Lahir tanpa sihir (Nirmala) di dunia yang memuja kekuatan membuat Askara dibenci oleh ayahnya sendiri. Namun, sebuah rahasia besar terungkap: Askara tidak kosong, ia adalah "pemangsa sihir" yang mampu menyerap, menggabungkan, dan memantulkan kembali setiap serangan musuh. Berbekal kemampuan unik ini dan stamina fisik yang terlatih, Askara memulai perjalanan jauh demi membuktikan bahwa seorang tanpa sihir pun mampu mengguncang dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Hutan, Taring, dan Percobaan Pertama
Setiap langkah yang diambil Askara menjauhkan dirinya dari bayang-bayang rumah tua itu. Jalan setapak yang biasa dilaluinya berganti menjadi jalan tanah yang semakin sempit, diapit oleh pepohonan raksasa yang dahan-dahannya saling membelit, menghalangi cahaya matahari sore. Udara di sini terasa lebih lembap dan berat, penuh dengan aroma tanah basah dan samar-samar bau bangkai. Ini adalah wilayah tak bertuan yang memisahkan desa Askara dengan kota perbatasan terdekat, Kota Gada.
Sudah tiga hari dia berjalan. Bekal pemberian ayahnya (yang dia ambil diam-diam sebelum pergi) sudah menipis, namun jimat rajutan Rose masih menggantung setia di lehernya, memberikan sedikit rasa tenang.
Selama perjalanan ini, Askara tidak hanya berjalan.
Pikirannya terus berputar pada kejadian malam itu. Kekuatan itu... dia belum sepenuhnya paham. Sejak insiden dengan ayahnya, Askara mulai bereksperimen. Diam-diam, sebelum benar-benar meninggalkan desa, dia sempat berjalan-jalan di pasar malam, berpura-pura bersenggolan dengan beberapa penyihir amatir atau penjual barang sihir. Setiap sentuhan fisik, setiap hembusan hawa sihir yang dilepaskan secara tidak sengaja di dekatnya, dia serap.
Dia menyerap sepercik sihir tanah dari seorang petani, sedikit sihir angin dari kipas penyihir jalanan, dan bahkan sihir penyembuh tingkat rendah yang tersisa di udara dekat kedai tabib. Semua energi itu sekarang diam di dalam "wadah" di dadanya, seperti kelereng-kelereng energi yang terpisah.
Tubuhnya terasa lebih penuh, namun juga lebih lelah karena harus terus-menerus menopang energi asing tersebut. Dia belum tahu bagaimana cara menggabungkannya secara efektif, dia hanya "menyimpan".
Grrr...
Suara geraman rendah menghentikan langkah Askara. Di depan, dari balik semak-semak berduri, sepasang mata merah menyala menatapnya tajam. seekor Grakon—monster hutan hibrida antara serigala dan kadal—perlahan muncul. Ukurannya sebesar anak sapi, dengan sisik keras berwarna hijau gelap dan taring-taring tajam yang meneteskan liur.
Ini adalah Grakon, monster level rendah yang biasa dihadapi oleh petualang pemula. Kekuatannya ada pada fisik yang kuat dan semburan asam lemah.
Askara meletakkan tas kainnya perlahan di tanah. Dia tidak takut. Tubuh fisiknya sudah terlatih untuk menghadapi ancaman seperti ini. Dia tersenyum kecil. Ujian pertama.
Grakon itu menerjang. Gerakannya cepat, namun Askara lebih gesit. Pemuda itu berguling ke samping, menghindari cakaran mematikan yang menghantam pohon di belakangnya hingga kulit pohon itu terkelupas. Grakon itu berbalik dengan cepat, mengarahkan mulutnya ke Askara dan menyemburkan cairan asam berwarna hijau.
Askara mengangkat kedua tangannya ke depan. Serap.
Suara desingan aneh kembali terdengar. Cairan asam itu tidak mengenainya, melainkan terhisap masuk ke dalam telapak tangannya. Askara merasakannya—energi sihir asam yang tajam dan korosif itu sekarang ikut bergabung dengan koleksi energi di dalam dirinya.
"Hanya itu?" Askara memprovokasi, merasakan staminanya
sedikit berkurang akibat penyerapan tadi, namun masih jauh dari batasnya. Dia sengaja tidak menggunakan energinya dulu, dia ingin mengamati pola serangan monster ini.
