NovelToon NovelToon
Melodi Air Mata Samudera

Melodi Air Mata Samudera

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi
Popularitas:739
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Belasan tahun terjebak di dalam sel Abyssal Trench yang gelap dan pengap, Elara Nereida—seorang Siren yang tangguh—harus membayar mahal harga dari sebuah kenaifan. Cinta tulusnya pada Helios Marine justru berakhir tragis. Sang Merman ternyata telah beristri dan dengan tega mengurung Elara demi menutupi aib, membiarkannya kelaparan dan diasingkan oleh ras Siren-nya sendiri sebagai aib.

Ketika sebuah kekacauan besar menghancurkan penjara bawah air dan memberinya celah untuk lolos, Elara bersumpah tidak akan pernah meneteskan air mata lagi untuk masa lalu. Dengan kekuatan Siren yang telah lumpuh akibat racun, ia nekat naik ke daratan Kota Luminara untuk memulai hidup baru sebagai manusia.

Sanggupkah Elara bertahan di dunia baru tanpa kekuatannya? Dan di antara kutukan takdir serta perebutan kuasa para penguasa daratan, siapakah yang akhirnya akan memenangkan melodi terakhir dari hati sang Siren?

"Lautan telah membuangku, namun daratan akan bertekuk lutut di hadapanku!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15. Belahan Jiwa Sang Elf Hutan

"Ah, Paman, kita harus segera kembali sekarang. Bibi White pasti sudah menunggumu di rumah," potong Edgard cepat untuk mengalihkan perhatian. Ia lalu melirik ke arah pria pirang di sebelah pamannya. "Dan lihatlah, Tuan Cedric bahkan sepertinya sudah terlihat kesal karena kita menahannya terlalu lama. Benar, 'kan, Tuan? Anda tampaknya masih memiliki banyak urusan penting di tempat ini?"

Cedric Valerius menaikkan sebelah alisnya, menatap Edgard dengan senyuman tipis yang sulit diartikan. "Saya sama sekali tidak merasa keberatan, Edgard. Namun, ucapanmu ada benarnya. Aku masih memiliki satu urusan penting yang harus kuselesaikan di kasino ini. Sebaiknya kalian berdua segera pulang lebih dulu."

"Kalau begitu kami berdua pamit, Tuan Cedric. Senang bisa bekerja sama dengan Anda," ucap Ethan formal seraya menjabat erat tangan sang penguasa Elf.

"Hati-hati di jalan, Alpha Ethan," sahut Cedric sembari mengangguk sopan dan melambaikan tangannya pelan, melepas kepergian dua Werewolf bangsawan tersebut.

Tak lama setelah kepergian Ethan dan Edgard, kepulan asap rokok tipis menyertai langkah seseorang yang berjalan anggun menghampiri Cedric. Dialah Madam Jane, wanita paruh baya pemilik kasino megah tersebut.

"Tuan Cedric, apakah pertemuan Anda dengan kolega bisnis Anda sudah selesai?" tanya Madam Jane dengan suara serak yang khas, menyunggingkan senyum penuh arti.

"Sudah, Madam," jawab Cedric pendek. Ekspresi wajahnya kembali datar dan formal.

"Oh, baguslah. Kebetulan sekali, malam ini saya telah menyiapkan satu hidangan yang sangat istimewa untuk Anda," bisik Madam Jane dengan mata berbinar ambisius. "Gadis ini dijamin tidak akan mengecewakan. Anda pasti akan sangat puas, Tuan. Dan tentu saja, uang yang Anda pinjamkan kepada saya tidak akan menguap sia-sia begitu saja."

Madam Jane tampak tidak sabar. Ia sudah lama menantikan malam ini demi melunasi jerat utang yang mencekik lehernya setelah kasino miliknya mengalami kerugian besar beberapa bulan lalu.

Alasan utama wanita itu terpaksa meminjam dana dari sang penguasa Elf adalah demi mempertahankan bisnisnya. Sebelumnya, Madam Jane sudah berulang kali menawarkan tubuh para gadis pekerja di kasinonya sebagai alat tukar, namun Cedric selalu menolak dengan tegas. Pemuda Elf itu terlalu lurus, dingin, dan memiliki prinsip yang sulit diruntuhkan.

