NovelToon NovelToon
Nestapa Ibu Yang Kehilangan Anaknya

Nestapa Ibu Yang Kehilangan Anaknya

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Konflik etika / Tamat
Popularitas:917
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Hamida, 25 tahun, kehilangan putra semata wayangnya, Harapan, yang meninggal pada usia delapan tahun.

Konon, tidak ada sebutan bagi orang tua yang kehilangan anaknya. Sebab duka itu begitu besar hingga tak mampu diwakili oleh satu kata pun. Bagi Hamida, kepergian Harapan meninggalkan kehampaan yang tak pernah bisa diisi kembali.

Namun, luka itu menjadi semakin dalam ketika kematian Harapan yang penuh kejanggalan justru dinyatakan sebagai kecelakaan. Kebenaran diputarbalikkan karena pelaku adalah anak dari seorang tokoh berpengaruh yang memiliki kekuasaan dan mampu membungkam banyak orang.

Di tengah tekanan, ancaman, dan berbagai upaya untuk menghentikannya, Hamida memilih untuk tidak menyerah. Dengan didampingi seorang pengacara muda idealis bernama Afandi Harahap, ia berjuang mengungkap kebenaran dan menuntut keadilan bagi putranya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6

"Saksi yang seperti apa lagi, Pak? Bukti yang seperti apa lagi? Anak-anak itu sudah bersaksi. Tubuh Harapan juga sudah memberikan bukti. Anak saya tidak mati karena tenggelam. Pasti ada sesuatu. Tolonglah, pak!" Mida masih berusaha membujuk.

Apapun yang Muda katakan, tetap saja ia diminta pulang. Mencari bukti lainnya yang lebih kuat. Dengan langkah lemas, Mida keluar dari kantor polisi. Harapan terakhir yang ia bawa pagi itu seolah runtuh di depan pintu kantor tersebut. Namun, satu hal semakin menguat di dalam hatinya. Kalau tak ada siapa pun yang mau mencari kebenaran untuk Harapan, maka ia sendiri yang akan terus mencarinya, sampai titik darah penghabisan.

Dengan langkah gontai, Mida keluar dari kantor polisi. Harapan yang sejak pagi ia bawa seolah luruh begitu saja. Ia berdiri termenung di halaman, tak tahu harus melangkah ke mana lagi.

Saat itulah seorang pria paruh baya yang sedari tadi memperhatikannya menghampiri."Maaf, Bu. Saya nggak sengaja dengar sedikit pembicaraan Ibu di dalam."

Mida mengusap air matanya lalu mengangguk pelan.

"Kalau memang Ibu yakin ada yang janggal, coba cari pendamping hukum atau pengacara. Kadang, kalau ada yang mendampingi, laporan bisa disusun lebih lengkap dan prosesnya jadi lebih jelas."

Mida menatap pria itu dengan bingung. "Pengacara? Tapi saya orang miskin, Pak. Buat makan saja kadang susah. Dari mana saya bisa bayar pengacara?"

Pria itu tersenyum tipis. "Nggak semua pengacara harus dibayar mahal, Bu. Ada yang mau membantu masyarakat kecil, bahkan ada yang memberikan bantuan hukum secara cuma-cuma. Ibu jangan menyerah dulu."

Ucapan sederhana itu membuat secercah harapan kembali menyala di hati Mida. Entah apakah ia benar-benar akan menemukan orang yang bersedia membantunya. Namun untuk pertama kalinya sejak ditolak di kantor polisi, ia merasa masih ada jalan yang bisa ditempuh demi mengungkap kebenaran tentang kematian Harapan.

Sesampainya di gubuk, Mida segera mengambil ponsel tuanya. Dengan jari-jari yang gemetar, ia mencoba mencari informasi tentang pengacara yang bersedia membantu orang kecil tanpa biaya.

Sinyal yang lemah membuat halaman demi halaman terbuka sangat lambat. Berkali-kali ia harus mengulang pencarian karena sambungan internet terputus. Mida membaca satu per satu informasi yang muncul. Ada layanan bantuan hukum gratis, tetapi semuanya berada di kota yang letaknya sangat jauh dari kampung tempat ia tinggal.

Tak ada kantor yang bisa ia datangi dengan mudah. Tak ada nomor yang benar-benar dapat ia hubungi. Jangankan ongkos ke kota, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja Mida harus bekerja keras di pabrik tahu.

Perlahan ia meletakkan ponselnya. Matanya menatap langit-langit gubuk yang mulai gelap. Sejenak ia merasa jalan yang baru saja terbuka kembali tertutup rapat. Namun, jauh di dalam hatinya, Mida menolak menyerah. Ia percaya, selama kebenaran itu masih ada, pasti akan ada jalan untuk menemukannya, meski ia belum tahu dari mana pertolongan itu akan datang.

