Zhang Lin dikenal sebagai "Dewa Pedang" dari Dinasti Yin; ketika dia sedang menjalankan sebuah misi, dia tiba-tiba dihadapkan dengan sebuah pengkhianatan dari negerinya sendiri hingga membuatnya meregang nyawa.
Namun, bukannya langsung meninggal dan pindah ke alam baka—Zhang Lin justru mendapatkan kesempatan kedua untuk kembali hidup di dunia modern yang di mana semua orang hidup dengan cara yang cepat.
Di dunia modern, Zhang Lin bertemu dengan Li Na—seorang asisten editor di salah satu penerbit besar.
Kehidupan kerja Li Na begitu berat, dan sejak kecil dia telah terkenal karena nasib buruknya; namun, ketika bersama dengan Zhang Lin, nasib buruk itu berganti dengan keberuntungan—namun, keberuntungan itu datang bersamaan dengan bayangan kematian yang mengintainya dan Zhang Lin dari kejauhan.
...
Untuk mendapatkan update ilustrasi karakter, bisa follow akun sosmed author, ya!
FB : Refinawriters
IG : Refinawriters_
TT :refinawriters
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R. Seftia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sedikit Penglihatan Masa Depan
Bai Feng berjaga di depan ruang kerja Ah Yin, sedangkan Zhang Lin dipanggil untuk menghadap Ah Yin karena tampaknya ada sesuatu yang ingin Ah Yin katakan kepadanya saat itu.
Dan sejujurnya, Zhang Lin merasa tidak nyaman karena hal itu.
"Tidak kusangka kita akan bertemu lagi dengan cara ini. Dan ngomong-ngomong, kamu sudah tahu namaku kan? Zhang Lin...?"
Zhang Lin hanya menjawab dengan anggukan kepala. Ia tidak ingin banyak bicara dengan Ah Yin, karena biar bagaimana pun, rasanya benar-benar tidak nyaman ketika berhadapan dengan wajah yang tidak asing bagi dirinya; apalagi wajah itu memiliki kisah yang tidak baik bagi Zhang Lin.
"Kamu tidak menyukaiku?" tanya Ah Yin.
"Iya," jawab Zhang Lin tanpa sadar.
"A-Apa?!"
Ah Yin tentu saja tidak pernah menyangka jika Zhang Lin akan menjawab dengan tegas jika memang benar Zhang Lin tidak menyukai Ah Yin. Dan di sisi lain, Zhang Lin pun kaget karena ia tanpa sengaja menjawab begitu saja.
Ia benar-benar takut saat itu. Takut jika ia akan kehilangan pekerjaan dihari pertama!
"Maaf..."
Zhang Lin langsung menunduk dan meminta maaf kepada Ah Yin. Dan beruntung pada saat itu Ah Yin mau memberikan maaf kepada Zhang Lin. Namun, walaupun maaf telah diberikan... Ah Yin masih penasaran dengan alasan mengapa Zhang Lin tidak menyukai dirinya.
"Kenapa kamu tidak menyukai diriku? Padahal kita berdua belum saling mengenal satu sama lain, dan kenapa kamu langsung membenciku pada pertemuan pertama? Setidaknya kamu memberikan jawaban atas pertanyaanku itu, karena jika kamu tidak memberikan jawaban untuk pertanyaan itu... aku akan benar-benar mati karena penasaran!" seru Ah Yin.
Saat itu dia tampak benar-benar serius dengan apa yang dia katakan. Dan rasanya tidak benar juga jika Zhang Lin tidak memberikan jawaban kepada pertanyaan yang baru saja diajukan oleh, Ah Yin. Terlebih lagi, Zhang Lin ingin tetap mempertahankan pekerjaan itu agar bisa memberikan uangnya kepada Li Na.
"Emm... i-it... itu... karena wajahmu!" jawab Zhang Lin.
Wajah Ah Yin langsung memerah ketika mendengar jawaban Zhang Lin. Dan bukannya merasa jauh lebih baik setelah mendapatkan jawaban yang dia inginkan, Ah Yin justru merasa sedih dan bingung ketika mendapatkan jawaban itu.
"Wajahku? Memang apa yang salah dengan wajahku? Apakah aku terlalu jelek untuk dipandang sampai-sampai membuat kamu tidak menyukainya? Kamu merasa tidak nyaman karena wajahku jelek? Begitu?" tanya Ah Yin dengan mata yang hampir menangis.
Melihat reaksi yang ditunjukkan Ah Yin, Zhang Lin merasa semakin bingung dan tidak enak. Di saat itu tidak menjawab, Ah Yin akan dihantui rasa penasaran, dan ketika ia sudah menjawab... kini Ah Yin malah dihantui rasa rendah diri dan merasa dirinya tidak baik.
Rasanya benar-benar serba salah!
"Bukannya wajah Nona Ah Yin jelek atau apa. Aku merasa tidak suka karena wajah Nona Ah Yin mirip dengan wanita jahat yang ada di kenanganku. Karena itulah," jawab Zhang Lin.
