NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Jenius Di Rahim Ibu Angkat

Reinkarnasi Jenius Di Rahim Ibu Angkat

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Anak Genius
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rina ylna

**Alya** adalah gadis yatim piatu yang bekerja keras demi bertahan hidup. Namun, sebuah kesalahan fatal di satu malam—akibat salah memasuki kamar hotel—mengubah takdirnya. Ia terbangun di samping **Devan Dirgantara**, CEO dingin nan kejam dari Dirgantara Group yang sangat membenci skandal.

Alya memilih melarikan diri dan merahasiakan malam itu. Namun takdir berkata lain, beberapa minggu kemudian ia dinyatakan hamil. Di sinilah keajaiban dimulai. Janin di dalam kandungan Alya ternyata bukanlah janin biasa. Sejak usia beberapa minggu, janin tersebut bisa berkomunikasi secara telepatis hanya dengan Alya!

Si "janin ajaib" ini memiliki kecerdasan luar biasa, indra keenam, dan bahkan bisa mendeteksi niat buruk orang-orang di sekitar ibunya.

Saat ibu tiri Alya mencoba meracuninya, si janin memberi peringatan. Saat Devan akhirnya mengetahui kehamilan Alya dan berniat merebut bayinya dengan kontrak dingin, si janin justru mendiktekan syarat-syarat kontrak tandingan yang membuat sang CEO jeni

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina ylna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 11

Kehidupan Alya di Penthouse Lavender selama beberapa minggu terakhir berjalan bagaikan mimpi yang terlalu indah. Rasa mualnya perlahan mulai berkurang berkat perhatian ekstra dari Devan—yang kini benar-benar mematuhi saran dokter untuk tidak memakai parfum menyengat saat berada di rumah. Hubungan mereka pun semakin mencair. Devan yang dingin kini mulai terbiasa dengan celotehan Alya, dan diam-diam, sang CEO selalu menantikan momen sarapan bersama sebelum ia berangkat kerja.

Namun, kedamaian di atas awan lantai 45 itu tidak bertahan selamanya. Badai yang sesungguhnya baru saja mengarahkan pusarannya ke arah mereka.

Siang itu, Alya sedang bersantai di sofa ruang tamu yang luas sembari menikmati potongan buah kiwi segar yang disiapkan oleh Bibi Nunung. Tiba-tiba, bel pintu penthouse berbunyi.

Alya mengernyitkan dahi. Biasanya, tidak ada tamu yang bisa naik ke lantai penthouse tanpa kartu akses khusus atau konfirmasi ketat dari lobi bawah. Yudha atau Devan pun selalu memberi kabar jika ada kurir atau dokter yang akan datang.

"Biar Bibi yang buka, Nona," ujar Bibi Nunung yang buru-buru keluar dari dapur.

Namun, begitu pintu kayu ek ganda itu terbuka, bukan suara sopan Yudha yang terdengar, melainkan ketukan sepatu hak tinggi yang nyaring dan penuh percaya diri melangkah masuk ke dalam marmer mengilat penthouse.

*Klak! Klak! Klak!*

Sesosok wanita berpenampilan sangat modis dan berkelas melangkah masuk tanpa diundang. Ia mengenakan gaun terusan ketat berwarna merah menyala yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sempurna bagaikan model internasional. Rambutnya yang dicat cokelat madu bergelombang indah, membingkai wajah cantiknya yang dipoles riasan *bold* yang tajam. Di tangannya, bertengger tas Hermes edisi terbatas yang harganya setara dengan rumah kos Alya yang lama.

Wanita itu menghentikan langkahnya tepat di tengah ruang tamu, menatap sekeliling dengan pandangan rindu, sebelum akhirnya matanya tertuju pada Alya yang sedang duduk di sofa dengan kaos putih longgar dan celana denimnya.

Tatapan wanita itu seketika berubah menjadi dingin, tajam, dan penuh dengan aura permusuhan.

"Siapa kamu? Dan kenapa kamu bisa ada di dalam penthouse milik Dev-ku?" tanya wanita itu dengan nada suara yang tinggi, menuntut, dan penuh nada meremehkan.

