Setiap tahun selalu saja para pembantu yang masih perawan akan meninggal dunia, namun mereka tidak ada yang sadar dengan hal itu
Hingga akhir nya Dila datang ke rumah itu untuk mencari tahu tentang keberadaan sang adik yang hilang entah ke mana, dan tempat terakhir dia kerja adalah rumah keluarga Susanto.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Aura tau
Rahma masih saja terus kepikiran dengan gundukan tanah yang dia temukan di belakang rumah kemarin, meski Mila sudah Mengatakan agar dia tidak perlu memikirkan hal itu karena mereka juga tidak tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi di dalam rumah ini dan rahasia besar apa yang telah tersimpan di dalam sana sehingga mereka harus menutup mulut.
Ada rasa gundah yang begitu besar di dalam hati ini sehingga membuat dia tidak sanggup untuk melupakan bagaimana tanah itu yang terlihat jelas seperti kuburan namun tidak ada batu nisan, lama terdiam dalam hal itu membuat Rahma terus memikirkan apa ini semua ada sangkut paut dengan arwah yang telah dia lihat itu.
''Kamu pembantu baru di sini kah?'' Aura menunggu Rahma yang sedang duduk sendirian.
''Em Nona, Iya saya pembantu baru di sini.'' Rahma agak kaget karena dia sedang termenung.
''Sudah malam seperti ini kenapa kamu masih termenung dan tidak segera tidur?'' tanya Aura dengan suara yang begitu halus.
Rahma berdehem sekilas karena dia bingung untuk mencari alasan apa kenapa sampai sekarang dia masih belum bisa memejamkan mata, tidak mungkin juga mau mengatakan terus terang kepada Aura bahwa dia sedang kepikiran dengan kuburan yang ada di belakang rumah tadi Karena Rahma mengira bahwa Aura juga pasti mengetahui tentang hal itu.
Aura yang melihat Rahma hanya terdiam maka dia tidak lagi banyak bertanya karena mungkin saja gadis ini sedang rindu rumah karena belum terbiasa dengan keadaan yang sekarang, maka Aura meninggalkan Rahma begitu saja dan dia segera menuju kamar untuk istirahat setelah lelah seharian mengurus pekerjaan.
Hari ini dirinya memang mendapat info bahwa Dina memutuskan pulang kampung bersama dengan Susanto sehingga Aura diminta untuk pulang ke rumah ini untuk mengawasi para pembantu, Vera sebenarnya keberatan namun apa mau dikata karena Aura sendiri yang merasa ini semua membutuhkan dirinya dan mau tidak mau Vera Hanya bisa pasrah saja.
Krieeeet.
''Apa Kak Dina lupa mengunci pintu kamar dia ya?'' Aura menatap pintu kamar Dina yang mendadak saja terbuka.
''Meski ada CCTV nomor rasanya lebih baik bila dikunci saja kamar saat sedang pergi.'' Aura berkata sendirian dan dia segera melangkahkan kaki menuju kamar tersebut.
Sreeeeng.
''Ya allah!'' Aura reflek menutup hidung ketika bau amis langsung lewat begitu saja.
Tidak tahu bau amis itu berasal dari mana namun yang jelas terasa sangat menusuk hidung,Aura sebenarnya tidak ingin melangkah masuk ke dalam kamar itu karena dia merasa canggung dan juga terkesan tidak sopan masuk ke dalam kamar saudara yang sudah menikah seperti ini.
''Apa itu?!'' kaget Aura ketika dia melihat seperti ada orang yang terbujur di atas karpet berbulu.
Tangan gadis ini cepat mencari saklar lampu karena penasaran siapa yang tengah berbaring di atas karpet berbulu di dalam kamar milik Dina, namun saat lampu menyala maka tidak ada yang aneh dan tidak ada orang di atas karpet itu sehingga membuat Aura tertegun sesaat.
Gemetar sudah pasti dirasakan gadis ini namun dia berusaha untuk tetap berpikir positif karena mungkin saja tadi dia salah melihat, tapi ada sesuatu yang memaksa Aura untuk mematikan lampu itu kembali agar dia bisa mengetahui apakah memang pemandangan tadi masih ada atau sudah tidak lagi.
Klik.
''Ya allah!'' Aura sampai mepet pada tembok karena kaget setelah lampu kembali mati.
