"Aku terjebak dalam draf novel yang bahkan belum aku pikirkan alur ceritanya, dan sialnya, aku adalah karakter utamanya."
Tidak ada sistem yang akan membuatku kaya raya. Tidak ada kekuatan luar biasa yang diberikan untuk melawan para penjahat di dunia ini. Hanya aku, seorang penulis yang terjebak di tubuh seorang budak bernama Julian, ditemani oleh Anima dan Animus yang cerewet, serta Yisla gadis miskin yang menyelamatkanku dari perbudakan bersama kakak laki-lakinya bernama Vito.
Kami harus lari dari kejaran para penguasa, menukar daging beku demi koin perak, dan mencoba bertahan hidup di dunia yang genrenya terus berubah di luar kendali.
Bersama Yisla, gadis yang menjadi satu-satunya saksi perjuanganku, aku sebagai Julian harus melintasi perbatasan Utara yang dingin menuju ke Selatan. Mencoba peruntungan hidup baru demi merubah hidupku dan Yisla.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
...── ⋆⋅𖤓⋅⋆ ──...
Astra dan Yisla buru-buru menarik diri ke balik dinding salah satu kedai kayu yang sudah tak digunakan. Dari jarak sedekat ini, bentakan salah satu pria itu terdengar sangat jelas.
"Dengar, kalian! Kami mencari pemuda laki-laki yang kabur sejak semalam!" bentak pria bermantel bulu itu sambil mengacungkan kertas sketsa ke depan wajah seorang pedagang.
"Ciri-cirinya kurus, rambutnya berantakan! Siapa pun yang bisa nemuin dia, bos kami bakal kasih imbalan sepuluh koin emas!"
Mendengar nominal fantastis itu, warga desa di sekitar langsung berbisik-bisik dengan mata berbinar serakah.
Astra menelan ludah berat. Sepuluh koin emas?! Kepalaku dihargai semahal itu? Bisa-bisa satu desa ikut memburuku kalau gini!
Yisla menoleh. Menyadari wajah Astra sudah pucat pasi, dengan sigap ia melepas tudung kepala rajutan yang sedang dipakainya.
"Julian, cepat pakai ini!" bisik Yisla tegas. Tanpa menunggu jawaban, ia langsung memakaikan tudung itu ke kepala Julian, menariknya rendah hingga menutupi sebagian dahi Julian.
"Tapi, Yisla, kalau kamu lepas ini, kamu bisa kedinginan-"
"Gak usah mikirin aku! Nyawamu lebih penting sekarang!" potong Yisla cepat. Ia menyambar pergelangan tangan Julian, mencengkeramnya dengan erat.
"Ayo, kita lewat jalur samping tempat pembuangan limbah pasar. Di sana sepi."
Sambil menundukkan kepala sedalam mungkin, Astra membiarkan dirinya ditarik oleh Yisla. Mereka setengah berlari menembus celah sempit di antara deretan toko kayu, memutar jauh ke sisi lain pasar demi menghindari kejaran.
Setelah mengendap-endap memutari area pembuangan yang bau, langkah Yisla akhirnya melambat begitu mereka tiba di barisan gerai bagian dalam. Mata Yisla berbinar lega saat menangkap sosok sang kakak yang sedang melayani pembeli di gerai dagingnya.
"Kak Vito!" panggil Yisla tertahan, buru-buru menghampiri meja jualan kakaknya.
Vito mendongak, dahinya langsung berkerut melihat adiknya datang dengan napas terengah-engah bersama sosok bertudung misterius.
"Yisla? Kenapa kalian—"
Sebelum Vito menyelesaikan kalimatnya, Yisla sudah berjinjit dan berbisik panik tepat di telinga kakaknya.
"Kak, orang-orang semalam ada di gerbang depan! Mereka pasang imbalan sepuluh koin emas buat cari Julian!"
