NovelToon NovelToon
Terjebak Dalam Obsesi Putra Mahkota

Terjebak Dalam Obsesi Putra Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi
Popularitas:33.9k
Nilai: 5
Nama Author: Saasaa

Elisa tidak pernah menyangka novel yang baru semalam ia baca akan menjadi awal petaka hidupnya. Saat membuka mata, ia sudah berada di tubuh Lady Nandikara, putri bangsawan dari Wilayah Timur yang terkenal cantik, tapi angkuh, bermulut tajam, dan paling dibenci semua orang.

Tapi bagusnya, Lady Nandikara itu hanya karakter pendukung saja, yang Elisa ingat, dia muncul hanya sesekali, tokoh yang tidak penting.

Ketika mengetahui posisinya dalam novel, Elisa mengambil satu keputusan. Dia tidak akan ikut campur dalam alur cerita. Cukup hidup tenang, menjadi gadis pendiam, lalu bertahan sampai akhir.

Namun, rencananya mulai berantakan. Ketika sepasang mata tajam dan sedingin es milik Putra Mahkota mulai terpaku padanya. Sejak saat itu, kedamaian yang selama ini ia rencanakan dengan matang perlahan hancur, Elisa terseret ke dalam obsesi seorang pria yang tak pernah menerima penolakan.

Semakin Elisa berusaha menjauh dari alur cerita, semakin takdir menyeretnya ke pusat konflik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Persiapan Pesta Raja

Elisa terbangun dengan napas memburu. Matanya langsung terbuka lebar saat menyadari langit-langit kamar yang begitu dikenalnya. Aroma bunga lavender yang selalu memenuhi kamarnya menyambut indra penciumannya, membuat ia semakin yakin bahwa dirinya benar-benar sudah kembali ke kediaman keluarga Winter.

"Aku di kamar?"

Dia segera bangkit setengah duduk sambil menoleh ke kanan dan kiri. Di dekat jendela, Cani sedang berdiri sambil membawa baskom kecil berisi air hangat dan handuk.

Melihat majikannya sudah sadar, wajah Cani langsung berbinar."Nona sudah bangun!"

"Cani," Elisa mengerjap beberapa kali, masih mencoba mengingat kejadian sebelumnya."Kok aku bisa ada di sini? Terakhir yang kuingat, aku masih berada di padang ilalang bersama Pangeran Erlan."

Cani menutup mulutnya, menahan senyum yang sudah hampir lolos."Nona tertidur, jadi pasti tidak ingat."

"Aku tertidur?"

"Iya." Cani mengangguk cepat."Yang Mulia Pangeran sendiri yang mengantarkan nona pulang."

Elisa berkedip kosong."Hah?"

"Beliau membawa nona dengan menunggangi kuda." Mata Cani berbinar penuh imajinasi."Persis seperti sepasang kekasih yang ada di dalam novel yang sering nona baca. Pangeran yang tampan menggendong gadis cantik pulang."

Cani bahkan merapatkan kedua tangannya di depan dada."Nona dan Pangeran Erlan benar-benar serasi. Cantik dan tampan. Kalau dijadikan tokoh utama novel pasti laris."

Elisa hanya bisa melongo.

Apa-apaan ini, bukankah aku sedang menunggunya tidur? Lalu bagaimana bisa aku yang tertidur? Apa sebenarnya yang dilakukan pria itu setelah aku kehilangan kesadaran?

Semakin dipikirkan, semakin aneh. Tanpa berkata apa pun lagi, Elisa langsung menyingkirkan selimut dan turun dari ranjang. Langkahnya cepat menuju cermin besar di sudut kamar.

"N-Nona?"

Elisa memeriksa dirinya dari ujung kepala hingga kaki. Dia memperhatikan lehernya, tidak ada bekas. Bahu, tidak ada. Lalu pakaian yang dikenakannya masih sama seperti semula.

Elisa menghela napas lega. Tidak ada yang aneh. Bukan berarti ia benar-benar percaya pada Erlan. Justru sebaliknya.

