NovelToon NovelToon
The Mafia'S Only Weakness

The Mafia'S Only Weakness

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Anak Genius
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mel R.

Dominic Enzo Salvatore terus mencari kekasih nya yang menghilang sudah 6 tahun lebih ini. Akibat salah paham dimana waktu itu kekasihnya Isabella Laurent.

Halo semua nya...ini adalah karya pertama yang yang saya buat. Saya sangat berharap kalian para readers suka dengan cerita yang saya buat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mel R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22

Malam harinya, waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Dominic telah terbangun dari tidur nya dan melihat istrinya yang sedang tertidur pulas sambil memeluk nya.

Dominic tersenyum melihat nya, lalu mencium kening istrinya.

Dominic dengan pelan-pelan turun dari ranjang agar tidak membangun kan istrinya. Dominic segera bersiap, Iya yakin Darius dan Jeremy telah menunggu nya di bawah.

Malam ini adalah malam dimana Dominic akan memberikan Daddynya sebuah pelajaran yang sangat berharga.

Di dalam ruangan yang remang itu, Dominic segera bersiap. Ia menanggalkan pakaian santainya dan berganti dengan kemeja hitam taktis serta setelan jas hitam formal yang membalut tubuh tegapnya dengan sempurna. Aura hangat seorang suami seketika menguap, digantikan oleh hawa dingin yang mematikan. Dominic meraih sepasang pistol semi-otomatis dari lemari senjata rahasianya, memeriksa magasin dengan gerakan presisi, lalu menyelipkannya di balik jas hitamnya.

Dominic melangkah keluar kamar, menutup pintu berlapis peredam suara itu dengan sangat rapat. Koridor rumah yang sunyi menyambutnya. Saat melewati depan kamar Damian, Dominic sempat melirik ke arah pintu yang tertutup.

"Daddy mencintai mu Putraku, Daddy tidak akan membiarkan kamu hidup seperti yang Daddy rasakan dulu" batin Dominic dengan dingin.

Begitu Dominic menapakkan kakinya di aula utama lantai bawah, dugaannya benar. Darius dan Jeremy sudah berdiri tegak dalam balutan setelan hitam, memegang tablet taktis dan senjata laras pendek yang sudah siap tempur. Di belakang mereka, belasan anggota divisi bayangan berdiri dengan posisi siaga mutlak. Atmosfer di ruangan itu seketika mencekam begitu sang pemimpin tertinggi hadir.

Tuan," bisik Jeremy sembari membungkuk hormat. "Antonio baru saja tiba di Pelabuhan Utara sepuluh menit yang lalu. Sesuai perkiraan, dia membawa tiga puluh pengawal pribadi untuk mengawal penyelundupan senjata malam ini. Tim IT kita sudah memutus seluruh akses kamera pengawas di sektor tiga pelabuhan."

Darius maju satu langkah, menyerahkan sarung tangan kulit hitam kepada Dominic. "Semua jalur pelarian lewat laut sudah diblokir oleh kapal cepat kita. Antonio terjebak di dalam hanggar utama tanpa dia sadari."

Dominic menerima sarung tangan itu, memakainya satu per satu sembari menatap lurus ke arah pintu keluar dengan sorot mata sepasang elang yang siap mencengkeram mangsanya. Seringai kejam dan mengerikan terukir di sudut bibirnya.

​"Bagus," geram Dominic, suaranya terdengar sangat rendah dan berat, bergetar oleh aura membunuh yang pekat. "Dia mengira bisa mengancam anak dan istriku lalu tetap tidur dengan tenang di atas takhtanya. Malam ini, aku sendiri yang akan meruntuhkan takhta sialan itu."

​Dominic melangkah lebar memimpin pasukan, keluar menembus dinginnya angin malam menuju iring-iringan SUV hitam yang sudah menyala. Malam ini, di bawah kegelapan pukul satu dini hari, badai terbesar keluarga Salvatore resmi dimulai.

​Hujan badai mengguyur Pelabuhan Utara dengan brutal. Suara gemuruh petir dan hantaman ombak yang memekakkan telinga menjadi kamuflase sempurna bagi malam pembantaian ini. Di balik barisan kontainer yang gelap dan berkarat, sepuluh anggota divisi bayangan Dominic telah melebur dengan kegelapan. Mereka bergerak seperti hantu, tanpa suara, tanpa ekspresi.

