NovelToon NovelToon
Kebangkitan Sang Awakener Terkuat Di Akhir Zaman

Kebangkitan Sang Awakener Terkuat Di Akhir Zaman

Status: sedang berlangsung
Genre:Hari Kiamat / Zombie / Misteri / Horor
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: novelisnewbie

Arga mati di tangan zombie Tier 7 setelah 10 tahun bertahan di kiamat. Namun, dia terbangun kembali ke 30 hari sebelum wabah Necrovirus Sapiens melanda dunia. Di tubuhnya yang masih muda dan lemah, dia membawa pengetahuan 10 tahun: lokasi kejadian penting, resep ramuan awakener, cara membuat senjata tier tinggi, dan nama-nama pengkhianat yang akan menghancurkan umat manusia.

Akankah Arga mampu mewujudkan impiannya? Ataukah Arga akan gagal kembali? Ikuti terus perkembangan ceritanya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novelisnewbie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14: Tiga Minggu Membangun Benteng Terakhir

Fajar tanggal 22 Juni 2026 menyingsing bersama kabut tipis yang menggantung di lereng perbukitan, seolah alam sendiri sedang menyembunyikan sebuah rahasia dari dunia yang masih tertidur. Di saat jutaan orang memulai hari dengan rutinitas yang sama seperti kemarin, Arga melangkahkan kaki menuju sebuah vila yang dalam tiga minggu lagi akan menjadi garis pemisah antara hidup dan kematian. Tak seorang pun di jalanan menyadari bahwa transaksi sederhana pagi itu akan mengubah masa depan lebih besar daripada keputusan para pemimpin negara.

Mobil yang ditumpanginya berbelok melewati jalan berliku dengan deretan pinus menjulang di kedua sisi. Udara pegunungan yang dingin menyusup melalui jendela yang sedikit terbuka, tetapi sorot mata Arga jauh lebih tenang dibandingkan kesejukan pagi itu. Di kepalanya, halaman-halaman masa depan terus berputar, menampilkan benteng yang pernah bertahan paling lama ketika kota-kota besar telah berubah menjadi kuburan.

Tak...

Pintu pagar besi tua terbuka perlahan ketika seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun menyambutnya dengan senyum yang dipaksakan. Wajah lelaki itu menyimpan kelelahan yang tidak mampu disembunyikan oleh pakaian rapi, sementara matanya beberapa kali memandang vila di belakangnya seolah sedang mengucapkan selamat tinggal kepada sebagian hidupnya sendiri.

"Mas Arga?" tanyanya sembari mengulurkan tangan. "Saya Budi, pemilik vila ini. Terima kasih sudah datang secepat ini."

Arga menjabat tangan itu dengan sopan lalu mengangguk pelan. "Saya ingin melihat kondisinya langsung sebelum kita menyelesaikan semuanya."

Pak Budi mengajak Arga memasuki halaman luas yang dipenuhi rerumputan hijau dan pohon buah yang telah tumbuh puluhan tahun. Bangunan dua lantai bergaya modern klasik berdiri kokoh menghadap lembah, dengan pagar batu alam yang mengelilingi sebagian besar lahannya. Di kehidupan sebelumnya, tempat itu pernah menjadi markas penyintas yang mampu bertahan hampir empat bulan sebelum akhirnya jatuh akibat kehabisan logistik, bukan karena serangan zombie. Kini, sebelum semua tragedi itu terjadi, vila tersebut masih sunyi, utuh, dan belum mengenal bau darah.

Arga berjalan perlahan menyusuri setiap sudut tanpa banyak berbicara. Ia memperhatikan kemiringan tanah, arah aliran air, posisi bukit di belakang vila, hingga jalur masuk kendaraan yang hanya melalui satu akses utama. Semua yang dilihatnya bukan lagi sebuah rumah mewah, melainkan fondasi benteng yang akan menampung orang-orang paling berharga dalam hidupnya.

