Bagi Karin, dosen pembimbingnya yang bernama Pak Arkan adalah monster nyata di dunia perkuliahan. Dingin, kaku, dan tidak segan mencoret draf skripsinya sampai penuh tinta merah. Karin bertekad untuk segera lulus agar bisa terbebas dari pria menyebalkan itu.
Namun takdir berkata lain. Demi melunasi utang pengobatan ibunya yang menumpuk, Karin terpaksa menyetujui pernikahan kontrak selama satu tahun dengan Pak Arkan sebuah rencana perjodohan rahasia yang diatur oleh keluarga mereka.
Kini, Karin tidak hanya harus berhadapan dengan Pak Arkan di ruang dosen yang menegangkan, tapi juga harus berbagi atap di apartemen yang kamarnya saling bersebelahan. Di kampus mereka harus pura-pura tidak kenal, sementara di rumah, Karin perlahan menemukan sisi lain sang dosen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak tii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sarapan yang tergesa-gesa
Alarm ponselku menjerit nyaring untuk ketiga kalinya berturut-turut pagi itu. Aku mengerang kesal, meraba-raba nakas dengan mata tertutup untuk mematikan suara bising tersebut. Namun, begitu mataku melirik angka digital yang tertera di layar ponsel, seluruh kantukku seketika menguap tanpa sisa.
"Mampus! Sudah jam tujuh lewat sepuluh!" pekikku panik, langsung melompat tegak dari tempat tidur.
Hari ini adalah hari Jumat, dan aku ada kelas pagi praktikum Basis Data jam delapan tepat di kampus. Celakanya lagi, dosen pengampunya adalah Pak Bambang dosen senior yang terkenal sangat disiplin dan tidak segan-segan mengunci pintu kelas tepat waktu bagi siapa saja yang terlambat meskipun hanya satu detik.
Aku berlari kencang menuju kamar mandi, melakukan mandi kilat yang kurasa tidak sampai lima menit, lalu menyambar kemeja putih bersih dan rok jins panjang berwarna biru tua dari dalam lemari geser. Aku bahkan tidak sempat mengeringkan rambut panjangku dengan benar; membiarkannya setengah basah dan berantakan begitu saja di bahu sembari menyambar tas ransel abu-abuku dengan tergesa-gesa.
Begitu aku membuka pintu kamar dan berlari menuju ruang tengah, aroma wangi mentega dan telur dadar yang gurih langsung menusuk indra penciumanku.
Di depan meja konter dapur, Mas Arkan sudah berdiri rapi mengenakan kemeja batik bermotif gelap yang sangat elegan, dipadukan dengan celana bahan hitam yang licin. Rambutnya sudah tersisir sangat rapi dan wangi. Ia sedang menuangkan segelas susu putih hangat ke dalam gelas kaca dengan gerakan yang sangat tenang.
"Kenapa terburu-buru seperti itu, Karin?" tanyanya tanpa menoleh, mengenali suara derap langkah kakiku yang berisik sejak tadi.
"Karin kesiangan, Mas! Hari ini ada kelas praktikum Pak Bambang jam delapan tepat. Kalau telat sedetik aja, Karin gak bakal dibolehin masuk kelas!" ujarku panik sembari memakai sepatu slip-on abu-abuku dengan gerakan yang sangat tidak sabaran di dekat pintu masuk.
Mas Arkan meletakkan kotak susu ke dalam kulkas, lalu berjalan mendekat ke arahku dengan sepasang mata cokelat gelapnya yang menatap penampilanku yang berantakan dari atas sampai bawah. Dahinya yang kokoh tampak berkerut dalam melihat ujung rambut panjangku yang masih basah meneteskan sisa air di bahu kemeja putihku.
"Kamu tidak boleh pergi ke kampus dengan penampilan sekacau ini, Karin," ujarnya tegas dengan nada dosennya yang langsung keluar. "Rambut kamu masih sangat basah, dan kemeja kamu di bagian belakang bahkan belum disetrika dengan benar."
"Aduh, Mas! Gak ada waktu lagi buat ngeringin rambut atau nyetrika baju! Yang penting Karin gak telat masuk kelas dulu!" sahutku panik, bersiap membuka pintu utama apartemen.
Namun, sebelum jemariku sempat menyentuh gagang pintu, lengan kokoh Mas Arkan sudah lebih dulu terulur di atas kepalaku, menekan tombol pengunci pintu otomatis kembali hingga berbunyi klik keras. Tubuh tegapnya yang tinggi menjulang tepat di depanku, menghalangi jalan keluar dengan wibawa yang sangat mengintimidasi.
"Mas Arkan! Buka pintunya, nanti Karin beneran telat!" keluhku memelas dengan wajah yang hampir menangis karena panik.
