NovelToon NovelToon
Maaf.. Kukira Ini Taksi

Maaf.. Kukira Ini Taksi

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: arrasy

Di tengah guyuran hujan deras yang membasahi jalanan Jakarta, Rima masuk ke mobil mewah yang baru saja ia buka dengan tergesa-gesa. Wajahnya memancarkan kaget luar biasa. Mata terbelalak lebar, mulut terbuka melongo. Saat baru menyadari bahwa ia salah masuk kendaraan, bukan taksi yang sudah dipesannya. Pantulan di kaca spion memperlihatkan Andre yang duduk di kursi pengemudi dengan wajah dingin kaku, tatapan tajam tanpa senyum, seolah tak percaya ada kejadian seaneh ini. Butiran air menetes di kaca jendela dan bodi mobil hitam mengkilap, memperkuat suasana yang canggung sekaligus kocak di pertemuan pertama mereka. Kontras jelas antara ekspresi Rima yang panik lucu dan sikap Andre yang tenang kaku langsung menyiratkan kisah pertemuan tak terduga yang penuh kekacauan manis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Clara Memperhatikan Rima

Clara kembali berkunjung ke kantor Andre. Kali ini ia tidak datang terburu-buru, melainkan berpakaian lebih santai namun tetap terlihat sangat elegan. Ia mengenakan kemeja sutra berwarna krem dengan rok selutut berwarna cokelat susu, sepatu pantofel berwarna senada, dan tas tangan kulit bermerek yang tergantung di lengannya.

Setelah berbincang sebentar di ruangan Andre soal jadwal makan malam keluarga minggu depan, Clara berpamitan untuk berjalan-jalan sebentar. "Aku mau lihat-lihat keadaan kantormu ya, sekadar melepas penat setelah macet di jalan," katanya dengan senyum manis.

Andre yang sedang sibuk memeriksa laporan hanya mengangguk singkat. "Iya boleh. Kalau ada yang perlu ditanyakan, tanya Dino atau Bu Tia."

Clara berjalan perlahan menyusuri lorong-lorong kantor. Matanya memperhatikan setiap sudut, setiap orang yang berpapasan dengannya. Ia sebenarnya bukan sekadar ingin berjalan-jalan. Ada sesuatu yang membuatnya penasaran. Beberapa kali ia mendengar nama Rima disebut Andre saat mereka sedang berbincang, dan melihat tatapan Andre yang kadang berubah saat menyebut nama Rima. Ia ingin melihat sendiri seperti apa gadis yang sering menjadi bahan pembicaraan diam-diam di kantor ini.

Langkah kakinya akhirnya berhenti di bagian administrasi. Ruangan ini cukup luas, dipenuhi meja kerja berderet dan tumpukan berkas yang tersusun rapi. Di sudut paling dekat jendela, ia melihat Rima sedang duduk dengan tekun. Kepala gadis itu menunduk, tangannya bergerak lincah menyalin data dari buku arsip ke lembar formulir baru. Sesekali ia menggaruk kepala pelan, lalu tersenyum sendiri seolah menemukan jawaban yang tepat.

Clara melangkah mendekat dengan suara langkah yang halus. Rima baru menyadari kehadirannya saat bayangan jatuh di atas kertas yang sedang ditulisnya. Ia mendongak cepat, lalu segera berdiri dengan wajah ceria.

"Selamat siang Nona Clara!" sapa Rima sopan sambil membungkuk sedikit.

Clara tersenyum tipis, menatap pakaian seragam sederhana yang dikenakan Rima, lalu beralih ke tumpukan berkas di mejanya. "Selamat siang juga. Kamu ini Rima kan? Anak magang yang baru beberapa bulan di sini?"

"Benar sekali Nona. Saya Rima, magang di bagian administrasi dan arsip," jawab Rima ramah. "Ada yang bisa saya bantu Nona?"

"Tidak ada yang terlalu penting," Clara berjalan perlahan mengelilingi meja Rima, jari telunjuknya menyentuh ujung map dengan santai. "Aku cuma penasaran. Kemarin Andre bilang kamu sering membantunya mengerjakan hal-hal kecil. Kamu sering dipanggil ke ruangannya ya?"