​Di perimeter luar hanggar 12, lima orang penjaga Antonio sedang berjaga di bawah kanopi kayu, menghisap rokok untuk mengusir dingin. Mereka tidak tahu bahwa malaikat maut sudah berdiri tepat di belakang mereka.

​Sreeek.

​Secara serentak, lima anggota divisi bayangan muncul dari balik bayangan kontainer. Gerakan mereka begitu cepat dan presisi. Sebelum para penjaga itu sempat berkedip, pisau taktis bermata gergaji sudah menembus tenggorokan mereka dari belakang.

Croot!

Darah segar berwarna merah pekat menyembur dari leher yang robek, membasahi wajah para eksekutor. Anggota divisi bayangan menahan mulut para penjaga itu agar jeritan mereka tidak lolos, sementara tangan lainnya memutar pisau di dalam leher, memutus pita suara dan urat nadi sekaligus. Suara gurgling—cairan darah yang menyumbat tenggorokan—terdengar samar di antara deru hujan. Kelima penjaga itu kejang-kejang sebelum akhirnya terkulai lemas, mati dengan mata melotot dan mulut penuh darah. Tubuh mereka diseret ke dalam celah sempit antar-kontainer, membiarkan genangan darah mereka luntur disapu air hujan.

"Habis lah uang untuk malam ini Daddy ku" senyum smirk Dominic bagai malaikat maut

​Dominic mengisyaratkan tangan ke udara. Atas perintahnya, Darius segera mengoperasikan mesin derek portabel dan beberapa truk kontainer raksasa yang sudah disiapkan oleh divisi bayangan sejak awal. Malam ini, Dominic tidak berniat menghancurkan barang selundupan itu. Menghancurkannya adalah pemborosan, dan Dominic adalah seorang pebisnis yang cerdas sekaligus kejam. Ia akan mengambil alih semuanya.

​"Jeremy, buka paksa manifes utamanya. Aku ingin melihat apa saja yang dikumpulkan si tua bangka ini dengan uang haramnya," perintah Dominic dingin.

Brak! Kranngg!

Menggunakan linggis besi besar, anak buah Dominic menjebol segel baja pada tiga peti kemas raksasa berlogo diplomatik palsu tersebut. Begitu pintu besi kontainer terbuka, binar logam murni memantulkan cahaya lampu hanggar.

Di dalam sana, bertumpuk-tumpuk peti kayu berisi persenjataan militer kelas berat ilegal, mulai dari senapan serbu mutakhir, peluncur roket, hingga puluhan balok emas murni dan bahan baku narkotika kualitas tertinggi yang belum diolah. Total berat keseluruhan logistik gelap itu mencapai 25 ton—sebuah investasi gila.

Saat 25 ton barang selundupan itu sedang dalam proses diangkut ke dalam truk-truk milik Dominic, tiba-tiba seluruh lampu di pelabuhan yang tadinya mati total mendadak menyala terang benderang, membutakan mata.

WUUUUZZZZHHH!

Dari balik kegelapan labirin kontainer di luar hanggar, belasan mobil jip taktis bersenjata berat merangsek masuk, mengepung hanggar nomor 12 dari segala arah. Ratusan anak buah Antonio yang sesungguhnya—pasukan elit bayaran yang selama ini dia sembunyikan —muncul secara tiba-tiba.

​Di barisan paling depan, sesosok pria tua dengan mantel bulu hitam mahal melangkah turun dari mobil antipeluru. Sambil memegang tongkat berkepala singa emas dan sebuah cerutu yang menyala, Antonio Salvatore yang asli menatap Dominic dengan seringai kemenangan yang teramat puas.

​"Kau mengira kau sudah menang, Dominic?!" suara bariton tua Antonio menggelegar di antara deru hujan, sarat akan kelicikan seorang veteran dunia hitam. "Kau terlalu meremehkan Daddymu ini. Aku sengaja membiarkanmu menghabisi anjing-anjing kecilku di luar agar masuk ke perangkap ku!"

DOR! DOR! DOR! DOR!

1
meliana
kalian semua jangan lupa mampir yah, di jamin seru dengan cerita cerita author
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!