Keesokan harinya, Mida mengambil keputusan yang nekat. Setelah semua jalan terasa buntu, ia kembali mendatangi rumah Dapit. Ia berharap, kali ini bisa berbicara langsung dengan bocah itu tanpa ada yang menghalangi. Namun, baru beberapa langkah memasuki halaman, ibu Dapit sudah berdiri menghadangnya. Tatapan perempuan itu tajam, penuh amarah.

"Untuk apa kau datang lagi? Mau menghancurkan mental anakku? Sejak kau datangi, dia terus ketakutan. Semalaman dia menangis dan mengigau!" Ibunya Dapit mencegat sambil berkacak pinggang.

Mida terdiam sejenak. Dadanya naik turun menahan sesak. "Aku tidak ingin menyakiti Dapit." Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Tapi anakku sudah mati... dan Dapit adalah orang terakhir yang terlihat bersama Harapan sebelum semuanya terjadi. Kalau memang dia tahu sesuatu, kenapa harus diam?"

"Dia masih anak-anak! Jangan paksa dia memikul sesuatu yang bukan salahnya! Dapit nggak tau apa-apa soal kematian Harapan."

Suasana mendadak sunyi. Kedua perempuan itu sama-sama berdiri dengan mata berkaca-kaca. Yang satu berusaha melindungi anaknya yang masih hidup. Yang satu lagi berjuang mencari kebenaran untuk anaknya yang telah tiada. Tak ada yang mengalah. Tak ada yang benar-benar sanggup memahami luka satu sama lain. Yang terdengar hanya isak yang tertahan, sementara jarak di antara mereka terasa semakin jauh.

"Bagaimana kalau yang terjadi pada Harapan terjadi pada putramu, kau pasti akan melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan." ucap Mida, memohon belas kasih ibunya Dapit, agar anaknya mau menceritakan apapun yang ia ketahui.

"Tidak. Anakku masih hidup. Anakku tak akan bernasib sama seperti putramu sebab anakku dijaga dengan baik." ungkap ibunya Dapit.

"Apa maksudmu?" Mida emosi.

"Apa yang terjadi pada Harapan adalah kesalahan kalian yang gagal menjaganya. Kalian lalai. Kamu sebagai ibu terlalu sibuk dengan pekerjaanmu, sementara Joni sengaja ayahnya tak peduli anaknya. Beda dengan aku dan suamiku yang menjaga Dapit. Kami sayang pada anak kami, ia berharga ...."

"Cukup! Meski Harapan tidak dijaga oleh ayahnya tapi ia berharga untukku!"

Dua orang perempuan yang bergelar ibu itu nyaris bertengkar gara-gara mendebatkan anaknya masing-masing. Untungnya Ayahnya Dapit segera keluar, dengan santun ia meminta Mida untuk pulang dahulu.

"Mida, maafkan istriku, kamu pulanglah dulu, nanti kalau kondisi Dapit sudah membaik, aku akan memintanya bercerita apa yang sebenar-benarnya terjadi. Percayalah Mida, kami pun ikut sedih dengan apa yang menimpa putramu, hanya saja kami juga harus menjaga mental putra kami." ungkap ayahnya Dapit.

"Iya Bang, terimakasih. Saya pulang dahulu." Mida melangkah meninggalkan rumah Dapit, menyibak kerumunan orang-orang yang penasaran dengan keributan yang terjadi.

***

Setelah berkali-kali menemui jalan buntu, Mida akhirnya mendatangi rumah Joni, mantan suaminya sekaligus ayah kandung Harapan. Meski rumah tangga mereka telah lama berakhir, Mida berharap duka kehilangan anak mampu menyatukan mereka untuk mencari kebenaran.

Joni keluar rumah dengan wajah datar. Ia memandang Mida tanpa banyak bicara.

"Bang... aku mohon. Bantu aku mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi sama Harapan. Dapit adalah orang terakhir yang bersama dia. Tapi semua orang seolah menutup mata."

Joni menghela napas panjang, lalu menggeleng pelan. "Mida... anak itu sudah meninggal. Sudah dikuburkan. Semuanya sudah selesai."

Ucapan itu membuat dada Mida sesak. "Selesai? Bagaimana mungkin selesai kalau kita bahkan belum tahu apa yang sebenarnya terjadi?"

Joni menatapnya tanpa perubahan raut wajah.

"Jangan cari gara-gara. Terima saja takdir. Jangan membuat masalah baru."

Mata Mida berkaca-kaca. "Dia bukan cuma anakku, Bang. Dia juga darah dagingmu. Apa Abang nggak ingin tahu kenapa anak kita pulang tinggal jenazah?"

Joni terdiam sesaat, tetapi tak memberikan jawaban yang diharapkan. "Aku nggak mau ikut campur."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!