"Cukup, Repan! Aku sudah benar-benar muak menghadapi situasi ini! Hubungan kita selesai!" Sasa melemparkan tatapan penuh rasa jijik ke arah pemuda di hadapannya.
Repan menetap di Kota Bogor.
Kota hujan ini menyuguhkan panorama alam yang sejuk dan asri di permukaan, namun menyimpan sisi kelam yang pekat di sudut-sudut tersembunyinya.
Di balik rimbunnya pepohonan dan kabut tipis, kota ini juga menjadi rumah bagi menjamurnya organisasi massa liar, kelompok kriminal jalanan, hingga oknum-oknum berseragam yang kerap memanfaatkan hukum demi keuntungan pribadi.
Bagaimana kelanjutannya..?
"Cerita ini sepenuhnya fiksi. Nama, tokoh, tempat, dan kejadian adalah karangan penulis."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Arinda melangkah perlahan dengan selembar kain yang menutup rapat kedua matanya. Jemari tangan Repan menggenggamnya lembut, menuntun langkah kaki sang adik dengan ritme yang santai namun pasti.
"Kak... kita ini sebenarnya mau ke mana, sih? Jangan bikin aku penasaran setengah mati begini dong," keluh Arinda sambil terkekeh kecil, walau rasa ingin tahunya sudah membubung tinggi.
"Sabar... jangan coba-coba mengintip ya. Namanya juga kejutan," sahut Repan dengan nada suara misterius namun tetap kalem.
Setelah berjalan selama beberapa menit, langkah kaki mereka akhirnya berhenti. Repan melepaskan genggaman tangannya lalu mengambil posisi berdiri tepat di samping Arinda.
"Oke. Sekarang, kamu boleh buka penutup matanya," ucap Repan, diiringi senyuman yang mulai mengembang di wajahnya.
Arinda mengernyitkan keningnya heran.
"Kejutan apa sih, Kak? Tumben banget Kakak pakai acara bikin beginian buat aku," gumamnya sembari melepaskan ikatan kain penutup mata tersebut.
Namun, begitu kain itu terlepas, sepasang mata Arinda langsung membelalak sempurna. Di hadapannya kini berdiri megah sebuah rumah mewah berasitektur modern yang sangat besar dan mengagumkan.
Halamannya tampak begitu luas, taman depannya tertata sangat rapi dihiasi sebuah air mancur mini, serta pagar besi berwarna hitam elegan yang membingkai seluruh area hunian tersebut. Dari balik kaca jendela yang besar, samar-samar terlihat interior dalam rumah yang sudah terisi lengkap dan serba modern.
"Ini... kita lagi di mana, Kak?" tanya Arinda lirih, nyaris nggak percaya dengan pemandangan di depan matanya.
Repan hanya terkekeh pelan melihat reaksi adiknya. "Arinda... mulai hari ini, ini rumah kita."
Arinda mengerjapkan matanya berulang kali. "Kakak jangan bercanda deh. Ini sebenarnya rumah siapa? Serius, Kak."
Repan melangkah mendekat, lalu mengacak-acak rambut adiknya dengan gemas sembari melempar senyum hangat.
"Mulai detik ini, ini resmi jadi rumah kita. Kita nggak perlu lagi tinggal di kontrakan sempit dan pengap itu."
Arinda langsung membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan. Sepasang matanya mendadak berkaca-kaca menahan haru.
"Ti-tidak mungkin... Apa ini beneran nyata? Apa ini beneran rumah punya Kakak?!"
"Seratus persen benar. Kamu bebas pilih kamar mana saja yang kamu suka. Di rumah ini kamu punya ruang pribadi yang luas. Kalau mau belajar, istirahat, atau menyalurkan hobimu, tempatnya sangat lapang. Kamu bebas melakukan apa saja," ujar Repan menenangkan.
Tanpa aba-aba, Arinda langsung menghambur dan memeluk tubuh kakaknya erat-erat.
"Terima kasih banyak, Kak! Aku sayang banget sama Kakak!"
Repan mengusap lembut rambut adiknya. 'Ini baru awal dari segalanya. Aku bakal bikin kehidupan Arinda jauh lebih bahagia dari ini...'
"Ya sudah, sekarang kamu bisa eksplorasi seluruh sudut rumah ini sesukamu. Kalau nanti butuh bantuan atau ada keperluan apa-apa, kamu tinggal bilang saja ke petugas keamanan di gerbang depan, namanya Pak Yono," kata Repan.
