NovelToon NovelToon
SANGHYANG RASA

SANGHYANG RASA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:212
Nilai: 5
Nama Author: Galuh pravitasari

Malam itu, kampung Cikabuyutan hangus di bakar jadi abu.

Prajurit Kadipaten Ciaruteun datang.
Membakar rumah. Membunuh orang tua.
Atas perintah satu nama: Adipati Rangga sasmita
Mereka membalas dengan cara nya sendiri.

Istana bilang mereka penjahat.
Rakyat bilang mereka harapan.

Karena mulai malam ini...
Dua buronan akan merampok orang kaya.
Dan membagi-bagikannya ke orang miskin.

Satu anak panah untuk keadilan.
Satu tusukan pisau untuk membongkar kebusukan.

Ini bukan balas dendam.
Ini revolusi.

Dan apinya... baru saja mulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5 : HARGA SEBUAH KEKUATAN

Waktu terasa berjalan lambat di dalam gua Bukit Cijambe.

Selama dua hari penuh Karta jadi satu-satunya penopang hidup mereka.

Sejak Bayu tergeletak tak sadarkan diri, Karta tidak berani pergi jauh. Tapi ia tetap harus bergerak. Setiap pagi sebelum matahari menyinari lereng bukit, ia menyelinap keluar dengan langkah hati-hati dan senyap.

Kekuatan baru dari pisau itu bekerja. Ia bisa merasakan getaran di dalam tanah, mendengar suara hewan dari kejauhan, dan tahu di mana bahaya mengintip. Dari kemampuan itu ia menemukan sumber air yang menetes dari celah batu di sisi lain bukit.Di bawah semak ia menggali umbi yang bisa di makan dan mengumpulkan daun untuk mengompres luka Bayu.

Setiap kali kembali ke ruangan tersembunyi, hal pertama yang ia lakukan adalah memeriksa nadi Bayu. Ia membasuh dahi yang berkeringat, mengganti balutan luka, lalu duduk berdoa dalam hati agar kakaknya cepat sadar.

Hari ketiga

Sinar matahari menembus celah langit-langit dan jatuh tepat di wajah Bayu. Kelopak matanya bergerak pelan. Ia mengerjap berkali-kali. Tenggorokannya pahit dan kering. Seluruh ototnya kaku dan lemas, tapi nyeri di bahu sudah berkurang, tinggal ngilu samar yang menyebar.

“Kang Bayu!... Akang geus sadar?”

Suara Karta bergetar lega. Ia langsung mendekat dan menyodorkan air ke mulutnya.

“Minum pelan-pelan. Jangan tergesa gesa. Dua hari kamu pingsan kang.”

Bayu menerima tempayan itu. Tangannya masih gemetar. Ia minum sampai rasa kering di tenggorokannya hilang. Pandangannya menyapu sekeliling. Ingatannya kembali mengingat kejadian demi kejadian. Kampung terbakar. Luka di bahu. Pintu batu. Kotak kayu. Suara Eyang Karsa. Semua terasa nyata. Bukan mimpi.

“Aku ingat semuanya,” gumam Bayu. Matanya tertuju ke meja batu. Kotak itu masih terbuka. Busur dan pisau terbaring diam seolah menunggu.

“Ini bukan khayalan.”

Karta mengangguk. Wajahnya serius.

“Selama Kakang tidur, aku berfikir. Suara itu bilang ada aturannya. Tidak boleh sembarangan. Tapi bagaimana kita tahu batasnya, Kang? Kita harus coba sendiri, kan?”

Bayu terdiam. Ia masih ingat lemasnya. Ingat darah yang keluar dari mulutnya. Tapi adiknya benar. Tidak akan paham kalau cuma diam.

“Baiklah,....Kita coba pelan-pelan. Tidak berlebihan. Hapalkan setiap reaksi di tubuh kita. Kita harus memahami apa yang kita pegang.”

Mereka mendekati meja batu dengan hati-hati. Bayu mengulurkan tangan dan menggenggam gagang busur cendana. Sensasi hangat itu datang lagi, merambat ke lengan dan menyebar ke seluruh tubuh. Kali ini ia siap. Ia mengatur napas agar tenaga tidak terbuang.

Ia mengambil satu anak panah lalu berjalan ke bagian ruangan yang luas, menghadap dinding batu kosong.

“Coba ke pohon besar di luar mulut goa aja, Kang,” ujar Karta.

“Jangan ke makhluk hidup dulu. Biar aman.”

Bayu mengangguk. Ia tidak membidik dengan mata. Ia ingat kata Eyang Karsa, _membidik dengan rasa_. Hatinya ditenangkan. Niatnya jelas. Menancapkan panah dengan kuat, tapi tidak merusak.

Tali busur ditarik perlahan. Tegangannya pas. Tidak terlalu kencang dan tidak terlalu kendor.

WUSSS!

Panah melesat halus, lebih cepat dari kedipan mata. Keluar dari ujung busur, menembus pintu batu, dan menancap tepat di batang pohon besar di luar gua.