Grakon yang bingung karena serangannya tidak mempan kembali menerjang, kali ini dengan sundulan kepala yang masif. Askara menghindari sundulan itu, namun ekor monster yang bersisik keras itu menghantam punggungnya.
Bugh!
Askara terpental beberapa meter, menghantam tanah dengan keras. Dadanya sesak. Serangan fisik murni monster itu jauh lebih berbahaya baginya daripada sihir asamnya. Dia batuk darah, namun stamina fisiknya membuatnya bisa segera bangkit. Grakon ini tidak menggunakan sihir murni, melainkan fisik berbalut sihir, pikirnya cepat.
Askara tahu dia tidak bisa mengalahkan monster ini hanya dengan fisik belaka. Dia harus menggunakan apa yang dia simpan.
Gabungkan.
Askara memfokuskan pikirannya pada energi di dadanya. Dia memeras sisa-sisa tenaga fisiknya, memaksa "kelereng" energi api (serap dari ayahnya), energi angin (serap dari kipas penyihir), dan energi asam (serap dari monster tadi) untuk saling bergesekan.
Teknik penggabungan kali ini jauh lebih rumit daripada saat melawan ayahnya. Dia harus menjaga agar ketiga energi yang berlawanan ini tidak saling menghancurkan di dalam tubuhnya. Keringat dingin bercucuran. Lututnya gemetar. Staminanya terkuras drastis, jauh lebih cepat daripada saat dia hanya menyerap.
Argh!
Di dalam dadanya, ketiga energi itu meledak dan melebur menjadi satu. Energi gabungan baru yang dihasilkan tidak lagi merah, melainkan berwarna hijau-kuning yang berpendar berbahaya—sebuah Badai Api Asam.
Askara mengangkat tangannya. Grakon itu, melihat Askara diam, bersiap untuk terkaman terakhir.
"Ini dia... teknik eksperimen pertama."
Wusss!
Dari telapak tangan Askara, melesat keluar sebuah tornado api raksasa yang berputar kencang. Tornado itu tidak hanya membakar, tetapi juga melepaskan partikel asam yang tajam.
Grakon yang sedang menerjang itu terjebak di tengah badai. Sisik kerasnya melepuh oleh api, dan kulitnya yang terbuka hancur perlahan oleh asam yang korosif.
Aoooowww!
Monster itu melolong kesakitan yang memilukan. Dalam hitungan detik, Grakon itu ambruk, tubuhnya hangus dan hancur di tengah badai api asam buatan Askara.
Badai itu perlahan mereda. Askara jatuh bertumpu pada kedua lututnya. Dia terengah-engah, staminanya hampir habis total. Otot-ototnya terasa seperti terbakar. Menggabungkan tiga elemen sekaligus secara brutal ternyata memiliki risiko stamina yang sangat tinggi. Tubuhnya belum cukup kuat untuk menjadi wadah bagi kekuatan yang terlalu besar.
Askara menatap bangkai monster itu. Dia berhasil. Grakon level rendah itu berhasil dikalahkannya tanpa harus melepaskan seluruh staminanya di awal, tapi penggabungan brutal di akhir tadi mengajarkannya satu hal: tekniknya belum sempurna.
Dia masih harus belajar mengontrol seberapa banyak stamina yang dia gunakan, dan bagaimana cara menggabungkan energi dengan lebih efisien, bukan sekadar memaksanya melebur.
Askara menyeret tubuhnya yang kelelahan menuju bangkai monster. Di dekat kepala Grakon, dia menemukan sebuah Inti Sihir kecil berwarna hijau redup—hadiah bagi siapa saja yang berhasil mengalahkan monster bersisik sihir. Askara tersenyum lemah. Ini adalah mata uang dunia luar.
"Langkah pertamaku... sedikit menyakitkan," gumam Askara, mengusap darah di sudut bibirnya. Dia mengambil kembali tasnya, menelan sedikit bekal, dan melanjutkan perjalanan.
Kota Gada sudah tidak jauh lagi. Di sana, dia akan mencari tempat untuk beristirahat, memulihkan stamina, dan yang paling penting... belajar memahami wadah kosong di dalam dirinya ini sebelum dia menghadapi musuh yang sesungguhnya.