Pak Budi menarik napas panjang sebelum berkata lirih, "Sebenarnya saya tidak pernah berniat menjual tempat ini. Perusahaan saya bangkrut tiga bulan lalu, utangnya terlalu besar, dan bank sudah memberi peringatan terakhir." Ia tersenyum getir sambil menepuk pagar kayu di teras. "Daripada semuanya disita, lebih baik saya menjualnya kepada orang yang benar-benar menghargainya."

Arga mendengarkan tanpa memotong pembicaraan. Dalam kehidupan sebelumnya, ia telah melihat ribuan orang kehilangan rumah karena zombie. Kini ia justru melihat seseorang kehilangan rumah karena sistem ekonomi, tanpa menyadari bahwa beberapa minggu lagi uang dan utang sama-sama akan kehilangan makna.

Mereka memasuki ruang tamu yang masih dipenuhi perabot kayu jati berkualitas tinggi. Cahaya matahari menembus jendela besar, menerangi lantai marmer yang berkilau seakan rumah itu masih memiliki masa depan panjang. Arga hanya memandang sekilas sebelum pikirannya mulai menggambar letak gudang bawah tanah, ruang komando, gudang senjata, pusat distribusi logistik, serta posisi menara pengawas yang akan dibangun di masa depan.

"Awalnya saya memasang harga empat miliar," ujar Pak Budi sambil menyodorkan map dokumen. "Tapi kalau Mas Arga benar-benar serius, saya bersedia melepasnya di tiga koma tiga miliar."

Arga membuka map itu dengan tenang, memeriksa sertifikat, izin bangunan, dan seluruh dokumen kepemilikan. Setelah memastikan semuanya sesuai, ia menutup map itu perlahan lalu berkata, "Tiga koma dua miliar, seluruh dokumen lengkap, dan prosesnya hari ini juga."

Suasana mendadak sunyi beberapa detik. Pak Budi tampak ragu, tetapi akhirnya mengembuskan napas panjang dan mengangguk pasrah. "Baiklah. Saya terima."

Klik...

Pulpen menari di atas lembar perjanjian ketika keduanya membubuhkan tanda tangan terakhir. Tidak ada tepuk tangan ataupun ucapan selamat yang berlebihan. Hanya suara kertas yang berpindah tangan, disertai sebuah masa depan yang diam-diam bergeser ke arah yang sama sekali baru.

Saat seluruh transaksi selesai, Arga melangkah keluar menuju halaman depan. Angin pegunungan meniup pelan rambutnya, sementara pandangannya menyapu seluruh kawasan yang masih damai. Di balik ketenangan itu, ia seolah melihat bayangan pagar baja setinggi lima meter, menara pengawas dengan lampu sorot, panel surya yang memenuhi atap, gudang logistik bawah tanah, serta ladang sayuran yang kelak menjadi sumber kehidupan.

"Dulu tempat ini bertahan empat bulan," gumamnya dalam hati. "Sekarang... tempat ini akan bertahan sampai akhir."

Senyum tipis muncul di sudut bibirnya. Untuk pertama kalinya sejak kembali ke masa lalu, ia benar-benar merasa keluarganya memiliki kesempatan untuk hidup.

Perjalanan Arga belum selesai. Begitu meninggalkan kawasan vila, ia mengeluarkan hard drive hasil curian dari Sektor-9 dan membuka kembali dokumen yang selama ini belum sempat dipelajari secara menyeluruh. Di antara ratusan berkas terenkripsi, terdapat daftar lokasi yang diberi kode khusus, lengkap dengan catatan mengenai jalur distribusi dana operasi Organisasi Hitam. Tatapannya langsung berubah tajam ketika menyadari betapa luasnya jaringan yang telah dibangun organisasi tersebut jauh sebelum kiamat dimulai.

"Itu sebabnya mereka selalu bergerak begitu cepat," bisiknya. "Mereka sudah menyiapkan semuanya bahkan sebelum kiamat dimulai."

Sore itu, Arga berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain tanpa menarik perhatian. Sebuah gudang tua di kawasan industri ternyata menyimpan brankas baja berisi uang tunai dalam pecahan besar, sementara sebuah ruko yang tampak kosong menyembunyikan emas batangan, mata uang asing, berlian, dan dokumen transaksi ilegal bernilai fantastis.

