NovelToon NovelToon
Sepatu Lusuh

Sepatu Lusuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen
Popularitas:369
Nilai: 5
Nama Author: Heriawan

Dulu, sebelum jalan aspal mencapai Dusun Wanasetra, aku dan adikku harus bangun ketika langit masih gelap. Kami berjalan lebih dari tujuh kilometer menuju sekolah, melewati pematang sempit, kebun, lereng rawan longsor, dan sungai yang tidak memiliki jembatan tetap. Di kaki kami hanya ada sepatu bekas dari pasar loak. Sepatu itu terlalu sempit untukku, terlalu besar untuk Nira, dan selalu basah saat musim hujan.
Kami menjahit telapak yang terbuka dengan benang karung, menambalnya memakai potongan ban, lalu memakainya kembali pada pagi berikutnya. Di sekolah, sepatu lusuh itu menjadi bahan ejekan. Di rumah, sepatu yang sama menjadi bukti bahwa Ayah dan Ibu masih berusaha menjaga kami tetap belajar. Ketika panen gagal, Ibu sakit, dan Ayah menerima pekerjaan berbahaya di tempat pemecahan batu, perjalanan menuju sekolah berubah menjadi perjuangan mempertahankan keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KOTAK DI BAWAH MEJA GURU

Aku kembali ke SD Negeri Wanasetra pada suatu pagi yang cerah, hampir dua puluh empat tahun setelah terakhir kali duduk sebagai murid di sana. Jalan menuju sekolah sudah berubah. Dulu, kami harus melewati tanah merah yang licin dan batu-batu tajam. Kini, mobil dapat berhenti tepat di depan gerbang. Ada pagar besi, taman kecil, dan papan nama baru yang hurufnya berkilau ketika terkena matahari.

Aku berdiri beberapa saat di depan gerbang. Anak-anak berlari melewatiku dengan sepatu bersih dan tas berwarna-warni. Beberapa diantar oleh orang tua menggunakan sepeda motor. Seorang anak mengeluh karena ujung sepatunya terkena debu. Ibunya segera mengusapnya dengan saputangan. Pemandangan kecil itu membuatku tersenyum, tetapi juga meninggalkan rasa berat yang sulit dijelaskan.

"Kak Langga!"

Suara Nira terdengar dari teras kelas. Ia melambaikan tangan sambil berjalan cepat ke arahku. Rambutnya kini dipotong sebahu. Kacamata tipis bertengger di hidungnya. Sulit bagiku menyatukan sosok guru yang berdiri di depan murid-murid itu dengan anak kecil yang dulu selalu berjalan dua langkah di belakangku.

"Kau terlambat," katanya.

"Jalannya terlalu bagus. Aku sampai tidak mengenalinya."

Nira tertawa kecil. "Dulu kita berdoa supaya jalan ini dibangun. Sekarang Kakak malah menyalahkannya."

Hari itu sekolah mengadakan pameran kecil tentang sejarah Dusun Wanasetra dan perjuangan anak-anak mendapatkan pendidikan. Nira, yang telah mengajar di sana selama enam tahun, memintaku datang sebagai salah satu narasumber. Aku sebenarnya tidak suka berdiri di depan banyak orang. Namun, ia mengatakan murid-murid perlu mendengar kisah lama langsung dari seseorang yang mengalaminya.

Sebelum acara dimulai, Nira mengajakku masuk ke ruang kelas lama kami. Dindingnya telah dicat warna krem. Jendelanya lebih lebar dan lantainya sudah memakai keramik. Hanya papan tulis kayu di sudut ruangan yang masih tampak sama. Pada permukaannya terdapat goresan kapur yang tidak pernah benar-benar hilang.

"Meja guru ini mau diganti," kata Nira. "Kemarin aku membantu Pak Wiraga memindahkan barang. Lalu kami menemukan sesuatu."

Ia berjongkok di samping meja guru yang tua. Dari bawahnya, Nira menarik sebuah kotak kardus. Warnanya telah berubah menjadi cokelat pucat. Beberapa bagian sudutnya dimakan lembap. Pada tutupnya masih terlihat tulisan yang dibuat dengan spidol hitam, meski sebagian huruf sudah luntur.

LANGGA DAN NIRA.

Aku tidak langsung menyentuhnya.

Tulisan itu membawa kembali suara yang lama tidak kudengar: bunyi hujan di atas atap seng, suara Ibu meniup lampu minyak, dan napas Nira ketika berusaha mengimbangi langkahku. Aku mengira semua benda dari masa itu sudah hilang. Rumah lama kami telah diperbaiki. Banyak pakaian dibuang. Buku-buku sekolah rusak dimakan rayap. Namun, kotak ini ternyata bertahan di bawah meja guru, seolah menunggu kami pulang.

"Buka," kata Nira pelan.

Aku duduk di kursi murid. Tanganku terasa kaku saat mengangkat tutup kardus. Bau kertas tua dan tanah kering keluar dari dalamnya. Di atas beberapa buku tulis yang menguning, terbaring sepasang sepatu kecil.

