Aruna (25tahun) adalah wanita karir sukses, cantik, dan mandiri yang hidupnya terusik oleh teror "kapan nikah" dari orang tuanya. Lelah dengan tekanan tersebut, Aruna memutuskan melepas penat di sebuah kelab malam bersama sepupu-sepupunya. Malam itu, di bawah pengaruh alkohol, ia terlibat cinta satu malam (one night stand) dengan seorang pria tampan nan karismatik. Betapa terkejutnya Aruna saat terbangun di apartemen dan mendapati pria tersebut adalah teman akrab sepupunya sendiri. Syoknya bertambah berkali-kali lipat saat mengetahui fakta baru: pria itu ternyata seorang berondong yang usianya jauh di bawah Aruna. Hubungan tak terduga ini mendadak rumit ketika si pria enggan menjauh dan justru menawarkan solusi gila untuk menghadapi orang tua Aruna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NoorBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Aliansi Bisnis kita tidak boleh goyah
Ruang periksa VVIP Rumah Sakit Pusat milik Caspian Property Group terasa begitu tenang, privat, dan mewah. Tidak ada bau obat yang menyengat khas rumah sakit umum. Di sana hanya ada sofa beludru yang nyaman, aroma terapi yang menenangkan, dan pendingin ruangan yang berembus halus. Di tengah ruangan, Aruna berbaring di atas ranjang periksa dengan baju yang sedikit terangkat, menampilkan perut ratanya yang kini diolesi gel transparan sedingin es.
Di sebelahnya, Gavin setia berdiri sembari menggenggam erat tangan kanan Aruna. Pemuda itu bahkan mengabaikan denyut nyeri di bahu kirinya yang baru saja selesai dibalut perban baru oleh tim medis rumah sakit akibat insiden di tadi.
Dokter spesialis kandungan senior berambut keperakan itu mulai menggerakkan transducer di atas perut Aruna. Seketika, sepasang mata Aruna dan Gavin langsung terkunci pada layar monitor datar besar di sudut ruangan.
"Nah, mari kita lihat..." ucap sang dokter dengan nada suara yang sangat ramah. Layar monitor yang tadinya hanya menampilkan visual abu-abu acak, mendadak memunculkan sebuah siluet lingkaran kecil yang samar di bagian tengah.
"Ini dia. Kantung kehamilannya sudah terbentuk dengan sangat baik. Sesuai ukuran kantungnya, janin ini baru memasuki minggu kelima."
Aruna menegang. Otak korporatnya yang selalu teratur dan penuh hitungan matematis mendadak memproses informasi itu dengan cepat. Ia melirik kalender digital di jam tangan militernya, lalu menatap dokter dengan pandangan sangsi sekaligus bingung.
"Dok, maaf..." sela Aruna, suaranya terdengar sedikit gugup.
"Apakah mungkin baru melakukan... maksud saya, kami baru berhubungan badan satu kali, satu bulan lebih yang lalu, dan bisa langsung jadi seperti ini?"
Gavin yang berdiri di samping kasur langsung melirik Aruna. Senyum miring asimetris andalannya mendadak muncul kembali, meremas pelan jemari Aruna demi menggoda kecemasan berlebih sang wanita karier.
Dokter senior itu terkekeh rendah, sangat memaklumi kepanikan khas calon ibu baru.
"Sangat mungkin, Nona Aruna. Justru usia lima minggu itu dihitung sejak hari pertama haid terakhir Anda, bukan pas hari berhubungan badannya. Jika dihitung dari waktu hubungan badan Anda yang satu bulan lalu, itu sangat pas dengan masa ovulasi. Satu kali penetrasi pada masa subur sudah lebih dari cukup jika sperma dari suami Anda ini punya kualitas yang sangat unggul."
Mendengar frasa 'suami Anda' dan 'kualitas sangat unggul', Gavin langsung menaikkan sebelah alisnya bangga. Ia sengaja condong ke depan dan berbisik tepat di telinga Aruna.
"Denger kan, Kak? Efek darah muda Sterling emang nggak pernah main-main soal akurasi target."
"Gavin, diam!" wajah Aruna seketika merah padam sampai ke telinga. Ia memelototi berondongnya yang tidak tahu tempat untuk pamer ego maskulin.
