Sejak istrinya memilih pergi demi pria lain, hidup Ages Sabiru hanya memiliki satu tujuan yaitu membesarkan putra semata wayangnya, Kalandra Sabiru. Dengan kasih sayang yang tak pernah berkurang, Ages berusaha menjadi ayah sekaligus tempat pulang terbaik bagi anaknya.
Tahun demi tahun berlalu. Kalandra tumbuh menjadi remaja yang ceria, sementara Ages menjelma menjadi sosok ayah yang selalu mengutamakan putranya di atas segalanya. Di balik candaan, sarapan sederhana, dan perjalanan pulang bersama, tersimpan ikatan yang tak tergantikan.
Namun, ketika masa lalu yang telah lama mereka tinggalkan kembali muncul, hubungan ayah dan anak itu akan diuji. Mampukah cinta dan kepercayaan yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun bertahan menghadapi kenyataan yang selama ini disembunyikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R²_Chair, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih ada kami,keluarga....
Malam semakin larut.Lorong rumah sakit mulai lengang.Suara langkah kaki perawat yang sesekali melintas menjadi satu-satunya suara yang terdengar.
Ages menarik napas panjang sebelum membuka pintu kamar rawat Kalandra.Perlahan ia masuk dan melihat lampu kamar yang sengaja diredupkan.
Kalandra masih terjaga.Remaja itu sedang menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang entah melayang ke mana.Mendengar pintu dibuka, ia menoleh.
"Pap..."
Ages tersenyum tipis. "Belum tidur?"
"Belum ngantuk."
Ages mengangguk pelan lalu menarik kursi hingga berada tepat di samping ranjang.Beberapa saat, keduanya hanya diam.Ages memandang wajah putranya yang masih dipenuhi bekas luka.
Di wajah itu, ia masih melihat anak kecil yang dulu selalu berlari menyambutnya sepulang kerja.
Anak yang akan memeluknya sambil berkata, "Papa udah pulang..."
Kenangan itu membuat dadanya kembali sesak. "Dek."
"Iya?"
"Papa baru saja bertemu Nadira dan ayahnya."
Mata Kalandra langsung bergerak menatap Ages. "Papa sudah tahu?"
Ages mengangguk."Perawat cerita terus Papa memastikan lewat rekaman CCTV di lorong."
Kalandra menundukkan kepala. "Maaf..."
Ages langsung menggeleng."Yang harus minta maaf itu Papa bukan kamu."
Ruangan kembali sunyi.Ages menggenggam pelan tangan kanan putranya."Kala...Papa mau kamu dengar baik-baik."
Kalandra mengangguk pelan.
"Papa tidak pernah punya niat menikah lagi."
Kalandra terdiam.
"Sejak Mama mu meninggalkan kita berdua..."
Ages menghela napas panjang. "Papa menutup hati.Bukan karena semua perempuan itu buruk.Tapi karena setelah kejadian sakit itu...seluruh hidup Papa hanya berputar di sekeliling kamu."
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Ages."Waktu kamu pertama kali belajar jalan...Papa ada."
"Waktu kamu masuk sekolah...Papa ada."
"Waktu kamu menang lomba karate...Papa yang paling bangga."
"Waktu kamu mulai main basket...Papa juga yang paling keras tepuk tangan."
Senyum tipis muncul di wajah Kalandra. "Papa masih ingat semuanya?"
Ages tertawa pelan di sela air matanya."Mana mungkin lupa.Kamu adalah bagian terbesar dalam hidup Papa."
Ia menatap mata putranya dengan penuh keyakinan. "Tidak ada satu hari pun Papa bangun tanpa memikirkan kamu.Dan kecelakaan ini..."
Suara Ages mulai bergetar. "...membuat Papa sadar kalau beberapa minggu terakhir Papa terlalu sibuk.Dan itu adalah kesalahan terbesar dalam hidup Papa."
Kalandra menggenggam balik tangan ayahnya. "Pap..."
"Tapi jangan pernah berpikir Papa ingin menggantikan posisi kamu.Tidak akan pernah.!"
Ages menatap dalam mata Kalandra. "Papa juga tidak pernah menganggap kamu beban."
Mata Kalandra mulai berkaca-kaca.
"Kalau bukan karena kamu...mungkin Papa sudah menyerah sejak lama.Kamu alasan papa bertahan dan terus hidup."
Ages tersenyum hangat."Kalau suatu hari nanti rambut Papa sudah memutih semua...Papa tetap ingin mendengar kamu manggil 'Pap'."