''Sakiiiiit, tolong bantu aku.'' sosok itu merintih kesakitan.
''Siapa kamu?'' tanya Aura memberanikan diri.
''Dia membunuh aku, mengambil kulit tubuh ku.'' isak nya lagi.
''Kau ini siapa?'' ulang Aura dengan tubuh gemetar.
Tentu gemetar tidak karuan karena dalam bayang-bayang kegelapan itu muncul juga sebuah bayangan yang lain dengan tubuh begitu tinggi menjuntai, bau Ami semakin tidak terkendali di dalam kamar ini sehingga Aura rasa ingin kabur namun kaki terasa begitu lemah sehingga tidak sanggup untuk bergerak walau hanya selangkah saja.
"Non Aura!" Mang Ujang datang dan segera menarik tubuh gadis itu keluar dari dalam kamar.
''Hahhhh!'' Aura jatuh di atas lantai dengan tubuh yang begitu lemas sekali.
''Tutup saja pintu kamar Nyonya Dina ini dan tidak perlu untuk masuk ke dalam.'' Mang Ujang cepat menutup pintu karena dia pasti mengetahui sesuatu.
''Ada sesuatu di dalam kamar itu, Mang!'' Aura menatap Mang Ujang dengan wajah yang sangat pucat sekali.
''Tidak ada, Tadi hanya pandangan non Aura saja dan kemungkinan karena sedang gelap.'' Mang Ujang mengelak.
''Mana Mungkin aku salah melihat karena sosok itu saja bergerak dan dia mengatakan ada yang mengambil kulit dia!'' teriak Aura.
Bila sosok itu tidak menimbulkan suara maka bisa saja dia hanya salah lihat dan mungkin benar apa yang dikatakan oleh Mang Ujang tersebut, namun tadi dengan jelas Aura mendengar bahwa sosok itu menangis merintih kesakitan dan mengatakan ada yang sudah mengambil kulit di tubuh dia.
Jelas itu semua bukan karena salah melihat saja, Mang Ujang terdiam karena dia terlihat bingung untuk menjelaskan kepada Aura tentang apa yang telah terjadi, terlebih lagi dia tidak memiliki hak untuk berkata lebih jauh atau bahkan menjelaskan pesugihan yang sudah diambil oleh Susanto itu karena nanti bisa saja pasangan suami istri tersebut akan mengamuk kepada dia.
''Non, Jangan paksa saya untuk bercerita karena saya sama sekali tidak memiliki hak.'' Mang Ujang berkata dengan serius.
''Jadi memang benar bahwa ada yang tidak beres dengan rumah ini dan Kak Dina juga sudah tahu tentang hal itu?'' Aura seakan tidak percaya dengan ini semua.
''Saya tidak bisa mengatakan benar dan tidak bisa mengatakan salah.'' Mang Ujang menggeleng.
Aura meneteskan air mata karena dengan jawaban itu saja maka dia bisa menyimpulkan bahwa memang Dina kembali tersesat di jalan yang salah, seolah Dina tidak merasa Jera atas apa yang telah terjadi di masa lalu saat itu sehingga dia memutuskan untuk mengulangi apa yang telah terjadi ini, kebingungan semakin besar namun entah bagaimana Dina akan mengurus itu semua.
''Kenapa, Kak?'' Aura menangis sendirian sambil menutup wajah.
''Ya allah, Kenapa Kak Dina sangat kekeh ingin terus memperpanjang pesugihan yang jelas-jelas hanya menyesatkan manusia saja?'' isak Aura.
Rasa nya Mang Ujang ingin sekali menolong gadis ini namun dia juga sama sekali tidak memiliki kuasa, dalam rumah ini dirinya hanya seorang pesuruh dan bilang sampai membuat Dina tidak suka maka nanti yang ada dia yang akan mengganggu semua kekejaman dari pasangan suami istri itu, Mang Ujang juga sudah lama bekerja dengan keluarga Dina sehingga sedikit banyak dia mengetahui tentang tabiat wanita tersebut.
Selamat siang, jangan lupa like dan komentar kalian semua buat cerita author Novita Jungkook ya.
knp Bu Yuni asal tuduh aja padahal ga ada bukti😒 jln satu2nya datangkan purnama sang ratu ular👍