Arinda mengangguk dengan penuh semangat. "Siap, Kak! Tapi... Kakak sendiri mau pergi ke mana?"
"Ada sedikit urusan yang harus Kakak selesaikan malam ini juga. Kamu nggak usah menunggu Kakak pulang ya. Tidur saja duluan, oke?"
"Siap, Kak!"
Repan tersenyum tipis. 'Sekarang saatnya aku mulai belanja. Aku harus segera mengumpulkan banyak poin atribut untuk mendongkrak kekuatan fisikku lagi. Dan satu-satunya tempat yang paling pas buat belanja ugal-ugalan dalam skala besar... jelas adalah mall,' pikirnya sambil membalikkan badan, melangkah meninggalkan area rumah mewah tersebut.
Sementara itu, suasana di depan gerbang SMA Negeri 7 Bogor terasa sangat mencekam. Ratusan sepeda motor tampak berkonvoi rapat, dengan suara raungan knalpot bising yang memecah keheningan suasana malam di Kota Bogor.
Rombongan besar itu akhirnya berhenti tepat di depan gerbang sekolah. Di tepi jalanan, Roni bersama sekitar dua puluh anak buahnya tampak duduk lemas dengan kondisi babak belur.
Wajah mereka dipenuhi lebam kebiruan dan tubuh mereka dipenuhi luka—sebuah pemandangan hasil kekalahan telak dari Repan beberapa jam yang lalu.
Dari atas sebuah motor RX-King yang posisinya berada paling depan, turunlah Angga, sang pemegang takhta tertinggi Geng GBA. Wajahnya tampak luar biasa garang, dan aura intimidasi yang dipancarkannya langsung menekan mental siapa pun di sekitarnya.
Ia melangkah perlahan menghampiri, lalu mengambil posisi berdiri tepat di hadapan Roni yang tertunduk.
"Keparat jahanam... Kalian benar-benar sudah mencoreng nama besar Geng GBA!" geram Angga dengan suara rendah yang berbahaya.
"Ma-maafkan kelalaian kami, Ketua!" seru Roni bersama anak buahnya secara serempak sambil semakin menundukkan kepala mereka dalam-dalam.
Tanpa ada peringatan atau aba-aba sedikit pun...
Buuughhh!
Angga melayangkan satu pukulan mentah yang sangat keras tepat ke arah ulu hati Roni. Hantaman itu sukses membuat Roni langsung jatuh berlutut di atas aspal sambil meringis kesakitan menahan mulas.
"Dasar sampah memalukan! Bagaimana bisa kalian kalah memalukan cuma sama satu orang anak sekolahan?!"
"Maaf, Ketua... KAMI MOHON MAAF!" pekik Roni dengan nada suara yang bergetar hebat ketakutan.
"Kamu pikir kata 'maaf' saja sudah cukup buat memulihkan reputasi geng kita yang hancur?" tanya Angga, dengan sepasang mata yang menyala dipenuhi kobaran amarah.
Ia kemudian melirik ke arah barisan anak buahnya di belakang, lalu memberikan kode singkat lewat gerakan tangannya.
"Beri mereka pelajaran," perintah Angga pelan namun terdengar sangat dingin.
"Biar mereka semua tahu apa konsekuensinya kalau berani bikin malu nama besar GBA."
"Hahaha! Akhirnya kesampaian juga momen buat aku menghajar mukamu, Roni!" seru Eko, ketua Geng GBA cabang timur, dibarengi senyuman sadis yang mengembang di bibirnya.
Buk! Buk! Buk!
Pukulan demi pukulan tanpa ampun langsung mendarat telak di tubuh para anggota yang kalah bertarung tadi. Suara jeritan kesakitan kini berpadu dengan gelak tawa puas dari para petinggi Geng GBA yang tampak sangat menikmati momen eksekusi internal tersebut.
Malam itu, genangan darah dan aib mengalir bersama di bawah temaramnya lampu jalanan di depan SMA Negeri 7 Bogor.
"Aku harus cari tahu siapa bajingan yang sudah berani memukuli anak buahku," gumam Angga sembari memantik korek dan menyalakan rokoknya.
Langit Kota Bogor sudah sepenuhnya menggelap, menyisakan pendar cahaya lampu dari gedung-gedung tinggi. Repan tampak melangkah turun dari pintu bus yang berhenti tepat di area depan Mall Botani Square.
Langkah kakinya stabil dan tenang, namun sepasang matanya menatap tajam ke arah pintu masuk mall yang tampak berkilau megah diterpa oleh deretan lampu neon.
