Freya, seorang wanita karir yang terbilang cukup sukses di usia nya 27 tahun, koma dalam kecelakaan.
Dalam situasi komanya, sosok yang tidak dikenal mengirim jiwa Freya ke dunia game otome yang selalu ia mainkan, untuk selamat dari koma, Freya diharuskan menaklukan semua tokoh utama pria disana agar bisa kembali sehat di dunia nyata.
Game selalu mudah dimainkan, tapi bagaimana jika sekali mati langsung game over?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Frendaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 - Negoisasi
"Nona Freya, kiriman dari Nona Alice sudah datang."
Lily datang dari pintu masuk ruangan sambil membawa paket kiriman ditangannya. Paket itu berbentuk kotak kecil, yang dibungkus menggunakan kain dan diikat oleh tali, di tengahnya terdapat wax seal berwarna ungu, yang bergambar buku terbuka, dan dipegang oleh kaki elang yang menunjukkan sayapnya.
Freya sedang duduk di sofa, meminum teh lemon hangat buatan Lily. Karena setelah sarapan, Freya biasanya tidak ada kegiatan, jadi yang ia lakukan hanyalah minum teh lemon di sofa, atau di beranda.
"Kiriman? Oh... iya, hadiah ulang tahunku dari kakak, ya?" ucap Freya sambil menyimpan secangkir teh ke meja.
Kemudian Lily memberikan langsung paket itu kepada Freya. Saat paket diterima Freya, tanpa berlama-lama lagi, paketnya langsung ia buka. Ketika kainnya dibuka, terdapat wadah kotak kayu yang dihias indah. Begitu kotaknya Freya buka, ada kalung dengan lambang keluarga Trenchard dan sepucuk surat didalamnya.
Sebelum mengambil kalungnya, Freya terlebih dahulu membuka suratnya.
Kepada adikku tercinta,
Freya Trenchard
Jika kamu membaca surat ini, berarti hadiah ulang tahunmu sudah sampai.
Kakak baru ingat, hanya kamu satu-satunya anggota keluarga yang tidak mempunyai kalung lambang Trenchard, jadi kakak berpikiran untuk membuatkanmu satu.
Maafkan kakak yang tidak bisa datang ke pesta ulang tahunmu, sungguh.
Kakakmu tersayang,
Alice Trenchard
P.S Kalungnya tolong dipakai diluar gaunmu ya~
“Kalung emblem keluarga Trenchard? Ya bagus aja sih kalungnya, cuman kenapa gak berkesan banget ya..?” bisik Freya heran sambil melihat kalung nya yang ia pegang.
“Ya karena nona Freya saja yang tidak punya.” seru Lily.
“Eh? Apa iya?” tanya Freya kebingungan.
“Jika nona memperhatikan, dari tuan dan Nyonya memakainya kok.” Lily berjalan mendekati surat yang ditaruh di meja. “Nona Alice sendiri yang bilang, untuk selalu memakainya diluar pakaian agar selalu terlihat.” Ucap Lily menunjuk kearah surat.
Freya kembali membaca suratnya. “Oh.. iya juga, kamu cukup memperhatikan juga Lily, kalau Ayah dan Ibu memakai kalung.”
“Sudah menjadi tugas saya.” Ucap Lily membanggakan dirinya.
Lagian kenapa harus diliatin ya? Biar apa coba? Biar keliatan orang-orang kah?
Freya melamun sambil melihat dengan teliti kalung yang ia pegang.
“Mau saya bantu pakai, nona?” Tanya Lily karena menyadari Freya memandang kalung itu sangat lama.
“Ah tolong ya.”
Mereka pun berjalan berpindah ke tempat bercermin. Lily mengambil kalungnya, sementara Freya duduk di depan cermin, kalung yang dipegang Lily langsung dipakaikan ke leher Freya dengan perlahan. Ternyata kalung yang diberi Alice sangat pas dileher Freya, emblem keluarga Trenchard juga tidak terlalu kecil, cukup besar ketika orang melihat.
“Terlihat cocok Nona.” Ucap Lily memuji Freya.
“Terima kasih, Lily.”
Freya menatap dirinya terpesona di cermin, memakai kalung membuatnya terlihat sangat cantik dan dewasa, Freya hanya tersenyum sambil meraba-raba kalungnya. Lalu tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar, dan memanggil nama Freya.
“Freya?” panggil suara itu dari balik pintu memanggil nama Freya, sambil mengetuk dengan perlahan.
“Loh? Ayah sudah pulang? Lily tolong buka pintunya.”
Suara yang memanggil Freya adalah David yang sudah pulang dari negoisasi dengan guild pedagang yang sampai berhari-hari. Atas perintah Freya, Lily pun membukakan pintunya dan Freya menunggu duduk di sofa.
