NovelToon NovelToon
Cinta Anak SMA

Cinta Anak SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Idola sekolah
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: dinda.glow

Bagaimana jika dua orang remaja yang tidak saling dekat, namun dipaksakan berdua karena perjodohan?

Akankah mereka menerima nya? atau sebaliknya?

"Dia selalu serius ketika menyimak penjelasan dari guru saat jam pelajaran di kelas," batin seorang gadis yang bernama Lyra, sedang memandangi seorang cowo yang terlihat keren saat pelajaran, namun terlihat kesal dengan kesombongannya.

____

"Kenapa harus dia?!" teriak Lyra, tidak menyukai perjodohan yang dilakukan orang tua mereka.

Sedangkan di sisi lain, cowo itu menatapnya dingin dan tajam, sesekali menyetujui ucapan Lyra, tidak ingin perjodohan mereka berlanjut.

____

"Oh iya... yang pintar mah beda." ucap Lyra menyindir cowo dihadapannya itu.

"Makanya belajar! Bukan baca novel!" sarkas cowo itu, yang membuat Lyra ingin mencabik-cabik cowo yang dihadapannya ini.

-- Dua orang Sikap berbeda yang terpaksa bersama --

Follow akun ini(@dinda.glow), like & komen disetiap cerita yaw! di upload setiap hari Jam 09:00 WIB & 21:00 WIB

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dinda.glow, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23. Rian menjahili temannya, Lyra

Rian memang seorang pembohong yang ulung jika menyangkut urusan melarikan diri dari situasi canggung.

Alasan klasik tentang ibunya yang meminta dibelikan token listrik hanyalah taktik jitu agar ia bisa memberikan ruang bagi Arka dan Lyra.

Namun, bagi seorang Rian, pulang begitu saja tanpa membawa "oleh-oleh" untuk bahan gosip esok hari rasanya seperti makan bakso tanpa sambal: hambar dan kurang menantang.

Bukannya berjalan menuju halte depan sekolah, Rian justru berbelok tajam setelah melewati pembatas tanaman pucuk merah.

Tap... tap... tap... (Suara langkah kaki yang pelan dan tertahan)

Dengan gerakan mengendap-endap mirip seorang agen rahasia di film laga beranggaran rendah, ia merapatkan punggungnya pada dinding beton pos satpam sekolah.

Beruntung bagi Rian, Pak Joko, sang satpam sekolah, sedang asyik menyeduh kopi di dalam ruangan dan membelakanginya, sehingga posisinya aman dari deteksi siapapun.

Dari balik celah sempit antara tiang beton pos satpam dan pagar besi tanaman hias, Rian menjulurkan kepalanya sedikit.

Matanya berbinar penuh kemenangan.

Posisi pos satpam ini sangat strategis; ia memiliki sudut pandang lurus dan bersih ke arah pohon peneduh tempat Arka dan Lyra sedang berdiri canggung.

"Wah, wah, wah, lihatlah dua sejoli ini," bisik Rian pada dirinya sendiri, menahan tawa agar tidak meledak.

Ia merogoh saku celana abu-abunya, mengeluarkan ponsel pintar yang layarnya sudah sedikit retak di bagian pojok.

Dengan kecepatan jari yang terlatih akibat sering bermain game online, Rian membuka aplikasi kamera.

Ia mengatur mode kamera ke tingkat perbesaran tiga kali (3x zoom) agar wajah kedua temannya itu terlihat jelas tanpa mengorbankan kualitas gambar.

Di layar ponsel Rian, fokus kamera langsung mengunci wajah Lyra yang tampak merah padam, kontras dengan Arka yang berdiri santai sambil memegang helm hitamnya.

Arka tampak sedang mengucapkan sesuatu, yang kemudian membuat Lyra menunduk malu sambil memainkan ujung tali tas ranselnya.

Crek..

Rian mengambil foto pertama.

