Zhao Ryn, gadis manis dua puluh tahun menganggap Sian Lee penerus Lee Group adalah cahaya terang dalam gelapnya hidup.
"Bawa dia pergi!" Perintah dingin seorang Sian berhasil meruntuhkan benteng kokoh Ryn.
"Sian, kumohon tolong aku." Ryn memohon belas kasih Sian agar bisa membantunya namun kembali mendapat penolakan darinya.
"Nona Ryn, mohon kerja samanya." Asisten Jun memberi isyarat agar Ryn bergegas meninggalkan klub nomer satu di kota Jasata.
Bisakah Ryn menemukan kebahagiaan hidupnya? Atau dia benar-benar harus bertahan sendirian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aan Iman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lmb14
Mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan gerbang tinggi menjulang. Dua penjaga menunduk hormat lalu salah satunya membuka secara manual. Ryn tertidur bersandar pada Sian. Jun menengok ke belakang menunggu perintah, namun Sian segera menggendong wanitanya masuk kedalam rumah.
Rumah utama saat dirinya dibesarkan sejak lahir, penuh kenangan bersama ibu ayah dan sang adik meimei. Sayangnya sejak Sian menjabat sebagai pemimpin perusahaan rumah itu menjadi sepi tak berpenghuni. Meimei sibuk sekolah diuar negeri, papanya memilih tinggal di griya tawang sedangkan sang nenek dari pihak papa lebih suka menetap di rumah harapan orang tua. Alasannya sederhana, disana nenek merasa hidup karena banyak teman sebaya dan tidak merasakan kekosongan akibat di tinggal sibuk keluarganya.
"Selamat datang tuan muda." Sapa para pelayan Sian menyambut kedatangan sang pemilik rumah.
"Jangan biarkan iblis itu naik ke atas, jauhkan Ryn darinya." Perintah Sian pada Jun, kedua bibi pembersih rumah dan satu pak tua sebagai juru masak. Mereka kompak mengangguk patuh.
Ketiga pekerja memang menetap di kediaman utama, sementara sisanya di paviliun belakang. Sian tidak suka keramaian, lagipula kebanyakan pekerja wanita selalu berusaha menggodanya. Sian risih dan melarang mereka berkeliaran jika dia sedang di rumah.
"Siapkan makan malam dan antar ke kamarku." Lanjut Sian sebelum naik ke lantai atas melalui tangga padahal dia memiliki lift. Tetapi Sian memilih menggendong Ryn melewati setiap undakan anak tangga.
***
Ryn terbangun karena perutnya berbunyi minta diberi asupan makanan. Ketika sadar Ryn berada di tempat asing bergegas bangun mencari keberadaan Sian.
"Sian... " Panggil Ryn langsung panik, ia sendiri tidak mengerti kenapa tiba-tiba merasa sangat ketakutan berada di tempat yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya.
Ryn berlari kecil menuju pintu yang sialnya malah terkunci. Lonjakan adrenalin wanita itu terpacu akibat trauma mendalam mendapat beberapa kekerasan fisik. Sian tengah berada di ruang kerja yang terhubung disebelah kamar tidurnya mendengar teriakan Ryn langsung keluar.
"Tidak, lepas. Jangan sentuh!" Ryn memekik ketika Sian berusaha meraihnya dalam redupnya kamar.
"Zhao Ryn ini aku!" Teriak Sian tanpa sadar, menenangkan Ryn yang terlihat aneh baginya.
"Sian tolong nyalakan lampunya, aku takut gelap. Sesak." Nafas Ryn memang terdengar berat dan terengah-engah. Sian memeluk Ryn erat, membawanya menuju saklar di belakang pintu untuk menyalakan lampu utama.
Sian tidak bodoh dia tahu Ryn mengalami trauma. Ryn juga bingung mendadak dia tidak suka kegelapan, padahal sebelumnya Ryn hidup di paradise yang suasananya begitu gelap dengan pencahayaan minim.
"Tenanglah, kau berada di rumahku." Ucap Sian memeluk Ryn, menepuk-nepuk punggungnya perlahan.
"Rumah?" Beo Ryn tak percaya. Sian mengurai dekapan, menatap wajah polos Ryn ketika bangun tidur. Cantik, alami dan menggemaskan.
"Ya, mulai sekarang kau tinggal bersamaku Zhao Ryn." Ungkap Sian menegaskan.
"Tunggu, apkah tuan Lee Tak,,,, "
"Hanya aku pemilik rumah ini." Potong Sian cepat agar Ryn merasa nyaman tinggal bersamanya.
