NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Sang Arjuna Langit

Terjebak Cinta Sang Arjuna Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:308
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Di kehidupan yang hanya sekali ini, tentu menikahi orang yang dicintai dan mencintai diri kita juga adalah impian semua orang. Laila pun begitu, gadis manja dan ceria itu selalu menyematkan do'a terbaik untuk kehidupan cintanya. Namun, wasiat Ibunya dan permintaan Ayah yang tak bisa ia tolak memaksa Laila untuk menikah dengan laki-laki yang bahkan jauh dari tipenya.

Siapakah sosok lelaki yang dijodohkan dengan Laila?

Apakah bisa Laila melewati perjodohan dan menjalani kehidupan pernikahan tanpa cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemunya Duo Kocak

Sinar matahari pagi menembus celah gorden kamar hotel, menyinari wajah Laila yang masih terpejam. Ketika ia melenguh kecil dan berniat mengubah posisi tidurnya, tangannya menghantam sesuatu yang empuk namun kokoh. Mata Laila langsung terbuka sempurna.

Hal pertama yang ia lihat adalah benteng guling yang mereka susun semalam sudah porak-poranda. Dua guling entah terbang ke mana, dan satu guling tersisa kini sukses dijepit oleh sepasang kaki milik pria di sebelahnya. Dan yang lebih parah, wajah Arjuna kini hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya, sedang menatapnya dengan mata berbinar.

"Selamat pagi, Dek Laila. Nyenyak banget tidurnya sampai tadi malam ada yang ngorok kecil," sapa Arjuna, suaranya serak khas orang baru bangun tidur namun tetap terdengar menyebalkan.

Laila langsung terduduk tegak, menarik selimutnya ke dada dengan wajah merah padam. "Siapa yang ngorok? Gak usah fitnah ya! Terus kenapa gulingnya bisa hancur begini? Lo ngelanggar batas wilayah, ya?"

Arjuna ikut duduk santai, meregangkan otot-otot lengannya yang berotot tanpa canggung. "Wah, jangan sembarang tuduh, Dek. Justru Mas mendeteksi ada pergerakan ilegal dari kaki kiri kamu yang mencoba masuk ke wilayah Mas. Sesuai perjanjian semalam, harusnya kan Mas denda peluk semalaman. Tapi karena Mas aparat yang berhati mulia, dendanya Mas tangguhkan dulu."

"Arjuna, Lo bener-bener... tau ah!" Laila langsung melompat dari kasur, menyambar handuknya, dan berlari menuju kamar mandi dengan langkah menghentak kesal, sementara suara tawa renyah Arjuna bergaung puas memenuhi kamar hotel.

Setelah drama pagi hari yang menguras emosi dan tensi darah Laila, mereka akhirnya check-out dari hotel jam sembilan pagi. Mobil milik Arjuna kini melaju membelah jalanan kota menuju rumah Ayah Laila. Di dalam mobil, Laila memilih diam, memandang ke luar jendela sembari mendekap tas tangannya yang di dalamnya tersimpan kado cokelat dari Devan kemarin yang belum sempat ia buka.

Arjuna yang sedang menyetir sesekali melirik istrinya. Ia tahu persis apa yang ada di dalam tas itu, namun memilih tidak merusak suasana pagi ini.

"Dek, nanti sampai rumah Papi, Mas mau minta menu sarapan tambahan ah. Soalnya mie instan soto semalam cuma bertahan sampai subuh di perut Mas," celetuk Arjuna santai memecah keheningan.

"Rumah Papi bukan restoran, kalau mau makan banyak, mending mampir ke warteg yang gak jauh dari komplek aja sana," jawab Laila judes.

"Waduh, masa menantu kesayangan Papi dikasih makan warteg. Nanti kalau Mas kurus, Papi mikir kamu gak becus ngurus suami, lho. Kan kasihan reputasimu nanti Dek," sahut Arjuna bertingkah sok prihatin, sukses membuat Laila mendengus tajam dan pura-pura tuli.

Akhirnya setelah perjalanan panjang, mobil Arjuna berhenti di pelataran parkir rumah mertuanya yang luas. Begitu turun dari mobil, Laila mengernyitkan dahi melihat ada sebuah mobil keluarga lain yang terparkir di sana. "Siapa yang bertamu sepagi ini?" batinnya heran.

Arjuna dengan sigap membawakan koper pakaian Laila, berjalan beriringan di samping istrinya yang melangkah anggun namun tetap memasang wajah waspada. Begitu pintu utama rumah terbuka, suara tawa yang sangat nyaring dan menggelegar langsung terdengar dari arah ruang tamu utama.

"Lho, ini dia pengantin barunya baru datang. Aduh, mukanya kok lecek amat kayak baju belum disetrika tiga hari, La!"

Laila tersentak. Di sofa ruang tamu, duduk seorang wanita paruh baya bertubuh agak gempal dengan pakaian batik luar biasa mencolok berwarna kuning kunyit, lengkap dengan sanggul instan yang bertengger kokoh di kepalanya. Itu Budhe Lastri, kakak kandung Ayahnya yang tinggal di Yogyakarta namun sengaja datang untuk acara pernikahan. Sifat Budhe Lastri ini terkenal di seluruh keluarga mereka sebagai wanita yang blak-blakan, super heboh, dan tidak punya urat malu.

