Mengerahkan segenap kekuatannya, Arya menyerang Alam Dewa!
Awalnya Arya ditugaskan para dewa untuk memburu Pangeran Kegelapan yang telah menciptakan berbagai teror di dunia. Namun, di balik tugas ini, ada konspirasi yang busuk!
Para dewa rupanya berusaha melenyapkan keabadian dan kekuatan sang ayah yang ada di dalam dirinya. Kelak Arya akan memimpin perang melawan para dewa. Di perang besar ini dia akan menunjukkan kehebatan dan kesaktiannya yang tiada tara!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SPK 14
Raja Gajayana tersenyum dalam hati. Dia baru menyadari jika putrinya itu telah melabuhkan hati untuk pertama kalinya kepada Arya. Hingga Putri Citra berusia 20 tahun, memang baru kali ini dia tahu putrinya tersebut menyukai seorang pria. Padahal dia sudah menyodorkan beberapa nama pangeran kepada putrinya yang bisa dipilih untuk menjadi suami.
Sudah jamak diketahui jika seorang raja akan menjodohkan putra putrinya dengan putri, atau pangeran dari kerajaan lain demi memperkuat kerajaannya. Hal itu juga sudah Raja Gajayana lakukan. Akan tetapi putrinya itu selalu menolak dengan alasan belum ada kecocokan.
"Aku ada sebuah permintaan padamu, Arya, dan aku berharap kau mau mengabulkannya!" ucap Raja Gajayana.
"Jika Paduka menginginkan hamba untuk menjadi pejabat di istana, mohon maaf hamba tidak bisa mengabulkannya. Tapi jika paduka meminta hal yang lain, hamba akan berusaha mempertimbangkannya."
"Tidak, Arya. Aku tahu kau pasti akan menolak jika aku memintamu menjadi pejabat." Raja Gajayana tersenyum hangat kepada pemuda tersebut. "Jadi begini ceritanya, Kurang dari 3 bulan akan diadakan turnamen untuk mengisi posisi Wakil Senopati yang kosong. Aku harap kau mau tinggal di istana ini sampai turnamen itu nanti diselenggarakan hingga usai. Bagaimana?"
Bukan tanpa alasan jika penguasa kerajaan Kanjuruhan itu meminta Arya tinggal lebih lama di istananya. Selain ingin Arya menjadi juri dalam turnamen nanti, dia juga berharap seringnya pertemuan pemuda itu dengan putrinya akan menimbulkan benih-benih cinta di hati Arya.
Raja Gajayana menduga jika sifat Arya tidak jauh berbeda dengan Ranu yang sedikit dingin dengan wanita, dan satu-satunya cara agar Arya bisa dekat dengan putrinya adalah meminta pemuda itu tinggal dalam waktu cukup lama di istana.
Arya bisa sedikit bernafas lega. Sebenarnya dia sudah ingin pergi dari istana tersebut. Namun karena dia harus menyelesaikan pelatihan jurus di dalam kitab Cambuk Api yang membutuhkan waktu cukup lama, tentu tawaran itu tidak bisa ditampiknya. Menurutnya , tawaran yang diberikan Raja Gajayana itu juga bisa membuatnya fokus berlatih tanpa harus bingung mencari tempat untuk istirahat ataupun mencari makanan untuk mengisi perut, karena semua sudah tersedia di istana.
Selain itu, berlatih di tempat bebas bukannya tanpa resiko. Jika ada golongan pendekar aliran hitam yang tidak suka dengan kemunculannya, juga bisa membuat durasi waktu latihannya bertambah panjang. Dia akan terus diburu sepanjang waktu, apalagi jika mereka mengetahui dia adalah putra dari Ranubaya.
Beberapa saat lamanya berpikir, akhirnya Arya menerima permintaan Raja Gajayana untuk bertahan di istana beberapa bulan ke depan.
"Hamba bersedia, Paduka. Tapi jika boleh, hamba minta tempat khusus untuk berlatih dan tempat itu tidak boleh dimasuki siapapun kecuali Paduka dan Gusti Putri, serta Tuan Jaya saja."
"Aku kabulkan permintaanmu. Tempat yang tadi kau gunakan berlatih, tidak akan dimasuki sembarang orang," sahut Raja Gajayana cepat tanpa berpikir panjang.
