Sarah, seorang gadis yatim piatu yang sudah dari sejak kecil tinggal di sebuah pondok pesantren karena sebelum neneknya meninggal saat Sarah usia 5 tahun, nenek Sarah menitipkan gadis itu pada seorang Ustadzah supaya bisa tinggal di Pesantren sekaligus mendidik Sarah menjadi wanita sholehah yang paham ilmu agama.
Saat Sarah sudah dewasa, dia akan menikah dengan anak dari Kyai yang mengasuh pondok pesantren.
"Kamu jangan besar kepala dulu, Sarah. Saya memilih kamu itu atas keinginan Abi saya bukan atas keinginan saya sendiri!' ucap Farel bagai batu besar yang menghantam hati Sarah.
Dunia Sarah seakan hancur. Tubuh gadis itu yang awalnya berdebar-debar menjadi lemas tak bertenaga. Dia tidak menyangka jika Ustad Farel tidak benar-benar menginginkannya menjadi istri. Lalu bagaimana sekarang? Sarah bingung apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Malam pengantin yang katanya indah hanyalah dalam mimpi saja....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jasmine murni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Maya dan harapannya
Sarah memandang Maya lekat-lekat lalu berjalan mendekat. Bisa Sarah liat netra sahabatnya itu mulai berkaca-kaca.
"May, aku tidak pernah ada pikiran seperti itu! Kamu adalah sahabatku. Kita sudah sama-sama menikah, apa salah kalau aku berkata seperti itu terlepas bagaimana kondisi rumah tanggamu," jelas Sarah pelan namun dengan penekanan di setiap kata-katanya.
"Sudahlah, aku mau pulang!" Maya bergegas meninggalkan Sarah namun dengan cepat Sarah menggamit tangan sahabatnya itu.
"Kita harus bicara, May. Aku tidak mau kamu terus bersikap seolah aku ini sahabat yang jahat," pinta Sarah dengan wajah memohon.
"Aku harus pulang, Sarah. Nanti mas Aldo nyariin aku."
"Aku dan ustad Aldo tidak ada hubungan apa-apa, May. Tolong jangan terus salah paham denganku. Aku memilih mas Farel karena aku ingin mas Farel jadi suamiku bukan ustad Aldo. Jadi tolong, berhenti berpikir kalau aku ada apa-apa dengan suami kamu!' tegas Sarah.
"Maafin aku, Sarah. Aku-aku hanya. . ." Maya menutupi mulutnya dengan tangan. Dia terlihat sedang menahan tangis.
Sarah yang paham akan kondisi hati sahabatnya langsung memberikan pelukan, "Berdoalah. Allah yang Maha membolak balikkan hati."
"Tapi sampai kapan? Orang tua kami hampir setiap hari menanyakan tentang kehamilanku. Kakaknya mas Aldo bahkan memiliki anak sembilan bulan setelah menikah. Lalu aku? Kapan aku bisa hamil kalau mas Aldo. . ."
Sarah menelan salivanya dengan susah payah, "Kita cari tempat duduk yang nyaman, ya. Tidak enak mengobrol di jalan apalagi kamu menangis begini," ajak Sarah dan langsung menggandeng Maya menepi ke sebuah pos ronda yang tak jauh dari sana.
"Sarah, tolong rahasiakan ini, ya. Aku malu kalau sampai ada yang tahu tentang kondisi rumah tanggaku," pinta Maya dengan wajah memohon.
Sarah mengangguk pelan lalu mereka sama-sama duduk di pos ronda itu.
"Aku minta maaf May, kalau memang karena aku, rumah tanggamu jadi seperti ini. Sungguh aku pun baru tahu tentang Ustadz Aldo. Tapi yakinlah, Allah Maha membolak bailkkan hati," ucap Sarah dengan wajah sedih. Dia pun teringat akan rumah tangganya sendiri. Walaupun suaminya sudah memberikannya nafkah lahir dan batin tapi wanita itu masih merasakan seperti ada dinding yang sangat tinggi memisahkan mereka berdua.
"Kamu beruntung ya Sarah menikah dengan Ustaz Farel. Ustad idola di pondok pesantren kita," ucap Maya.
"Apa kamu juga menyukai Ustad Farel, May?" tanya Sarah.
Maya lalu tersenyum tipis, "Sarah, aku tidak mau membandingkan antara semua Ustadz yang ada di pondok pesantren kita ini. Kamu tahu aku orangnya takut jatuh cinta. Ya, memang jujur aku kagum dengan Ustad Farel tapi hanya sebatas kagum saja sama seperti aku mengagumi Kyai Agung. Tapi sejak aku menikah dengan suamiku Aldo, perasaan yang aku rasakan sangat berbeda terhadap lelaki lain. Aku mulai melambungkan harapanku sangat tinggi. Mungkin itu juga salahku yang terlalu berharap terhadap manusia. Akhirnya aku terhempas kedalam kubangan kesedihan karena harapanku sendiri. Aku menyadari apa yang aku harus jalani dalam rumah tanggaku. Sungguh aku benar-benar tidak menduga kalau ternyata perasaanku bertepuk sebelah tangan."