Baru setelah Zhang Lin menjawab dengan versi lengkap itu, barulah Ah Yin merasa jauh lebih tenang dan akhirnya bisa mengerti kenapa Zhang Lin tampak tidak suka kepada dirinya.
"Oh... jadi karena itu kamu selalu berusaha untuk menghindar dariku. Karena kamu merasa tidak nyaman dengan wajah ini?" tanya Ah Yin memastikan kembali.
Zhang Lin menganggukkan kepalanya pelan.
...
Setelah seharian bekerja hanya untuk menemani Ah Yin, Zhang Lin kembali ke rumah Li Na dengan membawakan dua ekor ayam goreng untuk dimakan bersama-sama dengan Li Na dan Lin Yi.
Sebelumnya, Zhang Lin mendapatkan bonus tambahan dari Ah Yin. Dia bilang bonus itu sebagai tanda terima kasih atas bantuan yang telah diberikan oleh Zhang Lin beberapa waktu lalu.
Awalnya Zhang Lin ingin menolak uang tersebut. Tetapi ketika ia mengingat betapa inginnya Li Na menikmati ayam goreng yang ada di televisi, Zhang Lin melupakan harga dirinya dan kemudian menerima bonus itu dan langsung membelikan dua ekor ayam goreng untuk Li Na dan Lin Yi.
...
Sesampainya di rumah, Zhang Lin langsung disambut oleh Li Na dan Lin Yi. Mereka berdua sama-sama penasaran tentang bagaimana hari pertama Zhang Lin bekerja.
Dan pada saat ditanya seperti itu, Zhang Lin menjawab dengan jujur apa yang ia rasakan. Ia bahkan memberitahu kepada mereka berdua bahwa orang yang harus ia jaga tidak lain adalah, Ah Yin.
"Ah Yin?! Wanita yang tempo hari kamu selamatkan itu? Wah. Dunia ini kecil sekali ya. Bisa-bisanya kalian bertemu lagi seperti itu," ucap Li Na sambil menikmati ayam goreng yang baru saja dibeli oleh Zhang Lin.
Zhang Lin merasa senang ketika melihat Li Na menikmati ayam goreng yang ia beli untuknya.
"Jadi, kamu dapat bonus dari wanita itu? Dan ngomong-ngomong mau berapa uang yang dia berikan untukmu sebagai hadiah karena telah menyelamatkan nyawanya?" tanya Lin Yi.
Dan sebenarnya pada saat itu Zhang Lin tidak tahu dengan nominal uang yang baru saja ia terima dari Ah Yin. Dan saat membeli ayam, hampir saja ia menyerahkan semua uang itu kepada penjual ayam. Tetapi beruntung penjual itu jujur dan kemudian langsung mengembalikan uang itu kepada Zhang Lin.
"Sebenarnya aku tidak tahu berapa nilai uang ini. Tapi... ini, lihat saja."
Zhang Lin dengan tangan yang ringan memperlihatkan kepada Li Na dan Lin Yi beberapa lembar uang dollar yang nilainya luar biasa besar.
Saat melihat uang itu, Li Na bahkan sampai menjatuhkan paha ayam yang sedang dia makan saat itu.
"Ini duit sungguhan?!" Li Na tampak tidak bisa percaya dengan apa yang baru saja dilihat matanya sendiri.
"Itu duit sungguhan, Li Na. Dan ngomong-ngomong, kamu suka uang kan?" tanya Zhang Lin tiba-tiba.
"Tentu saja aku suka. Siapa di dunia ini yang tidak suka uang? Semua orang suka uang. Semua orang cinta uang, dan semua orang memuja uang!" jawab Li Na seperti dia sedang melakukan rapp.
"Jika kamu benar-benar suka dengan uang, maka kamu bisa ambil semua uang itu. Kamu bisa gunakan untuk membeli ayam dan makanan enak lain."
Li Na dan Lin Yi sama-sama hampir tersedak ketika mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Zhang Lin. Rasanya benar-benar sangat tidak nyata ketika Zhang Lin dengan mudahnya mengatakan jika Li Na bisa mengambil semua uang dollar itu!
"Kamu serius dengan apa yang baru saja kamu katakan? Kamu akan memberikan uang ini semuanya kepadaku? Semuanya? Benar-benar semuanya?" tanya Li Na dengan mata yang seakan-akan mengeluarkan bunga mawar.
Melihat sikap lucu dari Li Na, Zhang Lin tertawa senang.
"Benar. Kamu bisa ambil uangnya. Anggap saja itu uang bayaran atas kebaikan kamu kepadaku. Mulai dari baju, ponsel, dan tempat tingg—"
Belum selesai Zhang Lin bicara, tiba-tiba Li Na memeluknya dengan erat. Dan ketika wanita itu memeluk Zhang Lin, tiba-tiba sebuah penglihatan yang aneh muncul.
Sebuah tangisan darah dari seorang wanita yang wajahnya tidak bisa dilihat oleh Zhang Lin.
Siapa wanita itu?!
...
-Bersambung-