Elisa bukan anak kecil yang tidak mengerti apa-apa, dia tahu betul tatapan Pangeran Erlan kepada Nandikara sudah jauh berbeda dibandingkan sebelumnya. Ketertarikan pria itu terasa aneh. Sulit dijelaskan, tetapi cukup membuatnya waspada.

Karena itulah ia memutuskan satu hal. Mulai sekarang, dia harus lebih berhati-hati.

"Nona..." Suara Cani terdengar ragu."Nona tidak apa-apa?"

Elisa menoleh. Baru sekarang ia menyadari wajah pelayannya sudah dipenuhi kecemasan. Mungkin tingkahnya barusan terlihat sangat aneh.

Elisa segera tersenyum tipis agar Cani tidak semakin khawatir."Tidak apa-apa, Cani."

"Benarkah?"

"Tentu saja. Aku hanya memastikan tidak terjadi sesuatu."

Cani masih tampak bingung, tetapi akhirnya mengangguk pelan. Kalau nonanya bilang begitu, berarti memang tidak ada masalah.

Belum sempat suasana menjadi tenang...

"Putri tidur akhirnya bangun juga?" Suara seorang wanita terdengar dari arah pintu. Tanpa perlu melihat pun Elisa sudah tahu siapa pemilik suara itu.

Suri berdiri di ambang pintu sambil menyilangkan kedua tangan di dada. Senyum jahil menghiasi wajahnya."Kau benar-benar membuat semua gadis iri hari ini, Kara."

Elisa langsung memasang wajah cemberut."Kenapa? Aku tidak melakukan apa-apa."

"Oh ya?" Suri berjalan masuk dengan santai."Setelah kencan romantis, kau malah tertidur sampai Pangeran Erlan mengantarkanmu langsung ke tempat tidur." Dia sengaja berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan nada menggoda."Dan sekarang, dengan wajah sepolos itu, kau bilang tidak melakukan apa-apa?"

Elisa langsung mengembuskan napas panjang."Dia menjebakku, Suri."

Senyum Suri perlahan menghilang, berganti ekspresi bingung."Menjebak? Maksudmu bagaimana?"

Elisa langsung mulai mengomel."Awalnya dia menyuruhku menunggu sampai dia tidur."

"Lalu?"

"Ya aku menunggu."

"Lalu?"

"Entahlah, mungkin karena suasananya terlalu tenang, aku malah ikut mengantuk."

Suri mulai menahan senyum."Terus?"

"Aku yakin dia sengaja. Dia pasti pura-pura belum tidur supaya aku tetap menunggu. Begitu aku lengah, aku malah ketiduran."

Sesaat ruangan menjadi sunyi.

Kemudian, tawa Suri langsung meledak tanpa bisa ditahan lagi, dia sampai memegangi perutnya sendiri."Astaga, Kara, kau ini benar-benar..."

Elisa langsung mengerucutkan bibir."Kenapa kau malah tertawa?"

Suri berusaha berhenti, tetapi setiap melihat wajah Elisa ya kesal, tawanya justru pecah lagi."Kau lucu sekali."

"Lucu dari mana? Aku ini korban."

"Korban karena ketiduran?"

"Ya!"

"Kalau begitu lain kali jangan ikut tidur."

"Aku tidak sengaja!"

"Kau benar-benar seperti anak kecil."

Elisa mendengus kesal."Suri, kau menyebalkan sekali."

Suri kembali tertawa kecil sambil mengusap sudut matanya yang sampai berair karena terlalu banyak tertawa. Belum sempat Elisa membalas lagi, terdengar ketukan pelan di pintu.

Keduanya langsung menoleh. Nyonya Winter masuk dengan langkah anggun. Melihat ibunya datang, Suri segera menghentikan tawanya dan berdiri lebih tegak. Elisa pun ikut memperbaiki sikapnya.

"Hari ini kalian berdua harus berdandan secantik mungkin."

"Untuk apa, bu?" tanya Elisa penasaran.

"Hari ini Raja Simon mengadakan pesta perpisahan sebelum seluruh bangsawan kembali ke wilayah masing-masing."

