NovelToon NovelToon
Ramuan Ajaib: Bangkitnya Bumi

Ramuan Ajaib: Bangkitnya Bumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Diusir dari desa karena fitnah kemiskinan, Bumi terdampar di kerasnya ibu kota sebagai kuli panggul pasar yang kerap. Satu-satunya alasan ia bertahan hidup adalah Alya, gadis sederhana yang tulus merawat luka-lukanya.

Nasib Bumi berubah total setelah ia di beri ramuan ajaib oleh kakek misterius yang membuat perubahan pada tubuh dan otaknya. Terbangun dengan kecerdasan mutlak sekelas superkomputer, Bumi bertransformasi menjadi The Ghost Trader—raja saham baru yang ditakuti di dunia bisnis. Ia bahkan berhasil menyelamatkan perusahaan milik Kirei, seorang CEO wanita dingin yang akhirnya jatuh hati pada harga diri Bumi.

Namun, berdiri di puncak takhta berarti mengundang badai. Adrian, konglomerat kejam sekaligus rival asmaranya, siap menghancurkan Bumi lewat sabotase berdarah. Di tengah perang bisnis yang mematikan, hati Bumi juga terkoyak dalam dilema pelik antara ketulusan Alya dari masa lalunya, atau pengorbanan Kirei yang mempertaruhkan nyawa demi masa depannya.

Mampukah mantan ku

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31. Pembuktian

Sepulangnya dari kafe malam itu, Kirei tidak langsung beristirahat. Langkah kakinya begitu terburu-buru memasuki rumah besarnya, langsung menuju ke ruang kerja pribadi. Kalimat demi kalimat yang diucapkan Bumi di kafe tadi terus terngiang-ngiang di kepalanya, memberikan dorongan adrenalin yang luar biasa. Tanpa membuang waktu, Kirei langsung menghubungi tiga orang tim IT dan analisis keuangan yang masih sangat ia percayai untuk merapat malam itu juga.

Hingga jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari, Kirei masih berkutat di depan laptopnya bersama tim kecilnya. Mereka bergerak senyap di dalam ruang kerja yang remang, menyusun draf laporan keuangan sekunder yang sengaja dimodifikasi agar terlihat seolah perusahaan berada di ambang kebangkrutan, persis seperti skema umpan yang disarankan Bumi.

Tok! Tok!

Pintu ruang kerja perlahan terbuka. Seorang pria paruh baya bertubuh agak kurus dengan wajah pucat melangkah masuk perlahan sambil memegangi tongkat jalannya. Beliau adalah ayah Kirei, sang pendiri PT Artha Samudra.

"Kirei... kamu belum tidur, Sayang?" tanya ayahnya dengan suara yang agak serak dan lemah.

Kirei mendongak, lalu buru-buru berdiri dari kursinya untuk memapah sang ayah duduk di sofa sudut ruangan. "Eh, Ayah. Kok bangun? Kirei masih ada beberapa berkas yang harus diselesaiin malam ini, Yah. Ayah kenapa belum tidur? Udah minum obatnya, kan?"

Ayahnya menatap Kirei dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa kasihan sekaligus bangga. Tangan tuanya yang agak gemetar mengelus rambut anak gadis satu-satunya itu. "Ayah cuma terbangun terus lihat lampu ruang kerjamu masih nyala. Ayah kasihan sama kamu, Nak. Di usia yang masih sangat muda begini, kamu harus turun tangan langsung memikul beban berat seluruh perusahaan."

"Kirei gak apa-apa kok, Yah. Kirei kuat," jawab Kirei sambil tersenyum manis, mencoba menyembunyikan keletihannya.

"Ayah tahu... belakangan ini ada masalah besar kan di perusahaan kita?" gumam ayahnya dengan nada bersalah. "Maafkan Ayah ya, Kirei. Karena kondisi Ayah yang sakit parah begini, Ayah jadi gak bisa bantu kamu. Makanya Ayah berikan kewenangan mutlak penuh ke kamu buat jalanin perusahaan ini. Lakukan apa yang menurutmu terbaik, Nak."

