NovelToon NovelToon
Suamiku yang "Gila" Ternyata CEO Dingin

Suamiku yang "Gila" Ternyata CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Reinkarnasi / CEO / Identitas Tersembunyi / Psikopat itu cintaku / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Lumisse

Keira Hartono tidak pernah menyangka bahwa malam sebelum pernikahannya, dia akan memergoki tunangannya sendiri — Brandon Liem, pewaris Liem Group — sedang tidur dengan adik tirinya, Celine.
Tapi Keira bukan wanita yang bisa diinjak dua kali.
Alih-alih menangis dan memohon, dia mengambil ponselnya, merekam segalanya, dan memberikan ultimatum pada kedua keluarga:
*"Ganti pengantin prianya, atau ganti pengantin wanitanya."*
Pilihan jatuh pada Reynard Liem — kakak Brandon yang dikenal seluruh Jakarta sebagai pewaris yang "sudah gila" setelah kecelakaan mobil yang menewaskan kakeknya. Dia duduk di kursi roda, tidak bisa berbicara dengan benar, dan menghabiskan hari-harinya bermain Rubik sendirian di pavilion belakang rumah.
Semua orang menertawakan Keira. *"Menikahi orang gila demi balas dendam? Kasihan sekali."*
Tapi Keira tahu sesuatu yang tidak diketahui siapa pun.
Dia tahu bahwa tiga tahun dari sekarang, Reynard Liem akan bangkit kembali — lebih kuat, lebih kejam, dan lebih berkuasa dari sebelumnya. Yang perlu dia lakukan hanyalah menjaganya sampai saat itu tiba. Setelah itu, cerai, dan mereka berdua bebas.
Rencananya sempurna.
Sampai dia mulai jatuh cinta pada suaminya.
Sampai dia menyadari bahwa di balik tatapan polos dan kata-kata cadel itu, ada sepasang mata gelap yang mengawasinya — dengan obsesi yang tidak pernah dia sangka.
*"Kei mau pergi dariku? Tidak boleh."*
*"Selain di sisiku, kamu tidak boleh ke mana pun."*
Ternyata, Reynard Liem tidak pernah gila.
Dan dia tidak pernah berencana untuk melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 28: Pelukan Cemburu

Reynard tetap diam sampai mereka keluar dari restoran.

Keira mendorong kursi rodanya melewati jalur batu di samping taman. Daun-daun basah berkilau setelah hujan kecil. Dari kejauhan terdengar suara kru Seribu Tahun memindahkan alat, tetapi area dekat pohon kamboja cukup sepi.

"Rey," panggil Keira lagi.

"Kei suka aktor itu?"

Pertanyaan itu akhirnya keluar, pendek dan datar.

Keira menahan senyum. "Aku suka kemampuannya."

"Wajahnya?"

"Aku sedang bicara kemampuan."

"Kei lihat lama."

"Karena aku sedang mengingat di mana pernah melihatnya."

"Di mana?"

Di masa depan, jawab Keira dalam hati.

"Di rekaman audition."

Reynard tidak terlihat puas. Ia menatap Rubik dengan wajah murung yang terlalu manis untuk seseorang yang barusan hampir membuat suasana restoran membeku hanya dengan diam.

Sebelum Keira bisa membujuk lebih jauh, Farhan muncul dari arah samping villa.

"Mbak Keira."

Reynard langsung mengangkat kepala.

Farhan berhenti pada jarak sopan. "Maaf mengganggu. Saya hanya ingin mengembalikan ini." Ia mengangkat kartu nama Keira. "Bukan menolak. Saya hanya takut kartu ini terlihat orang produksi dan jadi masalah untuk Mbak."

Keira menerima kartu itu, lalu mengamati Farhan. "Kamu berhati-hati."

"Kontrak saya dengan Langit cukup ketat."

"Berapa penalti kalau keluar?"

Farhan tampak terkejut karena ia langsung ke inti. Setelah beberapa detik, ia menjawab pelan, "Terlalu besar untuk saya."

"Kalau ada perusahaan yang bisa membantu?"

"Saya akan mempertimbangkan. Tapi saya tidak mau pindah hanya karena kecewa satu proyek. Saya harus tahu perusahaan itu serius."

Keira menyukai jawaban itu. Farhan tidak mudah dibeli dengan harapan kosong.

