NovelToon NovelToon
Cermin Retak

Cermin Retak

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Hantu
Popularitas:975
Nilai: 5
Nama Author: glaze dark

Namanya Anya Dia baru pindah ke rumah kontrakan lama di riau. Murah banget sewanya. Cuma ada 1 yang aneh: cermin gede di kamar.

Malam pertama, Anya iseng selfie depan cermin jam 12 malam. Pas diliat hasilnya... di foto dia senyum. Tapi di pantulan cermin, dia nunduk.

Dia kira cuma efek cahaya. Besoknya dia dandan buat kerja. Ngaca biasa.
Tiba-tiba lampu kedip. Pas nyala lagi, di cermin dia udah nunduk duluan. Padahal Sari masih natap cermin....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 2

Satu minggu berlalu seperti putaran roda yang cepat. Anya mulai terbiasa dengan ritme barunya. Suara alarm pukul lima pagi tidak lagi terasa asing, begitu pula langit-langit kamar kos milik Bu Mimi. Namun, jika ada satu hal yang paling membantu Anya melewati masa transisi ini, itu adalah Serra.

Rekan kerja di meja sebelah jendela itu tidak hanya menjadi pemandu di kantor, tetapi juga menjelma menjadi teman mengobrol yang asyik.

"Nya, fokus banget. Jangan sampai lupa berkedip," goda Serra suatu sore, bersandar pada sekat meja kerja mereka sambil memegang segelas es kopi.

Anya tertawa kecil tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer. "Tanggung, Ser. Laporan rekonsiliasi data dari kantor pusat harus beres sebelum jam lima. Pak Arif minta ini selesai hari ne."

"Pak Arif memang perfeksionis, tapi dia baik kok," ujar Serra, lalu menyerahkan satu cup es kopi serupa ke meja Anya. "Nih, asupan kafein biar matanya melek. Hadiah karena kau udah bantu aku rapihin berkas audit kemarin."

"Wah, tahu aja aku lagi butuh yang manis-manis. Makasih ya, Serra."

Kehadiran Serra membuat hari-hari Anya di kantor cabang terasa jauh lebih ringan. Tugas-tugas baru yang awalnya terasa rumit perlahan-lahan bisa ia kuasai berkat penjelasan detail dari Serra dan bimbingan sabar dari Pak Arif.

Sore harinya, setelah jam kerja usai, Anya berjalan kaki kembali ke kosan. Udara kota menjelang magrib terasa sedikit gerah, berbeda dengan kampung halamannya yang cenderung sejuk. Begitu sampai di rumah kos, Bu Mimi tengah menyiram tanaman mangganya yang rimbun.

"Baru pulang, Anya? Gimana kerjanya hari ini?" sapa Bu Mimi ramah.

"Iya, Bu. Alhamdulillah lancar, makin banyak yang dipelajari," jawab Anya sambil menyeka keringat di dahinya.

"Baguslah. Oh ya, tadi ibu habis bikin kolak pisang kebanyakan. Nanti malam kalo mau, ambil saja di dapur bawah ya. Sudah ibu pisahkan di mangkuk."

"Aduh, jadi merepotkan. Terima kasih banyak ya, Bu Mimi. Ibu baik sekali."

"Ah, tidak repot sama sekali. Sudah anggap saja rumah sendiri."

Kehangatan Bu Mimi sedikit banyak mengobati rasa sepi Anya. Masuk ke dalam kamarnya di lantai dua, Anya langsung membersihkan diri. Setelah menunaikan ibadah magrib, ia duduk di tepi kasur dan meraih ponselnya. Ritual wajibnya dimulai: video call bersama keluarga.

Layar ponselnya menampilkan wajah sang ibu, Narti, disusul oleh ayahnya, Dirman, yang ikut melongok dari balik bahu ibunya.

"Anya! Gimana kabarmu, Nak? Sudah makan malam belum?" tanya Narti antusias.

"Sudah, Bu. Ini baru selesai shalat. Bapak apa kabar? Kak Aryan sama Kak Revi mana?"

"Bapak sehat, Nya. Itu kakak-kakakmu lagi rebutan remote TV di depan," sahut Dirman sambil terkekeh. "Kamu betah di sana? Teman-teman kantornya gimana?"

"Betah, Pak. Anya punya teman dekat namanya Serra. Dia baik banget, sering bantuin Anya kalau bingung soal kerjaan. Ibu kosnya juga perhatian, sering ngasih makanan."

Mendengar cerita Anya, gurat cemas di wajah Narti perlahan memudar, digantikan senyuman lega. "Alhamdulillah kalau begitu. Ibu selalu doa supaya kamu ketemu orang-orang baik di sana. Jaga hubungan baik sama mereka, ya."

Percakapan malam itu berlanjut dengan candaan random dari Aryan yang tiba-tiba merebut ponsel, dan wejangan dari Revi agar Anya tidak lupa memakai pelembap udara karena kota tempatnya bekerja terkenal cukup berdebu. Ketika panggilan berakhir, dada Anya terasa hangat. Jarak memang memisahkan fisik mereka, namun doa dan dukungan keluarganya tetap menjadi semangatnya.

Keesokan paginya, suasana di kantor cabang sedikit lebih tegang dari biasanya. Pak Arif memanggil Anya dan Serra ke ruangannya.

"Anya, Serra, kita kedatangan proyek mendadak dari kantor pusat untuk audit wilayah timur," buka Pak Arif sambil menyerahkan sebuah map tebal. "Saya ingin kalian berdua yang memegang kendali untuk penyusunan laporannya. Waktunya hanya tiga hari. Apakah sanggup?"