Foto itu menangkap momen saat Arka tersenyum sangat lebar, sebuah pemandangan langka yang hampir tidak pernah dilihat oleh anak-anak cowok di tim basket.

Biasanya, Arka di lapangan dikenal dingin, tegas, dan bermuka datar bagi yang tidak mengenalnya.

Namun di depan Lyra, pertahanan sang ketua runtuh total.

"Gila, si Arka kalau senyum kayak pangeran di komik-komik romantis pilihan adek gue," gumam Rian, menggeleng-gelengkan kepala.

"Ini kalau gue sebar di grup angkatan, bisa gempar satu sekolah. Tapi jangan dulu, ini kartu as buat ngerjain Lyra besok pagi."

Tidak puas dengan satu foto, Rian beralih ke mode perekaman video.

Ia ingin mengabadikan interaksi penuh mereka. Ia menahan napasnya agar tangannya tidak gemetar, menjaga agar rekaman tetap stabil.

Melalui lensa kameranya, Rian menyaksikan Arka menyodorkan helm cadangan berwarna putih ke arah Lyra.

Lyra sempat terlihat ragu, tangannya bergerak melambaikan telapak tangan seolah menolak dengan halus.

Namun, Arka tidak menyerah. Cowok tinggi itu melangkah satu langkah lebih dekat—jarak yang menurut kalkulasi Rian sudah melanggar batas 'zona pertemanan biasa'—lalu sedikit membungkuk untuk menyamakan tinggi badannya dengan Lyra.

Arka mengatakan sesuatu yang tampaknya sangat meyakinkan, karena sedetik kemudian, Lyra akhirnya menerima helm tersebut dengan anggukan pasrah.

"Nah, dapet! Momen serah terima helm legendaris!" Rian tersenyum puas.

Jari jempolnya menekan tombol berhenti merekam.Ia memeriksa kembali hasil tangkapannya.

Satu video berdurasi tiga puluh detik dan tiga lembar foto berkualitas tajam berhasil tersimpan aman di galeri ponselnya.

Rian sudah bisa membayangkan skenario esok hari di kelas.

Ia akan datang paling pagi, duduk di mejanya dengan gaya santai, lalu sengaja meletakkan ponselnya yang menampilkan foto tersebut tepat di depan wajah Lyra saat gadis itu baru saja menaruh tasnya.

Membayangkan wajah Lyra yang akan berteriak frustrasi dan mengejarnya keliling kelas membuat Rian merasa di atas angin.

Baginya, menjahili Lyra adalah salah satu sumber kebahagiaan terbesar di masa SMA.

Lagipula, sebagai teman sebangku yang baik, Rian merasa memiliki kewajiban moral untuk mengawal hubungan kedua temannya ini sampai 'pajak jadian' benar-benar cair.

Brem......

Di kejauhan, suara mesin motor matic milik Arka terdengar menyala. Rian kembali mengintip.

Ia melihat Lyra sudah naik ke jok belakang motor Arka, duduk dengan posisi agak kaku dan memberi jarak beberapa sentimeter dari punggung Arka.

Arka melirik dari kaca spion, memastikan Lyra sudah siap, lalu perlahan menjalankan motornya membelah gerbang sekolah.

Brem, brem, brem..

Saat motor Arka melintasi pos satpam, Rian buru-buru menarik tubuhnya ke belakang, merapatkan diri ke dinding sekencang mungkin agar tidak terlihat oleh kaca spion Arka.

Setelah suara knalpot motor itu menjauh dan hilang di jalan raya, Rian akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya sambil tertawa puas.

Pak Joko yang baru keluar membawa gelas kopinya mendadak terkejut melihat Rian berdiri di samping pos sambil senyam-senyum sendiri.

"Lho, Mas Rian? Belum pulang? Kamu ngapain di situ kayak maling jemuran?" tanya Pak Joko heran.

Rian langsung membenarkan posisi tasnya dan memasang cengiran khasnya.