Cedric menghela napas panjang, tatapan matanya menyiratkan kelelahan. "Nyonya, sudah berulang kali saya katakan, saya tidak butuh gadis—"

"Saya tahu, saya tahu, Tuan. Tapi tolong, kali ini saja, terimalah tawaran saya," potong Madam Jane memelas, memotong ucapan Cedric dengan raut wajah memohon. "Saat ini saya benar-benar belum memiliki uang tunai yang cukup untuk mencicil utang-utang itu. Jadi, barangkali dengan cara ini... Anda bisa memberikan sedikit keringanan hingga nominalnya berkurang."

Cedric mengepalkan tangannya samar di dalam saku mantel. Sebenarnya, ia terpaksa menginjakkan kaki di tempat bising ini bukan sekadar untuk menemui kolega bisnisnya, melainkan untuk menagih piutang yang sudah menunggak berbulan-bulan. Namun, lagi-lagi ia harus menghadapi taktik usang wanita ini yang selalu menyodorkan wanita alih-alih lembaran uang.

"Madam Jane, saya ini seorang pengusaha restoran, bukan mucikari," ucap Cedric tegas, auranya sebagai kaum Elf yang bermartabat tinggi seketika mengintimidasi udara di sekitar mereka. "Saya membutuhkan uang itu sebagai modal pengembangan cabang restoran saya. Jadi, saya ingin hak saya segera dibayarkan."

"Iya, saya paham, Tuan Cedric. Tapi tempat ini sedang sepi akhir-akhir ini. Pemasukan yang masuk bahkan hanya cukup untuk membayar upah para pekerja," bujuk Madam Jane, tidak mau menyerah begitu saja sebelum utangnya diputihkan oleh sang pengusaha tampan.

Otak licik Madam Jane berputar cepat, mencari celah lain. "Bagaimana kalau begini saja... bawalah gadis itu pulang. Saya dengar restoran Anda sedang kekurangan satu pelayan, bukan? Gadis pilihan saya ini sangat cocok untuk pekerjaan itu. Dia memiliki fisik yang tangguh, rajin, dan saya jamin akan menuruti semua perintah Anda. Anda bahkan tidak perlu repot-repot menggajinya. Cukup beri dia makan dan tempat tinggal."

Cedric kembali menghela napas berat, merasa tersudut oleh kepiawaian wanita tua itu dalam bernegosiasi. Sepanjang hidupnya yang hampir menyentuh usia dua puluh enam tahun, Cedric tidak pernah sekalipun bermain-main dengan wanita.

Alih-alih menjadi pria hidung belang, ia justru memiliki masa lalu yang melankolis. Pria Elf itu pernah mencintai seorang gadis dengan begitu tulus, namun sifatnya yang terlalu kaku membuat cintanya terpendam abadi hingga sang pujaan hati berakhir menikah dengan pria lain. Cedric memilih mengubur dalam-dalam rasa sakit itu bersama ambisinya di dunia bisnis.

Kini, tawaran Madam Jane justru mengusik ketenangannya. Cedric tidak tahu, bahwa gadis "pemberian" yang dimaksud—yang kini tengah pingsan di dalam kamar VIP setelah direnggut paksa kesuciannya—adalah Elara, sang Siren yang kelak akan memutarbalikkan seluruh takdir hidupnya.

"Baiklah, aku menerima tawaranmu," ucap Cedric ketat. Mau tidak mau, ia harus berkompromi dengan situasi pelik ini. "Namun, ada satu syarat. Jangan pernah mengungkit hal ini lagi. Dan ingat, utangmu bukan berarti lunas sepenuhnya. Aku hanya akan memangkas setengah dari nominal totalnya. Sisanya, Anda tetap wajib melunasinya dalam bentuk uang tunai."