Anya dan Serra saling berpandangan. Bagi Serra, ini mungkin hal biasa. Namun bagi Anya, ini adalah proyek besar pertama yang dipercayakan langsung kepadanya sejak pindah.

"Insya Allah sanggup, Pak. Kami akan usahakan yang terbaik," jawab Anya mantap, meski ada sedikit desir gugup di dadanya.

"Bagus. Kerja sama yang baik, ya. Saya percaya dengan kemampuan kalian."

Keluar dari ruangan Pak Arif, Serra langsung menepuk pundak Anya. "Siap-siap lembur mini ya, Nya. Tapi tenang, kita kerjain bareng-bareng. Habis ini kita bagi tugas."

Anya mengangguk dengan senyum tekad. Ini adalah kesempatannya untuk membuktikan bahwa keputusan kantor pusat memindahkannya ke sini tidak salah, dan bahwa kepercayaan bapak serta ibunya tidak akan ia sia-siakan. Babak baru kehidupannya baru saja dimulai, dan Anya siap menghadapinya.

Hari berikutnya berubah menjadi hari-hari paling sibuk sejak Anya menginjakkan kaki di kantor cabang. Meja kerja Anya dan Serra kini dipenuhi tumpukan berkas audit, catatan kecil berwarna-warni yang menempel di pinggiran monitor, dan beberapa cangkir kopi yang sudah kosong.

"Nya, tolong cek data pengeluaran logistik bulan lalu. Angkanya enggak matching sama laporan dari pusat," ujar Serra dengan mata yang masih tertuju pada layar komputer. Jari-jarinya bergerak cepat di atas keyboard.

Anya segera membuka map tebal di pangkuannya. Ia menelusuri deretan angka menggunakan penggaris agar tidak terlewat satu baris pun. "Ketemu, Ser! Ada selisih di biaya operasional gudang ketiga. Pusat belum memasukkan retur barang minggu kedua."

"Bagus! Tolong kau koreksi di spreadsheet bersama ya," sahut Serra lega."Untung kau teliti, kalo nggak bisa begadang kita malam ini."

Anya tersenyum sambil tangannya cekatan mengetik angka yang benar. Rasa gugup yang sempat ia rasakan di ruang Pak Arif beberapa hari lalu perlahan terkikis, berganti menjadi suntikan adrenalin. Ia merasa berguna, dan yang lebih penting, ia merasa menjadi bagian dari tim yang solid.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam ketika Pak Arif keluar dari ruangannya. Beliau melihat Anya dan Serra yang masih berkutat dengan pekerjaan mereka di ruangan yang mulai sepi.

"Anya, Serra, bagaimana progresnya?" tanya Pak Arif sambil menghampiri meja mereka.

Anya berdiri sopan. "Sudah sekitar delapan puluh persen, Pak. Malam ini kami targetkan draf kasarnya selesai, jadi besok tinggal proses finishing dan pemeriksaan ulang."

Pak Arif mengangguk puas. "Luar biasa. Tapi jangan dipaksakan sampai larut malam ya. Ini...!saya tadi pesan makanan lebih untuk kalian. Dimakan dulu baru lanjut kerja." Pak Arif meletakkan dua kotak nasi ayam bakar di atas meja kosong di sebelah mereka.

"Wah, terima kasih banyak, Pak!" ucap Serra dan Anya kompak dengan mata berbinar. Perut mereka memang sudah mulai berdemo sejak satu jam yang lalu.

1
Teh Euis Tea
makin penasaran
Teh Euis Tea
syukurlah mereka sampe jg ke rumah ustadz
Teh Euis Tea
hadeuhhh aku tegang bacanya tp penasaran
Teh Euis Tea
mungkin mahluk itu diamnya dipohon beringin
Teh Euis Tea
tegang aku bacanya, kasian loh Anya yg di incer trs sm setan
Teh Euis Tea
setannya kuat, apa lg Anya sering kosong pikirannya
Alissia
apa dulu itu hantunya kekasihnya tio 🤔🤔🤔🤔
Alissia
hai thor🤭🤭🤭
Sarah Bagan
mntap kak, lanjutkan
Teh Euis Tea
jujur aku baru kali ini baca novel horor, takut tp penasaran
Teh Euis Tea: sama2 tetap semangat berkarya thor
total 2 replies
Teh Euis Tea
Anya sepertinya mahkluk itu ga bakal berenti ganggu km, klu kmnya sering Ng gelamun, pikiranmu sering kosong jd setan gampang masuk
Teh Euis Tea
si Anya pikirannya selalu kosong jd gampang setan masuk ke badannya
Teh Euis Tea
Anya Serra kalian banyakin istiqfar biar hati tenang dan pikiran ga diganggu mahkluk halus lg
glaze dark
nanti akan terbongkar ya kak, masih panjang ko🤭🤭🤭
Teh Euis Tea: di tunggu
total 1 replies
Teh Euis Tea
aku ikutan tegang bacanya, dan penasaran kenapa si Minar terobsesi sm Anya, ada apa ya dgn Minar dulunya?
Teh Euis Tea
duhhh deg degan aku bacanya, mudah2 an Anya dan yg lainnya selamat
Teh Euis Tea
duhhh deg degan aku tkt Anya dan Bibah knapa napa
Teh Euis Tea
loh thor, bkn nya Anya kerja ya bkn kuliah?
atau Anya kerja sambil kuliah thor?
Teh Euis Tea
setan ko siang bolong msh gentayangan, lagian Bu kos udah tau kamar serem msh aj di sewain aturan rombak aj biar ganti suasana
Teh Euis Tea: betul ka
total 4 replies
Sarah Bagan
mungkin dibunuh kali, kita lihat aja endingnya. tamat atau Ndak, biasanya banyak novel ga tamat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!