"Maaf membuat gaduh Sian." Sesal Ryn. Sian meraih dagu Ryn agar mendongak, ia melumat perlahan bibir manis di hadapannya.
Ryn terbawa emosi mengikuti permainan Sian, sekarang dia juga bisa mengimbanginya dan itu membuat Sian senang bukan main. Menjelang malam keduanya awali dengan menjemput kenikmatan, Sian hampir gila saat dirinya hampir memuncak. Erangan Ryn selalu memacu sisi buas Sian yang selama ini terjaga.
"Sian keke, aku ingin pipis... " Keluh Ryn berharap Sian menyudahi kegiatannya yang ketiga kali.
"Titip punyaku sayang." Bisikan sensual ditengah hentakan demi hentakan menggelitik perut Ryn, perutnya seperti terisi ribuan kupu-kupu.
"Zhao Ryn..." Sian mengerang hebat mendapat pelepasan, tak segan meluncurkan jutaan calon keturunannya. Sementara Ryn terkulai lega benar-benar membasahi tempat tidur Sian.
"Maaf Sian keke, aku akan membersihkan tempat tidurmu." Ucap Ryn malu.
Sian beranjak dari atas tubuh Ryn, tidur terlentang guna menormalkan nafas memburu.
"Tidak usah, akan ada yang membersihkan nanti. Bersihkan dirimu lalu kita makan malam di bawah." Perintah Sian. Ryn mengangguk menurut, dia berjalan ke kamar mandi dalam keadaan tanpa busana. Tadi Sian sempat meminta maid membawakan makanan mereka ke kamar namun karena kekasihnya masih tertidur Sian menundanya.
Sian memilih memakai celana bahan warna hitam, merokok di balkon menikmati gelapnya malam. Sian memikirkan bagaimana caranya mendapat informasi mengenai ayah kandung Zhao Ryn. Jika harus terus menyiksa Yuni hanya agar buka mulut bukan solusi yang baik. Sian masih memiliki sisi kemanusiaan sedikit menghargai Ryn.
"Aku mendengarkan tuan." Asisten Jun menerima panggilan telepon Sian.
"Periksa informasi Yuni lebih teliti. Bila perlu sewa detektif untuk menemukan ayah kandung Ryn." Sian menghisap nikotin disela jarinya.
"Baik tuan." Jun mematikan sambungan setelah yakin Sian tidak memerintah lagi.
Ryn seperti biasa mengonsumsi obat yang ia yakini sebagai pencegah kehamilan. Sian menyeringai menyaksikan itu. Meski masa depan keduanya belum pasti, Sian tetap ingin bertahan bersama Ryn dalam kehidupan kali ini.
Pukul delapan malam Ryn dan Sian turun untuk makan. Sian meminta pelayan menghangatkan kembali makanan di kamarnya tadi. Ryn tampak elegan dan anggun dalam balutan gaun malam putih berbahan sutra. Sian mengenakan celana bahan hitam dipadukan dengan sweater rajut turtle neck. Serasi sekali, tampan dan cantik.
"Selamat menikmati tuan dan nona." Ucap juru masak pamit undur diri ke belakang meninggalkan mereka.
"Sian, makanannya terlalu banyak untuk kita berdua. Lain kali biar aku yang memasak." Ryn terbiasa makan lauk seadanya berbeda dengan Sian, pria itu selalu dijamu oleh hidangan mewah dan lengkap.
"Baiklah, sekarang makan dulu." Sian mengerti kemudian mulai menikmati hidangan diatas meja.
Usai makan malam Ryn menemani Sian di perpustakaan yang terletak di sebrang kolam renang. Kemunculan wanita di rumah Sian untuk pertama kalinya menciptakan kehebohan di kalangan pelayan muda. Beberapa dari mereka sembunyi-sembunyi mengintip keduanya dari kejauhan.
"Kau yakin besok akan bekerja?" Tanya Sian memastikan. Dia duduk di meja tempat membaca sedangkan Ryn menyusuri jejeran rak berisi tumpukan buku-buku.
"Iya Sian keke." Jika berdua saja Ryn akan memanggil Sian keke (kakak laki-laki) dengan senang hati, sedangkan didepan banyak orang Ryn selalu memanggilnya tuan muda. Meski Sian tidak pernah memerintah. Ryn boleh memanggilnya sesuka hati.
