NovelToon NovelToon
Headline 29

Headline 29

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Lindra Ifana

"Kapan kamu nikah? Temen temen kamu bahkan udah ada yang punya dua anak. Ibu udah pengen gendong cucu."

Kata kata itu terdengar sederhana tapi selalu terngiang di otak Aurel. Dia hanya ingin mencari yang terbaik untuk hidupnya, karena baginya seorang suami adalah partner seumur hidupnya.

Seperti kisahnya lima tahun yang lalu, yang sudah terlalu yakin dengan pilihan hatinya. Tapi nyatanya hanya pengkhianatan yang ia dapat. Pria itu lebih memilih wanita yang lebih seksi dan bisa dibanggakan untuk di bawa.

Aurel hanya masih mencari, apa itu salah? Tapi bagaimana jika pemujanya sekarang adalah CEO kaya raya yang umurnya jauh lebih muda darinya? Apa itu akan menjadi cinta sejatinya? Atau hanya angin lalu yang akan lewat begitu saja?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lindra Ifana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5. Tisu Di Papan Cinta

Satu minggu berlalu sejak kejadian di parkiran Senopati. Satu minggu yang isinya deadline, meeting Zoom jam 7 pagi, dan revisi presentasi sampai jam 11 malam.

Aurel bahkan nyaris tidak punya waktu untuk dirinya sendiri. Kartu nama Adrian tersimpan rapi di laci mejanya. Janji jam 8 pagi itupun sudah ia anggap batal. Bukan karena sengaja, tapi karena kesibukannya yang menyita waktu.

Jumat malam, setelah menyelesaikan laporan akhir untuk klien Jepang, Aurel memutuskan mampir ke kafe Senopati. Bukan karena Adrian. Hanya karena kafe itu yang paling dekat dengan kosnya, dan ia butuh kopi untuk menenangkan kepala yang berdenyut.

"Americano dingin, less sugar," pesannya pada barista yang sama seperti seminggu lalu. Ia memilih duduk di meja pojok. Tempat yang sama dengan tempat Adrian menunggu dua jam tanpa ia tahu.

Mata Aurel tidak sengaja melihat papan kayu besar di dekat kasir. Papan "Pesan untuk Orang Tersayang". Isinya coretan spidol warna-warni: ucapan ulang tahun, kata "maaf", curhatan putus cinta, nomor WhatsApp yang sengaja ditulis besar-besar.

'Tempat sampah' berisi kata kata norak yang baginya tak perlu dilihat.

Awalnya ia tidak peduli. Sampai matanya berhenti pada satu tisu putih yang dilaminasi, ditempel rapi di tengah papan.

"Mbak Aurel?"

"Ya?"

Suara seorang pria membuat lamunannya buyar, seorang waiter berdiri disampingnya. Dengan kepala menunduk sopan. Sepertinya pria itu menyadari jika dia sedang melihat tisu putih yang tertempel di papan.

"Maaf, tapi kemarin saya yang ambil tisunya. Sengaja saya tempel disitu. Mas Adrian nunggu disini dari jam 8 sampai jam 10 pagi. Ehhmm...kasian mbak."

Adrian sering berkunjung ke kafe itu, dan sebagian waiter sudah mengenalnya dengan baik.

Aurel mematung. Jantungnya berdetak sekali, keras. Dua jam? Ia mengira Adrian pergi setelah 30 menit. Mengira ia hanya iseng. Ternyata tidak. Pria itu benar-benar duduk di kursi ini, menunggunya.

"Tersentil" rasanya terlalu ringan untuk menggambarkan apa yang terjadi di dadanya saat itu. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ada seorang pria yang rela membuang waktu sedemikian lama hanya untuknya.

Aurel menyentuh tisu laminasi itu dengan ujung jari. Satu sudut bibirnya terangkat membaca goresan tinta yang mulai pudar di atasnya. Pria ingusan itu benar benar menunggunya.

"Rel?"

Suara itu membuat Aurel menoleh cepat. Di ambang pintu, berdiri seorang pria. Sweater hitam, rambut ditata rapi dan senyum yang dulu pernah ia anggap menawan. Di sisinya berdiri seorang wanita muda mengenakan dress mini warna merah dengan heels setinggi 12 cm.

"Wisnu...." lirih Aurel hampir tak terdengar.

Pria itu adalah mantan pacarnya saat kuliah dulu. Pria yang pernah membuat satu goresan dihatinya. Hampir sembilan tahun mereka tidak pernah bertemu.

Aurel berdiri tegak ketika Wisnu dan wanitanya datang mendekat dengan wajah meremehkan. Pria itu tidak pernah berubah.

Dulu, Wisnu meninggalkannya dengan alasan: "Kamu terlalu kaku, Rel. Nggak modis. Nggak asyik diajak nongkrong. Aku butuh cewek yang bisa bikin aku bangga di depan teman-teman."

Dan sekarang Wisnu sedang menatapnya dari atas ke bawah, lalu senyumnya melebar. Senyum mengejek yang ia hafal di luar kepala.

"Hai Aurel, bagaimana kabarmu? Sepertinya belum banyak berubah. Lama nggak ketemu, kenalin ini Bella pacar aku," sapa Wisnu, suaranya sengaja dikeraskan agar satu kafe mendengar. "Makan di kafe? Tumben, biasanya nyari nasi Padang."

"lni mantan kamu? Yang orangnya introvert itu? Yang kata kamu malu maluin kalau di bawa jalan itu?" tanya gadis bernama Bela itu, tawanya terdengar culas.

Aurel sengaja diam, semakin ia tanggapi maka dua orang di depannya akan semakin menjadi. Bukan tidak berani, tapi dia terlalu lelah.

