Sekte kuno Pedang Langit yang berjaya selama seribu tahun, dalam lima ratus tahun terakhir mengalami kemunduran akibat seluruh guru besar dan murid sekte bahkan sesepuh serta ketua sekte tewas dalam perang melawan Klan Iblis. Hanya tersisa, seorang murid luar Li Tianchen dan mendapatkan warisan dari guru besar. li Tianchen menjadi ketua sekte Pedang Langit.
Hidup damai dan nyamannya mulai terusik, saat Sekte -sekte baru menyerang dan ingin menguasai wilayah sekte Pedang Langit.
Mampukah Li Tianchen mempertahankan sekte pedang Langit? Dapatkah Tianchen mendapatkan murid untuk membantu sekte meraih puncak tertinggi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEKTE KUNO 29
Tianchen berdiri santai di tepi kolam dengan tangan bersedekap di balik punggung. Ia menatap kucing yang melayang dan meronta-ronta di dalam pusaran cahaya tersebut dengan raut wajah tenang.
"Lingling, mandi yang tenang dan jangan banyak bergerak," panggil Tianchen, suaranya bergema menembus raungan energi. "Nikmati saja prosesnya. Ini akan membersihkan kotoran racun di jiwamu dan membuatmu jauh lebih kuat."
Kau bilang nikmati?! Mencoba membunuhku kau bilang nikmati?! umpat Valeska hysteria.
Namun, sebelum memaki lebih jauh, kekuatan inti kolam mencapai puncaknya!
CZZZZZZT! BUMMMM!
Sebuah pancaran sinar putih menyilaukan bertaburkan kilatan petir emas mendadak meledak dari dalam dada Valeska! Cahaya itu begitu terang hingga menerangi seluruh ruangan bawah tanah, memaksa siapa pun yang melihatnya untuk memejamkan mata.
Di dalam balutan cahaya surgawi tersebut, wujud kucing putih mungil itu perlahan merenggang, membesar, dan mentransformasikan bentuknya secara drastis! Garis-garis tubuh manusia yang anggun, ramping, dan elok mulai terbentuk dari gumpalan uap spiritual.
Tianchen menyipitkan matanya, tersenyum tipis dengan penuh kepuasan.
"Berhasil," gumam Tianchen pelan. "Aku sudah tahu sejak awal kau bukan sekadar kucing liar biasa."
Saat cahaya menyilaukan itu perlahan memudar dan luruh menjadi uap air yang jatuh kembali ke kolam, sosok yang melayang di udara kini telah berubah sepenuhnya!
Seorang wanita berparas sangat cantik dan jelita berdiri melayang di atas air. Kulitnya putih bersih bagaikan porselen terbaik, bibirnya merah merona bagaikan buah delima, dan matanya yang berwarna biru keemasan memancarkan keangkuhan seorang penguasa abadi. Pakaian sutra putih tipis melapisi tubuhnya yang indah dan anggun.
Di atas kepalanya yang berambut perak panjang, mencuat sepasang telinga rubah berbulu halus yang bergerak-gerak pelan. Dan di balik punggungnya, sembilan ekor rubah berbulu putih lebat membentang megah bagaikan kipas raksasa, memancarkan aura binatang suci purba yang luar biasa menekan!
Valeska telah berhasil mendapatkan kembali wujud manusianya!
Namun, belum sempat Valeska menghirup napas lega atau merayakan keberhasilannya...
Tianchen mengambil satu langkah maju. Matanya berkilat oleh hukum alam purba. Ia mengacungkan jari telunjuk kanannya ke udara dan menembakkan seberkas benang cahaya emas tepat ke arah dahi Valeska!
CZZZT!
"Apa?!" Valeska terperanjat hebat. Ia berusaha menggerakkan sembilan ekornya untuk menangkis, namun energi kolam masih mengikat gerakannya.
Benang cahaya emas itu menembus dahi Valeska tanpa halangan, meresap masuk jauh ke dalam inti jiwanya. Sebuah pola ukiran teratai emas yang rumit mendadak menyala terang tepat di tengah kening mulus Valeska, memancarkan ikatan takdir yang tak terputuskan!
Itu adalah Kontrak Jiwa Hewan Roh dan Tuan tingkat tertinggi!
Valeska merasakan sebuah rantai gaib yang sangat kokoh melilit inti jiwanya, menghubungkan kesadarannya secara mutlak kepada kehendak Tianchen!
"Sialan kau manusia!" raung Valeska dengan suara manusianya yang merdu namun penuh murka. Matanya menyala merah oleh kemarahan tak terhingga saat ia mendarat di tepi kolam. "Beraninya kau! Beraninya kau melakukan Kontrak Hewan Roh dan Tuan padaku?! Apa kau tidak tahu siapa aku?! Aku adalah Valeska! Ratu Rubah Ekor Sembilan dari Pegunungan Es Kelam! Kau telah menghina martabat bangsaku!"
Saat Valeska berteriak murka, sembilan ekor megah di punggungnya perlahan menyusut dan menghilang masuk kembali ke dalam tubuhnya untuk menghemat energi yang belum stabil. Kini, hanya sepasang telinga rubah berbulu putih di atas kepalanya yang masih tertinggal.