Kirei memeluk ayahnya dengan erat. Sebenarnya, ia memang sengaja menyembunyikan keparahan krisis akibat sabotase internal ini dari sang ayah. Ia sangat takut informasi itu akan memperburuk kondisi kesehatan ayahnya yang sedang kritis. "Ayah gak usah mikirin kerjaan dulu ya. Fokus sembuh aja. Kirei janji, besok sore semua masalah di kantor bakal beres. Ayah percaya sama Kirei, ya?"

"Ayah selalu percaya sama kamu, Kirei. Ya sudah, Ayah balik ke kamar dulu. Kamu jangan sampai sakit ya," kata ayahnya sebelum melangkah keluar dengan perlahan.

Setelah ayahnya keluar, Kirei menarik napas dalam-dalam dan menatap timnya. "Oke, semuanya. Draf laporan palsunya sudah siap kan? Malam ini juga, bocorkan ke forum-forum trader internal. Kita mulai permainannya."

Keesokan harinya, suasana di ruang pemantauan saham PT Artha Samudra tampak sangat menegangkan. Waktu menunjukkan pukul sembilan pagi, tepat saat bel pembukaan perdagangan pasar modal berbunyi. Kirei duduk di kursi utamanya, ditemani oleh Roni dan beberapa jajaran pemegang saham yang wajahnya sudah tegang sejak subuh.

"Bu Kirei! Laporan keuangan yang bocor semalam bener-bener bikin panik!" seru salah satu pemegang saham dengan keringat dingin. "Lihat layar monitor! Begitu pasar dibuka, harga saham kita langsung anjlok parah drastis mendekati batas bawah! Ini bisa hancur!"

Roni yang berdiri di samping Kirei langsung berbisik dengan nada menyalahkan. "Tuh, kan, Bu! Apa saya bilang semalam! Ide dari anak kuliahan di kafe itu bener-bener sesat! Sekarang saham kita makin hancur!"

Kirei tetap tenang, matanya fokus menatap pergerakan volume transaksi di layar. "Pak Roni, diam dan perhatikan saja. Tunggu instruksi saya."

Tepat pukul sepuluh siang, saat grafik saham menyentuh titik terendah psikologis akibat aksi short-selling besar-besaran yang dilakukan oleh oknum internal, Kirei langsung mengangkat tangannya. "Tim tiga, sekarang! Masuk ke pasar menggunakan lima akun sekuritas samaran yang sudah kita siapkan semalam. Borong semua lot saham yang sengaja dibuang murah itu!"

"Siap, Bu! Perintah dilaksanakan!"

Detik berikutnya, sebuah keajaiban besar yang persis seperti prediksi Bumi terjadi dengan sangat akurat. Layar monitor yang tadinya dipenuhi warna merah mendadak berubah menjadi hijau pekat. Volume pembelian misterius dalam jumlah raksasa langsung menelan semua saham yang dibuang di harga bawah.

"H-hah?! Apa-apaan ini?!" seru Roni terbelalak kaget, matanya hampir keluar menatap monitor. "Harganya... harganya berbalik naik dengan sangat cepat! Meroket ke atas!"

"Luar biasa! Saham kita tembus auto rejection atas (ARA) dalam hitungan lima belas menit!" teriak analis saham korporasi dengan heboh. "Para investor yang tadi panik sekarang malah berebut mau beli lagi!"

Seluruh ruangan seketika riuh oleh tepuk tangan. Para pemegang saham yang tadinya ingin menuntut Kirei kini berbalik arah, mereka sangat terpukau dan kagum dengan kinerja serta strategi berani yang ditunjukkan oleh Kirei. Mereka mengira ini adalah murni kejeniusan taktik sang CEO muda.

Sementara itu, Roni hanya bisa berdiri diam seribu bahasa di sudut ruangan. Wajahnya memerah karena malu. Walaupun matanya melihat pembuktian nyata yang sangat sukses ini, di dalam lubuk hatinya Roni masih belum bisa menerima kenyataan bahwa ide secanggih dan sejenius ini datangnya dari seorang mahasiswa kemarin sore yang mereka temui di kafe.

Setelah euforia kemenangan di lantai bursa mereda, Kirei tidak membuang waktu. Ia langsung meminta tim IT untuk melacak rekening sekuritas yang melakukan penjualan short-selling terbesar di harga bawah tadi pagi.

