Enam tahun lalu, Kenzo Roman De Luca kehilangan seorang wanita yang tak pernah berhasil ia lupakan. Yang tak pernah ia ketahui, wanita itu pergi membawa dua kehidupan yang tumbuh menjadi anak-anak genius.
Takdir mempertemukan mereka kembali.
Namun, sebelum Kenzo mengetahui kebenarannya, seorang bocah laki-laki yang tak sengaja bertemu dengannya dengan berani menawari sesuatu padanya.
"Asal Anda siap menikah dengan Mommy kami. Maka saya siap bekerja sama dengan Anda," ujar Mateo enteng.
Kenzo terpaku, dia tak tahu anak yang sedang memohon kepadanya itu adalah putranya sendiri. Akankah, Kenzo setuju atau justru sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Tiga hari berlalu, Tara tak lagi datang ke perusahaan De Luca. Anak-anaknya tak pernah tahu kalau ibu mereka tak pernah berangkat kerja lagi, karena Tara selalu mengantar anaknya sekolah. Namun, hari ini adalah hari Minggu, Mateo melihat ibunya lebih banyak diam dari biasanya, lalu Mateo yang sedang sarapan, bertanya.
"Mommy nggak kerja lagi ya?" sontak pertanyaan itu membuat Tara menghentikan tangannya yang sedang mengaduk susu untuk Alisya.
"Siapa yang kerja di hari Minggu, semua perusahaan pasti libur, kecuali ada hal yang mendesak aja," Tara berkata sembari meletakkan segelas susu putih di depan Alisya.
"Cepat sarapan, nanti keburu dingin." Tara mengusap kepala sang anak, lalu setelah meninggalkan keduanya di meja makan, Tara pergi ke ruang televisi dan mengambil ponselnya.
"Pak Digo?" Gumam Tara saat melihat layar ponselnya ada sebuah panggilan masuk. Tara mengabaikan panggilan itu, tetapi Digo pun tak berhenti, dia berulang kali menghubunginya.
"Kenapa lagi sih..." gumamnya pelan.
Sudah berkali-kali nomor itu menghubunginya sejak kemarin. Karena mulai kesal, akhirnya Tara mengusap tombol hijau dan mengangkat panggilan tersebut.
[Selamat pagi, Nona Tara.]
"Pagi, Pak Digo. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Tara dengan nada formal, meski terdengar jelas ia hanya berbasa-basi.
[Begini, Nona. Saya menghubungi Anda terkait pekerjaan.]
Tara terdiam.
[Sudah tiga hari Anda nggak masuk kerja. Apa ada alasan tertentu?]
"Saya sudah mengirimkan surat pengunduran diri."
[Jadi, keputusan Anda sudah bulat?]
"Iya."
Digo menarik napas pelan sebelum berkata dengan nada profesional.
[Kalau begitu, sesuai isi kontrak kerja yang telah Anda tandatangani, pengunduran diri secara sepihak sebelum masa kontrak berakhir dikenakan denda sebesar tujuh koma delapan miliar rupiah.]
"Apa?!" Suara Tara langsung meninggi.
"Bapak udah gila, ya? Itu namanya pemerasan!"
Wanita itu sampai berdiri dengan satu tangan di pinggangnya.
"Saya mana mungkin punya uang sebanyak itu untuk membayar denda sebesar itu?"
Digo tetap tenang.
[Nona, saya nggak sedang memeras Anda. Saya hanya menyampaikan isi kontrak yang berlaku.]
"Tetap saja itu nggak masuk akal!"
[Nona tidak perlu membayar denda itu...] Ucapan Digo membuat Tara sedikit terdiam.
[Asal Anda kembali bekerja dan menyelesaikan kontrak secara profesional.]
Wajah Tara kembali mengeras. "Itu tidak mungkin."
[Kenapa?]
"Saya tidak bisa bekerja di bawah atap yang sama dengan Tuan Kenzo." Nada suaranya mulai bergetar menahan emosi.
"Apalagi sekarang Tuan Kenzo terang-terangan mengincar kedua anak saya."
Digo terdiam beberapa detik. Lalu ia berkata pelan, namun tegas,
[Nona Tara ... sebaiknya Anda menyerah.]
"Apa maksud Anda?"
[Anda nggak akan bisa melawan Tuan Kenzo.]
Kalimat itu membuat kesabaran Tara habis.
"Sampaikan pada atasan Anda, saya bukan wanita yang mudah diancam."
Tanpa memberi kesempatan Digo menjawab, Tara langsung memutuskan sambungan telepon.
Di sisi lain, di ruang kerja yang luas dan mewah, Digo perlahan menurunkan ponselnya. Kenzo yang sejak tadi berdiri di depan jendela segera menoleh.
"Apa yang dia katakan?"
"Dugaan saya benar, Tuan."
Digo meletakkan ponselnya di atas meja.
"Nona Tara tidak akan kembali bekerja, dan sepertinya beliau juga nggak sanggup membayar denda pembatalan kontrak."
Sudut bibir Kenzo terangkat membentuk seringai tipis. Di tangannya, selembar dokumen masih tergenggam erat. Kenzo menundukkan kepala, menatap hasil pemeriksaan laboratorium itu untuk kesekian kalinya.
Di bagian paling bawah tertulis jelas, probabilitas hubungan ayah biologis dengan angka sempurna yaitu, seratus persen. Tak ada lagi keraguan, Kenzo mengepalkan kertas itu pelan.
"Jadi ... benar." Suara beratnya dipenuhi keyakinan.
"Aku adalah ayah biologis Mateo dan Alisya." Sorot matanya berubah tajam.
"Tara, aku sudah memberimu kesempatan untuk mengatakannya sendiri. Tapi sekarang semuanya sudah terlambat."
Kenzo meletakkan hasil tes DNA di atas meja, lalu menatap Digo.
"Hubungi tim hukum."
Digo langsung mengangguk.
"Tuan ingin mengajukan gugatan hak asuh?"
"Belum," Kenzo menggeleng pelan.
"Aku akan menemuinya lebih dulu. Kalau setelah itu Tara tetap menolak mengakui kenyataannya..." Tatapan Kenzo berubah dingin.
"Baru kita bawa perkara ini ke pengadilan. Dan kali ini, aku tidak akan mundur selangkah pun."
diumumkan begitu aja
anugerah apa bencana yaaa?😱🤣🤣🤣
Kenzo nih tipe orang yg GK suka basa basi muter muter,, cus pokoknya lgsg beres ya kan 🤭
Setuju,,... pengumuman pernikahanmu harus segera d sebar luaskan ....,, biar ga ad yg berani godain mommy Tara 😅