NovelToon NovelToon
Nona Kota Di Posko Kkn

Nona Kota Di Posko Kkn

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Anshuu_

Alya Mahendra, gadis kota yang harus menjalani KKN di Desa Sukamaju, sebuah desa pelosok yang jauh dari kehidupan nyamannya. Karena tingkahnya yang sering mengeluh dan tak terbiasa hidup sederhana, teman-temannya mulai menjulukinya “Nona Kota.”

Di tengah hari-hari KKN yang penuh tantangan, ada Arga Pratama, cowok dingin dan kaku yang diam-diam sering membantu Alya meski wajahnya selalu terlihat tak peduli. Namun saat konflik mulai muncul di posko, mampukah Alya bertahan sampai akhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anshuu_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Momen Kecil..

Setelah menempuh perjalanan sekitar lima belas menit, akhirnya mereka tiba di kebun milik Pak Bagas.

“Ayo sini, Nak,” panggil Pak Bagas sambil melambaikan tangan.

Mereka pun langsung menghampiri beliau satu per satu lalu menyalaminya dengan sopan.

“Kebunnya luas juga ya, Pak,” ujar Adrian sambil melihat hamparan tanaman cabai yang membentang cukup jauh.

Pak Bagas tersenyum bangga.

“Iya, alhamdulillah, Nak.”

Arga kemudian maju selangkah.

“Oh iya Pak, kedatangan kami ke sini sekalian ingin membantu panen dan mengambil dokumentasi untuk kegiatan KKN. Apakah boleh?”

“Tentu saja boleh, Nak,” jawab Pak Bagas ramah.

Sebelum mulai memanen, mereka terlebih dahulu berfoto bersama Pak Bagas sebagai dokumentasi tambahan.

Setelah sesi foto selesai, semua mulai bersiap turun ke area kebun.

Saat Alya hendak mengikuti yang lain, tiba-tiba Arga memanggilnya.

“Al.”

Alya langsung berhenti dan menoleh.

“Iya? Kenapa?”

Arga mengulurkan sebuah topi kebun miliknya.

“Pakai ini dulu.”

“Cuacanya udah mulai terik.”

Alya sempat terdiam sejenak sebelum menerima topi itu.

“Makasih ya, Arga.”

Melihat pemandangan itu, Adrian dan Dion langsung berdeham pelan sambil saling melirik.

Yang lain hanya saling pandang sambil menahan senyum, sedangkan Kevin langsung ikut bersuara.

“Don, pinjem topi juga dong. Panas nih.”

Dion langsung menggeleng.

“Gak ada, Gue juga kepanasan ini.”

Mendengar jawaban Dion, suasana langsung kembali rAmai oleh gelak tawa mereka.

Setelah Pak Bagas menjelaskan cara memetik cabai yang benar, mereka pun mulai bekerja.

Baru sekitar satu menit memetik, Alya sudah mulai mengeluh.

“Astaga…Kalau tau begini aku pakai baju kebun yang sempat aku beli.”

Ia menghela napas panjang.

“Ini semua gara-gara kalian sih. Bikin buru-buru sampai aku lupa.”

Meski mulutnya terus mengomel, kedua tangannya tetap sibuk memetik cabai satu per satu.

“Nona kota kita udah mulai ngomel, coii,” celetuk Dion sambil terkekeh.

Belum sempat Alya membalas ucapan Dion, tiba-tiba suara ponselnya berdering. Semua yang sedang asyik memetik cabai sempat menoleh dan terdiam sejenak. Alya pun segera mengambil ponselnya dari saku celana.

“Eh…Ada sinyal?” gumamnya pelan.

Meski hanya muncul satu bar, Alya tetap buru-buru mengangkat panggilan itu.

Di layar langsung muncul tiga wajah yang paling ia rindukan.

Papi.

Kak Elang.

Dan Kak Keano.

Wajah Alya seketika berubah cerah.

“Halo, Kak…”

“Princess lagi di mana?” tanya sang papi dengan senyum hangat.

“Alya lagi di kebunnya Pak Bagas, Pi.”