"Oh, tentu saja! Deal!" seru Madam Jane dengan mata berbinar puas, langsung menyambar dan menjabat tangan Cedric sebelum pria itu berubah pikiran. "Silakan, Tuan. Gadis itu sudah menanti Anda di kamar VIP nomor 12. Kebetulan kamarnya berada di lantai ini juga. Selamat bersenang-senang, Tuan Cedric. Saya permisi dulu."

Madam Jane menepuk pundak Cedric dengan akrab—sebuah kelancangan yang membuat sang Elf mengernyit—sebelum wanita paruh baya itu melengos pergi ke arah lobi dengan tawa tertahan.

Wanita itu benar-benar licik, batin Cedric, menatap punggung Madam Jane yang menjauh dengan tatapan tak habis pikir.

Meski merasa dijebak, Cedric tahu langkahnya malam ini tidak sepenuhnya sia-sia. Tentu saja, ia hanya berniat menjadikan gadis itu sebagai pegawai di restorannya. Sebagai seorang Elf yang menjunjung tinggi moralitas, nuraninya menolak keras ide gila Madam Jane untuk memperlakukan gadis itu bak budak tanpa upah. Cedric tetap akan memberinya gaji yang layak.

Lagipula, posisi lowongan pelayan di restorannya memang sedang kosong sejak ditinggal oleh gadis manusia yang pernah ia cintai secara rahasia—gadis yang kini telah menjadi milik pria lain. Sejak patah hati, Cedric menjadi sangat selektif. Ia bersumpah hanya akan mempekerjakan pria atau wanita paruh baya demi menjaga jarak dari romansa.

Alasan mengapa ia sampai menyimpan perasaan mendalam pada mantan pegawainya dulu adalah karena ketulusan dan kebaikan gadis itu. Kini, menerima gadis asing yang tidak jelas asal-usulnya tentu menjadi perjudian besar bagi Cedric. Ia dirundung bimbang, apakah keputusannya kali ini sudah tepat atau justru akan membawa masalah baru.

Mencoba mengusir keraguan, Cedric mulai melangkah membelah keheningan lorong kasino, menuju kamar VIP nomor 12. Namun, baru beberapa langkah menyusuri koridor redup tersebut, indra penciuman Elf-nya yang tajam mendadak menangkap sekelebat aroma yang mengusik jiwanya. Aroma magis perpaduan antara kesegaran lautan yang luas dan keharuman mistis bunga sedap malam.

Cedric mematung. Jantungnya mendadak berdegup kencang hingga menimbulkan rasa ngilu di dadanya. Ia tahu persis arti dari wewangian mutlak ini—aroma mate, sang belahan jiwa yang digariskan takdir.

Mungkin saat ia berada di ruang pertemuan bersama Alpha Ethan tadi, aroma ini samar-samar tercium namun tertutup oleh pekatnya aroma feromon Werewolf. Kini, tepat saat langkah kakinya terhenti persis di depan pintu kayu jati bernomor 12, aroma itu menguar begitu kuat, seolah-olah mengikat lehernya. Cedric tak pernah menyangka jika pertemuan dengan belahan jiwanya akan terjadi secepat ini, di tempat sekotor ini.

"Aromanya semakin pekat... Sesungguhnya, aku belum siap," bisik Cedric parau pada keheningan lorong.

Tangan Cedric terulur ragu, mengambang di udara sebelum akhirnya mencengkeram gagang pintu kuningan yang dingin. Ia menarik napas dalam-dalam beberapa kali, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang kian liar.

Sebenarnya, alasan terbesar mengapa ia sudi menerima tawaran konyol Madam Jane beberapa menit lalu adalah karena desakan insting Elf-nya. Aroma misterius ini sudah menggelitik rasa penasarannya sejak tadi, memicu tanya apakah sumber keharuman ini berasal dari gadis yang didepak Madam Jane kepadanya.

Ternyata dugaannya benar. Ada rasa lega yang membuncah di dadanya, namun di saat bersamaan, rasa takut yang luar biasa juga merayap. Ia takut kecewa jika takdir mempermainkannya.

"Apakah mate-ku adalah salah satu dari ras lautan? Seorang Mermaid?"

Ilustrasi Cedric Valerius [Elf Hutan]

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!