Bebas dari tuduhan konspirasi penculikan yang dirancang mantan kekasihnya, Michaela Hokked (24) memilih mati demi melepaskan diri dari masa lalu yang busuk.
Namun, takdir memiliki selera humor yang kejam.
Pelariannya menuju Los Angeles hancur bersama taksi yang ia tumpangi dalam kecelakaan maut yang meremukkan wajahnya.
Enam bulan koma dan melewati enam
Kali operasi wajah, Michaela terbangun dengan rupa baru: wajah cantik milik Cecilia Lynch, wanita bermata teduh yang kecelakaan bersamanya.
Kini, Michaela terjebak sebagai 'Cecilia' di hadapan Killian Vale-Knight (28 th) pria berkuasa yang mengaku sebagai kekasih jarak jauh Cecilia.
Tanpa kecurigaan, keluarga miliarder itu menghujaninya dengan kasih sayang yang tak pernah ia miliki.
Namun, kenyataan pahit menghantam: Cecilia asli tewas dalam keadaan hamil, Mencuri identitas Cecilia adalah tiket kebebasannya, atau justru awal dari labirin misteri yang mematikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
021
Waktu bergulir begitu cepat di bawah megahnya atap kaca pusat perbelanjaan di Los Angeles.
Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam ketika deretan lampu neon dan papan reklame digital raksasa di atrium utama mall berganti pencahayaan.
Killian masih setia berjalan di samping Michaela, membawa beberapa tas belanjaan mewah di tangan kanannya, sementara tangan kirinya menggenggam erat jemari sang istri yang terbalut jaket tipis.
Michaela, yang sejak sore tadi begitu bersemangat memburu buah-buahan segar dan keperluan dapur, perlahan mulai melambatkan langkahnya.
Bukan hanya karena rasa pegal di bagian bawah tubuhnya yang mulai berdenyut kembali setelah efek adrenalinnya habis, melainkan karena sepasang matanya tiba-kira menangkap sesuatu yang sangat mencolok di layar LED interaktif berukuran raksasa yang menggantung di tengah-tengah atrium mall.
Layar itu biasanya menampilkan iklan parfum prancis atau mobil sport terbaru.
Namun, malam ini, layar itu mendadak menampilkan program khusus dari otoritas lokal dan lembaga pencarian publik: "LOS ANGELES MISSING PERSONS & WANTED INFORMATION".
Dan tepat di urutan pertama, dengan pasfoto yang sangat ia kenali—wajahnya sendiri tanpa riasan, dengan tatapan tajam khas gadis jalanan—terpampang jelas sebuah nama:
MICHAELA HOKKED
Missing Since: February 2026. Last Seen: San Francisco / Los Angeles area.
REWARD: $1 juta for any information leading to her current location.
Di bagian bawah pengumuman itu, tercantum sebuah nama kontak darurat sebagai pihak penyelenggara sayembara pribadi tersebut: Lloris.
Deg.
Jantung Michaela rasanya berhenti berdetak seketika.
Seluruh pasokan udara di paru-parunya seolah tersedot habis. Langkah kakinya membeku di atas lantai marmer yang mengkilap.
Matanya melebar sempurna di balik kacamata hitam dan masker yang ia kenakan.
Lloris? batin Michaela dengan jeritan yang tertahan di tenggorokan.
Lloris, pria yang biasanya menjadi perantara pekerjaan kasar dan pelayan kafe untukku di San Francisco? Bagaimana mungkin dia mencari diriku sampai ke Los Angeles? Dan dari mana pria itu mendapatkan uang sebanyak satu juta dolar?!
Angka itu tidak masuk akal. Satu juta dolar setara dengan hampir lima tahun gaji kotor Lloris sebagai agen penyalur tenaga kerja kelas bawah.
Tidak mungkin Lloris menghabiskan seluruh tabungan hidupnya hanya untuk mencari seorang gadis seperti dirinya, kecuali... kecuali Lloris sedang berada di bawah ancaman besar.
Apakah polisi sudah mencium keterlibatanku dalam kasus kematian Julian di San Francisco? Atau apakah Lloris ditangkap dan diselidiki oleh pihak-berwajib karena dia adalah satu-satunya orang yang memegang riwayat kontrak kerjaku?
Oh, Tuhan... kenapa aku tidak dibiarkan beristirahat sebentar saja dari kejaran masa lalu ini?
