Dulu, sebelum jalan aspal mencapai Dusun Wanasetra, aku dan adikku harus bangun ketika langit masih gelap. Kami berjalan lebih dari tujuh kilometer menuju sekolah, melewati pematang sempit, kebun, lereng rawan longsor, dan sungai yang tidak memiliki jembatan tetap. Di kaki kami hanya ada sepatu bekas dari pasar loak. Sepatu itu terlalu sempit untukku, terlalu besar untuk Nira, dan selalu basah saat musim hujan.
Kami menjahit telapak yang terbuka dengan benang karung, menambalnya memakai potongan ban, lalu memakainya kembali pada pagi berikutnya. Di sekolah, sepatu lusuh itu menjadi bahan ejekan. Di rumah, sepatu yang sama menjadi bukti bahwa Ayah dan Ibu masih berusaha menjaga kami tetap belajar. Ketika panen gagal, Ibu sakit, dan Ayah menerima pekerjaan berbahaya di tempat pemecahan batu, perjalanan menuju sekolah berubah menjadi perjuangan mempertahankan keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SATU BANTUAN UNTUK DUA ANAK
Aku menatap Bu Satya, berharap ia akan mengatakan bahwa aturan itu dapat diubah. Namun, formulir di tangannya hanya satu. Di sudut atas terdapat nomor penerima yang sudah dicetak. Tidak ada tempat untuk menambahkan nama Nira.
“Berikan kepada Nira, Bu,” kataku cepat.
Nira langsung menarik lenganku. “Tidak. Buat Kak Langga.”
“Sepatumu lebih buruk.”
“Kakak kelas lima. Tahun depan kelas enam. Kakak butuh buku ujian.”
“Aku bisa meminjam dari Gala.”
“Aku juga bisa meminjam.”
Kami berbicara semakin cepat, seolah siapa yang paling dahulu menyerah akan kehilangan hak untuk menjaga yang lain. Bu Satya mengangkat tangan dan menyuruh kami duduk.
“Bantuan bukan hadiah untuk anak yang paling menderita,” katanya. “Kita harus melihat kebutuhan kalian dengan tenang.”
Ia membuka catatan. Bantuan itu dapat menanggung iuran sekolah, beberapa buku, serta satu set alat tulis. Tidak cukup untuk membeli sepatu baru bagi kami berdua. Jika diberikan kepadaku, pengeluaran sekolah keluarga akan berkurang dan uang yang biasanya dipakai membayar iuran dapat digunakan untuk kebutuhan Nira. Jika diberikan kepada Nira, aku tetap harus membayar buku kelas lima yang lebih mahal.
Aku mendengarkan, tetapi semua perhitungan itu tetap terasa seperti memilih siapa yang lebih pantas diselamatkan. Di luar ruang guru, bel masuk berbunyi dan anak-anak berlari menuju kelas. Bagi mereka, hari sekolah berjalan biasa. Bagi kami, beberapa lembar buku dan uang iuran dapat menentukan apakah salah satu harus lebih sering tinggal di rumah.
“Nama saya saja dicoret,” kataku. “Tulis nama Nira.”
“Tidak boleh,” kata Nira. Matanya mulai basah. “Kakak selalu memberikan bagian lebih besar kepadaku.”
“Itu karena aku kakak.”
“Kalau begitu sekali ini aku boleh memberikan kepada Kakak.”
Ia membalik wajah agar air matanya tidak terlihat. Aku merasa bersalah. Selama ini aku mengira melindungi Nira berarti mengambil keputusan untuknya. Aku tidak pernah memikirkan bahwa ia juga ingin melindungiku.
Bu Satya memindahkan kursinya mendekat. “Bagaimana kalau bantuan sekolah digunakan atas nama Langga, lalu Ibu mencarikan buku bekas dan alat tulis untuk Nira?”
Aku hendak menolak lagi, tetapi Bu Satya menjelaskan bahwa beberapa murid kelas atas memiliki buku yang sudah tidak dipakai. Ia dapat meminta izin kepada orang tua mereka. Kertas yang masih kosong dapat dikumpulkan dan dijilid ulang menjadi buku tulis.
“Sepatunya?” tanya Nira.
Bu Satya melihat sepatu kami yang diletakkan dekat pintu. “Sepatu belum dapat dijanjikan. Tetapi kita akan mencari cara.”
Kata belum terdengar lebih jujur daripada nanti. Aku akhirnya mengangguk. Nira juga mengangguk, meskipun wajahnya masih muram.
Di kelas, aku tidak dapat berkonsentrasi. Guru menulis pecahan di papan, tetapi pikiranku dipenuhi satu formulir yang harus dibagi menjadi dua kehidupan. Saat istirahat, Gala duduk di sampingku dan memberikan setengah ubi rebus.
“Kenapa wajahmu seperti kehilangan ayam?” tanyanya.
Aku menceritakan bantuan itu. Gala tidak langsung menjawab. Ia menggigit ubi, lalu berkata kakaknya masih menyimpan buku kelas tiga dan empat. Ia akan menanyakannya malam nanti.
