"Siapa bilang hidup tak seindah drama Korea. hidup jauh lebih indah dari drama ketika memiliki cinta"
ini adalah lika-liku kehidupan seorang gadis untuk menemukan jodoh/cinta sejatinya. karena terlalu terobsesi dengan karakter oppa-oppa yang ada di drama Korea, ia sampai tidak bisa jatuh cinta pada laki-laki yang ada di kehidupan nyatanya hingga usia ke 26 tahun. usia yang sudah cukup matang untuk menikah.
lalu suatu hari, sang Ibu berinisiatif untuk menjodohkannya dengan seorang pemuda, anak dari teman arisannya. padahal Yuna tidak menginginkan perjodohan, ia berharap bisa menemukan cinta sejatinya sendiri. namun, mengingat bahwa hidup tak seindah drama Korea, alhasil ia memutuskan untuk menerima perjodohan itu.
apakah Yuna berhasil menemukan jodohnya melalui perjodohan itu?
yuk! ikuti kisahnya 💃.
oh iya, jangan lupa tinggalkan jejak. like, komen, vote dan hadiah ☺️
bila berkenan berikan kritik dan saran juga ✌️
jazakumullahu khairan 🙏
🌹🌹🌹
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Lztari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Artikel mengejutkan
"Selamat malam." balas Wisnu dengan wajah polosnya.
Lagi-lagi Yuna menghela napas, "hm benar, tapi karena kita seorang muslim jadi salam yang lebih tepat untuk kita ucapkan itu adalah Assalamualaikum dan jawabannya seperti yang kau tahu, Waalaikumsalam. Jangan hanya bertamu, bertemu dan menjawab telepon juga perlu."
"Oh maaf!." ucap Wisnu.
"Nah, seperti itu, jika kau salah, memang kau harus berkata maaf." Yuna sumringah. Akhirnya anak didiknya sudah mulai beradaptasi.
Tidak berhenti di situ, Yuna masih melanjutkan ocehannya. Mengajari Wisnu untuk berkata terimakasih jika mendapat kenaikan dari orang lain sekecil apapun itu. tak lupa, ia juga mengajari Wisnu untuk berkata tolong. Karena sehebat apapun kita, kita tidak mampu melakukan apapun seorang diri, kita membutuhkan bantuan orang lain dan bentuk penghargaan pertama kali sebelum mengucapkan terima kasih adalah meminta dengan ucapan tolong kepadanya.
Yuna berbicara panjang lebar hingga membuat Wisnu tampak jemu karenanya.
"Baiklah, terimakasih. Aku pasti akan berubah." kata Wisnu, ia pun menyesap kopinya yang mulai dingin. Lelah dengan materi yang dijelaskan Yuna, membuatnya sedikit lemas. Sedangkan Yuna tersenyum riang. sepertinya ia pun sudah melupakannya tentang kegundahannya terhadap Lio. Setidaknya Wisnu sudah menunjukkan tanda-tanda kebaikan, jadi ia tidak terlalu terbebani.
"Assalamualaikum, Yuna. Astaga kamu ngapain aja? Ditelepon, di chat gak direspon-respon!." berlari dengan napas tergopoh-gopoh, Wanda dan Kasim tiba-tiba hadir di tempat itu dengan sekejap mata, membuat Yuna dan Wisnu kebingungan. Yuna terlonjak dari duduknya menyambut kepanikan kedua sahabatnya itu.
"Waalaikumsalam, hp-ku di kamar, memangnya ada apa?."
"Ga-gawat, terjadi sesuatu." Wanda mulai bercerita namun napasnya tersengal. Yuna segera mengambil dua cangkir gelas berisi air mineral lalu diberikan pada Wanda dan Kasim. Wisnu hanya menyaksikan.
keduanya meraih gelas masing-masing lalu meneguknya kasar. Mata mereka bergerak secara bersamaan ke arah Wisnu. Ada rasa bersalah karena telah menganggu pasangan perjodohan itu, rupanya mereka sedang kencan, pantas saja tidak menghiraukan ponselnya yang berdering. namun karena ada hal mengejutkan yang terjadi mereka pun tetap akan melanjutkan perbincangan.
"Halo? Maaf ya kami menganggu, tapi kami ada perlu sama Yuna, boleh kami pinjam sebentar?," sapa Wanda kepada Wisnu. Ia tersenyum canggung.
"Oh iya silakan," balas Wisnu, "lagipula aku juga sudah mau pulang, kalian santai saja ngobrolnya."
"Kamu sudah mau pulang Wisnu?." tanya Yuna. meskipun pemuda itu pulang cepat atau lambat tidak berpengaruh untuknya, tapi sebelumnya dia tidak bilang mau pulang, apakah karena ia kedatangan teman-temannya lalu pemuda itu berniat menghindar, agar tidak diceramahi lagi?. Hm ada baiknya tidak su'udzon.
"Iya, besok banyak kerjaan." jawab pemuda itu.
"Aduh maaf ya, kita pasti mengganggu kencannya ya?." kata Wanda tidak enak hati.
"Tidak kok. Ya sudah selamat malam." pemuda itu menggeser kursi lalu beringsut pergi. Kasim hanya termangu, biasanya ia akan sok akrab pada laki-laki yang ada di sekitar kedua sahabatnya, namun kali ini berbeda.
"Kencan apanya? Aku sedang mengajarinya sopan santun." gerutu Yuna setelah Wisnu tidak berada di tempat itu lagi.