Ryn memilih buku yang kali ini bukan tentang masakan atau bisnis seperti Sian. Romansa klasik dari negeri bambu. Duduk di sofa sebelah Sian, Ryn perlahan hanyut kedalam cerita setiap halaman demi halaman.
Seorang pelayan muda membawa nampan berisi satu cangkir kopi dan lainnya coklat. Dia terkejut melihat Sian menyelimuti Ryn, sangat hangat. Selama ini mereka tidak pernah melihatnya bersikap lembut pada siapapun bahkan Meimei adiknya. Sian selalu dingin, tegas dan angkuh dimata para pekerja rumah.
"Letakkan di meja lalu keluar." Perintahnya menyadari pelayan malah terdiam mematung.
"Baik tuan muda." Jawab pelayan berparas cantik namun tak mampu meluluhkan hati seorang Sian.
Sian sempat menangkap lirikan pelayan itu sebelum pintu tertutup rapat. Alasan terbesar Sian memilh tinggal di apartemen adalah dia menghindari goda dan rayuan para pekerja rumah. Dulu sebelum mengenal Ryn dia hanya ingin dipuaskan wanita tertentu, sekelas Yuri Chen atau paling tidak wanita penghibur sekalian.
Sekejam apapun Sian dia tak pernah membiarkan dirinya memperbudak pelayan. Ryn lain hal, Sian menganggapnya sebagai seorang wanita meski dia bekerja di perusahaannya.
Esok pagi Ryn sengaja bangun lebih dulu dari pada Sian untuk membuat sarapan di dapur. Perdebatan terjadi antara Ryn dan juru masak, dia takut Sian marah jika tahu Ryn berada di dapur.
"Paman tenang saja Sian tidak akan marah,,," Bujuk Ryn meyakinkan.
"Biarkan saja." Suara tegas Sian mengalihkan perhatian mereka. Ryn tersenyum sebagai sapaan selamat pagi.
Sian kembali ke atas untuk mandi, dia turun hanya karena mencari keberadaan Ryn. Sian takut Ryn pergi sendiri tanpa menunggunya bangun. Sedangkan Ryn mulai sibuk membuat bubur sirip ikan hiu dan cakwe. Sam sebagai juru masak berpengalaman sangat suka melihat cara Ryn memasak. Sam yakin rasanya juga pasti enak.
"Paman aku akan membersihkan diri, tolong sajikan di meja makan. Terima kasih." Sebelum pergi Ryn tak lupa menitip pesan pada Sam.
Ryn sempat mengikat dasi Sian saat ia baru selesai mandi. "Turunlah lebih dulu, aku akan menyusul." Pinta Ryn, bisa terlambat dirinya masuk kerja jika Sian terus menempel dan menggodanya.
"Cepatlah." Titah Sian gemas. Ryn mengangguk patuh.
Padahal dia tinggal memakai seragam serta merapikan rambut sedikit, tapi pria itu tak sabaran. lalu Rynpun turun ke bawah.
Di anak tangga terakhir Ryn melihat seorang wanita paruh baya berlari ke arah ruang makan. Ryn tidak melihatnya semalam karena mungkin dia tidak tinggal di kediaman Sian, dilihat dari seragam sepertinya wanita itu berstatus kepala pelayan.
"Maafkan aku tuan, tolong jangan pecat aku." Mohon salah seorang pelayan muda berlutut dihadapan Sian.
"Kau hanya pelayan rendahan, aku bahkan tidak sudi bersentuhan denganmu." Suara Sian lantang menghina pelayan semalam yang kembali menggodanya.
Ketika Sian menunggu Ryn turun pelayan muda bernama Tami menata hidangan di meja makan. Dia mengaku sebagai orang yang telah memasak tanpa tahu bahwa Sian menyaksikan sendiri Rynlah yang membuat sarapan. Tami bahkan menata piring dan sendok untuk Sian meski dia sudah melarang.
"Maaf aku lalai dalam mendidiknya tuan." Pearly selaku kepala pelayan menunduk.
"Pearly kau urus dia, aku tidak ingin melihatnya lagi." Sian hendak pergi namun Tami dengan berani memeluknya dari belakang.
"Sian, tolong jangan usir aku." Pinta Tami penuh harap. Tami bahkan rela menjadi pelayan demi mengejar cinta Sian. Padahal dia adalah anak tunggal keluarga terpandang yaitu putri walikota Jasata. Sian bukannya tidak tahu, dia hanya ingin Tami mengerti jika sesuatu yang ia perjuangkan akan berakhir sia-sia. Tidak semua hal harus menjadi miliknya.