Raja Gajayana tak bisa untuk berhenti bersyukur. Rasa bahagia terpancar jelas dari raut wajahnya yang berwibawa. Satu tujuannya telah tercapai. Tinggal bagaimana caranya agar Arya dan putrinya bisa menyatu dalam mahligai pernikahan sebelum dia meninggal.
Saat ini usianya sudah lanjut, ingin rasanya dia menimang cucu yang bisa membuat hari-harinya semakin besar berwarna.
Mendengar Arya akan tinggal cukup lama di istana dari ayahnya, Putri Citra terlihat begitu bahagia. Harapannya untuk bisa dekat dengan Arya akhirnya bisa terwujud. Setelah berpikir lama menelaah apa yang ada di dalam hatinya, Putri Citra sadar jika dia telah memiliki perasaan khusus kepada Arya.
Hari demi hari dilalui Arya di dalam istana kerajaan Kanjuruhan dengan sibuk berlatih. Setiap ada waktu luang, dia tidak akan melewatkannya untuk mempelajari maupun menyempurnakan jurus yang telah dikuasainya.
Di suatu pagi, Putri Citra mendatangi kamar Arya sebelum pemuda itu memulai pelatihannya. Ketukan pelan di pintu yang terdengar, membuat Arya segera membukanya.
"Gusti Putri ..."
"Boleh aku masuk?" Putri Citra menunjukkan senyum termanisnya kepada Arya. Sebuah senyum yang diharapkan bisa membuat Arya tertarik kepadanya.
"Tapi aku takut paduka marah jika mengetahui kita hanya berdua saja di dalam kamar," jawab Arya ragu-ragu.
"Ayahku tidak akan marah, percayalah padaku!" sahut Putri Citra.
Arya sebenarnya ragu, tapi dia tidak bisa menampik permintaan Putri Citra. Pemuda itu mengangguk pasrah mempersilahkan gadis cantik tersebut memasuki kamarnya.
"Apa kau tidak berlatih hari ini?"
Arya menggeleng pelan. "Aku ingin istirahat dulu sehari ini."
"Kalau begitu apa kau mau menemaniku jalan-jalan di kotaraja?" pinta Putri Citra penuh harap.
"Tapi apa paduka tidak ..." Arya menghentikan ucapannya karena Putri Citra menyelanya dengan cepat.
"Ayahku tidak akan marah. Aku sudah minta ijin kepada beliau untuk keluar bersamamu."
"Beliau memberi ijin?" tanya Arya.
Putri Citra mengangguk.
"Tapi kenapa harus aku yang menemani Gusti Putri dan bukan orang lain saja? Apa Gusti Putri tidak malu jika berjalan denganku yang gembel ini?"
"Jika aku mendengar ada suara yang menghinamu saat kita jalan nanti, aku akan menjahit bibirnya agar tidak bisa berbicara lagi! Sudahlah, jangan banyak bertanya dan cepat ganti pakaianmu!" sahut Putri Citra dengan intonasi suara sedikit meninggi.
Arya terhenyak mendengar ucapan Putri Citra yang terkesan sadis.
"Kenapa kau diam saja?"
"Apa Gusti Putri tidak malu dan ingin melihatku berganti pakaian?"
Wajah Putri Citra seketika merona merah. Dia segera berbalik arah dan berjalan keluar kamar. "Jangan lama-lama!" ucapnya sebelum menutup pintu.
Setelah memakai pakaian terbaiknya, Arya keluar dari kamar. Putri Citra menyambutnya dengan raut muka cemberut, "Kenapa lama sekali?"
Arya hanya bisa terkekeh pelan sembari menggaruk kepalanya. Padahal dia sudah secepat mungkin untuk berganti pakaian.
Tatapan heran dan tidak percaya bahkan terkesan meremehkan seketika muncul, setelah Arya dan putri Citra berjalan berdampingan keluar dari istana.
Meskipun Arya menganggap pakaian yang dikenakannya adalah yang terbaik, tapi jika dibandingkan dengan pakaian yang dikenakan Putri Citra, jelas begitu jauh perbedaannya.
Tanpa mereka sadari, di saat hendak keluar dari istana, dua pasang mata mengawasi mereka dengan tajam.
"Itu pemuda yang digadang-gadang Jaya akan menggantikan posisi kita, Tuan Patih. Aku dengar dia akan tinggal di istana cukup lama, " ucap Senopati Mandala.
Patih Mahasura menganggukkan kepalanya. Suatu rencana langsung muncul di kepalanya untuk menyingkirkan Arya.