Dibalik pintu terdapat dua pria yang berdiri, yang satu adalah David dengan perawakan terlihat sangat lelah, satunya lagi adalah pria tinggi yang sepantaran dengan David tapi masih terlihat muda, rambutnya berwarna biru tua, lalu wajahnya terlihat cantik meskipun dia adalah laki-laki.
“Ada apa ayah? Dan juga….” Freya mengamati seluruh tubuhnya David yang terlihat lelah, matanya memiliki kantung mata, tapi wajahnya terlihat sangat lega. “Ayah terlihat sangat lelah, bagaimana jika istirahat terlebih dahulu?” lanjut Freya.
“Tidak, tidak, tidak. Ada kabar Bahagia yang segera ingin ayah beri tau.” Ucap David berjalan masuk dan duduk di sofa bersama pria yang dibawanya.
“Pasti negoisasi kontrak baru yang berjalan lancar kan?”
David tersenyum sambil mengangguk lalu menoleh ke pria yang dibawanya. “Sebelum itu perkenalkan dulu, ini asisten ayah, Leonard Ashcroft.” Ucap David memperkenalkan pria yang dibawanya. “Leo, ini anakku yang paling muda, Freya.” Lanjut David.
“Senang bertemu dengan anda Nona Freya.” Ucap Leonard sambil menunduk.
“Ah, saya juga.” Diikuti Freya yang ikut menunduk hormat.
"Tidak kusangka, ide ceroboh itu berasal dari seseorang yang sangat muda seperti Anda, Nona." Ucap Leonard terkesan.
"Ceroboh?" Tanya Freya keherenan, baru saja perkenalan tiba-tiba saja Freya sudah dikritik, membuatnya sedikit kesal.
"Ah... Ayah menceritakan ide kontrak baru nya berasal darimu." Jelas David.
"Oh.... Meskipun ceroboh, tapi berhasil 'kan?" Ucap Freya senyum menyeringai.
Leo pun ikut tersenyum. "Saya tidak bisa menyangkalnya."
"Tapi negoisasi sampai berhari-hari... Apa memang negoisasi nya lancar?" Tanya Freya melihat David.
"Sebenarnya Ayah mengira akan lebih lama lagi, ya kan, Leo?"
"Benar, Ketua. Kira-kira negoisasi diperkirakan sampai seminggu."
"Eh?! Seminggu?!" Ucap Freya kaget.
"Ya... membuat mereka meminta menurunkan pajak, bisa dibilang mustahil. tapi itu berhasil sekarang." Jelas David yang terlihat lega.
Disaat sedang berbicara, David melihat teh lemon milik Freya yang ada di meja. "Lily, tolong buatkan aku dan Leo juga teh lemon nya." Lanjut David, sementara Leonard terlihat kebingungan.
"Baik, tuan."
Lily pun menyiapkan dua cangkir yang diambil dari troli dibawanya, lalu menuangkan teh lemon itu secara cepat, asap keluar dari kedua cangkir porselen itu, Lily lalu membawanya dan disimpan di meja tepat didepan David dan Leonard. "Silahkan, tuan." Ucap Lily membungkuk.
"Teh Lemon?" Tanya Leo melihat cangkirnya.
“Ini adalah teh yang resepnya dibuat langsung oleh Freya. Dicoba saja dulu, rasanya sangat unik, aku yakin kamu belum pernah merasakannya.”
David mencoba meyakinkan Leonard yang masih terlihat kebingungan, Freya pun menonton karena ingin melihat reaksinya. Pada akhirnya, Leo mengangkat cangkir itu, dan mencoba menyeruput sedikit untuk mengetes rasanya.
“Bagaimana?” tanya David.
“Aneh. Rasa manis dan asam bercampur secara bersamaan, ini serasa tidak nyaman di tenggorokan.” kritik Leonard.
"Hahaha, semakin diminum akan semakin enak." bantah David sambil tertawa.
Freya melihat mereka hanya tertawa sedikit melihat reaksi Leonard.
Leonard lalu menyeruput teh nya lagi. “Ngomong-ngomong nona, saya penasaran. Ini ide tentang kontrak baru yang nona berikan.” David lalu memasang wajah serius dan menaruh cangkirnya di meja. “Kenapa nona memberikan usul untuk mengubah dari komisi setiap produksi, menjadi komisi setiap volume? Bukannya komisi yang diperoleh guild akan sama saja?”
Freya diam sejenak, ia mengambil cangkir teh lemon dan meminum nya. “Memang benar, komisi guild tidak jauh berbeda. Tapi, yang ditakutkan oleh guild sepertinya bukan untung kecil, tapi kerugian besar.”