Alya perlahan meletakkan garpu buahnya, mencoba mempertahankan ketenangannya meskipun jantungnya mulai berdegup kencang. "Saya Alya. Maaf, Anda sendiri siapa? Bagaimana bisa Anda masuk ke sini tanpa izin?"

Wanita itu mendengus sinis, tertawa kecil yang terdengar sangat merendahkan. Ia berjalan mendekat, lalu dengan santai melemparkan tas mahalnya ke atas meja kaca di depan Alya, seolah-olah dia adalah pemilik sah tempat tersebut.

"Masuk tanpa izin? Lucu sekali," ucap wanita itu sembari melipat tangan di dada. "Aku adalah **Tiffany Alexander**. Putri tunggal dari Alexander Group, dan yang paling penting... aku adalah tunangan—ralat, kekasih Devan yang paling dia cintai. Kami hanya sempat berselisih paham beberapa bulan lalu hingga aku memutuskan pergi ke Paris untuk meredakan diri."

Tiffany melangkah selangkah lebih dekat, menatap kaos polos Alya dengan pandangan jijik. "Tapi sepertinya, selama aku pergi, Dev-ku menjadi sedikit ceroboh hingga membiarkan pelayan rendahan sepertimu tinggal di tempat se-eksklusif ini. Apakah kamu pelayan baru yang disewa Bibi Nunung? Kenapa lancang sekali duduk di sofa ini?"

Alya tertegun. *Kekasih Devan? Tiffany Alexander?*

Dada Alya mendadak terasa sesak dan nyeri yang aneh menghantam ulu hatinya. Devan tidak pernah menceritakan tentang masa lalunya, apalagi tentang seorang wanita bernama Tiffany. Pikiran Alya langsung berkecamuk. *Apakah hubungan pernikahan kontrak ini benar-benar hanya sebuah lelucon? Apakah aku hanya sekadar alat pelindung sementara bagi Devan sebelum kekasih aslinya ini kembali?*

Rasa tidak aman dan keraguan yang besar mulai merayap di benak Alya, membuat matanya perlahan mulai berkaca-kaca.

Namun, sebelum air mata Alya sempat jatuh, sebuah gelombang energi spiritual yang sangat dingin dan tajam mendadak memancar dari dalam perutnya. Rasa hangat yang akrab kembali membungkus hati Alya, mengusir segala kesedihan dan menggantinya dengan kekuatan batin yang kokoh.

Di dalam kepalanya, suara Baby El bergaung dengan nada yang sangat tajam, sinis, dan penuh amarah yang tertahan.

> *[Cih! Wanita bermake-up tebal seperti badut sirkus ini berani sekali menyebut dirinya kekasih Ayah? Ibu, jangan biarkan kata-katanya mempengaruhimu! Dalam memori bawah sadar Ayah yang kubaca, pria dingin itu bahkan tidak pernah membiarkan wanita ini menyentuh ujung lengan kemejanya!]*

> *[Dia hanya wanita agresif yang menggunakan koneksi bisnis keluarganya untuk menempel pada Ayah. Dan sekarang dia berani datang ke sini dan membuat Ibuku sedih? Dia benar-benar bosan hidup!]*

Mendengar analisis tajam dari bayinya, Alya langsung menegakkan punggungnya. Kesedihan di wajahnya seketika menguap, digantikan oleh tatapan mata yang tenang dan berani.

"Nona Tiffany," ucap Alya dengan nada suara yang stabil dan berwibawa. "Saya bukan pelayan di sini. Dan jika Anda merasa memiliki hubungan yang begitu erat dengan Tuan Devan, seharusnya Anda tahu siapa saya saat ini di hidupnya."

Tiffany mengernyitkan dahinya, matanya menyipit tajam. "Siapa kamu sebenarnya? Jangan berbelit-belit!"

Tepat pada saat itu, suara Baby El kembali bergerak, namun kali ini ia tidak hanya berbicara pada Alya. Janin ajaib itu melepaskan serangan spiritual ringan yang langsung menghantam saraf kesadaran Tiffany.

*BZZZZT!*

Tiffany tiba-tiba terhuyung satu langkah ke belakang. Kepalanya mendadak terasa sangat pening, seolah-olah ada beban berat yang menekan otaknya. Di dalam kepalanya, sebuah suara anak kecil yang sangat jernih namun sedingin es kutub utara bergaung dengan nada mengancam.