"Eh, Papi... Budhe Lastri... sudah dari tadi?" Laila langsung berjalan mendekat, menyalami tangan Ayahnya dan Budhe Lastri dengan takzim.

"Aduh ndok ayune makin nambah setelah nikah, maaf loh ya kemarin Budhe belum bisa menghadiri acara nikahan kamu. Mohon dimaklumi ya, Pakde mu masih sakit dan Mbakmu kemarin ada kerjaan yang gak bisa ditinggal," jelas Budhe Lastri, karena kemarin berhalangan hadir di acara pernikahan Laila dan Arjuna, sembari memeluk Laila singkat.

"Iya gak papa Budhe," jawab Laila.

Di samping Budhe Lastri, duduk Ayah yang tampak tertawa terkekeh-kekeh. Serta Mbak Elvira, anak kandung Budhe Lastri sekaligus sepupu Laila, umurnya tujuh tahun lebih tua dari Laila dengan penampilan yang sangat modis.

Setelah melepas rindu dengan ponakannya, perhatian Budhe Lastri langsung teralih total begitu melihat sosok tegap Arjuna yang berdiri di belakang Laila. Arjuna yang tanggap situasi langsung meletakkan koper, menegakkan badannya, dan memberikan senyum ramah yang sangat menawan.

"Selamat pagi, Papi. Selamat pagi, Budhe," sapa Arjuna sopan, lalu ikut menyalami tangan Budhe Lastri.

Budhe Lastri tidak langsung melepaskan tangan Arjuna. Mata tuanya memindai penampilan Arjuna dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan menyelidik, membuat Laila sempat tegang takut Arjuna akan diinterogasi macam-macam. Namun, dugaan Laila salah besar.

"Waduh, Dirga. Ini menantumu beneran gagah tenan. Tahu gitu dulu pas pendaftaran taruna, anakku si Elvira ini tak suruh nongkrong di depan akademi militer biar dapet yang begini!" seru Budhe Lastri heboh, suaranya membahana memenuhi langit-langit rumah.

Arjuna yang mendengar pujian blak-blakan itu bukannya malu atau salah tingkah, melainkan langsung menyambar kesempatan itu dengan ketengilan tingkat dewanya. Ia memajukan tubuhnya sedikit, memasang wajah super ramah.

"Wah, terima kasih, Budhe. Tapi sepertinya kalau Mbak Elvira nongkrong di depan akademi dulu, yang ada malah dikira intelijen yang lagi nyamar, Budhe. Soalnya aura cantiknya terlalu mencolok, pasti langsung ketahuan," sahut Arjuna tangkas, lengkap dengan cengiran khasnya.

Budhe Lastri tertegun sedetik, lalu sedetik kemudian wanita paruh baya itu memukul bahu Arjuna pelan sambil tertawa terpingkal-pingkal. "Hahaha! Lah bocah ini pinter amat kalau ngomong. Nemuuu aja jawaban yang bikin budhenya seneng. Dirga, menantumu ini fix satu frekuensi sama aku, gak kayak anakmu si Laila, diajak guyon dikit langsung merengut kayak habis nelan pil pahit."

Laila yang berdiri di samping mereka langsung melotot. "Hah? Baru ketemu dua menit, kenapa Arjuna dan budheku sudah kayak personel grup lawak begini?" batin Laila syok sekaligus kesal setengah mati.

"Budhe, Laila gak merengut ya," bela Laila ketus.

"Halah, gak merengut piye, itu bibirmu sudah maju lima senti, udah kayak mulutnya bebek," timpal Budhe Lastri tanpa ampun, membuat Ayah Laila ikut tertawa terbahak-bahak sampai terbatuk-batuk kecil.

Sementara ruang tamu dipenuhi kehebohan Budhe Lastri dan Arjuna, Elvira yang sedari tadi memperhatikan Arjuna dengan mata menyipit akhirnya membuka suara.

"Bentar... bentar... Ini Arjuna Aksa Wardhana, kan? Anak kelas XII-IPA3 yang dulu pernah dihukum lari keliling lapangan basket gara-gara ketahuan pasang petasan di ruang guru pas kelulusan?" tanya Elvira dengan nada menyelidik.

Arjuna menoleh cepat, menatap Elvira dengan mata melebar. "Lho... Elvira? Elvira si bendahara kelas yang galaknya melebihi komandan pleton, yang kalau nagih uang kas suka bawa-bawa sapu ijuk?"

"Heh! Enak aja, aku nagihnya pakai kelembutan ya," protes Elvira sambil tertawa lepas. Ia bangkit dari sofa dan melakukan tos ala anak SMA dengan Arjuna.

"Gila ya, dunia sempit banget. Ternyata Kapten yang diceritain Papi Dirga selama ini itu kamu, Juna. Kok bisa sih sepupuku yang kalem dan pinter kayak Laila dapet jodoh makhluk ajaib macem kamu?" lanjut Elvira.

