NovelToon NovelToon
Sinyal Terakhir

Sinyal Terakhir

Status: tamat
Genre:Sci-Fi / Dunia Masa Depan / Fantasi / Tamat
Popularitas:262
Nilai: 5
Nama Author: Mirage Ink

SINYAL TERAKHIR

Sinopsis

Tahun 2487.

Persemakmuran Persatuan Manusia (PPM) telah berkembang menjadi peradaban antarbintang yang menguasai ratusan sistem bintang. Dengan bantuan jaringan gerbang antarbintang dan kecerdasan buatan AURA, manusia berhasil membangun koloni di berbagai penjuru galaksi. Meski teknologi berkembang pesat, satu pertanyaan besar belum pernah terjawab: apakah manusia benar-benar sendirian di alam semesta?

Semuanya berubah ketika jaringan observatorium PPM menangkap sebuah sinyal misterius dari Galaksi Asterion, sebuah galaksi yang tidak pernah tercatat dalam jalur eksplorasi resmi. Sinyal itu memiliki pola yang tidak mungkin dihasilkan oleh fenomena alam dan terus berubah seolah merespons sesuatu.

Untuk menyelidikinya, Dewan PPM membentuk ekspedisi rahasia menggunakan kapal eksplorasi tercanggih, ESS Horizon. Misi tersebut dipimpin oleh Kapten Idris, didampingi Wakil Kapten Kael, bersama sepuluh anggota lain yang dipilih langsung dari berbagai bidang keahlian

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirage Ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 – Pesan dari Armada

Suara pria itu menggema di seluruh Pos Observasi Tujuh.

"Kami tidak datang untuk berperang."

"Kami hanya menjalankan tugas."

Semua orang di ruang kendali memandang layar utama.

Sosok yang melayang di ruang hampa itu tetap diam.

Tangannya masih terangkat ke arah Pos Observasi.

Kapten Idris melangkah ke panel komunikasi.

"Siapa kau?"

Pria itu tidak langsung menjawab.

Beberapa detik kemudian ia berkata dengan tenang.

"Aku Kapten Victor Hale."

Ruangan mendadak sunyi.

Sofia langsung menoleh ke arah Adrian.

Adrian mengangguk pelan.

"Itu nama kapten ekspedisi pertama."

---

Di ESS Horizon, Leo segera membuka arsip ekspedisi lama.

Puluhan data muncul di layar.

Rina memperbesar salah satunya.

Foto seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun muncul.

Rambut hitam pendek.

Tatapan tajam.

Di bawah fotonya tertulis.

Nama: Victor Hale.

Jabatan: Kapten ESV Pioneer.

Status: Hilang.

Tanggal keberangkatan: 2189.

Leo membandingkan foto itu dengan gambar dari kamera luar.

Wajahnya sama.

Tidak ada perubahan sedikit pun.

"Mustahil..."

gumam Leo.

"Usianya tidak berubah."

---

Mira ikut memperhatikan dari ruang medis.

"Kalau dia manusia..."

"...seharusnya sekarang sudah meninggal lebih dari seabad yang lalu."

Darius menggeleng.

"Atau setidaknya sudah sangat tua."

Tidak ada yang mampu menjelaskan.

---

Kapten Idris kembali berbicara.

"Kalau kau benar Victor Hale..."

"...buktikan."

Victor mengangguk pelan.

"Dalam ekspedisi pertama..."

"...kami membawa tiga puluh dua awak."

"Kami berangkat menggunakan ESV Pioneer."

"Komandan operasi saat itu adalah Elias Voss."

Sofia memejamkan mata.

"Semuanya benar."

Victor melanjutkan.

"Kami memasuki Galaksi Asterion dua belas hari setelah keberangkatan."

"Kemudian kami menerima sinyal."

Kael memperhatikan setiap kata.

"Kemudian apa yang terjadi?"

Victor tidak langsung menjawab.

Tatapannya justru beralih ke arah Pos Observasi.

"Kami menjalankan perintah terakhir Elias."

---

Reza masih belum menurunkan kewaspadaannya.

"Kalau kau benar-benar Victor..."

"...kenapa berada bersama dua puluh dua kapal lainnya?"

Victor menjawab singkat.

"Karena kami menunggu."

"Menunggu apa?"

"Navigator."

Semua mata kembali tertuju kepada Kapten Idris.

Idris sendiri tampak tidak nyaman.