Dokter itu tersenyum maklum lalu melanjutkan penjelasannya.
"Lalu soal detak jantung. Pada usia lima minggu, tabung jantung primitif janin sebenarnya sudah mulai terbentuk dan berdenyut secara mikroskopis. Dengan teknologi alat USG resolusi tinggi VVIP milik rumah sakit kita ini, struktur jantung awal itu sudah bisa terdeteksi audio mesinnya secara samar tapi pasti. Mari kita dengarkan."
Dokter kemudian menekan satu tombol lagi untuk mengaktifkan sensor audio pada mesin USG.
Dup-dup-dup-dup-dup-dup!
Suara detak jantung yang sangat cepat, ritmis, dan terdengar begitu bertenaga seketika menggema, memenuhi seluruh penjuru ruangan periksa yang sunyi tersebut.Mendengar suara itu, pertahanan air mata Aruna runtuh seketika. Air mata haru mengalir lambat melewati pelipisnya, meluluhkan seluruh kepanikan logisnya tadi. Titik kecil di dalam rahimnya itu benar-benar hidup, bernapas, dan berdetak kencang di sana.
Aruna menoleh ke arah Gavin. Untuk pertama kalinya, ia melihat mata elang berondong mafianya itu berkaca-kaca menatap layar monitor. Gavin tidak bersuara, namun rahang tegasnya tampak mengeras, menahan gejolak emosi luar biasa yang membuncah di dalam dadanya.
"Detak jantungnya sangat kuat dan normal untuk usia lima minggu," konsultasi sang dokter sambil tersenyum hangat, memecah keheningan haru mereka.
"Nona Aruna hanya perlu menjaga pola makan, hindari stres berlebih terutama tekanan kerja di kantor, dan konsumsi vitamin asam folat yang sudah saya resepkan secara teratur."
Zzzzt... Zzzzt...
Mesin USG mengeluarkan suara cetak halus. Dokter merobek selembar kertas foto hitam-putih mengilat dari mesin tersebut, lalu menyerahkannya langsung ke tangan Aruna.Aruna menerima foto itu dengan jemari yang masih sedikit gemetar. Di atas kertas tersebut, siluet lingkaran hitam dengan titik kecil usia lima minggu tercetak dengan sangat jelas. Gavin mencondongkan tubuhnya, ikut menatap foto USG pertama anaknya tersebut. Tangan kanannya bergerak lembut mengusap sisa air mata di pipi Aruna, sebelum akhirnya ia mendaratkan sebuah kecupan yang sangat lama di kening wanita itu.
" Aku mencintaimu Aruna"
Aruna terkekeh di sela tangis harunya, meremas balik jemari Gavin dengan erat. Sambil menatap cetakan foto kecil minggu kelima di genggamannya, Aruna tahu bahwa kontrak pacar sewaan mereka telah berakhir sore ini, digantikan oleh ikatan darah yang akan mengikat takdir mereka berdua selamanya.
***
Pintu lift lobi VVIP Rumah Sakit Pusat CPG berdenting halus dan terbuka. Aruna melangkah keluar sembari mendekap erat amplop kertas tebal berisi cetakan foto USG minggu kelima bayinya. Di sebelahnya, Gavin berjalan tegap dengan tangan kanan yang merangkul posesif pinggang Aruna. Bahu kiri pemuda itu tampak sedikit kaku, terbalut perban baru di balik jaket akibat sisa pertempuran tadi siang.
Namun, langkah kaki Aruna dan Gavin seketika tertahan saat pandangan mereka menyapu area lobi utama. Atmosfer di ruangan elite itu mendadak terasa sangat sunyi, tegang, dan dipenuhi aura intimidasi yang pekat.
Di sudut lobi yang sunyi, duduk tiga orang pria dengan kharisma dominan yang sanggup menghentikan detak jantung siapa saja yang lewat. Sosok pertama adalah Dominic Alexsei Sterling, sang kepala sindikat klan mafia, yang tampil necis dengan setelan jas abu-abu gelapnya. Di sebelah kanan dan kirinya, berdiri dua orang pria berwajah tampan dengan postur tubuh tinggi tegap yang sangat Aruna kenali, Jasper Ethan Erros dan Oliver Evan Erros.