"Eh, Pak Joko! Enggak kok, Pak. Ini tadi habis nyari sinyal di balik tembok. Sinyal di kelas jelek banget. Ya udah Pak, saya pamit pulang dulu ya! Sukses kopinya, Pak!"

Tanpa menunggu jawaban dari Pak Joko yang masih kebingungan, Rian langsung berlari kencang menuju gerbang sekolah dengan perasaan riang gembira.

Tap! tap! tap!

Senjata utamanya untuk hari esok sudah siap di dalam saku celananya.

Besok pagi, kelas XI-3 dipastikan akan kembali gempar, dan Lyra tidak akan pernah bisa duduk tenang sepanjang jam pelajaran matematika.

________________

Pagi itu, sinar matahari baru saja menembus jendela kaca kelas XI-3, namun Rian sudah duduk manis di kursinya. Ini adalah sebuah rekor.

Biasanya, Rian baru akan menampakkan batang hidungnya dua menit sebelum bel masuk berbunyi dengan napas terengah-engah.

Namun hari ini, demi sebuah misi suci bertajuk "Operasi Menggoda Lyra," ia bela-belaan datang saat petugas piket bahkan belum selesai menyapu lantai.

Di atas meja kayu mereka, Rian sudah menata posisinya sedemikian rupa.

Ponsel pintarnya diletakkan dalam posisi telungkup, tepat di sebelah buku paket sejarah yang terbuka, berpura-pura menjadi siswa teladan yang sedang membaca.

Senyum misterius tidak lepas dari bibirnya, membuat Doni dan Kevin yang baru datang langsung menaruh curiga.

"Tumben lo jam segini udah nangkring, Yan? Kesurupan setan rajin lo?" tanya Doni sambil melempar tasnya ke kursi belakang.

Rian hanya mengedipkan sebelah mata dengan gaya sok rahasia.

"Gue lagi nunggu mangsa utama gue datang. Kalian duduk manis aja, tontonan sirkus pagi ini bakal seru."

Tepat pukul 06.45, sosok yang ditunggu akhirnya muncul di ambang pintu.

Lyra berjalan masuk dengan langkah santai, menggendong tas ransel birunya.

Wajahnya terlihat segar, sisa-sisa pusing ujian matematika kemarin tampaknya sudah menguap sepenuhnya.

Ia tersenyum tipis ke arah beberapa teman perempuan di barisan depan sebelum melangkah menuju mejanya sendiri.

"Pagi, Rian," sapa Lyra santai sambil menarik kursi di sebelah Rian.

"Pagi, Tuan Putri Pembawa Matcha," balas Rian dengan nada suara yang sengaja dibuat selembut sutra, namun justru terdengar sangat mencurigakan di telinga Lyra.

Lyra menghentikan gerakannya yang hendak menaruh tas. Ia menyipitkan mata, menatap Rian penuh selidik.

"Mulai deh. Masih pagi ya, Rian. Jangan pancing singa yang baru bangun."

"Lho, siapa yang memancing? Gue cuma menyapa dengan penuh rasa hormat kepada penumpang setia Arka Air," ujar Rian sambil terkekeh geli.

Lyra mengabaikan ucapan itu dan memilih duduk.

Namun, baru saja pantatnya menyentuh kursi, Rian dengan gerakan secepat kilat membalikkan ponselnya yang sejak tadi telungkup.

Layar ponsel yang menyala terang itu disodorkan tepat tiga sentimeter di depan hidung Lyra. Mata Lyra seketika membelalak sempurna.

Di layar itu, terpampang jelas foto dirinya yang sedang menerima helm putih dari Arka di bawah pohon peneduh kemarin sore.

Sudut pengambilan gambarnya sangat pas, menangkap ekspresi wajah Lyra yang sedang tersipu malu dan Arka yang menatapnya sambil tersenyum sangat hangat.

"Rian!!! Ini apa?!" pekik Lyra setengah berbisik, wajahnya dalam sekejap langsung berubah merah padam.

