bagaimana jika saat izana yang berjalan dengan santai tiba tiba di sergap? dia dipaksa untuk ikut dan setelah dia bangu, tiba tiba tubuhnya menjadi seorang wanita, tidak lama kemudian izana menemukan pemuda yang adalah anggota Toman, dia menguji coba serum yang dia temukan hingga membuat pemuda itu juga sama seperti nya.
"wanita cantik" takemichi
"apa kau lihat lihat!?" izana
"garang sekali" takemichi
"kau sekarang sama denganku" izana
"hah?" takemichi nge-lag
"waaaaaa kau jahat sekali izana!!" takemichi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sit nur Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
cain
Film horor saat menontonnya lampunya harus dimatikan agar seru.
.
.
.
.
Izana dan Takemichi akhirnya keluar dari perpustakaan bawah tanah.
Namun baru beberapa langkah mereka berjalan, sebuah bentakan langsung menyambut keduanya.
"Kalian dari mana saja, hah?!"
Kakucho menatap mereka dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Kalian selalu menghilang dan membuatku sangat khawatir!"
"Kalau Mikey tahu kalian hilang sedikit saja, dia pasti akan memindahkan kalian ke tempat lain dan mengurung kalian supaya tidak bisa keluar lagi!"
Amarah terlihat jelas di matanya.
Takemichi langsung mengangkat kedua tangannya.
"Ne, ne, Kaku-chan."
"Kita cuma bermain di perpustakaan bawah tanah."
"Kalian tidak memperbolehkan kami keluar rumah, jadi aku mengajak Izana ke perpustakaan untuk menghilangkan rasa bosan."
Takemichi menjelaskan dengan cepat.
Kakucho terdiam.
Barulah ia menyadari bahwa sejak tadi Izana tidak mengatakan apa pun.
"I-Izana..."
"Maafkan aku karena membentakmu."
ucapnya pelan.
Namun Izana tetap diam.
"Kau terlalu kasar pada wanita."
Hanma yang sedari tadi bersandar di dinding akhirnya ikut bicara.
"Aku saja yang bajingan ini tidak pernah membentak wanita."
"Kau malah membentaknya."
Kakucho langsung melirik tajam ke arahnya.
Namun sebelum sempat membalas—
"Hiks..."
"Hiks..."
"Hiks..."
Suara tangisan tiba-tiba terdengar.
"Izana?!"
Kakucho langsung panik.
"Kau jahat, Kakucho!"
"Hatiku sakit!"
Izana menangis sejadi-jadinya.
"M-Maafkan aku."
"Sudah, ya?"
"Cup, cup."
Kakucho langsung memeluknya dan mengusap kepalanya dengan lembut.
"Huaaaaaa!"
"Kau jahat!"
Izana semakin menangis di pelukannya.
"Ya, ya."
"Aku memang jahat."
"Maafkan aku, oke?"
ucap Kakucho sambil menepuk-nepuk punggungnya.
Hanma hanya bisa menghela napas.
Lalu tiba-tiba matanya menyipit.
"Eh."
"Ngomong-ngomong..."
"Mana sayap kalian?"
"Kok hilang?"
Kakucho ikut terkejut.
"Benar juga."
"Dari tadi aku tidak menyadarinya."
Takemichi langsung tersenyum lebar.
"Sayapnya sudah hilang."
"Wah."
"Hebat juga."
ucap Hanma kagum.
"Ini semua gara-gara ide bodohnya."
Izana menunjuk Takemichi.
"Aku sampai percaya hal-hal takhayul."
Takemichi langsung cemberut.
"Heh."
"Itu kan berhasil."
"Takhayul?"
Kakucho terlihat bingung.
"Memangnya apa yang kalian lakukan?"
Takemichi dan Izana saling berpandangan.
Lalu keduanya tersenyum.
Mereka teringat pada dunia aneh yang baru saja mereka kunjungi.
Pada orang-orang yang menyembah mereka sebagai Dewi.
Namun tentu saja...
Mereka memilih untuk tidak menjelaskan.
Kakucho dan Hanma hanya semakin bingung melihat senyum misterius keduanya.
"Sudahlah."
"Ayo ke kamar."
ucap Izana.
"Eh?"
"Mau apa?"
Kakucho langsung nge-lag.
"Hehe."
"Kayaknya anak-anak ini mau main di kasur."
godanya Hanma.
"Ayo."
Takemichi langsung berjalan lebih dulu.
.
.
.
.
Skip.
Pada akhirnya mereka justru berkumpul di ruang tengah.
Menonton film bersama.
Suasana rumah terasa tenang.
Tidak ada keributan.
Tidak ada masalah.
Setidaknya...
Sampai film horor yang mereka tonton memasuki adegan menakutkan.
"WAAAAAA!"
Takemichi langsung berteriak.
"Hantunya muncul!!"
Ia refleks menutupi wajahnya dengan bantal.
"Hah?!"
"Mana hantunya?!"
teriaknya panik.
Cklek.
Pintu ruang tengah terbuka.
"Hoi."
"Jangan ribut."
"Itu aku."
Ternyata Mikey baru saja masuk.
Takemichi langsung menunjuk layar televisi.
"Filmnya serem!"
Mikey duduk santai di sofa.
"Wah."
"Kalian lagi nonton apa?"
"Horor."
jawab Izana singkat.
Mikey melihat layar televisi.
Lalu senyum jahil muncul di wajahnya.
"Aaaaa!"
"Itu hantunya ada di sampingmu!"
ujarnya sambil menunjuk.