Sepatu itu tidak lagi memiliki warna yang jelas. Kulitnya mengelupas. Bagian depan penuh retakan. Telapaknya ditambal potongan ban hitam dan dijahit dengan benang kasar. Tali sepatu kanan berwarna putih kusam, sedangkan tali kiri berwarna merah pudar. Salah satu sisinya masih memiliki noda lumpur yang mengeras seperti batu tipis.

Aku mengenal setiap luka pada sepatu itu. Ingatanku bahkan masih menyimpan beratnya ketika basah dan bunyi aneh yang muncul setiap kali telapaknya mulai terlepas. Dahulu aku sering malu membawanya ke sekolah. Kini, di ruang kelas yang sepi itu, aku justru takut benda itu hancur sebelum sempat menceritakan apa pun.

Jahitan miring di dekat tumit adalah jahitanku yang pertama. Tambalan bundar di bagian telapak dibuat Ayah pada malam sebelum ujian. Tali merah berasal dari Mbah Wreda. Noda kecil berwarna kecokelatan di sisi dalam pernah kukira karat, sampai bertahun-tahun kemudian aku sadar itu adalah bekas darah dari kaki Nira.

"Masih kecil sekali," kataku.

"Kakak selalu bilang kakiku besar."

"Karena kau sering menginjak kakiku saat menyeberang sungai."

Nira tidak membalas. Dari aula terdengar beberapa murid memanggilnya Bu Nira. Ia menoleh sebentar, lalu tersenyum kepadaku. Dahulu ia paling takut berbicara dengan orang asing. Sekarang ia berdiri setiap hari di depan kelas, membimbing anak-anak membaca seperti Bu Satya pernah membimbingnya.

Ia duduk di kursi sebelahku dan menatap sepatu itu lama. Matanya tampak basah, tetapi ia tidak menangis. Kami berdua sudah terlalu sering menangisi masa lalu. Kini, kesedihan datang dengan cara lain: diam yang panjang, napas yang berat, atau tangan yang ragu menyentuh benda lama.

Aku mengangkat sepatu kiri. Kulitnya rapuh. Jika kutekan terlalu kuat, mungkin bagian depannya akan patah. Aneh sekali, pikirku. Benda sekecil ini pernah menanggung perjalanan ribuan kilometer. Ia melewati tujuh tikungan, tiga lereng, dua kebun, satu sungai, dan banyak hari ketika kami ingin menyerah.

Dari luar kelas terdengar suara bel. Murid-murid mulai berkumpul di aula. Mereka tertawa, saling memanggil, dan menyeret kursi tanpa rasa takut akan hujan atau sungai yang tiba-tiba naik. Aku menatap kaki mereka. Hampir semua memakai sepatu dengan ukuran yang tepat. Tidak ada yang mengganjal ujung sepatu dengan kain. Tidak ada yang mengikat telapak menggunakan kawat.

"Mereka tidak akan mengerti hanya dengan melihatnya," kataku.

"Itulah sebabnya Kakak harus bercerita."

Aku menggeleng. "Cerita kita terlalu panjang."

"Biarkan panjang. Mereka punya waktu."

Aku memandang jendela. Dari sana, jalan aspal tampak memanjang sampai ke arah Dusun Wanasetra. Jalan itu dulu hanya ada dalam ucapan Ayah. Ia selalu berkata suatu hari akan ada jalan yang bisa dilalui kendaraan. Kami mengangguk karena ingin mempercayainya, walau saat itu bahkan jembatan sederhana pun belum ada.

Nira mengambil sepatu kanan dan membersihkan debu di permukaannya dengan ujung lengan. Gerakannya hati-hati, seperti sedang menyentuh sesuatu yang hidup.

"Kak," katanya, "anak-anak sekarang sering mengira sekolah selalu sedekat ini. Mereka tidak tahu bahwa dulu ada anak yang harus bangun ketika langit masih gelap. Mereka juga tidak tahu ada orang-orang yang tidak sempat melihat jalan ini selesai."

Nama Ayah tidak disebut, tetapi aku mendengarnya di dalam kalimat itu.

Aku menutup mata sesaat. Bau tanah basah kembali memenuhi hidungku. Ruang kelas yang baru dicat menghilang. Aku melihat dinding bambu rumah kami, lampu minyak yang bergoyang, dan Nira kecil yang duduk sambil menguap. Aku melihat Ayah meletakkan dua pasang sepatu bekas di lantai. Aku mendengar Ibu berkata agar kami menjaga sepatu itu baik-baik karena tidak akan ada uang untuk membeli pengganti.

Ketika membuka mata, Nira masih menatapku.

Ia meletakkan sepatu lusuh itu di atas meja guru, lalu berbisik, "Kak, ceritakan kepada mereka bagaimana sepatu ini membawa kita sampai ke sini."

1
Riska Noor
bagus ceritanya, realita di pelosok daerah tertentu..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!