Pikiran Michaela berputar liar, membangun skenario terburuk yang membuat kepalanya mendadak pening luar biasa.
"Sayang? Ada apa?" Killian menyadari perubahan drastis dari tubuh wanita di sampingnya yang mendadak menegang seperti batu.
Michaela dengan cepat memutuskan pandangannya dari layar raksasa itu sebelum Killian sempat mendongak dan membaca informasi di sana.
Dengan gerakan tergesa-gesa yang dipaksakan, dia memutar tubuhnya, mencengkeram lengan baju Killian dengan sangat kuat hingga jemarinya memutih.
"A-Ayo kita pulang, Yin... Aku tidak enak badan berada di sini. Tiba-tiba kepalaku sangat pusing," ucap Michaela, suaranya terdengar bergetar dan sedikit tersengal-sengal di balik masker hitamnya.
Killian tersentak melihat reaksi istrinya. Dia tidak sempat melihat ke arah layar LED karena fokusnya sepenuhnya tersita oleh kondisi Michaela.
"Baiklah, mari kita pulang sekarang juga," jawab Killian dengan nada yang langsung berubah menjadi sangat cemas.
Sepanjang perjalanan menuju basemen parkir, Michaela benar-benar menjadi sangat gelisah.
Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya, membasahi kain maskernya.
Jemarinya yang menggandeng Killian terasa sedingin es.
Dia terus menundukkan kepalanya dalam-dalam, merasa seolah-olah setiap pasang mata di dalam mall itu sedang menatapnya dan mencocokkan wajahnya dengan pengumuman imbalan berhadiah ribuan dolar tadi.
Killian, di sisi lain, memperhatikan setiap detail perubahan fisik istrinya dengan dada yang bergejolak hebat.
Rasa bersalah yang sempat dia rasakan sejak jam empat pagi tadi kini mendadak naik ke puncaknya, berubah menjadi kepanikan murni.
Tangannya dingin... dia berkeringat begitu banyak, batin Killian, rahangnya mengeras saat dia menyalakan mesin mobil sportnya dengan gerakan cepat.
Apa mungkin efek karena aku menggempurnya semalaman penuh tanpa ampun baru terasa sekarang?
Bodoh! Dia Belum lama keluar dari rumah sakit, belum sembuh total, dan aku malah memperlakukannya seperti pria kelaparan semalam, lalu membiarkannya berjalan kesana-kemari seharian ini!
"Shit, aku benar-benar keterlaluan," umpat Killian lirih pada dirinya sendiri.
Sebagai pria yang kaku dan terlalu gengsi untuk menanyakan detail yang memalukan di dalam mobil, Killian memilih untuk tidak banyak bertanya.
Alih-alih mengemudikan mobilnya kembali ke apartemen penthouse, Killian langsung memutar kemudi dengan tajam, membelah jalanan malam Los Angeles menuju satu tujuan pasti: Rumah Sakit Pusat, tempat di mana istrinya dirawat sebelumnya.
Dia terlalu takut jika terjadi pendarahan atau komplikasi fatal pada tubuh Michaela akibat keegoisannya semalam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, di sebuah kawasan elit tersembunyi di sudut lain kota Los Angeles, suasana di dalam mansion utama Madam's Roses justru sedang memanas.
Suara teriakan yang melengking tinggi menggema di sepanjang koridor lantai dua, memecah keheningan malam yang biasanya tenang dan formal.
"Kenapa Madam melakukannya?! Kenapa Madam tega mengubah rencananya secara sepihak?!"
Gabriella berdiri di tengah ruang kerja ibunya dengan napas memburu.
Wajah porselennya yang biasanya selalu terlihat tenang dan anggun kini memerah karena amarah yang tidak bisa dia bendung lagi.
Di hadapannya, Madam Margareth duduk dengan santai di kursi kebesarannya, perlahan menyesap teh kamomil hangat seolah teriakan putrinya hanyalah angin lalu.
"Kemarin Madam mengatakan bahwa Cecilia baru akan memiliki target di acara gala amal dua hari lagi! Kenapa malah berubah hari ini, Madam?!" bentak Gabriella lagi, matanya berkaca-kaca oleh rasa frustrasi.
"Madam membiarkan Cecilia bekerja di hari ketiga dia keluar dari rumah sakit? Aku sudah katakan berkali-kali, aku bisa menggantikan posisinya malam ini! Cecilia masih belum pulih total dari operasi mata dan kecelakaannya!"