Tianchen menatap wanita cantik yang sedang bersedekap murka di hadapannya dengan ekspresi datar tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Inikah caramu berterima kasih, Lingling?" sindir Tianchen, nada suaranya amat santai. "Aku sudah mengobati luka dalammu, memberikan pil penguat terbaik milikku, dan bahkan membantumu menyerap Mata Air Spiritual ini agar kau bisa kembali ke wujud manusiamu. Jika bukan karena aku, dengan racun yang menggerogoti jiwamu itu, kau mungkin hanya bisa menjadi wujud kucing lemah dan cacat selama beberapa ratus tahun ke depan."
Valeska menggetarkan bibirnya yang merona, dadanya naik turun menahan amarah yang membakar. "Namaku Valeska! V-A-L-E-S-K-A! Bukan Lingling! Nama konyol dan sampah apa itu?! Kau pikir aku ini anjing peliharaan?!"
Mata Tianchen seketika menyipit tajam. Aura dingin yang mencekam mendadak terpancar tipis dari tubuhnya.
"Beraninya kau menghina nama pemberian istriku," ancam Tianchen dingin.
Tepat pada saat ketegangan mencapai puncaknya, langkah kaki terburu-buru terdengar dari pintu masuk. Yuanling yang baru saja menyusul ke ruangan bawah tanah melangkah masuk, lalu terhentikan seketika saat melihat pemandangan di depannya.
Seorang wanita asing berparas sangat jelita dengan telinga rubah di kepalanya sedang berdiri di tepi kolam bersam suaminya!
Yuanling membelalakkan mata, memegang dadanya yang berdebar kencang. Wajahnya dipenuhi rasa bingung dan terkejut yang luar biasa.
"S-Suami...?" panggil Yuanling bergetar. "Itu... siapa? Mengapa ada seorang wanita cantik di dalam kolam energi khusus ini?"
Tianchen menoleh ke arah istrinya, dan raut wajah dinginnya seketika mencair kembali menjadi senyuman hangat. Ia menunjuk ke arah Valeska dengan santai.
"Dia Lingling, Istriku," jawab Tianchen jujur.
"APA?!" Yuanling membelalakkan mata lebih lebar lagi, menatap Valeska dari atas ke bawah dengan pandangan tak percaya. "Di-Dia adalah... si-siluman?! Lingling adalah si-siluman kucing?!"
Mendengar kata 'siluman', kebanggaan Ratu Rubah dalam diri Valeska seketika meledak kembali! Ia berkacak pinggang dan menunjuk Yuanling dengan tatapan tajam.
"Beraninya kau menghinaku sebagai siluman biasa, wanita fana!" teriak Valeska berapi-api. "Dengar ya! Aku ini adalah Ratu Rubah Ekor Sembilan! Namaku Valeska! Aku bukan siluman liar rendahan! Aku adalah Hewan Roh Suci yang diagungkan oleh seluruh klan binatang purba!"
Yuanling tersentak, agak takut melihat reaksi gertakan Valeska. Ia bersembunyi sedikit di balik lengan jubah Tianchen, menatap suaminya dengan mata berkedip polos.
"S-Suamiku... Apakah yang dikatakannya itu benar?" bisik Yuanling pelan.
Tianchen mengangguk pelan sambil tersenyum. "Ya, dia benar. Dia adalah spesies Hewan Roh Suci dari Pegunungan Es."
Kemudian, Tianchen mengangkat tangan kirinya dan menyentuh kening mulus Yuanling dengan lembut. Seberkas cahaya keemasan berpindah dari jemari Tianchen ke dahi Yuanling.
Sreeengg!
Sebuah tanda teratai emas kecil muncul sekejap di kening Yuanling sebelum menghilang. Dalam seketika, sebuah ikatan batin yang hangat dan kuat terhubung antara Yuanling dan Valeska! Melalui ikatan ini, Yuanling memiliki otoritas penuh untuk memerintah atau mengendalikan Valeska jika sang ratu rubah berniat buruk!
Valeska yang merasakan pengalihan sebagian kekuasaan kontrak tersebut terbelalak syok!
"KAU... KAU BENAR-BENAR MANUSIA TIDAK BERMORAL!" raung Valeska pada Tianchen, air mata kekesalan hampir menetes dari matanya. "Kau membagikan Kontrak Jiwaku kepada wanita fana yang bahkan belum menguasai teknik bertarung dasar ini?!"
"Lingling, diamlah," potong Tianchen tegas, suaranya mengandung penekanan tak terbantahkan. "Mulai saat ini, aku telah memutuskan bahwa kau resmi menjadi Murid Kedua dari Sekte Pedang Langit!"
"TIDAK MAU!" tolak Valeska keras-keras sambil melipat tangannya di dada. "Aku ini Ratu Rubah! Mana bisa dipaksa menjadi murid dari sekte sepi dan terbengkalai ini seenaknya sendiri?! Aku menolak!"