"Duduk di meja makan sekarang, Karin. Makan sarapan kamu dalam waktu lima menit, sementara saya mengeringkan rambut kamu," perintahnya dengan nada suara yang tidak menerima bantahan sedikit pun.
Aku tertegun sejenak menatap wajah tegasnya dari jarak dekat. "Hah? Mas Arkan mau ngeringin rambut Karin?"
"Jangan membuang waktu lagi. Cepat duduk," potongnya dingin sembari berjalan lebar menuju kamar mandinya sendiri untuk mengambil sebuah hair dryer hitam milik apartemen.
Aku tidak memiliki pilihan lain selain menuruti perintah mutlaknya. Aku berjalan gontai menuju meja konter dapur, menduduki kursi makan tinggi, dan mulai menyantap roti bakar isi telur setengah matang buatan Mas Arkan dengan gerakan super cepat seperti orang yang tidak makan selama tiga hari berturut-turut.
Beberapa detik kemudian, Mas Arkan kembali ke dapur membawa hair dryer dan sebuah sisir kayu kecil. Ia berdiri tepat di belakang punggungku, mencolokkan kabel alat tersebut ke stopkontak dinding terdekat, lalu menyalakannya dengan volume rendah agar suaranya tidak terlalu bising.
Wush...
Hembusan angin hangat yang nyaman langsung menerpa kulit kepalaku yang dingin.
Jantungku mendadak berhenti berdetak selama satu detik penuh saat merasakan jemari tangan kiri Mas Arkan yang sangat hangat mulai menyelinap di antara helaian rambut panjangku yang basah. Dengan gerakan yang sangat lembut dan telaten, ia mengurai rambutku yang kusut menggunakan sisir kayu, lalu mengeringkannya bagian demi bagian dari akar hingga ke ujung rambut dengan sangat hati-hati agar tidak membuatku kesakitan.
Aroma wangi sabun mandi pinus dari tubuh tegapnya yang berdiri sangat dekat di belakangku kembali menguasai seluruh indra penciumanku, membuatku yang tadinya mengunyah roti dengan sangat berisik perlahan-lahan mulai memperlambat gerakanku karena salah tingkah yang luar biasa hebat.
"Makan yang tenang, Karin. Jangan tergesa-gesa sampai tersedak seperti itu," bisik Mas Arkan di sela-sela gemuruh halus suara alat pengering rambut di belakang kepalaku.
"I-iya, Mas," sahutku pelan dengan tenggorokan yang mendadak terasa sangat kering.
Sentuhan lembut jemari tangannya di kulit kepalaku terasa sangat nyaman dan memabukkan, mengirimkan getaran-getaran halus yang mendebarkan di sepanjang tulang belakangku. Aku tidak pernah membayangkan dalam mimpi terliarku sekalipun bahwa seorang dosen muda killer yang ditakuti seluruh mahasiswa satu fakultas teknik kini sedang berdiri sabar di dapur apartemen kami, mengeringkan rambut basah mahasiswinya sendiri dengan penuh perhatian yang luar biasa manis di pagi hari yang sibuk ini.
"Sudah selesai," ujar Mas Arkan beberapa menit kemudian sembari mematikan alat pengering rambut dan meletakkannya kembali ke atas meja konter dapur.
Aku meraba rambut panjangku sendiri yang kini sudah sepenuhnya kering, halus, dan sangat wangi lavender berkat vitamin rambut yang sempat kuusapkan tadi sebelum mandi. "Wah... makasih banyak ya, Mas Arkan."
"Sama-sama. Sekarang ganti tas kamu dan bawa kunci mobil merah kamu. Kita berangkat sekarang, saya yang akan menyetir mobil kamu sampai ke gerbang belakang kampus agar kamu tidak terlambat masuk kelas Pak Bambang," titahnya sembari merapikan kembali lipatan lengan kemeja batiknya yang sedikit berantakan.
"Lho? Mas Arkan beneran mau nyetirin Karin?" tanyaku terkejut sembari menyampirkan ranselku ke pundak.
"Tentu saja. Dengan kepanikan kamu yang seperti ini, saya tidak yakin kamu bisa menyetir dengan fokus di tengah kemacetan jalan raya pagi ini," jawabnya santai sembari menyambar kunci mobil merahku di atas meja konter. "Cepat, sisa waktu kita tinggal lima belas menit lagi."
Aku segera berlari kecil mengekor di belakang punggung tegapnya yang melangkah lebar keluar dari apartemen unit 1507 pagi itu. Di dalam debaran kepanikanku akan keterlambatan kelas praktikum pagi ini, ada rasa kebahagiaan yang sangat hangat dan manis menyelusup masuk ke dalam lubuk hatiku yang terdalam menyadari bahwa di balik penampilan dinginnya yang kaku, suamiku ini selalu memiliki caranya sendiri untuk melindungiku dengan tindakan nyata yang sangat nyata dapat kurasakan setiap detiknya.