Sarah menggenggam erat tangan Maya. Maya mengusap wajahnya. "Aku sebenarnya tidak marah sama kamu, Sarah. Karena aku tahu kamu tidak mencintai suamiku. Kamu sudah mendapatkan suami yang terbaik jadi mana mungkin kamu mencintai suamiku. Aku hanya sedih dan malu padamu. Malu karena ternyata suamiku mencintaimu bukannya mencintai aku yang adalah istrinya sendiri."
Sarah tersenyum getir, "Mungkin jika aku cerita sama kamu, kamu pasti tidak akan percaya, May. Kamu tahu, malam pertamaku dengan ustad Farel kapan terjadinya?"
Maya menatap Sarah dengan dahi berkerut.
"Satu bulan. Ya, malam pertamaku dengan ustad Farel terjadi lebih satu bulan setelah pernikahan kami. Karena kamu tahu, ternyata Ustad Farel pun tidak mencintaiku. Suamiku hanya memenuhi kewajibannya saja," jelas Sarah yang membuat kaget Maya.
"Aku sebenarnya tidak mengatakan ini padamu May, tapi melihatmu seperti ini aku hanya ingin menunjukkan padamu kalau yang kamu alami itu bukan hanya terjadi padamu. Bukan hanya kamu yang merasakan. Mungkin di luar sana juga ada wanita yang tidak dicintai oleh suaminya tapi tetap cobalah untuk bersabar dan bertahan. Cobalah membuat suami mencintai kita. Insya Allah, usaha tidak akan menghianati hasil, bukan? Ada Allah yang Maha Adil. Kalau memang kita berjodoh dengan suami kita, pernikahan kita akan lanjut hingga ke surga tapi jika tidak, kita tidak boleh sampai terlalu membenci ataupun menyalahkan diri sendiri. Semua yang kita miliki itu adalah pemberian Allah. Allah menitipkan kepada kita jadi kapan pun Allah ingin mengambil yang telah Allah titipkan kepada kita, kita harus menerima dengan ikhlas."
"Kamu serius, Sarah?" tanya Maya kaget.
Sarah tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
Setelah saling bercerita, mereka lalu pulang ke rumah masing-masing. Maya sudah tidak sesedih seperti sebelumnya. Maya menjadi lebih bersemangat.
Maya mengetuk pintu kamarnya. Tok tok tok.
"Assalammu'alaikum." Ceklek. Maya membuka pintu.
"Wa'alaikumsalam," sahut Aldo lalu kembali menatap ke arah televisi yang menyala. Menyajikan acara ceramah dari seorang Usradz kondang.
"Maaf, mas. Aku tadi baru pulang dari makan bakso sama Sarah dan mengobrol sebentar dengannya. Maaf tidak minta ijin terlebih dahulu," jelas Maya lembut lalu duduk di sebelah suaminya.
Aldo sontak menoleh menatap istrinya itu.
"Aku mau mau ke dapur dulu ya, mas. Mas mau makan apa malam ini?" tanya Maya.
"Hhmm, apa saja," jawab Aldo datar.
Maya lalu keluar dari kamar mereka.
Jadi Maya dan Sarah sudah berbaikan? Apa benar yang di ucapkan Maya tadi. Selama ini aku perhatikan Maya selalu menghindar setiap kali ada Sarah. Aldo bermonolog.
***
Malam harinya setelah selesai makan malam, Maya bersiap untuk tidur. Wanita itu sudah tidak lagi berharap sentuhan dari suaminya lagi. Sabar dan berdoa. Dia kembali ingat kata-kata sahabatnya Sarah, tadi saat mereka berbincang di pos ronda.
Setelah merapikan bantal dan sprey, Maya lansung naik ke atas tempat tidur. Dia sengaja tidur di tengah karena biasanya suaminya akan tidur di sofa yang sengaja mereka simpan di dalam kamar supaya orang rumah tidak tahu kalau sebenarnya mereka berdua tidak tidur dalam satu ranjang yang sama.
"Bisa geser sedikit?" tanya Aldo pada Maya membuat istrinya itu kaget.
Maya langsung membalik badannya menghadap ke arah suaminya yang sudah berdiri di sisi tempat tidur.
"Hhmm, maaf, mas tadi bilang apa?" tanya Maya yang merasa tidak yakin dengan pendengarannya sendiri. Namun wanita itu merasa jantungnya mulai berdetak kencang. Wajahnya menghangat.
"Ehhmm, kamu. Kamu tidurnya geser sedikit. Mas capek tidur di sofa terus," jelas Aldo datar.
Raut wajah Maya langsung berubah muram. Jadi mas Aldo mau tidur satu ranjang denganku karena capek tidur di sofa terus. Ah, Maya. Kamu benar-benar harus menyingkirkan harapanmu yang terlalu tinggi itu. Suamimu tidak akan pernah mau menyentuhmu. Kamu masih tidak lebih baik dari Sarah. Maya membatin.
tetap semangat up'nya
semangat thor...biar crazy up ya
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