"Orang itu kerja di bank sentral kan?." tanya Kasim. Setelah mengaduk seluruh isi memorinya, ia teringat bahwa ia pernah melihat pemuda itu di suatu tempat.
"Iya. Kenapa Cim?,"
"Aduh, itu nanti saja, kita bahas ini dulu. Sangat-sangat penting!." seru Wanda, ia segera duduk di mini bar, Yuna dan Kasim mengikut.
"Ada apa? Sepenting apa?." Yuna jadi penasaran. Setelah berlari seperti dikejar hantu, Wanda dan Kasim pasti tidak sedang bercanda. Sesuatu yang terjadi pasti sangat mengejutkan sampai mereka pun rela jauh-jauh kesini.
Wanda merogoh ponsel dari dalam tas kecilnya lalu menunjukkan artikel digital yang ada di perambannya.
"Lihat ini!." serunya sambil menyodorkan ponsel ke hadapan Yuna. Gadis itu pun mengambil ponsel tersebut dari tangan Wanda. Ia membacanya secara saksama.
Direktur utama Tirta prasajaya ternyata hanya penumpang bus umum
Begitulah judul yang tertera di artikel yang terbit dari situs web perusahaan. Dibawahnya banyak keterangan narasi, ada juga sebuah foto Lio yang duduk di halte, di sebelahnya terdapat seorang gadis yang bagian wajahnya di blur.
Ia terus menggulir sampai bagian bawah artikel sampai ia menemukan beberapa komentar dari beberapa karyawan. Ada yang menyayangkan, mengejek bahkan merendahkan Lio. Ia cukup geram dengan komentar itu, bisa-bisanya orang-orang itu mencela Lio hanya karena penumpang bus.
Lagi-lagi ia menggulir layar ponsel Wanda. Kembali ke judul artikel. Ia memeriksa sumber informasi itu, namun sayangnya artikel itu anonim.
"Astaga, siapa yang menulis ini?." Yuna benar-benar Syok mengetahui isi artikel itu. setelah ia bersusah-payah menyembunyikan fakta tersebut, rupanya terkuak juga.
"Itu tidak penting. Tapi lihat gadis di sebelahnya itu." titah Wanda, "bukankah itu kamu!?" suaranya menukik. Ia ingat sekali hari ini Yuna mengenakan setelan apa, dan gambar gadis di foto itu sama persis dengan busana Yuna siang tadi. Sudah pasti itu memang Yuna, terlebih lagi berada di halte.
"E-- ke-kenapa itu aku?," ucapnya berusaha membantah.
"Sudah pasti itu kamu. Aku sangat hapal baju yang kau pakai hari ini, postur tubuhmu dan sling bag yang melingkar di bahumu. Itu jelas-jelas kamu." dakwa Wanda. Kali ini, Yuna benar-benar tidak bisa mengelak. Ia tahu kedua sahabatnya itu sudah yakin gadis di foto itu adalah dirinya, jadi percuma ia mengelak.
"Be-benar, itu memang aku," Yuna mengangguk sambil tersenyum kecut. Betapa ngerinya ia melihat tatapan Wanda yang seketika menajam, seolah ingin menikam dirinya.
"Jadi, selama ini kau pergi ke kantor, bareng Pak Lio?." Kasim bersuara. Ia pun sangat syok dengan kenyataan ini.
"Bukan perginya saja, pulangnya juga sama. Kita kan satu bus." Yuna meluruskan. Ia tersenyum miris.
"Itu sebabnya kau tidak mau ditemani di halte, karena ada Pak Lio?." Wanda nge-gas.
"I-iya, jadi ceritanya begini---." Yuna mulai bercerita tentang semua hal yang terjadi antara dirinya dengan Lio. Dimulai dari tertidur di bahunya tanpa sengaja hingga fakta bahwa ternyata pemuda itu yang akan menjadi atasannya di kantor. Ia juga mengungkapkan bahwa atasannya itu tinggal di kompleks ini.
"Maaf ya, aku tidak cerita lebih awal pada kalian. Sebenarnya aku cuma tidak mau berita ini tersebar dan banyak karyawan yang tahu terus bergunjing tentang Pak Lio, mereka pasti akan merendahkannya. Tapi sekarang, kabar ini malah terunggah ke web. Seluruh karyawan pasti akan tahu!." Yuna tertunduk lesu.
"Ya ampun, kamu anggap kami apa? Mana mungkin kami akan menyebarkan cerita yang seperti itu tentang Pak Lio." sergah Wanda.
"Aku tahu kalian tidak mungkin menyebarkannya, aku hanya berjaga-jaga. Kalian tahu kan banyak telinga yang pendengarannya tajam di kantor, kalau kita membahas itu, pasti ada yang menguping."
"Benar juga sih. Tapi sekarang malah tersebar begitu saja."
"Kira-kira, siapa yang menulis artikel itu?." Kasim berpikir keras.
Mereka bertiga terdiam, sama-sama berpikir. Dan yang saat ini terlintas di benak Yuna hanya Denis. Yah! Dia adalah orang yang melihatnya bersama Lio di halte. Dia juga memberikannya tawaran dan ancaman. Bisa saja, dia menulis artikel itu untuk merendahkan nama Lio karena ia tidak sepakat untuk menjadi sekutunya.
"Benar, pasti dia pelakunya!." batin Yuna.
aku mampir niih, jangan lupa mampir juga di karyaku yaa..
semangat Wanda, sekuntum 🌹 untukmu😍
kutunggu lagi updatenya😍🫰