> *[Wanita berisik berbaju merah! Jauhkan tatapan matamu yang menyebalkan itu dari Ibuku! Jika kau berani berteriak lagi di tempat ini, aku akan membuat seluruh investasi keluarga Alexander di bursa saham rontok dalam waktu satu jam!]*

Tiffany memegangi kepalanya dengan kedua tangan, wajahnya yang penuh riasan tebal mendadak memucat. "S-siapa... siapa yang bicara di dalam kepalaku?! Dev... apakah ini salah satu teknologi keamanan barumu?!" teriak Tiffany histeris, menatap sekeliling ruangan dengan pandangan ketakutan.

Sebelum Tiffany sempat menguasai dirinya kembali, pintu lift privat penthouse berdenting nyaring.

*Ting!*

Pintu lift terbuka, dan Devan Dirgantara melangkah keluar. Pria itu tampak sangat maskulin dengan setelan kemeja hitamnya yang lengannya digulung setengah. Namun, begitu melihat sosok Tiffany berdiri di tengah ruang tamunya, wajah Devan seketika mengeras bagaikan batu es. Aura membunuh yang sangat pekat langsung memancar dari tubuh sang CEO.

"Devan!" teriak Tiffany girang, mencoba melupakan rasa pusing di kepalanya. Ia langsung berlari menghampiri Devan dan berniat menggelayuti lengan pria itu. "Dev, syukurlah kamu pulang! Pelayan kurang ajar di rumahmu ini baru saja—"

*Sret!*

Sebelum jemari Tiffany sempat menyentuh kain kemejanya, Devan dengan kasar menepis tangan wanita itu dan melangkah mundur, menghindari kontak fisik sekecil apa pun dengan ekspresi jijik yang amat kentara.

"Siapa yang mengizinkanmu masuk ke properti pribadiku, Tiffany?" suara bariton Devan terdengar begitu rendah dan berbahaya, hingga membuat suhu di dalam penthouse mewah itu terasa turun drastis.

Tiffany tertegun, bibir merahnya sedikit terbuka karena terkejut dengan penolakan kasar Devan. "Dev... kenapa kamu bersikap seperti ini padaku? Kita... kita kan pasangan yang serasi. Aku pergi ke Paris hanya untuk membuatmu merindukanku, dan sekarang aku sudah kembali untukmu—"

"Hentikan omong kosongmu," potong Devan tajam, tidak memberikan celah sedikit pun bagi Tiffany untuk membela diri. "Kita tidak pernah memiliki hubungan apa pun selain kerja sama bisnis antar keluarga yang sudah kubatalkan sejak tiga bulan lalu. Jangan pernah menyebut dirimu sebagai kekasihku lagi jika kamu masih ingin melihat Alexander Group bertahan di kota ini."

Pernyataan dingin Devan bagaikan tamparan keras tepat di wajah Tiffany. Di depan Alya, harga diri sang putri konglomerat itu baru saja dihancurkan hingga tidak bersisa.

Devan mengabaikan Tiffany yang kini mematung dengan mata berkaca-kaca menahan malu. Langkah kakinya yang panjang langsung bergegas menghampiri Alya yang masih duduk di sofa. Devan duduk di samping Alya, tangannya secara refleks merangkul pundak Alya dengan sangat protektif, sementara matanya yang tajam menatap perut Alya dengan kecemasan yang tidak bisa disembunyikan.

"Alya, kamu tidak apa-apa? Apakah dia menyakitimu? Bagaimana dengan kandungamu?" tanya Devan beruntun dengan nada suara yang sangat lembut—sangat kontras dengan nada bicaranya pada Tiffany tadi.

Alya menatap mata abu-abu Devan yang dipenuhi kepedulian tulus, dan semua keraguan yang sempat merayap di hatinya tadi seketika sirna. Ia tersenyum manis, menggelengkan kepalanya pelan. "Aku tidak apa-apa, Tuan Devan. Anak kita... dia sangat kuat menjaga Ibunya."

Mendengar kata "anak kita" dan melihat bagaimana Devan memperlakukan Alya bagaikan sebutir permata yang paling berharga, Tiffany merasa dunianya runtuh seketika.