Mendengar itu, rahang Vito seketika mengeras. Tatapan matanya langsung beralih tajam ke sekeliling pasar, memastikan tidak ada orang yang memperhatikan mereka.
"Masuk ke dalam gerai sekarang," perintah Vito penuh penekanan pada Astra. Ia menggeser jubah kulit beruang yang tergantung di pembatas belakang stan jalannya.
"Sembunyi di bawah meja belakang jubah ini. Jangan bersuara sedikit pun."
"Cepat, Julian!" sela Yisla, ikut mendorong pundak Astra. "Aku sama Kak Vito yang bakal jagain kamu di luar."
Astra mengangguk panik. "I-iya, makasih, Kak... Yisla."
Dengan gerakan cepat, Astra menyelinap ke ruang sempit di bawah meja gerai itu, ia meringkuk di kegelapan sembari berdoa dalam hati agar namanya tidak tercoret dari alur cerita malam ini.
...***...
Sret.
Terdengar suara langkah kaki mendekat, disusul suara benda berat diletakkan di atas meja tepat di atas kepala Julian.
"Vito, tolong potongkan daging rusa ini lima pon, ya," ujar sebuah suara melengking khas ibu-ibu paruh baya.
"Baik, Bu," jawab Vito datar, disusul bunyi pisau memotong daging.
Namun, kalimat berikutnya dari si pembeli langsung membuat Astra kaku.
"Eh, Vito, Yisla... kalian tahu gak, di depan ada rame-rame apa?" tanya ibu-ibu itu dengan nada bergosip yang menggebu-gebu.
"Katanya ada sayembara nyari anak laki-laki yang kabur ke desa ini. Imbalannya gak main-main loh, sepuluh koin emas!"
"Saya tidak tahu, Bu," sahut Vito pendek. Bunyi pisaunya terdengar sedikit lebih keras dari biasanya.
"Ih, masa gak tahu? Satu pasar lagi heboh, lho!" cibir ibu-ibu itu tidak peka.
"Lagian ya, Vito... kalau kamu sampai ngeliat itu anak, mending langsung kamu tangkap aja sendiri. Lumayan banget, kan, sepuluh koin emas buat memperbaiki hidup kalian? Biar kalian berdua gak kere-kere amat dan nggak tinggal di gubuk reot terus!"
Tak!
Suara hantaman pisau Vito mendadak berhenti total. Melalui celah kecil di sela-sela meja, ia bisa melihat kepalan tangan Vito mengeras hingga urat-uratnya menonjol. Pria itu sepertinya sudah di ambang batas kesabarannya.
Menyadari kakaknya siap mengamuk, Yisla dengan sigap langsung menggenggam lengan Vito, memberi isyarat memohon yang amat sangat.
"Ini dagingnya sudah siap, Bu," potong Yisla cepat dengan senyum yang dipaksakan. "Totalnya lima belas koin perunggu."
Ibu-ibu itu mendengus sinis. Alih-alih membayar dengan benar, ia justru merogoh kantongnya dan melemparkan beberapa koin ke atas meja hingga berdenting nyaring.
Kring! Kring!
"Dasar kaku. Dikasih tahu jalan keluar dari kemiskinan malah begini bentuknya," gerutu ibu-ibu itu ketus sembari menyambar bungkusan dagingnya.
Ia menatap Yisla dan Vito dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan merendahkan.
"Nih, ambil! Itu ada delapan belas koin perunggu. Kembaliannya gak usah dikasih, anggap aja sisa tiga koin itu buat sumbangan orang miskin kayak kalian!"
Setelah melontarkan hinaan tajam itu, langkah kaki si ibu-ibu perlahan menjauh dan hilang di balik keramaian pasar.
Di bawah meja, Astra akhirnya bisa mengembuskan napas yang sedari tadi ia tahan. Namun, rasa bersalah kini mulai menggerogoti hatinya. Gara-gara menyembunyikan dirinya, keluarga baik ini harus rela dihina sedemikian rupa.