"Wah, ini namanya taktik tingkat tinggi Mbak. Laila itu magnet kutub utara yang dingin, sedangkan aku kutub selatan yang penuh kehangatan. Jadi kita saling tarik-menarik secara ilmiah," jawab Arjuna tengil, yang langsung dihadiahi lirikan maut dari Laila.

"Sains dari mana begitu, Mas Arjuna?" potong Laila dengan nada sedingin es, sengaja menaruh penekanan pada kata 'Mas' agar terlihat harmonis di depan Ayahnya, meskipun hatinya sedang dongkol setengah mati.

"Sains dari departemen cinta rumah tangga kita sendiri, Dek," balas Arjuna cepat tanpa beban, mengedipkan sebelah matanya ke arah Laila, membuat Elvira langsung bersorak meledek.

"Cieee Dek Laila, Mas Arjuna. Baru semalam di hotel langsung panggilannya mesra banget ya Buk!" goda Elvira sambil menyenggol lengan Ibunya, Budhe Lastri.

"Iya lho, Budhe penasaran, tadi malam di hotel ngapain aja toh? Kok Laila jalannya agak pelan begitu, opo lemes digendong Arjuna?" tanya Budhe Lastri dengan kedipan mata super jahil yang sangat tidak ramah untuk kesehatan mental Laila.

Wajah Laila seketika berubah merah padam, persis seperti kepiting rebus. Ia menatap Arjuna, memberi kode keras agar pria itu membantunya keluar dari interogasi mesum budhenya. Namun, yang namanya Arjuna, ia justru memanfaatkan situasi ini untuk meluncurkan serangan balasan.

"Waduh, Budhe... Kalau soal itu, rahasia rumah tangga," Arjuna berbisik dengan gaya sok rahasia, namun suaranya sengaja dikeras-keraskan agar didengar semua orang.

"Tapi yang jelas, tadi malam kami sempat melakukan negosiasi batas wilayah yang cukup alot sampai subuh, Budhe. Laila ini galak banget kalau mempertahankan areanya."

"Hahaha! Bagus. Perwira itu memang harus pantang menyerah menaklukkan wilayah baru, Juna," seru Budhe Lastri sambil mengacungkan dua jempolnya tinggi-tinggi.

Laila rasanya ingin menghilang dari bumi saat itu juga. "Negosiasi batas wilayah katanya? Dia bener-bener ngebahas soal guling pembatas semalam dengan konotasi yang ambigu! Dasar Kapten mesum, tengil, menyebalkan," jerit Laila dalam hati, tangannya sudah gemetar menahan gemas ingin menjambak rambut suaminya.

"Sudah... sudah, ayo kita ke ruang makan. Mbak Sri sudah masak soto seger buat sarapan kita semua," lerai Ayah sambil bangkit dari sofa, tersenyum bahagia melihat kehangatan yang tercipta di antara menantu dan keluarga besarnya.

Mereka semua berjalan menuju ruang makan. Budhe Lastri dan Elvira berjalan di depan sambil terus mengobrol heboh dengan Dirga, sementara Laila dan Arjuna berjalan paling belakang.

Begitu rombongan depan agak menjauh, Laila langsung memepet tubuh tegap Arjuna. Ia mencubit lengan berotot suaminya itu dengan sekuat tenaga hingga Arjuna sedikit mengaduh tanpa suara.

"Lo bener-bener keterlaluan ya, Kenapa ngebahas soal batas wilayah ke Budhe Lastri? Tahu sendiri kan budhe gue itu pikirannya ke mana-mana," desis Laila dengan mata menyala penuh amarah.

Arjuna menghentikan langkahnya sejenak. Ia tidak membalas dengan kata-kata tengil seperti biasanya. Sebaliknya, ia menatap Laila yang sedang merengut kesal. Melihat anak rambut Laila yang sedikit berantakan di dekat telinga akibat kepanikan tadi, tangan Arjuna bergerak perlahan. Dengan kelembutan jemari hangat Arjuna menyelipkan anak rambut itu ke belakang daun telinga Laila.

"Mas cuma mau buat suasana cair, Dek," bisik Arjuna lembut, suaranya terdengar sangat bariton dan menenangkan tepat di samping telinga Laila.

"Mas tahu dari kemarin kamu stres dan banyak pikiran. Mas gak mau kamu kelihatan sedih di depan Papi. Lihat Papi... beliau bahagia banget hari ini karena mengira kita bahagia. Mas cuma mau bantu kamu menjaga senyum Papi," sambung Arjuna.

"Lagian, kalau kamu cemberut terus begitu, nanti Mas beneran denda peluk di depan Budhe Lastri lho, biar sekalian ada saksinya," celetuk Arjuna sambil mengedipkan sebelah matanya, lalu berjalan mendahului Laila menuju ruang makan dengan langkah tegap yang santai.

"ARJUNA! AWAS LO YA!" pekik Laila tertahan, ia meremas jemarinya dengan gemas sebelum akhirnya menyusul langkah Arjuna.

...Bersambung......

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!