'Oke... barang apa yang harus kubeli pertama kali?' pikir Repan sembari melangkah masuk melewati pintu kaca otomatis.
Embusan udara dingin dari pendingin ruangan langsung menyambut kedatangannya, berpadu dengan keharuman aroma parfum mahal dan tenant makanan cepat saji.
Suasana di dalam mall malam itu tampak sangat ramai seperti biasanya. Orang-orang berlalu-lalang, ditemani suara tawa dan obrolan yang riuh di mana-mana.
'Aku butuh membeli sesuatu yang nominal harganya sangat mahal, supaya bisa mendulang poin sistem dalam jumlah besar sekaligus...' gumamnya dalam hati menganalisis situasi.
Pandangannya menyapu seisi lantai dasar mall. Tepat di area aula utama, terlihat sebuah panggung pameran otomotif mobil-mobil mewah yang sedang digelar secara eksklusif.
Deretan mobil sport berkilau dipajang apik laksana sebuah mahakarya seni, lengkap dengan papan pengumuman promo berukuran besar dan tumpukan brosur eksklusif di atas meja.
'Apa sebaiknya aku borong mobil dulu saja ya?' pikirnya menimbang.
'Targetku adalah menghabiskan dana ini secepat mungkin.'
Dengan langkah mantap, Repan mengayunkan kakinya berjalan menuju ke area pameran otomotif tersebut. Di sana, tampak beberapa pramuniaga atau sales sedang berdiri tegak di dekat unit mobil. Mereka semua mengenakan setelan jas hitam yang rapi berpadu dengan dasi yang serasi.
Namun, begitu Repan mulai berjalan mendekat, satu per satu dari para sales tersebut mendadak berpura-pura sibuk membolak-balik kertas brosur, atau malah sengaja memundurkan langkah kaki mereka perlahan untuk menghindar.
Mereka semua jelas melihat dengan mata kepala sendiri kalau remaja ini baru saja turun dari bus umum di depan mall, dan langsung secara sepihak menyimpulkan kalau cowok berseragam sekolah itu nggak akan mampu membeli produk mereka.
'Lucu sekali. Kenapa nggak ada satu pun dari mereka yang berniat menyapaku?' batin Repan sambil tetap mengamati deretan mobil mewah di hadapannya. Sama sekali nggak ada guratan kekecewaan atau emosi di wajahnya.
"Selamat malam, Tuan. Ada yang bisa saya bantu untuk penjelasannya?" Sebuah sapaan dengan vokal lembut mendadak terdengar dari arah samping.
Repan menolehkan kepalanya. Seorang gadis muda berparas cantik dengan rambut hitam yang terikat rapi sedang berdiri di dekatnya sambil melemparkan senyuman ramah. Di papan namanya tertulis Nara.
Dari sikapnya yang terlampau sopan namun terselip sedikit gestur gugup, jelas terlihat kalau gadis ini masih berstatus sebagai pegawai baru di sana.
Di kejauhan, para sales senior yang sengaja menghindar tadi langsung saling berbisik sambil melirik sinis.
"Lihat itu... si Nara malah melayani bocah itu."
"Namanya juga anak baru, makanya masih polos banget. Nggak bisa membedakan mana konsumen potensial mana yang miskin!"
"Haha! Padahal aku lihat sendiri anak sekolah itu tadi turun dari bus di depan!"
"Ya sudah, biarkan saja dia buang-buang waktu. Biar nanti dia tahu sendiri rasanya kecewa."
Di saat rekan-rekan kerjanya sibuk mencibir dan menertawakannya dari jauh, Nara tetap memilih untuk menjaga profesionalitas kerjanya dengan baik.
"Saya berniat untuk membeli mobil," jawab Repan singkat, sementara pandangannya masih tertuju pada unit-unit kendaraan yang dipajang mewah.
"Perkenalkan, nama saya Nara, Tuan. Dengan senang hati saya akan memandu Anda untuk melihat-lihat barisan koleksi terbaik yang kami miliki saat ini," ucap Nara sembari membungkukkan tubuhnya sedikit dengan sikap takzim.
Di area belakang mereka, bisikan sinis dari para sales lain terdengar semakin tajam.
"Aku berani bertaruh anak sekolah itu nggak bakal beli apa-apa."
"Tipikal anak muda zaman sekarang, paling cuma mau menumpang foto pamer di dekat mobil mewah."
"Paling-paling nanti langsung kabur pura-pura panik pas dikasih tahu harga aslinya."