"Sering juga Nona," jawab Rima jujur tanpa curiga. "Biasanya kalau ada berkas yang harus diantar segera, atau menyusun dokumen lama yang belum tertata. Kadang Bapak juga meminta saya menggambar desain sederhana untuk poster pengingat di lorong."

Clara tertawa kecil, suaranya terdengar lembut tapi ada nada menyelidik. "Wah, tugas yang berat sekali ya untuk seorang anak magang. Biasanya tugas-tugas seperti itu hanya dikerjakan oleh staf tetap atau orang yang sudah dipercaya lama.

Kamu jangan sampai merasa terlalu dekat atau terlalu merasa diistimewakan hanya karena sering diberi tugas tambahan."

Ia menatap Rima lekat-lekat, lalu menambahkan pelan.

"Di sini hierarkinya jelas sekali. Ada pimpinan, ada staf, ada anak magang. Posisi masing-masing sudah ditentukan. Jangan sampai salah menafsirkan kebaikan seseorang, nanti malah malu sendiri."

Tentu saja maksud sindiran Clara adalah agar Rima sadar diri dan tidak berharap lebih pada Andre. Namun Rima sama sekali tidak menangkap makna tersembunyi itu. Ia justru mengira Clara sedang mengingatkannya agar tidak melanggar aturan kantor.

Rima tersenyum sopan, lalu mengangguk mantap. "Terima kasih banyak sudah mengingatkan Nona. Saya sangat paham posisi saya di sini. Saya bekerja hanya sesuai tugas yang diberikan Bu Tia atau Pak Andre. Saya tidak akan pernah berani melangkahi batas atau merasa lebih dari yang lain."

Ia menunjuk tumpukan berkas di mejanya. "Tugas tambahan yang Bapak berikan pun sebenarnya masih masuk dalam lingkup pelatihan Nona. Saya senang dipercaya, karena itu berarti Pak Andre ingin saya belajar lebih banyak. Saya tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan itu, tapi saya juga tidak akan lupa diri. Saya tahu saya masih banyak kekurangan dan harus banyak belajar dari yang lebih berpengalaman."

Clara tertegun sejenak. Padahal ia sudah menyiapkan kata-kata sindiran untuk menekan gadis itu, tapi jawaban Rima begitu tenang, jujur, dan penuh rasa hormat, tanpa ada rasa takut, rendah diri berlebihan, atau sekadar membela diri. Clara justru merasa seolah-olah dirinya yang terlihat terlalu berlebihan.

"Kamu mudah paham juga ya ," ucap Clara akhirnya sambil tersenyum canggung.

"Maaf kalau saya kurang sopan Nona," Rima membungkuk sedikit. "Saya cuma ingin menjelaskan bahwa saya bekerja dengan niat tulus. Saya menghormati Pak Andre sebagai pimpinan, menghormati rekan kerja, dan berusaha menjaga nama baik diri sendiri serta orang tua saya."

Wajah Clara perlahan melunak. Ia melihat ketulusan yang nyata di mata Rima. Tidak ada ambisi tersembunyi, tidak ada niat merebut perhatian Andre dengan cara licik. Mungkin saja ia terlalu berprasangka buruk pada gadis ini.

"Tidak apa-apa," kata Clara pelan. "Aku senang kamu sadar diri dan tahu batasan. Itu hal yang baik. Bekerjalah dengan tenang dan sungguh-sungguh."

"Terima kasih Nona. Saya akan selalu berusaha begitu," jawab Rima dengan senyum tulus kembali.

Clara mengangguk pelan, lalu berjalan menjauh menuju pintu keluar. Sepanjang jalan menuju ruangan Andre, pikirannya berkecamuk. Ia awalnya berniat membuat Rima mundur, tapi justru ia merasa diingatkan kembali oleh kepolosan gadis itu.

Saat masuk kembali ke ruangan Andre, Andre mendongak melihat wajah Clara yang tampak bingung. "Sudah selesai berkeliling? Wajahmu seperti orang yang banyak pikiran."