"Aaaaaaa!"
"Mana?!"
Takemichi langsung panik dan refleks memeluk Mikey yang berada di sebelahnya.
"Heh."
Hanma langsung mendecak.
"Di samping Takemichi itu aku."
"Kau ngatain aku hantu?"
"Dasar modus."
komentar Kakucho.
"Hehe."
Mikey malah tertawa.
Namun beberapa detik kemudian ia menyadari sesuatu.
"Loh?"
"Mana sayap kalian?"
Takemichi dan Izana saling pandang.
"Oh."
"Sudah kubuang."
jawab Izana santai.
"Heeeeh?!"
Mikey langsung membeku.
"Bisa begitu?"
"Sudahlah."
"Konsentrasi ke film."
ucap Kakucho sambil mengambil popcorn dari pangkuan Izana.
Mereka kembali fokus menonton.
Suasana berjalan menyenangkan.
Sesekali terdengar teriakan Takemichi karena takut.
Sesekali Hanma tertawa karena mengejeknya.
Dan sesekali Mikey sengaja membuat Takemichi semakin panik.
Semua berjalan dengan santai.
Sampai akhirnya Mikey membuka pembicaraan.
"Ne."
"Ayo jalan-jalan ke bengkel."
Izana langsung menoleh.
"Ck."
"Jalan-jalan kok ke bengkel."
"Ke luar negeri kek."
"Atau ke mana gitu."
ucapnya sambil memakan popcorn.
"Mau bagaimana lagi."
"Aku juga sedang sibuk."
jawab Mikey.
"Malas."
"Aku mending tidur."
"Atau tawuran."
ucap Hanma santai.
"Nggak ngajak kau."
balas Mikey.
"Ck."
Hanma langsung bersandar malas.
Akhirnya mereka kembali fokus pada film yang sedang diputar.
.
.
.
.
Di tempat lain...
Sebuah ruangan besar dipenuhi banyak orang.
Bruk.
Seorang wanita didorong hingga jatuh ke lantai.
"Bagaimana dengan yang ini?"
"Apakah cukup cantik?"
tanya seorang pria dewasa yang mengenakan jas mahal.
Wanita itu tidak bisa menjawab.
Mulutnya ditutup sehingga ia hanya bisa menatap ketakutan.
"Hmm."
Pria itu mengangkat dagunya.
"Ya."
"Cukup bagus."
"Lihat bagaimana aku akan memanjakanmu, sayang."
Wanita itu semakin ketakutan.
Pria tersebut tersenyum puas.
"Aku akan mengambil yang seperti ini."
"Bos pasti akan menyukainya."
"Baik."
"Saya akan mengirimnya ke kediaman Tuan Besar."
jawab seseorang di sampingnya.
Nada suaranya terdengar senang karena akan mendapatkan banyak uang.
.
.
.
.
Di tempat yang berbeda...
"Haaaaah."
"Aku bosan."
"Apakah tidak ada sesuatu yang menarik?"
Seorang pria tampan duduk di dalam kamar mewah.
Ruangan itu dipenuhi dekorasi mahal yang menyerupai kamar kerajaan.
Kekayaan bukanlah masalah baginya.
Namun rasa bosan adalah hal yang tidak bisa dihilangkan dengan uang.
Sruup.
Ia meminum cairan merah dari gelas kristal di tangannya.
Setelah itu, ia menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Aku bosan dengan minuman ini."
"Aku menginginkan sesuatu yang lebih menarik."
gumamnya.
Tok.
Tok.
Tok.
Suara ketukan pintu terdengar.
"Masuk."
ucapnya dengan nada datar.
Pintu terbuka.
Seorang pelayan membungkuk hormat.
"Tuan."
"Saya telah membawa beberapa wanita cantik."
"Anda bisa melihat mereka di bawah."
Pria itu perlahan tersenyum tipis.
Kemudian bangkit dari duduknya.
Ia berjalan menuju aula tempat para wanita tersebut berada.
"Apakah mereka yang kau maksud?"
tanyanya.
"Benar, Tuan."
"Saya sudah menyiapkan mereka sesuai dengan selera Anda."
jawab sang pelayan.
Pria itu memperhatikan satu per satu.
Beberapa wanita berusaha tersenyum.
Sebagian mencoba menarik perhatiannya.
Namun ekspresi pria tersebut justru semakin dingin.
"Ck."
"Kau selalu melakukan hal seperti ini."
"Dan hasilnya selalu sama."
Ia mengalihkan pandangan.
"Melihat mereka seperti ini hanya membuatku muak."
Pelayan itu langsung menunduk.
"Tuan Cain."
"Anda terlalu tampan dan berwibawa."
"Saya hanya ingin memberikan yang terbaik."
"Itu tidak perlu."
Cain berbalik.
Tatapannya dingin.
"Aku tidak tertarik."
Setelah mengucapkan itu, ia langsung pergi meninggalkan aula.
Para wanita yang berada di sana hanya bisa menatap punggungnya dengan cemas.
Sementara sang pelayan membungkuk hormat.
"Baik, Tuan."
ucapnya pelan sambil memperhatikan kepergian majikannya.
.
.
.
.
.
...-TO BE CONTINUE -...
maaf ya baru up, author sakit jadi gak bisa update. oh iya jangan lupa like, komen dan favorit. hargai author yang up pas lagi sakit.
makasih ya kak udah up banyak
hore kakak up
makasih ya kak udah up
up nya jangan lama lama ya kak
semangat ya kak