"D-Devan... kamu... kamu berselingkuh dengan wanita miskin ini?! Dan dia... dia hamil?!" teriak Tiffany dengan suara bergetar karena amarah dan kecemburuan yang membakar dadanya.

Devan berbalik perlahan, menatap Tiffany dengan pandangan mata elangnya yang sangat dingin dan mematikan.

"Dia bukan selingkuhanku, Tiffany," desis Devan lambat namun penuh penekanan yang mutlak. "Alya Putri adalah calon istriku yang sah, dan dia sedang mengandung pewaris tunggal dari Dirgantara Group. Jadi, jaga mulutmu sebelum aku sendiri yang akan memastikan keluarga Alexander kehilangan seluruh aset mereka di negara ini."

"Yudha!" panggil Devan dengan teriakan bariton yang menggema di seluruh ruangan.

Yudha yang rupanya sudah bersiaga di depan lift langsung melangkah masuk bersama dua orang pengawal berbadan tegap. "Ya, Tuan Muda Devan?"

"Seret wanita ini keluar dari gedung ini. Dan pastikan seluruh staf keamanan yang membiarkannya naik ke penthouse ini dipecat hari ini juga secara tidak hormat," perintah Devan tanpa belas kasihan sedikit pun.

"Baik, Tuan Muda," jawab Yudha tegas. Kedua pengawal langsung bergerak cepat mendekati Tiffany.

"Devan! Kamu tidak bisa melakukan ini padaku! Alexander Group tidak akan tinggal diam!" teriak Tiffany histeris saat kedua pengawal mulai memegangi lengannya dan menyeretnya menuju lift privat. "Devan! Lepaskan aku! Wanita miskin itu tidak pantas untukmu!"

Pintu lift akhirnya tertutup, membungkam seluruh teriakan histeris Tiffany yang perlahan menjauh ke lantai bawah.

Suasana di dalam penthouse kembali hening. Devan mengembuskan napas panjang, melonggarkan kancing atas kemeja hitamnya dengan gusar. Ia menatap Alya yang kini sedang menatapnya dengan senyum geli yang manis.

"Kenapa tersenyum?" tanya Devan ketus, mencoba menutupi rasa canggungnya.

"Tidak apa-apa," jawab Alya lembut, menyandarkan kepalanya dengan nyaman di bahu kokoh Devan. "Hanya merasa... calon ayah dari anakku ini ternyata sangat keren saat sedang marah."

> *[Hahaha! Betul sekali, Ibu! Nilai proteksi Ayah hari ini menembus angka seratus persen! Dia tidak memberikan kesempatan sedikit pun pada mantan jadi-jadian itu untuk membuat Ibu stres. Kerja bagus, Ayah! Aku memberimu izin untuk menyuapi Ibuku lagi malam ini!]*

Mendengar bisikan Baby El yang sangat puas di kepalanya, Devan hanya bisa mengulas senyuman tipis yang sangat langka. Ia merangkul pundak Alya lebih erat, merasakan detak jantung wanita itu yang kini berdegup seirama dengan miliknya di tengah kehangatan sore yang damai.

1
beybi T.Halim
yaa jgn nama juga laa.,bisa hubby,ayah.,ayang beb🤭kannn gak sopan manggil nama doank
beybi T.Halim
keren ceritanya,gak menye menya,gas poll👍
Ariany Sudjana
haha dasar pelacur murahan kamu itu Mita, suami yang kamu banggakan, ternyata kalah jauh dibanding Devan Dirgantara 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
bagus Devan, orang sombong dari masa lalu Alya, memang harus dibungkam
Miu Miu 🍄🐰
seru ceritanya 😍
Ariany Sudjana
hahaha bangkrut keluarga Alexander, kalian salah cari lawan 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
harusnya dua tikus itu dibunuh saja
Ariany Sudjana
Alya gitu lho 😂😂
Ariany Sudjana
hahaha mampus kamu Tiffany 🤣🤣😂😂
Rina ylna
buat kalian yang emang bener² suka sama ceritanya, pliss kasih like, vote dan komen lanjut Thor biar aku makin semangat nulisnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!