Madam Margareth meletakkan cangkir tehnya di atas meja dengan ketukan yang lambat namun berbobot, menciptakan bunyi klik yang seketika membungkam ruangan.
Wanita paruh baya itu menatap Gabriella dengan pandangan sedingin badai salju.
"Tidak, Gabriella," jawab Margareth dengan nada suara yang rendah namun sarat akan ancaman.
"Aku tidak akan merubah jadwal untuk mawar yang sudah menghabiskan terlalu banyak asetku. Kau tahu berapa banyak uang yang kuhabiskan untuk biaya rumah sakit privatnya selama enam bulan ini? Jumlahnya melebihi apa yang bisa dia hasilkan dalam satu tahun!"
Margareth berdiri dari kursinya, melangkah mendekati Gabriella dengan keangkuhan seorang penguasa tunggal.
"Uang mahar dan lamaran fantastis yang dia dapatkan dari Killian Vale-Knight... semuanya habis begitu saja untuk membayar operasi transplantasi kornea matanya dan menyogok pihak otoritas agar tidak memperpanjang kasus kecelakaan itu. Dan gara-gara dia juga yang bertingkah bodoh dengan berniat kabur bersama pria itu enam bulan lalu, aku harus memindahkan seluruh jaringan Madam's Roses dari San Francisco ke Los Angeles! Kau pikir memindahkan organisasi besar seperti ini tidak membutuhkan biaya yang banyak, hah?! Kau kira ini semua karena siapa? Karena kecerobohan Cecilia!"
"Tapi Madam... Dia sudah lama menolak untuk melayani para pria secara fisik! Dia hanya melakukan penipuan psikologis lewat ponsel selama ini! Kenapa Madam malah mengirimnya langsung malam ini untuk menemui pria hidung belang itu?! Oh, Tuhan..." Gabriella memundurkan langkahnya, menatap ibunya dengan pandangan tidak percaya sekaligus muak.
Di dalam hatinya, Gabriella benar-benar dirundung rasa bersalah yang teramat sangat.
Dia tidak habis pikir, kenapa Tuhan memberikan seorang ibu kandung sekejam Margareth.
Wanita di hadapannya ini benar-benar tidak memiliki belas kasihan sedikit pun, bahkan pada Cecilia—sahabat Gabriella yang sudah dianggap seperti saudara sendiri di dalam kelompok ini.
Hal yang membuat Gabriella nyaris gila adalah dia baru mengetahui fakta mengerikan ini malam ini.
Sementara Cecilia? Wanita itu ternyata sudah pergi melayani tamu kehormatan pilihan Margareth sejak tadi pagi-pagi sekali.
Dan yang paling membuat bulu kuduk Gabriella merinding adalah metode yang digunakan kali ini.
Biasanya, para Roses kelas atas seperti Cecilia hanya akan melakukan pendekatan emosional, "berpacaran" lewat komunikasi ponsel, atau sekadar menemani minum di ruangan privat untuk menguras informasi dan harta target mereka.
Namun malam ini, Margareth benar-benar mengirim Cecilia untuk sebuah "kencan eksklusif"—sebuah istilah halus di dunia hitam yang berarti pelayanan ekstra di atas ranjang.
Dan semua itu dipaksakan kepada Cecilia yang tubuhnya bahkan belum pulih dengan benar.
Gabriella mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih, ia akan mencari Cecilia Lynch.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di Rumah Sakit Pusat Los Angeles, suasana di dalam kamar periksa VIP terasa begitu kontras dengan ketegangan dunia luar.
Bau karbol yang khas dan lampu neon putih menerangi ruangan tempat Michaela kini terduduk di atas ranjang periksa dengan wajah yang memerah padam, bahkan jauh lebih merah daripada warna buah ceri yang dia beli di mall tadi.
Kecemasan hebat yang sempat melanda Michaela mengenai foto pencarian orang hilang atas namanya seketika buyar, digantikan oleh rasa malu yang teramat sangat hingga dia rasanya ingin menenggelamkan dirinya ke dalam lantai rumah sakit saat itu juga.
Semua ini karena ulah suaminya.
Killian, dengan ekspresi wajah yang sangat serius, panik, dan tanpa sensor sedikit pun, baru saja menceritakan seluruh kronologi aktivitas intim mereka kepada dokter spesialis yang memeriksa Michaela.