Beliau menatap kedua putrinya bergantian."Sebagai keluarga Winter, kita tentu harus hadir."

Suri hanya diam, sementara Elisa terlihat menghela napas pelan. Kenapa setiap hari selalu saja sibuk, kapan dia bisa bersantai?

***

"Rasanya aku sudah tidak memiliki hak untuk memilih mana yang ingin kupakai dan mana yang tidak. Semua harus diatur, membosankan sekali hidupku."

Elisa terus menggerutu sambil menatap pantulan dirinya di depan cermin besar yang berdiri di sudut kamar. Wajah cantiknya ditekuk masam, bibirnya mengerucut seperti anak kecil yang sedang dipaksa melakukan sesuatu yang tidak disukainya.

Sejak ibunya datang, dia bahkan belum sempat bernapas dengan tenang. Baru saja bangun, para pelayan sudah mondar-mandir membawa gaun, kotak perhiasan, sepatu, sarung tangan, hingga pita rambut dengan berbagai warna. Semua itu memenuhi tempat tidurnya.

Namun, bukannya diberi kebebasan memilih, setiap kali tangannya mengarah pada sesuatu yang ia sukai, suara ibunya langsung terdengar.

"Yang itu jangan."

"Gaun itu terlalu sederhana."

"Anting itu kurang pantas."

"Kalung ini saja."

"Rambutmu jangan dibiarkan seperti itu."

Elisa sampai kehilangan hitungan sudah berapa kali ia mendengar kata 'jangan'

"Aku hanya ingin memakai yang kusuka," gerutunya pelan, nyaris seperti berbicara pada dirinya sendiri.

Tangannya kembali menggapai sebuah pita berwarna biru muda yang menurutnya cantik. Belum sempat menyentuhnya, nyonya Winter lebih dulu mengambil pita itu.

"Bukan yang ini."

"Tuh, kan..." Elisa mendengus kesal."Lagi-lagi tidak boleh."

Dia menjatuhkan tubuhnya ke kursi rias dengan wajah semakin cemberut."Bahkan memilih pita saja aku tidak boleh."

Nyonya Winter hanya menggeleng kecil sambil tetap sibuk menyisir rambut putrinya dengan hati-hati."Kau harus mulai terbiasa, Kara. Sebentar lagi kau akan menjadi putri mahkota. Apa pun yang kau lakukan akan diperhatikan banyak orang."

Beliau kemudian mengambil sebuah jepit rambut berhias mutiara yang baru dikirim dari istana dan memasangnya di rambut Elisa.

"Bagaimana cara berpenampilan, cara berjalan, cara duduk, cara berbicara, bahkan cara tersenyum sekalipun akan dinilai. Jika kau bertindak seenaknya, keluarga kerajaan yang akan dipermalukan." Nada suara nyonya Winter terdengar lembut, tetapi penuh kesungguhan.

Di atas meja rias berjajar puluhan kotak hadiah yang dikirim langsung oleh sang ratu. Isinya bukan hanya perhiasan mahal, tetapi juga gaun-gaun mewah dengan sulaman emas, sepatu buatan pengrajin terbaik, serta berbagai aksesori yang bahkan belum pernah Elisa lihat sebelumnya.

Setiap membuka satu kotak, mata nyonya Winter selalu berbinar."Yang Mulia Ratu benar-benar sangat perhatian." Senyumnya tak kunjung hilang."Lihat kalung ini, cantik sekali. Dan gaun ini, jahitannya begitu rapih."

Beliau tampak begitu bahagia hingga berkali-kali mengusap kain gaun itu dengan penuh hati-hati. Sebaliknya, Elisa justru memandang semua barang mahal itu seolah sedang melihat tumpukan beban.

Baginya, setiap perhiasan yang datang bukan sekadar hadiah. Melainkan pengingat bahwa kebebasannya perlahan sedang direnggut.

"Astaga," Elisa menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi."Hanya membayangkannya saja aku hampir gila."

Nyonya Winter langsung menegur."Kara." Beliau menatap putrinya melalui pantulan cermin."Jangan bicara sembarangan."