Melihat Aruna dan Gavin keluar dari lift, ketiga pria itu serentak bangkit berdiri, menciptakan gelombang intimidasi kepemimpinan yang begitu kuat di tengah lobi rumah sakit.
Ethan, si sepupu tertua yang terkenal dengan wajah tenang namun dingin, melangkah maju duluan. Matanya melirik amplop USG di tangan Aruna, lalu beralih menatap Gavin dengan pandangan menyelidik khas seorang kakak laki-laki yang protektif.
"Gue dapet laporan dari Dom soal kejadian di basement kantor tadi siang, Na," ucap Ethan, suaranya berat, dalam, dan teratur.
"Dan Dom langsung telepon gue sama Evan begitu dokter keluarga ngasih kabar soal... kondisi lo."
Evan ikut melangkah maju. Ia menepuk bahu kanan Gavin yang sehat dengan cukup keras, membuat Gavin menaikkan sebelah alisnya tertantang.
"Gila lo, Vin," kekeh Evan, menatap adik dari sahabatnya tersebut dengan pandangan takjub sekaligus menuntut tanggung jawab penuh.
"Gue tahu lo adiknya Dom, tapi gue nggak nyangka akurasi target lo secepat ini. Baru sebulan yang lalu lo berdua ketemu di kelab, sekarang sepupu kesayangan gue udah lo bikin isi jagoan kecil."
Wajah Aruna seketika merah padam sampai ke tengkuk. Ia buru-buru menyembunyikan amplop USG-nya di balik tas kerja, tidak sanggup menahan rasa malu akibat celetukan blak-blakan sepupunya.
Sebaliknya, Gavin hanya mengulas senyum miring asimetris andalannya. Ia sama sekali tidak gentar menghadapi tatapan intimidasi dari dua sepupu Aruna yang juga merupakan sekutu utama kakaknya di dunia bawah.
"Gue serius sama Kak Aruna, Than, Van. Gue bakal tanggung jawab penuh seumur hidup," tegas Gavin, nada baritonnya bergaung tanpa ada keraguan sedikit pun.
Dominic yang sejak tadi diam di belakang akhirnya melangkah maju. Pemimpin mafia dingin itu mengetuk sebuah map kulit hitam tebal yang dipegang oleh Max di belakangnya.
"Evan dan Ethan sudah sepakat denganku, Lex. Aliansi bisnis bawah tanah kita tidak boleh goyah hanya karena masalah administrasi," ucap Dominic dengan nada suara barito yang tidak menerima bantahan.
"Dokumen di dalam map ini adalah berkas pernikahan resmi legal, lengkap dengan jaminan proteksi aset atas nama Aruna dan calon anakmu. Aku sudah mengatur jadwal pencatatan sipil darurat untuk kalian berdua besok pagi. Untuk resepsi mewah, terserah kalian mau diadakan kapan."
Dominic kemudian menatap Aruna. Seulas senyum tipis yang sarat akan kepuasan bisnis dan keluarga terukir di bibir tegasnya.
"Empat bulan lalu aku menolak rencana perjodohan kita karena menganggapnya membuang-buang waktu. Tapi melihat bagaimana adik bungsuku sampai rela terluka lagi di basement demi melindungimu... aku akui, kamu adalah investasi terbaik yang pernah masuk ke dalam keluarga Sterling, Calon Adik Ipar."
Evan dan Ethan mengangguk setuju, melipat tangan di dada sembari menatap Aruna dengan senyum hangat seorang kakak.
"Nyokap lo sama Om Fiki biar gue dan Evan yang urus malam ini, Na. Mereka pasti bakal syok," ujar Ethan menenangkan.
"Tapi begitu tahu Gavin yang tanggung jawab, mereka bakal langsung mesen gedung pernikahan terbesar minggu depan, walaupun kondisi gavin babak belur," lanjut Evan bersemangat.
Aruna menatap ketiga pria berkuasa di hadapannya, lalu beralih menatap Gavin yang kini menggenggam erat telapak tangannya yang dingin, menyalurkan kehangatan dan kekuatan.
Rasa takutnya menghadapi badai gosip keluarga mendadak sirna seutuhnya. Logikanya kini digantikan oleh kenyataan baru, bahwa ia dan calon bayinya kini telah berada di bawah perlindungan tiga pilar terkuat di Asia Tenggara.
***