Desis...

Ruang Dimensi terbuka tanpa suara ketika telapak tangan Arga menyentuh tumpukan uang yang memenuhi ruangan. Dalam hitungan detik, lemari besi, koper-koper penuh dolar, emas, hingga berlian kecil menghilang satu per satu, seolah ditelan ruang kosong yang tak kasatmata. Tak ada pintu yang dirusak, tak ada alarm yang berbunyi, dan kamera CCTV hanya merekam ruangan yang perlahan berubah kosong tanpa satu orang pun terlihat memindahkan isinya.

Arga terus mengunjungi lokasi demi lokasi berikutnya. Semakin banyak aset yang masuk ke Ruang Dimensi, semakin ia memahami besarnya jaringan Organisasi Hitam. Mereka bukan sekadar kelompok ilmuwan gila, melainkan organisasi bayangan dengan pendanaan yang sanggup mengguncang ekonomi nasional.

Menjelang malam, jumlah aset yang berhasil diamankan telah melampaui dua koma tujuh triliun rupiah jika dihitung dari uang tunai, emas, mata uang asing, serta berbagai barang berharga lainnya. Nilai itu terdengar luar biasa bagi dunia saat ini, tetapi bagi Arga semuanya hanyalah alat untuk membeli waktu sebelum uang berubah menjadi kertas tak bernilai.

Di sebuah ruang rapat rahasia, beberapa layar monitor tiba-tiba dipenuhi laporan kehilangan secara bersamaan. Wajah para petinggi Organisasi Hitam berubah tegang ketika setiap lokasi yang selama ini mereka anggap aman ternyata telah dikosongkan dalam hari yang sama. Pria berambut perak berdiri tanpa mengucapkan sepatah kata, sementara jarinya mengetuk meja perlahan sambil membaca laporan demi laporan yang terus berdatangan.

Tok...

Tok...

"Ghost Collector," katanya pelan dengan mata yang menyipit. "Dia bukan sedang mencuri."

Ruangan menjadi sunyi. Tak seorang pun berani menyela ketika pria itu mengangkat kepalanya dan melanjutkan dengan suara yang tetap tenang namun jauh lebih dingin.

"Dia sedang mempersiapkan perang."

Ucapan itu membuat seluruh anggota elit saling berpandangan. Mereka akhirnya menyadari bahwa lawan yang selama ini mereka buru tidak bergerak secara acak. Setiap pencurian memiliki pola, setiap target memiliki tujuan, dan seluruh tindakan itu perlahan membentuk sebuah persiapan besar yang hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang mengetahui masa depan.

Sementara itu, Arga telah tiba di sebuah perusahaan konstruksi nasional yang dikenal mampu mengerjakan proyek industri berskala besar dalam waktu singkat. Ia membawa rancangan benteng yang telah disempurnakan berdasarkan sepuluh tahun pengalaman bertahan hidup, lengkap dengan spesifikasi pagar baja berlapis, bunker bawah tanah, gudang logistik, sistem tenaga surya, menara pengawas, jalur evakuasi, hingga sistem penyaringan air mandiri.

Direktur perusahaan memandangi gambar-gambar tersebut dengan dahi berkerut, sementara para insinyur di ruang rapat saling bertukar pandang. Setelah beberapa saat mengamati rancangan itu, sang direktur menggeleng pelan. "Pak Arga, proyek seperti ini biasanya membutuhkan waktu enam sampai delapan bulan. Tiga minggu itu... mustahil."

Beberapa insinyur mengangguk setuju. Salah seorang bahkan tersenyum kecil, menganggap klien di hadapan mereka hanyalah seseorang yang memiliki ambisi berlebihan tanpa memahami realitas di lapangan.

Arga tetap tenang. Ia mendorong sebuah map ke tengah meja sebelum berkata, "Biaya bukan masalah."

Ketika direktur membuka map tersebut, napasnya langsung tertahan. Di dalamnya tertera nilai kontrak pembangunan sebesar Rp150 miliar, hampir tiga kali lipat dari estimasi normal untuk proyek dengan spesifikasi serupa. Selain itu, terdapat klausul bonus penyelesaian senilai Rp50 miliar apabila seluruh pekerjaan selesai sebelum tenggat tiga minggu yang ditentukan.