Elisa langsung menghela napas panjang.

"Kau harus menjadi gadis yang lemah lembut. Jangan mengeluh terus seperti itu. Suaramu juga harus lebih halus."

Elisa memejamkan mata sejenak."Iya, Ibu," jawabnya dengan suara yang dibuat selembut mungkin, meski terdengar sangat terpaksa.

"Anak pintar."

Begitu ibunya kembali sibuk memilihkan anting, Elisa diam-diam memutar bola matanya ke arah lain.

Dalam hati ia kembali mengeluh.

Kenapa semua orang begitu memperebutkan posisi putri mahkota? Padahal serumit ini. Bangun tidur diatur. Pakai baju diatur. Duduk diatur. Jalan diatur. Bicara pun diatur. Mungkin nanti cara bernapas juga akan diatur. Semakin dipikirkan, semakin sesak rasanya.

Elisa kembali menatap dirinya di cermin. Gadis yang terlihat di sana memang cantik, anggun, bahkan nyaris sempurna. Namun entah mengapa, ia merasa pantulan itu bukan lagi dirinya.

Apa aku kabur saja ya?

Lalu ia menghela napas panjang untuk kesekian kalinya.

Astaga menyebalkan sekali

1
aku
jangan maafin. anggap aja kentut tuh human suri. 😁
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
itu deep!!!!!
Yuliana Hakim
jangan terlalu lama up ya Thor...
selalu ditunggu episode selanjutnya
Saasaa: Siap, udah di up
terimakasih ya udah nunggu, selamat baca
total 1 replies
Lauren Florin Lesusien
maaf thur jngan tersinggung bisa ga kreakter elisa ini dibuat tegas dan jngan terlalu naif dia kan jiwa moderen tau intrik istana gimna
kok ini elisanya terlalu lembek dan tetpaku pengen jadi orang baik terlalu naif
padahal udh diperingatkan sama pemilik tubuh aslinya
Saasaa: Wah terimakasih masukannya 😄
Karakter Elisa memang dibuat berbeda dengan Nandikara. dan Elisa bukan cewe lembek, tapi cewe moderen yang mageran🤭 males debat, males ribut, males cari perkara, tapi karena Erlan itu sulit dihindari jadilah kalo sama Erlan ribut Mulu terpaksa dia 🤣 makasih udah baca ya
total 1 replies
Yuliana Hakim
up donk
Saasaa: sudah di up, maafkan baru up ya lagi sibuk 🤭 selamat baca
total 1 replies
Natasya
👌
Saasaa: Terimakasih sudah baca 😍
total 1 replies
Yuliana Hakim
up lagi
Saasaa: siap, selamat baca
total 1 replies
Yuliana Hakim
up donk Thor
Saasaa: Sudah di up, selamat baca
total 1 replies
aku
bisalah kak elisanya ganti Kara aja gt? biar lbh enak bacanya 🙏😁
Saasaa: terimakasih sudah baca ya
total 1 replies
aku
dih!! jangan mau digosipkan sm singa!
kok aq yg masih dendam sm singa. jengkel gt.
usir dah usir 😁
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
mekasih Thor 🧁
Saasaa: sama-sama
total 1 replies
Lauren Florin Lesusien
ya thur ini kreakter elisa jngan dibuat terlalu naif thur klw bisa 🤣🤣🤣
Saasaa: terimakasih sudah baca ya
total 1 replies
Yuliana Hakim
d tunggui episode selanjutnya,semakin seru
Saasaa: siap, udah di up ya 🤭
total 1 replies
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
jangan lama-lama update nya Thor..aku tidak sabar orangnya
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari: 🍬🍭 mekasih Thor
total 2 replies
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
bagus!!!! itu barulah raja sebenarnya
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
woww, kejam aku suka!!!
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
bergitu yakin kamu erlan.
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
aku rasa ingin menjerit! aahhhhhhhhhhhhh
Yuliana Hakim
up..up
Saasaa: besok lagi ya 🤭
total 1 replies
Amiera Syaqilla
hey author
Saasaa: Hallo
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!