"BC belum siap membayar penalti sebesar itu sekarang," katanya jujur. "Tapi Seribu Tahun akan tayang. Setelah itu, posisimu mungkin berubah. Kalau saat itu kamu masih ingin bicara, cari Rio Prasetya."

Farhan mengangguk. "Saya tahu Pak Rio. Reputasinya bagus."

"Bagus. Simpan namanya, bukan kartuku."

Keira berhenti sebentar, lalu menambahkan, "Dan satu lagi. Jangan melawan manajemenmu sekarang hanya karena aku bicara baik padamu. Orang berbakat sering hancur bukan karena tidak punya jalan, tapi karena terlalu cepat percaya pintu yang belum terbuka penuh."

Farhan menatapnya lebih serius.

"Mbak bicara seperti pernah melihat itu terjadi."

"Aku pernah melihat banyak hal."

"Termasuk saya?"

Keira tersenyum tipis. "Termasuk kemungkinanmu."

Untuk pertama kalinya, wajah Farhan yang tenang retak sedikit. Bukan malu. Bukan tersanjung. Lebih seperti seseorang yang terlalu lama bekerja di ruang gelap lalu tiba-tiba mendengar ada orang menyebut namanya dengan yakin.

"Kalau suatu hari saya bebas," katanya, "saya akan mencari Pak Rio."

"Bukan aku."

"Saya mengerti."

Farhan menatapnya dengan rasa hormat yang lebih jelas. "Terima kasih."

Ia pergi tanpa berlama-lama.

Reynard menatap punggung Farhan sampai pria itu menghilang di tikungan. Lalu ia mengangkat kedua tangan.

"Peluk."

Keira berkedip. "Apa?"

"Peluk."

"Di sini?"

"Sekarang."

Ia belum sempat menjawab ketika Reynard sudah menarik ujung bajunya. Keira kehilangan keseimbangan sedikit dan refleks menahan bahu Reynard. Dalam detik berikutnya, tangan Reynard melingkar di pinggangnya.

Pelukan itu terlalu erat.

Tidak seperti pelukan anak kecil. Tidak seperti seseorang yang minta dimanja. Dada Reynard menempel di perut Keira, wajahnya tersembunyi di dekat pinggangnya, dan tangannya menahan punggung Keira seolah ia takut perempuan itu benar-benar akan berjalan ke arah orang lain.

"Rey," suara Keira melembut. "Terlalu erat."

Genggamannya mengendur sedikit, tetapi tidak melepas.

"Kei jangan lihat dia lama."

"Aku melihat aktor, bukan pria."

"Sama saja."

"Tidak sama."

"Bagi Rey sama."

Keira terdiam. Di bawah tangannya, bahu Reynard tegang. Jantungnya berdetak cepat, sangat cepat. Ia bukan hanya bermain manja. Ada sesuatu yang benar-benar kacau di dalamnya.

Keira mengusap rambutnya perlahan. "Aku tidak akan pergi dengan Farhan."

"Dengan Evan?"

"Tidak."

"Dengan Brandon?"

"Lebih tidak mungkin."

Reynard mengangkat kepala sedikit. "Dengan siapa?"

Keira menatap matanya. Pertanyaan itu terlalu serius untuk dijawab dengan lelucon. Maka ia berkata, "Dengan diriku sendiri, kalau kamu terus bertingkah."

Reynard membeku.

Keira menyesal begitu melihat wajahnya, tetapi ia tidak menarik kalimat itu. Ia perlu membuat batas sebelum semua rasa manis berubah menjadi sesuatu yang menyesakkan.

Ia berjongkok agar sejajar. "Rey, aku boleh bekerja dengan aktor. Aku boleh bicara dengan investor. Aku boleh melihat orang lain tanpa itu berarti aku meninggalkanmu."

Reynard menatapnya lama. "Tapi Kei pulang?"

"Aku pulang."

"Ke Pavilion?"

"Ke Pavilion."

Ia akhirnya mengangguk kecil.

Namun anggukan itu tidak membuat tubuhnya langsung tenang. Tangannya masih berada di lengan kursi roda, jari-jarinya menekan terlalu keras sampai buku jarinya memucat. Keira melihat bekas putih di kulitnya dan menarik napas pelan.

"Rey, lihat aku."

Ia menurut.

"Kalau kamu takut, bilang takut. Kalau kamu marah, bilang marah. Jangan menahan sampai tubuhmu sakit."

"Kalau Kei tidak suka?"