“Kerugian besar?” David mulai tertarik dengan pernyataan Freya.
“Bagaimana menjelaskannya ya…” Freya diam sejenak, ia berpikir sambil memejamkan kedua matanya dan menggoyangkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan secara perlahan. “Bisnis Ayah ini cukup unik bukan? Ayah bisa merangkul semua pedagang, bekerja dibawah namanya dan mendapatkan untung besar, guild juga ikut untung. Tapi dibalik untung besar, kerugian besar pun mengikuti, tergantung bagaimana ayah atau guild salah menginjak. Itulah yang mereka takutkan.”
“Jadi… karena tidak ingin mengambil resiko, mereka memilih mencekik kita dengan menaikkan komisi?” tanya Leonard yang mengerti cara berpikir Freya.
“Betul, 100 buat Leo. Daripada pasrah saat mereka mencekik, lebih baik kita cekik balik bukan?” jawab Freya sembari memberi pertanyaan kepada David.
David dari tadi hanya meminum teh dengan nikmat, ketika Freya bertanya ia hanya mengangguk setuju.
“Jadi, ketua juga sudah menyadari hal ini?” tanya Leo lagi, kali ini kepada David.
“Tentu saja. Sebenarnya aku pun berpikir ingin menurunkan pajak yang mereka berikan, tapi aku tidak memiliki argumen kuat." Tutur David, merasa pasrah dengan cara pikirnya. "Lalu Freya datang dengan ide, menaikkan komisi yang diminta dari 12% menjadi 15%, disitu aku langsung mempunyai ide cemerlang." lanjut David.
"Jadi bagaimana detail kontrak barunya?" Tanya Freya karena melihat David terlihat sangat yakin tentang idenya.
"Hmmm... kalau dijelaskan cukup rumit, nanti kamu baca saja jika sudah resmi keluar dokumen kontraknya."
Freya tidak menjawab, hanya diam mengerti. Kontrak bukan hal baru bagi manager seperti Freya. Jika lawan untung, maka pihaknya harus untung juga, tak masalah jika saling mencekik.
"Satu hal lagi nona Freya." ucap Leonard yang ingin mengetes Freya. "Bagaimana jika volume turun drastis selama 3 bulan berturut-turut? Bagaimana anda menutup minimum komisi itu, nona?" tanya David.
"Eh? Sebentar, sebentar."
Freya cukup kaget dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Leonard, seolah-olah nasib bisnis David ada tangannya. "Saya jelas tidak tau tentang kontrak komisi yang baru dengan guild pedagang, jadi kupikir kalian sudah memikirkan masalah ini, atau pertanyaan itu hanyalah untuk mengetes saya? Tuan Leonard?"
"Maafkan kelancangan saya Nona, tidak apa-apa untuk tak menjawabnya, tentu saja kita sudah memikirkan hal ini, saya hanya penasaran bagaimana Nona mengatasi nya." seru Leonard.
Freya diam sejenak. ".....Pertama-tama, volume turun drastis selama 3 bulan berturut-turut itu, mustahil. Apalagi bisnis besar seperti Ayah ini, hanya mungkin apabila faktor external seperti bencana alam, perang, atau... musuh."
David dan Leonard terkejut ketika Freya mengucapkan kata musuh, sepertinya mereka juga memang sudah mengetahui hal ini.
"Oh...? Jadi aku benar?" tanya Freya karena melihat reaksi David dan Leonard yang terlihat kaget mendengar kata musuh. "Jadi, menurutku, hal pertama adalah meminta penurunan komisi sementara kepada guild, takut hal ini terjadi selama beberapa bulan kedepan." lanjut Freya menjelaskan.
"Lalu.... bisa.... "
Freya ingin melanjutkan, tapi mulutnya mulai berhenti berbicara, seperti sesuatu menahannya.
Tunggu bentar... kayaknya Leo dengan Ayah ingin tau jawaban cara menyingkirkan musuh mereka. Tapi... kalau gua blak-blakan soal ini, yang ada mereka malah curiga sama gue gak sih?
Freya diam sejenak, berpikir. "... Maaf, aku tidak tau." tegas Freya.
Hanya meminta maaf, dan tidak memberikan alasan mengapa Freya menolak menjawab pertanyaan Leonard, membuat mereka semakin curiga.
Freya jelas tau sesuatu, ada apa Freya? Beberapa hari belakang ini kamu melakukan apa? Pikir David yang sekaligus mengkhawatirkan Freya.
Nona Freya cukup jenius, kenapa ia tidak memberikan jawabannya? Apa ia tidak ingin terlibat lebih jauh tentang ini? Pikir Leonard yang semakin mewaspadai Freya.