Nara memilih untuk menutup telinganya dan mengabaikan seluruh cibiran rekan sejawatnya itu.
"Tuan, bagaimana kalau kita melihat unit yang satu ini? Ini adalah BMW X1. Tipe mobil yang sangat andal dan nyaman untuk keperluan perjalanan jarak jauh. Untuk harganya sendiri masih berada di kisaran kelas menengah," jelas Nara ramah sembari mengarahkan tangannya ke arah sebuah mobil SUV berwarna putih elegan di sisi mereka.
"Berapa nominal pastinya?" tanya Repan dengan nada suara yang tetap lempeng.
"Untuk unit ini berada di kisaran angka satu miliar rupiah, Tuan," jawab Nara dengan intonasi yang tetap stabil tanpa ada nada meremehkan sedikit pun.
Repan menganggukkan kepalanya pelan. "Lalu, mana tipe mobil yang harganya paling mahal di area pameran ini?"
Nara sempat tertegun sesaat mendengar pertanyaan tersebut, namun ia dengan cepat menguasai diri dan kembali tersenyum profesional.
"Kalau begitu, silakan mari ikuti langkah saya, Tuan."
Mereka berdua berjalan melintasi panggung hingga tiba di sudut paling ujung area pameran. Di posisi tersebut, sebuah mobil sport super mewah dengan desain aerodinamis yang agresif berbalut warna hitam mengilat tampak terparkir dengan sangat mencolok.
Sorot lampu pameran diarahkan tepat ke badan mobil, memantulkan kilau bodi kendaraan yang tampak begitu sempurna.
"Ini adalah seri BMW MX, Tuan. Varian mobil sport paling mahal dan eksklusif yang kami miliki saat ini. Menawarkan performa mesin yang ekstrem, interior premium, serta dukungan teknologi paling mutakhir. Nilai jualnya berada di angka enam miliar rupiah per unit. Jika Anda berkenan, Anda diperbolehkan untuk mencoba posisi duduk di dalamnya," terang Nara dengan nada penuh antusias.
Di dalam lubuk hatinya, Nara sedang berusaha keras menyemangati dirinya sendiri. 'Sebagai pegawai baru yang masih dalam masa percobaan, aku harus bisa menjual minimal satu unit bulan ini... Siapa tahu ini memang rezeki dan kesempatanku!'
Repan mengamati lekuk bodi mobil sport hitam itu selama beberapa ketukan.
"Nggak usah dicoba. Saya ambil dua unit sekaligus."
Nara langsung membelalakkan matanya lebar-lebar karena syok.
"A-apa?! Dua... dua unit?!"
Seketika itu juga, gelak tawa langsung meledak hebat dari arah kerumunan para sales senior di kejauhan.
"HAHAHA! Kalian dengar itu?! Si miskin itu bilang mau borong dua unit BMW MX sekaligus?!"
"Asli, ini lawakan paling lucu yang pernah kudengar sepanjang tahun ini!"
"Ayo kita tonton kelanjutannya, paling sebentar lagi dia bakal pasang muka panik terus kabur pakai alasan klasik dompetnya ketinggalan di rumah!"
Namun, Repan tetap bersikap santai. Sama sekali nggak ada keraguan atau percikan emosi di wajahnya akibat ejekan tersebut. Ia hanya menatap lekat-lekat ke arah Nara, lalu berujar dengan intonasi vokal yang tenang namun sarat akan ketegasan yang absolut.
"Panggil manajer operasionalmu ke sini sekarang juga. Saya mau mengurus proses administrasinya langsung dengan dia."
Nara sempat kehilangan kata-kata selama beberapa saat, sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"B-baik, Tuan. Mohon tunggu sebentar, saya akan segera memanggil beliau!"
Gadis itu langsung berlari cepat meninggalkan Repan demi menjemput sang manajer. Di tengah kepungan pandangan sinis dan tawa meremehkan dari orang-orang sekitar, Nara masih memilih untuk menggenggam secercah harapan kalau semua kalimat dari pelajar di depannya ini bukanlah sekadar lelucon kosong.
Repan berdiri tegak dengan kokoh di samping mobil sport mewah berharga miliaran itu. Meskipun dirinya dikepung oleh puluhan pasang mata yang menatapnya dengan pandangan merendahkan sorot mata cowok itu sama sekali nggak goyah sedikit pun.
Sebentar lagi, realitas di tempat ini akan berbalik seratus delapan puluh derajat memukul muka mereka semua.