Belum sempat mereka bersuara, panah itu bergerak sendiri. Tercabut dan terbang kembali, mendarat lembut di tangan Bayu tanpa melukai sedikit pun.

Karta terkesiap. “Kang! Itu...”

Kalimatnya terpotong karena rasa lemas menyerang Bayu seketika. Seperti ada yang menyedot semua tenaga dari dalam tubuhnya. Keringat dingin membasahi dahi dan punggungnya. Bajunya basah kuyup. Pandangannya berkunang-kunang. Napasnya terengah seolah habis lari di kejar prajurit kadipaten.

Ia buru-buru menyandarkan tubuh ke dinding batu. “Ternyata... benar,” katanya putus-putus. “Ini bukan memakai tenaga biasa. Ia menyedot tenaga dalam. Semakin keras dipakai, semakin banyak yang diambil.”

Karta menepuk punggungnya pelan, cemas. “Istirahat dulu, Kang. Sekarang giliran aku coba pisau ini. Siapa tahu beda.”

Ia mendekati kotak dan menggenggam gagang pisau dengan dua tangan. Getaran halus langsung merambat ke kakinya, menyambung dengan tanah. Ia keluar ruangan dan mendekati batang bambu di lereng bukit. Niatnya satu: membelahnya untuk dibuat tiang tempat air.

Bilah pisau menyentuh bambu.

CLIK.

Seperti memotong kertas. Tidak ada hambatan, tidak ada suara kasar. Batang bambu tebal itu terbelah rapi, dua bagian sama persis dengan permukaan licin.

Karta tertegun. Rasa penasaran muncul. Ia melihat burung kecil di dahan ya tidak terlalu jauh. Tanpa pikir panjang ia mengangkat pisau lagi. Niatnya berubah. Ingin menancapkannya ke burung itu, walau sekedar mencoba seberapa tajam pisau yang ia pegang.

Tapi begitu niat itu terbentuk, pisau di tangannya berubah. Getaran yang menyatu dengan tanah hilang. Digantikan rasa berat seperti memegang batu besar. Bilah yang tadi tajam kini terasa tumpul. Saat ia coba goreskan kulit pohon, tak terlihat goresan sama sekali. Bahkan ketika ia tekan dengan sekuat tenaga, rasanya seperti menusuk bongkahan besi.

Karta kaget. Ia langsung membuang niat buruk itu. Detik itu juga perasaan beratnya menghilang. Pisau kembali ringan dan bergetar halus seperti semula. Ia menatap benda itu, takjub dan takut, lalu masuk ke dalam gua.

“Aku ngerti sekarang,” katanya. Ia meletakkan pisau ke dalam kotak dengan hati-hati.

“Tadi aku membelah bambu. Pisau terasa tajam dan ringan. Tapi pas aku berniat untuk menusuk burung... langsung terasa berat. Tumpul. Tidak bisa dipakai sama sekali. Seolah dia tau isi hati aku.”

Bayu sudah mulai bisa mengatur napas. Matanya lebih jernih. Ia menatap kedua benda itu. Pandangannya mulai berbeda dari sebelumnya. Bukan lagi tentang benda ajaib. Tapi amanah dan beban tanggung jawab yang harus ia jalani.

“Kita tidak bisa memakainya dengan sembarangan,” ucapnya. Suaranya masih lemah tapi tegas.

“Kekuatan ini ada batas dan aturannya. Kalau niat kita salah, dia tidak akan membantu. Kalau dipakai tanpa kendali, bisa menghabiskan tenaga bahkan seandainya dipaksa terus... bisa membuat kita mati kehabisan tenaga.”

Mereka duduk bersandar di dinding batu. Kotak kayu ditutup rapat. Di luar matahari terus bergerak. Waktu berjalan tanpa henti. Bahaya dari Kadipaten mungkin masih mengintai.

Tapi di dalam hati mereka tumbuh kesadaran baru. Kekuatan sejati bukan soal seberapa tajam senjata. Bukan soal seberapa jauh panah melesat. Tapi seberapa kuat hati mengendalikan niat. Seberapa mampu menahan diri agar tidak melanggar batas.

Mereka tahu, perjalanan ini baru di mulai. Masih banyak yang harus dipelajari. Masih banyak bahaya di depan. Masih banyak ujian untuk membuktikan bahwa mereka layak memegang amanah ratusan tahun.

Tapi sekarang mereka sudah mengerti satu hal penting. Kekuatan itu ada. Tapi hanya akan berguna apabila dijaga dengan hati bersih dan pengendalian diri.

Bayu menatap Karta. “Siap lanjut?”

Karta mengangguk dan menggenggam erat ujung baju Bayu. “Siap, Kang. kawani gede moal matak mundur satunjang beas.”

Api kecil di pintu gua berkedip, menerangi dua sosok yang baru saja mengerti harga dari sebuah amanah.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!