Bella masih tertawa kecil. "Pantes kamu tinggalin dia, denger denger sampai sekarang masih jomblo ya?"

"Menang kamu kemana mana, kamu adalah masa depan aku yang sempurna," ujar Wisnu mengecup pelan kening Bella.

Berbanding terbalik dengan kata yang diucapkan, Wisnu memang terdengar merendahkan mantan kekasihnya. Tapi matanya terpaku kagum. Ada sedikit perubahan di diri Aurel. Bukan sedikit...tapi amat sangat berubah. Aurel menjelma menjadi sosok dewasa' yang sangat elegan dan cantik.

Bella melangkah mendekat, menatap Aurel dengan tatapan menilai. "Kamu dengar itu mbak mantan? G*blok banget kalau kamu mikir Wisnu beneran cinta sama kamu!"

Kafe mendadak hening. Beberapa orang menoleh dan saling berbisik. Aurel mengepalkan tangan. Dulu mungkin ia akan menunduk lalu kabur ke toilet untuk menangis.

Tapi sekarang ia adalah Aurel, wanita 29 tahun yang sudah kenyang dengan semua kata yang menyakitkan. Tapi kesabarannya ada batasnya.

"Kurang ajar," desis Aurel pelan.

"Apa kamu bilang?" Bella menyilangkan tangan di dada. "Fakta kok dibilang kurang ajar? Aku cuma ngasih tau biar kamu instropeksi diri. Cewek umur hampir 30 tapi masih single, kerjaannya gitu-gitu aja..."

Tamparan itu melayang cepat. "Plak!"

Suara pipi Bella yang terkena telapak tangan Aurel menggema di seluruh kafe. Bella mundur dua langkah, matanya membelalak tidak percaya. Bekas telapak tangan merah langsung muncul di pipinya.

"Mulutmu terlalu kotor," kata Aurel, suaranya bergetar tapi dingin.

Wisnu langsung maju, wajahnya merah padam. Dia marah melihat Bella yang kesakitan dan mulai menangis. Tangannya terangkat tinggi, kemudian terayun ke arah Aurel. "Kurang ajar! Berani beraninya kamu sentuh dia?!"

Aurel hanya bisa memejamkan mata, tangan Wisnu terlalu cepat untuk dihindari. Tanpa ia tahu saat itu Wisnu sedang meringis kesakitan.

Sebuah tangan lain mencekal pergelangan Wisnu dengan kuat. Menghentikan ayunan itu yang hanya berjarak beberapa senti dari wajah Aurel.

Aurel mendongak. Napasnya tercekat.

Adrian. Kemeja putihnya digulung seperti seminggu lalu. Wajahnya datar, tapi sorot matanya dingin. Sorot mata yang sama sekali berbeda, bukan pria tengil yang dulu bertengkar dengannya hanya karena slot parkir.

"Lepasin!" bentak Wisnu, mencoba menarik tangannya.

Adrian tidak melepaskan. Ia malah maju selangkah, tubuhnya menghalangi tubuh Aurel sepenuhnya. "Tangan jangan asal diayun, Mas. Apalagi ke perempuan. Kalau mau peregangan otot saya bisa meladeni Mas. Kita keluar."

"Kamu siapa? Pacarnya?" Wisnu meludah ke lantai. "Cocok kalian, wanita lusuh dan pria kere!"

Adrian menoleh sedikit ke belakang, menatap Aurel sekilas. Senyum miringnya muncul, sama seperti di parkiran seminggu lalu. Tapi kali ini tidak ada nada mengejeknya.

"Bukan pacarnya," jawab Adrian pelan, tapi cukup untuk didengar semua orang. "Tapi calon suaminya."

Genggaman Adrian di pergelangan Wisnu mengencang. Wisnu meringis kesakitan.

Aurel hanya bisa menatap punggung Adrian. Pria yang seminggu lalu ia anggap bocah menyebalkan. Dan saat ini dengan lantang menyebut dirinya sebagai calon suami. Gila! Tak ia pungkiri jika ia senang ada pria tampan yang membelanya, tapi calon suami? Dia tak pernah berniat menjalin hubungan dengan pria ingusan.

"Ya kan sayang?" Adrian menoleh ke belakang dengan satu mata dikedipkan, jahil.

"Ehhh...iya."

1
Nur Ahmad
ceritanya ringan, CEO tapi merakyat
Mida
lanjut kak 💪
Nur Ahmad
uhuy jadian
Nur Ahmad
cemburu sama dengan cinta
lia juliati
🤭😄
Mida
lanjut kak jadi penasaran 🤭
Lindra: dukung terus yaaa🙏
total 1 replies
Rian Moontero
mampiiiirrr😍
Lindra: tengkiuuhhh sayangkuhh🙏🙏
total 1 replies
Mira Hastati
bagus
Lindra: terimakasih dukungannya 🙏
total 1 replies
Nur Ahmad
🤣🤣🤣
Nur Ahmad
Adrian 😍😍😍
Nur Ahmad
co cuiittt
Nur Ahmad
uhuy kencan nih double A
Nur Ahmad
menunggu memang tak enak
Nur Ahmad
ceritanya lebih ringan dari novel emak kmrn yg aku baca
🦋⃞⃟𝓬🧸𝓩𝓮𝓵𝓵𝔂𝓷
/Applaud/
T.N
sempurna .... semangat kaka suka sekali sama karya-karyanya
Lindra: Terimakasih sudah ikut meramaikan karya emak🙏🙏
total 1 replies
Nur Ahmad
start disinii
Zul Denayu
Lanjut kak 💪💪🌹🌹🌹
lia juliati
itulah bila hati berkehendak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!