Di dalam ruang rapat utama, Kirei melemparkan sebundel dokumen ke atas meja di depan seorang pria berkemeja rapi yang wajahnya sudah pucat pasi. Pria itu adalah kepala bagian keuangan perusahaan.

"Jadi, kamu orangnya, Hendra?" tanya Kirei dengan nada suara yang sangat dingin dan penuh wibawa. "Data rekening sekuritas samaran ini terdaftar atas nama istri kamu. Kamu yang sengaja melakukan sabotase laporan kas dan berniat menghancurkan saham kita dari dalam, kan?"

Pria bernama Hendra itu langsung berlutut di lantai dengan tubuh bergetar hebat. "M-maaf, Bu Kirei! Ampun, Bu! Saya khilaf... saya terpaksa melakukan ini!"

Kirei menyipitkan matanya, menyadari ada sesuatu yang janggal. "Jujur sama saya, Hendra. Dengan posisi kamu, kamu gak bakal punya modal sebesar ini buat melakukan short-selling korporasi. Siapa yang ada di belakang kamu? Siapa dalang utamanya?!"

Hendra langsung menggelengkan kepalanya dengan heboh, air mata ketakutan mulai mengalir di pipinya. "Saya gak bisa ngomong, Bu! Tolong jangan tanya itu! Saya gak tahu apa-apa lagi! Saya cuma... saya cuma disuruh!"

Meskipun Kirei mendesaknya berkali-kali, kepala bagian keuangan itu tetap menutup-nutupi dan bungkam mengenai sosok di atasnya. Kirei menghela napas panjang, sadar bahwa orang ini sepertinya hanyalah seorang pion yang diperalat, sedangkan dalang utama yang ingin menghancurkan perusahaannya masih belum diketahui dan tersembunyi di dalam kegelapan.

"Ya sudah. Pak Roni, panggil petugas kepolisian. Bawa dia keluar dari kantor saya," perintah Kirei tegas.

Sore harinya, setelah semua masalah krisis keuangan dan kepanikan saham di perusahaannya dapat diatasi dengan sangat sukses, Kirei duduk sendirian di dalam ruang kerjanya yang mewah. Perasaan lega yang teramat sangat besar menyelimuti dadanya. Perusahaannya selamat, dan ayahnya tidak perlu menanggung beban pikiran.

Kirei tersenyum lebar, langsung teringat pada sosok pemuda jenius yang kemarin memberikan solusi ajaib ini. "Mas Bumi... kamu bener-bener penyelamat gua. Gua harus telepon dia sekarang juga buat ngucapin terima kasih dan penuhin janji gua kemarin."

Kirei dengan antusias mengambil handphone miliknya di atas meja, lalu membuka menu kontak. Namun, gerakan jarinya mendadak terhenti seketika. Kirei tertegun menatap layar hp-nya yang kosong.

"Lho... kok... gak ada?" gumam Kirei mulai panik.

Kirei buru-buru memeriksa riwayat panggilan dan pesan masuk, namun hasilnya nihil. Detik itu juga, Kirei langsung menepuk dahinya sendiri dengan keras. Wajahnya berubah menjadi sangat panik dan lemas.

"Astaga! Bodoh banget sih gua!" rutuk Kirei pada dirinya sendiri dengan perasaan sesal yang teramat sangat.

Ternyata, baru kirei sadari kalau ia sama sekali belum menyimpan nomor handphone Bumi. Kemarin sore saat berpisah di kafe, fokus pikiran dan otaknya benar-benar sudah terlanjur tersedot penuh kepada penjelasan solusi radikal dari Bumi, sehingga ia lupa menanyakan nomor kontak maupun media sosial milik pemuda itu. Bukan hanya nomor telepon, Kirei juga sama sekali tidak tahu di mana Bumi tinggal atau apa pekerjaannya di kota ini. Yang ia ingat hanyalah nama Bumi, Alya, dan Dika.

Kirei menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan perasaan lemas dan menyesal yang luar biasa. "Aduh, gimana cara gua nyari dia sekarang? Padahal prediksi dia bener-bener akurat seratus persen... Mas Bumi, kamu sebenarnya siapa sih? Kok bisa ada orang sejenius itu tapi keluyuran santai di kafe biasa?" gumam Kirei penuh penyesalan di tengah kemenangan besarnya hari itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!