“Benarkah?”

“Iya dong.”

“Nih lihat…”

Alya langsung mengarahkan kamera ke hamparan tanaman cabai.

“Cabainya banyak banget, kan?”

“Iya… luas juga ya,” jawab papinya.

Kak Keano ikut menyahut.

“Wih… berarti udah jago panen cabai dong sekarang.”

“Iya jelas jago lah.”

“Kalau gitu nanti pulang…Kakak beliin kebun aja ya, Biar kamu bisa nanam cabai sendiri.”

“Jadi petani cabai deh,” sahut Kak KeaNo sambil terkekeh.

Mendengar itu Alya langsung menggeleng cepat.

“Nggak mau…Panas.”

Jawabannya membuat ketiga orang di layar langsung tertawa.

Kak Elang kemudian bertanya.

“Lah, mana baju kebun yang kemarin kamu beli?”

Alya menggaruk pipinya.

“Nggak kepake...Tadi pagi buru-buru banget, jadi lupa.”

Tawa mereka kembali terdengar.

Di sisi lain, teman-teman KKN yang mendengar percakapan itu hanya bisa melongo.

“Gila… baru sekali video call bilang lagi di kebun, langsung mau dibeliin Kebun beneran,” bisik Rizki dengan wajah tak percaya.

Adrian langsung menepuk bahu Kevin.

“Vin, coba telepon bokap lu. Siapa tahu habis lihat lu kerja keras, lanGsung dikasih modal buat usaha,” ujar Adrian sambil terkekeh.

“Iya tuh,” sahut Dion penuh semangat.

“Siapa tahu berhasil.”

Didorong teman-temannya, Kevin akhirnya menghela napas pasrah lalu menelepon ayahnya.

Tak lama kemudian panggilannya tersambung.

“Halo.”

Suara berat ayah Kevin terdengar dari seberang.

“Halo Yah…”

“Gimana kabarnya?”

Ayahnya langsung heran.

“Tumben nanya kabar. Habis bikin masalah lagi ya?” tanya ayah Kevin dengan nada bercanda.

Mendengar itu beberapa orang langsung mulai menahan tawa.

“Enggak kok.”

“Ini Kevin lagi di kebunnya Pak Bagas.”

“Kebun? Memangnya lagi ngapain di sana?” tanya ayah Kevin penasaran.

“Panen cabai.”

“Oh, ya sudah lanjut aja. Jangan bikin masalah ya. Kalau sampai bikin masalah, uang jajAn kamu Ayah potong,” ujar ayah Kevin santai.

Kevin langsung memasang wajah pasrah.

“Yah…Bukannya bangga sama anak sendiri.”

Dari seberang justru terdengar suara tawa.

“Ayah bangga, Kalau kamu udah punya usaha sendiri.”

Belum sempat Kevin menjawab, tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan darI balik telepon.

“Itu siapa?”

“Kevin?”

“Iya.”

“Halo sayangnya Mama, Gimana kabarnya?”

Mendengar ucapan itu, Adrian langsung menutup mulut sambil menahan tawa. Sementara yang lain saling berpandangan dengan senyum gemas melihat reaksi Kevin.

“Baik kok, Ma, Kalau Mama gimana?”

“Mama juga baik.”

“Mama kangen banget sama kesayangan Mama.”

Kevin langsung salah tingkah.

“Ma…Kevin lagi sama teman-teman.”

“Oh iya?”

Kalau begitu titip salam ya buat teman-teman Kevin.”

“Iya, Tante!” jawab mereka kompak.

Tak lama kemudian telepon pun ditutup.

Suasana hening dua detik.

Lalu—

“Hahahaha!”

Dion langsung menepuk paha sambil tertawa.

“Aduh…Kesayangan Mama, Utututu…”

“Diam!” teriak Kevin malu sambil berjalan menjauh dari mereka, yang justru membuat gelak tawa semakin pecah.

Setelah selesai memanen cukup lama, mereka akhirnya beristirahat di sebuah gubuk sederhana milik Pak Bagas yang berada di tengah kebun.