Tangannya dengan refleks bergerak maju, mencoba merebut ponsel tersebut.

Namun, Rian sudah mengantisipasi gerakan itu. Dengan lincah ia menarik ponselnya kembali ke dada, menjauhkannya dari jangkauan jemari Lyra.

"Eits! Tidak semudah itu, Ferguso! Ini adalah aset dokumentasi berharga yang dilindungi oleh undang-undang kejahilan gue!"

"Hapus gak! Lo ngintip ya kemarin? Katanya mau beli token listrik!" Lyra berdiri dari kursinya, mencoba menggapai ponsel Rian yang kini diangkat tinggi-tinggi ke udara oleh cowok bertubuh jangkung itu.

Keributan kecil di meja mereka langsung memancing perhatian seisi kelas yang mulai ramai.

Doni dan Kevin, yang sejak awal sudah mencium bau-bau gosip segar, langsung berlari mendekat ke meja Rian.

"Ada apaan nih? Sini liat dong, Yan!" seru Doni kepo.

"Jangan kasih liat, Rian! Awas ya lo!" ancam Lyra panik, mencoba menahan tubuh Rian agar tidak memperlihatkan ponselnya ke anak-anak lain.

Tapi Rian adalah Rian.

Tanpa belas kasihan, ia mencondongkan badannya ke arah Doni dan Kevin lalu membalikkan layar ponselnya sekilas.

"Nih, liat! Dokumentasi eksklusif 'Serah Terima Helm Cinta' dari Ketua Arka untuk Lyra kita tercinta!"

"WAAAAAH!!!" Doni dan Kevin langsung berteriak heboh secara bersamaan, memicu rasa penasaran siswa lainnya.

Dalam hitungan detik, meja Lyra dan Rian langsung dikerubungi oleh hampir setengah anak kelas XI-3.

"Mana, mana? Mau liat dong!" Cika dan Mita ikut merangsek maju dari barisan depan.

"Gila, si Arka tatapannya dalam banget kayak sumur bor!" celetuk Kevin setelah melihat foto itu dengan jelas.

"Ini mah bukan sekadar nebeng pulang biasa, ini namanya simulasi masa depan!"

"Aduh, Lyra, muka lo di foto ini kayak udang rebus banget sih!" goda Cika sambil menyenggol bahu Lyra yang kini hanya bisa menopang wajahnya dengan kedua tangan di atas meja, menyembunyikan rasa malu yang luar biasa.

"Rian... awas lo ya, hari ini gak bakal gue kasih contekan tugas sejarah!" ancam Lyra dari balik telapak tangannya, suaranya teredam namun terdengar penuh dendam.

Rian justru tertawa puas, merasa misinya pagi ini sukses besar.

Kelas XI-3 benar-benar riuh oleh sorakan dan tawa yang menggoda Lyra, membuat suasana pagi yang biasanya membosankan berubah menjadi sangat hidup dan penuh canda tawa.

Bersambung~~~

Hallo gess!! Semoga suka cerita nya ya!! 🤗

Bagaimana ni dengan ceritanya? si Rian jahil ya ehehehe🤭

Jangan lupa follow akun ini, like, komen dan share cerita nya ya!! 😉

Instagram: @dinndaayu_64

Wattpad: @dinda.glow

See you~~

1
Jum😊
aku udah mampir kak semangat yaa💪🤭
dinda.glow: wah... maaci udah mampir 🤩🤩🤩✨
total 1 replies
MamiAmira
semangat kak makasih tadi udah mampir
dinda.glow: makasi juga udah beri support!! ✨🥳
total 1 replies
Waaaaaa_
Aku mampir jugaaa
dinda.glow: makasi sudah mampir ihihi
total 1 replies
Sandhyaruntala
Semangat kecilll🫶
dinda.glow: maaci akk 😍
total 1 replies
Firmahadi
izin mampir kak
dinda.glow: hay... makasi sudah mampir ^^
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!