Clara duduk di kursi tamu, menghela napas pelan. "Aku baru saja berbicara dengan anak magangmu itu, Rima. Aku kira dia gadis yang manja atau berniat cari perhatian."

"Terus apa katanya?" tanya Andre pelan, matanya tidak lepas dari wajah Clara.

"Dia polos sekali Andre," jawab Clara jujur. "Banyak yang kujelaskan dan kuingatkan. Dia mendengarkan dengan baik. Dia pun bilang kalau dia bekerja sesuai tugas, menghormatimu sebagai pimpinan, dan tidak berniat apa-apa lagi. Dia benar-benar polos sekali."

Andre tersenyum tipis, rasa lega menyelimuti hatinya. "Sudah kubilang kan? Dia gadis yang sederhana dan tulus. Dia tidak punya pikiran rumit seperti yang kita duga."

Clara menatap Andre lama sekali. Untuk pertama kalinya ia menyadari sesuatu, tatapan Andre saat berbicara soal Rima berbeda dari tatapan pada orang lain. Ada kelembutan yang berusaha disembunyikan Andre. Namun Clara memilih diam, belum siap mengakui kenyataan itu.

"Ya mungkin saja," ucap Clara pelan. "Tapi aku tetap berharap kamu tahu apa yang terbaik untuk masa depanmu. Hubungan kita sudah direncanakan sejak lama oleh Papa dan Mama."

Andre mengangguk pelan, tapi matanya kembali menatap berkas di meja. "Aku tahu Clara. Tapi keputusan akhir tetap ada di tangan kita berdua, bukan di tangan orang lain."

Sementara itu di bagian administrasi, Rima kembali menyambung pekerjaannya. Ia sama sekali tidak menyadari makna tersembunyi di balik percakapan tadi. Baginya, Clara hanya ingin memastikan dirinya bekerja dengan benar dan tahu sopan santun.

"Aku akan bekerja lebih rajin lagi supaya tidak mengecewakan siapa pun."

1
Edi Lupiyan
harus nunggu lagi cuma 2bab
partini
jaraknya kaya Cilacap Jogyakarta naik bus efisiensi atau purwokerto Jogya
❥␠⃝ ͭ🍁Hes'💋𝗔𝗿𝗿𝗮𝘀𝘆🍁: iya kak. terimakasih ya
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁Hes'💋𝗔𝗿𝗿𝗮𝘀𝘆🍁
betul ka. mau hujan deres kek.. bomat😄
🌺⃟ SasMaya
Oohh... ternyata emng Rima-nya yang mau anter hujan-hujanan... 🙄
🌺⃟ SasMaya
jangan sebel-sebel sama Rima pak Andre nanti ketulah jadi bucin 😆
🌺⃟ SasMaya
Andre ini tipe-tipe yang ga mau ribet dan bomat sama urusan orang lain 🫠
Mingyu gf😘
aduhh si bapak galak banget
❥␠⃝ ͭ🍁Hes'💋𝗔𝗿𝗿𝗮𝘀𝘆🍁: galak dan kesel dikira supir taksi😄
total 1 replies
Mingyu gf😘
sibuk banget ngurusin perut orang lain di saat kamu aja sedang terjebak masalah
Tulisan__mawar
Heh nota utang🥲
ini namanya waktu kecil lihat orang tua kita suka bon di warung sekarang kita sudah dewasa bisa bon warung sendiri🤣🙏
Alia Chans
Dan ke salah pahaman di mulai dari sini😌
kenzi moretti
bisa-bisanya rim salah masuk mobil/Facepalm/
kenzi moretti
wuihh/Blush//Sly/
THE GIRL COOL😑
😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
RahmaYesi
Rima Rima, kamu itu menggemaskan bingittt zih dg segala gedebag gedebug hidup mu
arsyila putri
lucu banget ceritanya, bikin penasaran part selanjutnya. 😍😍
mama Al
aduh salah alamat
arsyila putri
makin malu🤣🤣
arsyila putri
wih malu pasti, mana aku pernah lagi🤣🤣
Nyai Aksara 👩‍🦯
Dasar ceroboh, udah lihat Andre juga masih aja ngomong santai
RahmaYesi
Syukurlah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!