"Aku lebih tidak suka kalau kamu menyakiti dirimu sendiri."

Kalimat itu membuat mata Reynard bergerak halus, seolah ia menyimpan sesuatu yang hampir keluar. Lalu ia menunduk lagi.

"Rey takut," bisiknya.

Keira tidak bertanya takut apa. Ia hanya meletakkan telapak tangan di punggung tangannya. Sentuhan kecil itu cukup untuk membuat napas Reynard perlahan turun.

Sore itu, setelah kembali ke kamar villa, Keira menelepon Dr. Wahyu. Ia berdiri di balkon agar Reynard tidak mendengar.

"Dok, saya ingin bertanya soal kondisi psikologis Rey. Dia kadang terlihat sangat tergantung pada saya. Apakah itu normal setelah trauma?"

Di seberang, Dr. Wahyu diam satu detik terlalu lama.

"Pasien dengan trauma berat bisa mengalami reaksi keterikatan pada orang yang membuatnya merasa aman," katanya hati-hati. "Nyonya Muda bisa memberi batas, tetapi jangan menarik diri mendadak."

"Jadi saya harus lebih sering menenangkannya?"

"Iya. Perhatian Nyonya Muda membantu."

Keira memejamkan mata. "Dok, kalau batas itu membuat dia panik?"

"Tetap buat batasnya, Nyonya Muda. Hanya saja, beri tahu sebelum pergi, jelaskan kapan kembali, dan konsisten. Orang dengan rasa aman yang rusak sering kali lebih tenang pada pola yang bisa ditebak."

"Apakah dia pernah seperti ini pada orang lain?"

Pertanyaan itu membuat Dr. Wahyu diam lebih lama.

"Tidak dengan intensitas seperti sekarang."

Keira membuka mata.

Di kaca balkon, bayangannya sendiri terlihat lelah. Ia bukan dokter, bukan psikolog, dan bukan orang yang sejak awal siap menjadi tempat seseorang bergantung. Namun ia juga bukan orang yang bisa menutup pintu setelah melihat Reynard duduk sendirian dalam dingin.

"Baik," katanya akhirnya. "Saya akan coba."

Di ruang dalam, Reynard duduk di dekat meja, membuka tablet. Ia mendengar cukup banyak.

Ketika Keira kembali, layar tablet sudah menampilkan halaman pencarian.

Cara membuat istri selalu di rumah.

Keira berdiri di belakangnya, membaca tulisan itu.

"Rey."

Reynard pelan-pelan menutup tablet.

"Itu apa?"

"Belajar."

Keira mengambil tablet itu sebelum Reynard sempat menyembunyikannya lebih jauh. Di bawah pencarian pertama, masih ada beberapa kalimat lain.

Cara membuat istri tidak pergi rapat dengan pria lain.

Cara menjadi suami yang disukai istri.

Apakah istri marah kalau suami cemburu.

Keira membaca semuanya, lalu tidak tahu harus tertawa atau memukul bantal.

"Kamu mencari semua ini?"

Reynard menatap lantai. "Google tahu banyak."

"Google tidak tahu aku."

"Rey mau tahu."

Jawaban itu membuat Keira diam.

Ia meletakkan tablet di meja, lalu duduk di depannya. "Kalau mau tahu, tanya aku. Jangan tanya internet bagaimana cara mengurungku di rumah."

"Kalau Kei marah?"

"Aku mungkin marah. Tapi itu lebih baik daripada kamu diam-diam mencari cara aneh."

Reynard mengangguk kecil. Beberapa detik kemudian ia mengangkat tangan lagi, kali ini tidak menarik, hanya menunggu.

"Peluk boleh?" tanyanya.

Keira menatap tangan itu. Ada kemajuan kecil di sana. Ia meminta, bukan mengambil.

"Boleh. Pelan."

Reynard memeluknya dengan hati-hati. Untuk pertama kalinya hari itu, tubuhnya tidak terasa seperti ingin menahan Keira agar tidak kabur. Lebih seperti ingin memastikan ia masih diizinkan dekat.

Keira ingin marah, tetapi akhirnya tertawa lelah sambil menutup wajah.

"Kamu benar-benar..."

"Pintar?"

"Menyusahkan."

Reynard tersenyum kecil, seolah itu juga pujian.

1
aku
bro rey apa yg di belakang layar nnti jd pendampingmu key 😁😃
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!