“Gubuknya bagus juga ya, Pak,” ujar Dion sambil melihat sekeliling.

Pak Bagas tersenyum.

“Iya, Nak. Kadang saya nginap di sini buat jagain hasil panen.”

Rizki langsung penasaran.

“Lah, kenapa harus dijagain, Pak?”

“Emang ada yang maling cabainya?”

Pak Bagas terkekeh pelan.

“Bukan orang.”

“Biar nggak dirusak babi hutan, Di sini banyak binatang hutan yang suka masuk ke kebun.”

“Ohh…” gumam Dion sambil mengangguk paham.

Tak lama kemudian mereka pun makan siang bersama dengan menu sederhana yang dibawa warga. Ada tahu goreng, tempe, tumis kangkung, ikan goreng, dan telur yang dimasak oleh beberapa ibu-ibu desa.

Seperti biasa, Alya tetap tidak mengambil ikan. Trauma kejadian beberapa hari lalu masih belum benar-benar hilang, jadi ia hanya mengambil tahu, tempe, dan sedikit tumis kangkung.

Saat Alya sedang menyendok nasi—

tiba-tiba sebuah telur goreng berpindah ke piringnya.

“Nih.”

Suara Arga terdengar datar.

Alya langsung menoleh dengan wajah bingung.

“Loh?”

“Makan yang banyak,” ucap Arga singkat.

Alya sempat melongo beberapa detik.

Lalu pelan-pelan ia tersenyum.

“Makasih…”

Setelah itu Alya kembali melihat ikan yang masih ada di nampan.

“Arga…Mau ikan nggak?”

“Hm.”

Arga mengangguk singkat lalu mengambil ikan yang disodorkan Alya.

Pemandangan sederhana itu ternyata tidak luput dari perhatian ibu-ibu yang ikut makan bersama.

Salah seorang ibu langsung tersenyum usil.

“Ehh, Nak Alya…kalian pacaran ya?”

Seketika Alya langsung tersedak kecil.

“Bukan, Bu…”

jawabnya pelan dengan pipi yang mulai memerah.

Sementara Arga tetap makan seperti biasa tanpa menunjukkan ekspresi apa pun.

Meski wajah Arga tetap datar seperti biasa, jika diperhatikan dengan saksama, Ujung telinganya terlihat memerah samar.

Dion yang melihat itu langsung menyenggol Adrian.

“Belum, Bu…Kalau nanti sih, nggak tahu.”

Ucapan Dion langsung membuat semua orang tertawa.

Alya hanya bisa menunduk malu.

Di sudut lain, Laura memandangi Alya dengan tatapan tajam.

Ia sudah lama diam-diam menyukai Arga.

Namun selama ini Arga selalu bersikap cuek kepadanya.

Berusaha mengalihkan perhatian, Laura tersenyum lalu bertanya,

“Arga, kamu masih mau nambah nasi?”

“Nggak.”

Jawaban Arga tetap singkat tanpa menoleh.

Senyum Laura pun perlahan memudar.

1
Aylnn_
...
Aylnn
Bagus Sekali..
Aylnn
bagus kak..
cintaa
lanjut thor🙏🙏
Aylnn_: Besok sy update yah Kak..🙏🥰
total 1 replies
cintaa
ditunggu kelanjutannyaa 🙏💪
Aylnn_: Sudah update yaa kak..
total 1 replies
cintaa
lanjut thorr tapi banyakin yaa maaf kalo ngelunjakk🙏🙏🙏
Aylnn_: Sudah Update yaa kak, itu saya buat kan 3 bab yahh kak semoga suka🥰
total 1 replies
cintaa
hmm... mana yaa kak lanjutannya🙏🙏
Aylnn_: sudah update ya kak, maaf kemarin² saya sibuk🙏🥰
total 1 replies
cintaa
lanjut thorr💪💪💪💪
Aylnn_: Oke besok pagi yaa kk..
total 1 replies
Muh Adhil
hahah author nya tega banget sama alya 🤣
Aylnn_: Yaa Ampunn..
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!