Raven Alvaro dikenal sebagai Don Mafia paling kejam yang tak pernah memberi ampun pada pengkhianat. Dengan tangan berlumuran darah, ia membangun kekuasaannya di atas ketakutan dan kesetiaan mutlak. Bagi Raven, belas kasihan hanyalah kelemahan yang dapat menghancurkan seorang pemimpin.
Segalanya berubah ketika Aurora Valentia tanpa sengaja masuk ke dalam dunia gelap yang selama ini tersembunyi. Pertemuan mereka memicu rangkaian rahasia, pengkhianatan, dan perang antar keluarga mafia yang telah lama menunggu untuk meledak.
Di tengah hujan peluru dan lautan darah, Raven harus memilih antara mempertahankan takhta yang telah ia rebut dengan nyawa banyak orang atau mempertaruhkan segalanya demi wanita yang perlahan mencairkan hati beku sang Don. Namun, di dunia mafia, cinta memiliki harga yang jauh lebih mahal daripada kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daneen_Nis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 - Darah yang Sama
Rentetan peluru menghantam dinding bengkel.
Dor! Dor! Dor!
Percikan besi beterbangan ke segala arah.
"Semua berlindung!" teriak Leo.
Anak buah keluarga Alvaro segera membalas serangan dari balik mobil-mobil yang terparkir.
Raven menarik Luca ke balik sebuah truk tua.
"Jongkok!"
Luca masih terlihat kebingungan.
"Apa sebenarnya yang terjadi?"
"Tidak ada waktu untuk menjelaskan."
Raven mengeluarkan pistol cadangan dari balik jasnya dan menyerahkannya kepada Luca.
"Bisa menggunakannya?"
Luca menatap pistol itu beberapa detik.
Kemudian ia menerimanya dengan tenang.
"Sedikit."
Jawaban itu membuat Raven mengernyit.
"Siapa yang mengajarimu?"
Luca tersenyum pahit.
"Kalau ingin bertahan hidup..."
"...kau harus belajar sendiri."
Belum sempat Raven bertanya lebih jauh, tiga pria bersenjata menerobos masuk ke dalam bengkel.
Raven langsung menembak dua di antaranya.
Dor! Dor!
Sementara pria ketiga berlari ke arah Luca.
Tanpa ragu, Luca memukul tangan penyerang hingga pistolnya terlepas, lalu menjatuhkannya dengan tendangan keras.
Raven memperhatikan semua itu dengan kagum.
Gerakan Luca cepat dan terlatih.
Jelas bukan kemampuan seorang mekanik biasa.
"Kau bilang hanya sedikit bisa menggunakan senjata."
Luca tersenyum tipis.
"Aku tidak sepenuhnya jujur."
Di luar bengkel, baku tembak semakin sengit.
Aurora sibuk merawat para korban yang terluka di balik ambulans darurat.
Meski peluru terus beterbangan, ia tetap menolak meninggalkan para pasiennya.
Tiba-tiba seorang penyerang berhasil mendekatinya dari belakang.
Pria itu mengangkat pistol.
"Selamat tinggal, Dokter."
Sebelum pelatuk ditekan...
Dor!
Peluru lain lebih dulu menembus bahu pria tersebut.
Penyerang itu langsung roboh.
Aurora menoleh.
Luca berdiri beberapa meter darinya sambil masih mengarahkan pistol.
"Kau tidak apa-apa?"
Aurora mengangguk.
"Terima kasih."
Luca hanya tersenyum kecil sebelum kembali membantu Raven.
Melihat kejadian itu, Raven semakin yakin.
Ada sesuatu yang disembunyikan Luca.
Beberapa menit kemudian, suara sirene polisi mulai terdengar dari kejauhan.
Para penyerang segera mundur.
Mereka meninggalkan beberapa mobil yang rusak dan belasan rekannya yang telah tumbang.
Leo menghampiri Raven.
"Tuan, mereka kabur."
"Biarkan."
Raven menoleh ke arah Luca.
"Kita harus pergi dari sini."
Luca menggeleng.
"Aku tidak ikut."
"Kenapa?"
"Kalau aku ikut denganmu..."
"...semua orang di sekitarmu akan semakin terancam."
Raven menatap adiknya dalam-dalam.
"Selama bertahun-tahun kau hidup sendirian."
"Sekarang kau punya keluarga."
Luca terdiam.
Kata keluarga terasa asing di telinganya.
Sejak kecil ia hidup berpindah-pindah, menggunakan nama yang berbeda, dan selalu melarikan diri dari orang-orang yang ingin membunuhnya.
Ia tidak pernah tahu bagaimana rasanya memiliki saudara.
Aurora mendekat sambil tersenyum lembut.
"Setidaknya ikutlah untuk sementara."
"Lukamu juga harus dirawat."
Luca melihat luka gores di lengannya.
Ia mengangguk pelan.
"Baik."
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun hidup sendiri, Luca menerima uluran tangan seseorang.
Malam itu mereka kembali ke mansion Alvaro.
Saat Luca memasuki halaman, langkahnya mendadak terhenti.
Tatapannya tertuju pada sebuah patung burung phoenix yang berdiri di tengah taman.
"Patung itu..."
Raven menoleh.
"Ada apa?"
Luca mendekat perlahan.
Dengan tangan gemetar, ia menyentuh ukiran di bagian bawah patung.
Lalu tanpa sengaja menekan sebuah batu kecil yang tersembunyi.
Klik!
Suara mekanisme besi terdengar dari bawah tanah.
Semua orang terkejut.
Di belakang patung, tanah perlahan terbuka memperlihatkan sebuah lorong rahasia yang selama ini tersembunyi.
Leo membelalakkan mata.
"Aku sudah puluhan tahun di mansion ini..."
"...tapi tidak pernah tahu ada lorong di sini."
Luca tampak sama bingungnya.
"Aku juga tidak tahu kenapa..."
"...tanganku seperti mengingat tempat ini."
Raven menatap lorong gelap itu dengan sorot mata tajam.
Perasaannya mengatakan bahwa lorong tersebut menyimpan rahasia besar.
Rahasia yang mungkin mampu mengubah seluruh kebenaran tentang keluarga Valerio dan keluarga Alvaro.