Ruangan seketika menjadi sunyi. Bahkan para insinyur yang sebelumnya tampak santai kini menatap angka-angka itu dengan mata membelalak.

"Saya hanya punya satu syarat," ujar Arga sambil menatap mereka satu per satu. "Selesaikan sebelum tiga minggu."

Tak seorang pun memahami alasan tenggat yang terdengar mustahil itu. Namun kontrak senilai Rp200 miliar yang terdiri atas nilai proyek dan bonus penyelesaian yang cukup untuk menghapus hampir seluruh keraguan yang semula memenuhi ruangan. Bagi perusahaan tersebut, proyek itu bukan hanya menghasilkan keuntungan luar biasa, tetapi juga menjadi peluang yang belum tentu datang dua kali.

Direktur akhirnya berdiri lalu berkata mantap, "Kami akan mengerahkan seluruh tim terbaik. Beberapa proyek lain akan kami tunda. Mulai besok pagi pekerjaan dimulai."

Arga mengangguk singkat sebelum meninggalkan ruang rapat. Mereka mengira sedang membangun vila impian seorang miliarder muda. Tidak ada yang tahu bahwa mereka sebenarnya sedang membangun bahtera terakhir sebelum banjir terbesar dalam sejarah umat manusia.

Malam turun perlahan ketika Arga kembali berdiri di halaman vila yang kini resmi menjadi miliknya. Lampu-lampu Jakarta berkelap-kelip di kejauhan, tampak indah seperti gugusan bintang yang jatuh ke bumi. Sulit membayangkan bahwa dalam waktu kurang dari tiga minggu, cahaya-cahaya itu akan padam satu per satu, digantikan jeritan, kobaran api, dan keputusasaan.

Hembusan angin malam menyapu pepohonan di sekeliling bukit.

Srrr...

Arga memejamkan mata sejenak lalu mengaktifkan Sensor Dimensi. Dalam kesunyian, ia merasakan denyut samar kristal-kristal yang tersimpan di Ruang Dimensinya, aura misterius dari arah Sektor-9, serta kehidupan normal yang masih memenuhi kota di bawah sana. Semua denyut itu saling bertumpang tindih, mengingatkannya bahwa waktu terus berjalan menuju hari ketika dunia akan berubah selamanya.

Ia membuka mata perlahan. Tatapannya tidak lagi dipenuhi keraguan, hanya tekad yang semakin mengeras.

"Tiga minggu..." bisiknya pelan sambil memandang cakrawala yang mulai diselimuti gelap.

"Sebelum semuanya terlambat."

1
arya_v2
lanjutkan terus ceritanya💪🏻
Rene
kalo dia mau jadi Awakener seharusnya gak terlalu butuh obat"an biasa kan?
Rene
ada cctv🤭
Rene
harusnya dikutil aja dikit dikit🤭 kan punya ruang dimensi
novelisnewbie: sikap macam apa itu, nanti kena pelanggaran kalo ngutil barang umum, tapi kalo ngutil punya villain gpp sih🤣
total 1 replies
Rene
kalo ngomong paling dibilang orang gila🤣
Rene
buat top up🤭
Rene
jelas lah bjir, cuma sebulan, bisa apa🤭 apalagi posisinya kismin
Rene
nah, mending bantai aja mereka dulu, mumpung masih jadi cunguk🤭
Rene
ya gak papa mau nagis lagi juga🤭
Rene
subrek, mungkin aku bakal ngikutin seri ini, soalnya lagi nulis genre kiamat juga🤭 semangat thor
Rene: siap💪
total 2 replies
Rene
mampir dulu🤭
Blueria
mantap, latar Indonesia 💪
novelisnewbie: iyaa karena saya udah muak sama pemerintah jadi saya buat aja genre kiamat biar kalang kabut tuh pemerintahnya wkwk, btw terimakasih banyak semoga betah👍
total 1 replies
adib
bagus..
novelisnewbie: terimakasih banyak 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!