Pria angkuh yang biasanya irit bicara itu mendadak menjelma menjadi pria yang sangat cerewet di depan dokter wanita paruh baya tersebut.
"Dokter, tolong periksa istriku dengan sangat teliti," ucap Killian dengan suara baritonnya yang tegas namun terdengar penuh keputusasaan, berdiri tepat di samping ranjang sambil terus memegangi tangan Michaela.
"Kami baru saja... melakukan hubungan suami istri Sejak kemarin hingga semalaman penuh. Saya akui saya... kurang mengontrol diri dan melakukannya berulang kali hingga subuh karena ini adalah malam pertama kami setelah dia keluar dari rumah sakit. Tadi di mall wajahnya mendadak pucat, berkeringat dingin, dan tangannya sedingin es. Saya takut terjadi pendarahan dalam atau robekan yang fatal pada organ intimnya karena tubuhnya belum pulih total dari koma."
Michaela memejamkan matanya rapat-rapat, mencengkeram sprei ranjang rumah sakit dengan tangan yang gemetar bukan lagi karena takut pada polisi, melainkan karena menahan malu yang luar biasa.
Killian... demi Tuhan, tutup mulutmu yang brengsek itu! jerit Michaela di dalam hatinya yang meratap pasrah.
Dokter wanita paruh baya bernama Dr. Helen itu hanya bisa memberikan senyuman maklum yang sarat akan humor kedokteran melihat tingkah laku pasangan pengantin baru di hadapannya.
Dia menurunkan stetoskopnya, lalu melirik ke arah Michaela yang wajahnya sudah seperti kepiting rebus, menolak untuk menatap siapa pun di dalam ruangan itu.
"Tuan Knight, harap tenang sejenak," ucap Dr. Helen dengan nada suara yang menenangkan namun menahan tawa.
"Saya sudah melakukan pemeriksaan fisik dasar dan memeriksa tanda-tanda vital istri Anda. Tidak ada pendarahan luar, dan tidak ada indikasi cedera organ dalam yang berbahaya. Keringat dingin dan wajah pucat yang dialami Nyonya Cecilia saat di mall tadi murni karena kombinasi antara kelelahan fisik yang ekstrem, kurang tidur yang parah, dan... yah, sedikit syok ringan karena aktivitas fisik yang terlalu intens di atas ranjang untuk ukuran pasien yang baru pulih."
Dr. Helen menuliskan sesuatu di atas kertas resepnya dengan senyum yang masih mengembang.
"Istri Anda hanya butuh istirahat total selama dua atau tiga hari ke depan. Tanpa aktivitas berat, dan... Tuan Knight, mohon maaf, tapi Anda harus 'Menunda' terlebih dahulu untuk sementara waktu sampai kondisi fisiknya benar-benar kembali. Berikan tubuhnya waktu untuk menyembuhkan rasa perih alami akibat robekan pertama itu."
Mendengar kata 'Menunda' dan 'robekan pertama', telinga Killian ikut memerah tipis, namun pria itu mengangguk dengan sangat patuh bagai seorang prajurit yang menerima perintah komandan.
"Baik, Dokter. Saya mengerti. Saya berjanji tidak akan menyentuhnya sampai Isteri saya memberikan izin."
Michaela yang awalnya masuk ke rumah sakit ini dengan membawa beban kegelisahan yang mengerikan tentang identitas aslinya yang mulai diburu oleh Lloris di Los Angeles, kini justru berakhir dengan diagnosis medis yang sangat konyol: Kelelahan karena ditiduri suami secara berlebihan.
Saat Killian sibuk menebus vitamin dan obat pereda nyeri di apotek rumah sakit, Michaela bersandar pada bantal ranjang periksa dengan napas yang perlahan mulai teratur.
Di balik rasa malunya yang membakar, ada satu sudut di hatinya yang merasakan kehangatan aneh.
Pria sekaku Killian, yang kemarin mengancam akan memberikannya neraka, malam ini justru bertingkah seperti orang gila yang mempermalukan dirinya sendiri di depan dokter hanya karena takut istrinya terluka.
Namun, di sela-sela kehangatan itu, bayangan pasfoto "Michaela Hokked" di layar mall tadi kembali melintas, mengingatkannya bahwa waktu kedamaian ini mungkin tidak akan berlangsung lama sebelum badai yang sesungguhnya datang menerjang pernikahan mereka.
itu Mischa kenapa muntah? mungkin kah hamil 🤨🤨🤨