas jauh.
Alea menghabiskan banyak waktu di kediaman mertuanya selama Prabu pergi ke Jambi. Hanya sesekali ia pergi ke komplek rumah dinas bila ada acara atau rapat ibu-ibu Persit.
Alea juga telah menjenguk ayah mertuanya secara langsung. Hingga kini Ayah Hendra masih terbaring koma.
"Kalau boleh tau, Ayah Hendra kenapa bisa koma Bun?" tanya Alea yang tidak bermaksud kepo. Namun sebagai anggota baru di keluarga Wicaksono, ia ingin menjalin kedekatan antara menantu dengan mertuanya dengan lebih peduli atau care.
"Mas Hendra kecelakaan waktu itu. Bunda juga kurang tau pasti. Setelah dapat panggilan telepon katanya ada urusan mendesak. Tak lama setelah itu bunda dapat kabar kalau Mas Hendra dibawa ke rumah sakit. Sampai sekarang koma,"
"Bunda tak tau urusan mendesak Ayah Hendra saat itu apa?"
"Sama sekali tak tau,"
"Semoga Ayah Hendra cepat sadar, Bun."
"Aamiin..."
Keesokan paginya, Alea berpamitan pada Bunda Citra kalau akan pulang ke rumah dinas. Sebab, siang hari akan ada pertemuan ibu Persit di sana.
Agenda ibu Persit hari ini adalah membahas program penghijauan yang mulai digalakkan di lingkungan komplek rumah dinas.
☘️☘️
"Jadi agenda penghijauan komplek kita ini bisa dimulai dari membuang sampah pada tempatnya. Mari kita jaga kebersihan, lalu berproses dengan penghijauan sekitarnya. Bisa kita mulai berkebun dari pot kecil dulu. Dari hal yang kecil bisa bertumbuh menjadi besar," tutur Alea ketika berbicara di depan forum ibu-ibu Persit.
Sebagai ketua ranting di sana, Alea harus bergerak aktif merangkul semua pihak terutama ibu-ibu agar program dari pusat bisa berjalan dengan baik di komplek mereka.
"Ya, nanti kita lihat dari rumah Bu komandan dulu. Setelah bu komandan kasih contoh, baru kita ikuti." Sahut Bu Ratu.
"Bebas saja, Bu Ratu. Monggo bila ibu-ibu yang lain ingin melihat kegiatan saya ketika berkebun, boleh saja. Lusa akan saya mulai. Hari ini saya sedang memesan beberapa alat dan bahan untuk persiapan berkebun. Kemungkinan besok baru sampai pesanan saya tersebut," jawab Alea.
"Bu komandan rencana berkebun mau tanam apa?" tanya salah satu ibu Persit lainnya.
"Saya ingin menanam sayur pakc0y, kangkung, cabai dan tomat," jawab Alea.
"Kenapa tidak menanam bunga cantik saja kayak bunga mawar atau anggrek?" tanya Bu Ratu. "Bunga-bunga itu pasti jauh lebih cantik dan indah menghiasi komplek kita ini," imbuhnya.
"Saya tak ingin membatasi ibu-ibu yang lain untuk berkreasi dalam hal berkebun atau penghijauan di sini. Bagi yang ingin menanam bunga mawar, melati, anggrek dan lain sebagainya boleh saja. Bagi yang mau tanam sayur juga boleh. Yang terpenting kita enjoy dan menjaga kebersihan yang ada," tutur Alea.
"Dasar dari udik! Inget woi, ini Jakarta! Bukan Bandung atau Malang yang dingin dan cocok buat berkebun sayur-mayur! Dasar kocak!" batin Bu Ratu yang meremehkan ide dari Alea tadi.
Acara pun akhirnya selesai dan mereka pulang ke rumah dinas masing-masing.
Saat langkah Alea berjalan pulang dari aula komplek, kedua matanya menatap sebuah mobil sedan hitam mewah yang tak dikenalnya tengah terparkir di depan rumahnya.
"Saya masuk dulu Bu komandan," pamit Bu Yuni pada Alea. Sebab letak rumah mereka berdekatan.
"Silahkan Bu Yuni. Makasih hari ini sudah hadir dan pulang bersama saya," balas Alea.
"Sama-sama bu komandan,"
Bu Yuni pun kini sudah masuk ke dalam rumahnya. Alea pun melanjutkan langkah kakinya.
"Mobil siapa ya?" batin Alea.
Saat Alea sudah berada di teras rumahnya, ia melihat sepatu wanita berada di dekat rak sepatu. Pintu utama rumahnya dalam kondisi terbuka lebar. Alea memutuskan melangkah masuk dan mengucap salam.
Alea cukup terkejut melihat seorang tamu wanita yang tengah duduk di sofa miliknya. Wanita itu memiliki postur tubuh yang tinggi, langsing, rambut berwarna hitam kecoklatan dan memakai pakaian warna merah serta kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya.
"Maaf, Anda siapa?" tanya Alea dengan senyum keramahan pada sosok tamunya itu.
Tamu wanita yang awalnya asyik dengan ponselnya, seketika melepaskan kacamata hitamnya tersebut lalu ia menatap Alea begitu serius dan cukup tajam secara menelisik.
"Apa Mas Prabu tak pernah menceritakan diriku padamu?" sahutnya.
"Maaf, apa Anda kerabat jauh Mas Prabu?" tanya Alea kembali dengan gestur santainya. Walaupun terlihat jelas lawan bicaranya begitu menginti_midasi.
Sebuah dengusan kasar terdengar keluar dari wanita tersebut.
"Perkenalkan, aku-Kinan. Kinanti Putri Salim-istri pertama Prabu," ucapnya seraya menyodorkan telapak tangannya pada Alea.
"Oh, maaf. Saya tak pernah tau foto atau wajah Mbak Kinan dari Mas Prabu. Saya hanya sebatas mengenal bahwa nama mantan istri Mas Prabu bernama Kinan. Jadi Anda toh orangnya," ucap Alea seraya tersenyum tipis penuh makna sekaligus meralat kata-kata Kinan yakni status mantan istri.
Dengan sopan dan elegan, Alea tetap menyambut uluran tangan dari Kinan untuknya sebagai tanda perkenalan.
"Kamu kan seorang ibu Persit, bahkan ketua ranting di sini. Masa kamu gak tau nama besarku sebagai model papan atas. Wajah dan namaku sering muncul di televisi atau sosial media," cibir Kinan.
"Sekali lagi maaf Mbak Kinan, saya masih baru di dunia tentara. Saya juga tidak punya akun sosmed. Televisi juga saya jarang melihat kecuali berita tentang TNI dan urusan negara saja," ucap Alea.
"Sepertinya setelah ini saya akan coba buat akun sosmed untuk mempromosikan acara kami di sini terutama di bidang sosial dan lingkungan. Terima kasih atas ide Mbak Kinan tadi," sambungnya.
"Menyebalkan sekali istri Prabu ini!" gerutu Kinan dalam hatinya.
"Oh ya, Prabu di mana? Kenapa aku coba hubungi atau kirim pesan, tapi gak ada respon sama sekali? Apa kamu sengaja melarang Prabu untuk berkomunikasi denganku?" cecar Kinan yang terkesan memojokkan Alea.
Bersambung...
🍁🍁🍁