“Aku tidak mau merepotkan.”
“Kalau buku hanya dimakan rayap di rumah, siapa yang direpotkan?”
Ucapan itu membuatku tersenyum. Mungkin bantuan tidak selalu datang dari formulir. Ada pertolongan yang bergerak melalui tas sekolah, dapur, dan rak buku orang lain.
Sepulang sekolah, Bu Satya memanggil kami ke perpustakaan. Di atas meja sudah ada tumpukan buku bekas. Sampulnya kusam dan beberapa halaman dipenuhi coretan pensil. Ia memilih buku berhitung untuk Nira, satu buku membaca, serta dua buku tulis yang setengah terpakai. Halaman yang berisi tulisan lama dipisahkan, sedangkan halaman kosong dijahit kembali memakai benang.
Nira membelai sampul buku berhitung. “Ada nama orang lain.”
“Biarkan,” kata Bu Satya. “Itu tanda buku ini pernah membantu anak lain sebelum membantumu.”
Aku memperhatikan adikku menuliskan namanya di bawah nama lama. Dua nama itu tampak seperti dua anak yang tidak pernah bertemu, tetapi saling berbagi jalan menuju pelajaran. Bu Satya juga memberikan kertas sampul berwarna cokelat. Kami membungkus buku bersama-sama agar halaman yang rapuh tidak cepat terlepas. Nira menempelkan potongan kertas kecil bertuliskan milik Nirwasita. Ia menulisnya dengan sangat rapi, seolah buku bekas itu adalah hadiah paling mahal.
Pak Sasmita datang membawa surat keputusan. Namaku tercantum sebagai penerima bantuan. Aku membaca pelan-pelan, lalu menandatanganinya dengan tangan kaku. Tidak ada rasa menang. Hanya rasa lega yang bercampur malu dan sedih. Aku menyimpan surat itu di bagian terdalam tas. Aku takut kertasnya basah, tetapi juga takut teman lain melihatnya dan mengetahui bahwa biaya sekolahku dibayar karena keluargaku tidak memiliki cukup uang.
Saat kami pulang, Nira membawa buku bekas di dalam plastik. Aku membawa surat bantuan. Hujan tidak turun, tetapi awan gelap mulai berkumpul di balik bukit. Jalan masih lembap. Kami berjalan tanpa banyak bicara.
Di Tikungan Nangka, Nira akhirnya berkata, “Kak, aku tidak marah.”
“Aku juga tidak merasa senang.”
“Kenapa?”
“Karena kita harus berebut sesuatu yang seharusnya sama-sama kita punya.”
Nira berpikir lama. “Kita tidak berebut. Kita membagi.”
Aku menoleh. Kalimat itu sederhana, tetapi membuat langkahku terasa lebih ringan. Nira memang lebih kecil, namun kadang ia melihat jalan keluar yang tidak kulihat.
Di rumah, Ibu menerima buku-buku itu dengan hati-hati. Ia menghapus coretan pada sampul menggunakan kain lembap. Ayah membaca surat bantuan dan mengatakan kami harus menyimpannya bersama salinan surat jalan.
“Dua kertas,” katanya, “satu untuk membuktikan kita butuh jalan, satu untuk membuktikan anak-anak butuh sekolah.”
Malam itu Bu Mirah datang membawa beberapa lembar kertas kosong sisa warung. Pak Darma mengirim pensil yang sudah pendek. Gala datang sebelum gelap dengan tiga buku milik kakaknya. Semua barang itu diletakkan di atas tikar. Nilainya mungkin tidak besar bagi orang lain, tetapi bagi kami meja belajar kecil itu terasa penuh.
Setelah para tetangga pulang, aku melihat Ayah duduk sendiri dekat tungku. Di depannya ada beberapa lembar uang dan koin yang disusun menurut ukuran. Ia menghitung, berhenti, lalu menghitung lagi.
“Ada apa, Yah?” tanyaku.
Ayah menutup uang dengan telapak tangan. “Tidak ada.”
Dari atas terdengar tetesan air jatuh ke dalam ember. Atap di dekat tempat tidur Ibu kembali bocor. Bekas lembap pada dinding semakin lebar. Ibu batuk dari dapur, lalu pura-pura membersihkan tenggorokan ketika melihat kami.
Ayah mengambil uang itu dan memisahkannya menjadi dua tumpukan kecil. Satu diletakkan dekat buku sekolah, satu lagi dekat paku dan potongan seng yang akan dipakai memperbaiki atap. Kedua tumpukan terlalu sedikit.
Aku berdiri di ambang pintu sambil memegang surat bantuan. Untuk pertama kali aku melihat dengan jelas bahwa di rumah kami, setiap kebutuhan tidak pernah datang sendirian. Buku bersaing dengan beras. Sepatu bersaing dengan obat. Dan sekarang, uang untuk sekolah harus berhadapan dengan atap yang membiarkan hujan masuk.
Ayah kembali menghitung uang sambil memandangi bagian atap yang bocor.