"Aku bahkan baru mengetahui nama Elias hari ini."

Victor tersenyum tipis.

"Itulah yang Elias inginkan."

"Maksudmu?"

"Warisan itu sengaja disembunyikan."

---

Di ruang bawah tanah, kapal hitam misterius masih memancarkan cahaya lembut.

Pilar kristal kembali aktif.

Suara sistem terdengar melalui pengeras suara.

"Navigator telah teridentifikasi."

"Status misi..."

"...belum dimulai."

Kael menoleh.

"Sistem kapal juga menyebut Idris sebagai Navigator."

Lyra mengangguk.

"Berarti Victor tidak sedang mengarang cerita."

---

Adrian menyela pembicaraan.

"Victor."

Pria itu menoleh.

"Kalau kau memang menjalankan tugas..."

"...kenapa tidak menghubungi kami sejak awal?"

Victor menghela napas.

"Kami tidak bisa."

"Kenapa?"

"Karena kami terjebak."

"Di mana?"

Victor memandang ke arah gugusan bintang.

"Di antara ruang."

Ruangan kembali sunyi.

Kael mengernyit.

"Apa maksudnya 'di antara ruang'?"

Victor menggeleng.

"Itu terlalu panjang untuk dijelaskan sekarang."

---

Di ESS Horizon, Owen tiba-tiba mengangkat suara.

"Kapten!"

"Ada apa?"

"Armada mulai bergerak."

Niko segera memperbesar tampilan radar.

Dua puluh tiga kapal perlahan berubah posisi.

Namun mereka bukan mendekati Pos Observasi.

Mereka justru membentuk lingkaran yang lebih besar.

Hana memperhatikan pola tersebut.

"Mereka sedang membuat formasi."

"Formasi tempur?"

"Bukan."

"Kalau dibandingkan dengan simbol pada sinyal..."

"...masih ada satu bagian yang kosong."

Semua memperhatikan layar.

Memang benar.

Lingkaran itu belum sempurna.

Ada satu titik yang belum terisi.

---

Pilar kristal tiba-tiba memproyeksikan simbol yang sama.

Lalu sebuah titik cahaya muncul.

Tepat di bagian yang kosong.

AURA langsung membandingkan kedua gambar.

"Hasil analisis."

"Titik yang kosong..."

"...berada di posisi ESS Horizon."

Ruangan menjadi hening.

Darius mengerutkan dahi.

"Jadi mereka menginginkan kapal kita?"

Victor menjawab dengan tenang.

"Bukan kapal kalian."

"Lalu?"

"Navigator harus berada di titik terakhir."

Kapten Idris menatap layar.

"Kalau aku menolak?"

Untuk pertama kalinya ekspresi Victor berubah serius.

"Kalau kau menolak..."

"...formasi itu tidak akan pernah selesai."

"Kalau tidak selesai?"

Victor menarik napas panjang.

"Penghalang pertama akan runtuh."

Sofia langsung memandang Adrian.

"Waktu kita tinggal sedikit."

---

Belum sempat ada keputusan...

seluruh Pos Observasi Tujuh kembali bergetar.

Tidak sekuat sebelumnya.

Namun cukup membuat lampu berkedip.

AURA segera memberikan laporan.

"Terjadi gangguan gravitasi."

"Lokasi?"

"Di luar struktur."

Niko memperbesar kamera jarak jauh.

Semua orang membeku.

Ruang kosong di belakang armada mulai melengkung.

Awalnya hanya seperti riak kecil.

Namun dalam hitungan detik, riak itu berubah menjadi celah besar berwarna hitam.

Tidak ada cahaya di dalamnya.

Tidak ada bintang.

Seolah-olah sebagian ruang angkasa telah menghilang.

Victor Hale menatap celah itu tanpa berkedip.

Wajahnya yang selama ini tenang mulai terlihat tegang.

Ia berbicara dengan suara pelan.

"Mereka sudah menemukannya."

Kael langsung bertanya.

"Siapa yang kau maksud?"

Victor tidak menjawab.

Matanya tetap tertuju pada celah hitam yang semakin membesar.

Lalu ia mengucapkan satu kalimat yang membuat seluruh kru merasakan firasat buruk.

"Kalau sesuatu keluar dari sana..."

"...dua puluh tiga ekspedisi yang hilang tidak lagi menjadi masalah terbesar umat manusia."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!