"Kalau nanti kamu sudah kuliah Papa yang akan nganter.Kalau nanti kamu bekerja Papa pasti yang paling bangga.Dan kalau nanti suatu saat kamu menikah Papa ingin menjadi orang pertama yang menggenggam tanganmu sebelum menyerahkannya kepada keluarga kecilmu."
Suara Ages semakin lirih."Itu semua impian Papa...bukan menikah lagi untuk membangun keluarga baru.Impian Papa itu melihat anak Papa tumbuh menjadi laki-laki yang baik."
Air mata Kalandra akhirnya jatuh."Terus... Nadira?"
Ages menggeleng mantap."Dia bukan siapa-siapa Papa.Kami baru kenal dan bekerja sama di perusahaan.Tapi Papa sudah bicara dengan mereka, meminta mereka untuk tidak datang lagi menemui kamu."
Kalandra menatap wajah ayahnya cukup lama.Seolah memastikan bahwa semua yang didengarnya benar. "Pap..."
"Iya?"
"Kalau suatu hari Papa berubah pikiran?"
Ages tersenyum kecil.Ia mengusap pelan rambut putranya."Hati manusia memang bisa berubah.Tapi satu hal yang tidak akan pernah berubah adalah Papa akan selalu menjadi ayahmu."Dan kamu akan selalu menjadi anak yang paling Papa sayangi."
"Tidak ada yang bisa mengambil tempat itu.Kamu mengerti?"
Kalandra mengangguk pelan perlahan beban yang memenuhi dadanya perlahan terasa lebih ringan.Ia mengangkat tangan kanannya yang masih lemah. "Pap..."
Ages langsung menggenggamnya.Tanpa berkata apa-apa lagi, Kalandra menarik tangan itu mendekat.Ages memahami maksud putranya.Ia bangkit dari kursinya lalu memeluk Kalandra dengan sangat hati-hati agar tidak mengenai bagian tubuh yang masih terluka.
Pelukan itu berlangsung cukup lama.Tidak ada kata-kata.Hanya isak tangis pelan dari seorang ayah dan anak yang sama-sama sedang menyembuhkan luka mereka.
"Selama aku masih diberi napas, tidak akan kubiarkan siapa pun membuatmu merasa sendirian lagi, Nak."
Kalandra kembali merasa bahwa tempat paling aman di dunia adalah pelukan ayahnya.
.
.
.
Pagi menjelang, suasana kamar rawat terasa jauh lebih hangat.Pintu kamar terbuka perlahan.
"Assalamualaikum."
Sean muncul lebih dulu sambil membawa kantong berisi sarapan.Di belakangnya, Arsen berjalan dengan beberapa tas berisi pakaian bersih milik Ages.
Sedangkan Tamara datang paling akhir sambil membawa termos berisi sup hangat buatan rumah.
"Wah..." Sean tersenyum lebar. "Pasien premium udah bangun nih."
Kalandra langsung tersenyum. "Pasien tampan kesayangan perawat.."
"Ternyata sakit gak bikin tingkat kepedean lo menurun." Sean mendekat lalu mengusap pelan rambut adiknya. "Gimana hari ini,dek?"
"Udah lumayan."
Sean mengangguk."Syukur deh.Kita masih punya banyak pertandingan basket buat ditonton bareng."
Kalandra tertawa kecil. "Bang,lo mah basket terus."
"Lah, emang salah?"
Ages dan Arsen hanya geleng kepala melihatnya.
Tamara berjalan mendekati ranjang.Tanpa banyak bicara, ia membuka termos lalu menuangkan sup hangat ke dalam mangkuk kecil.
"Dokter bilang kamu sudah boleh makan makanan hangat.Kebetulan mami masak sup kesukaanmu."
Aroma sup memenuhi ruangan.Kalandra langsung tersenyum."Baunya enak banget Tan."
"Ya pasti dong."
Tamara mengaduk perlahan agar tidak terlalu panas.
"Kalau enggak enak nanti bang Sean yang habisin kan Tan"
"Eh, kok gue?" Sean langsung protes hingga membuat semua kembali tertawa.
Dengan penuh kesabaran, Tamara menyuapi Kalandra sedikit demi sedikit. "Pelan-pelan,dek.Masih panas."
"Iya." Kalandra menurut tanpa mengeluh.
Sesekali Tamara menyeka sudut bibirnya menggunakan tisu, persis seperti seorang ibu kepada anaknya.
Ages yang sejak tadi berdiri di dekat jendela memandangi pemandangan itu dengan mata berkaca-kaca.
Ia sadar sejak mantan istrinya pergi bertahun-tahun lalu,Tamara adalah orang yang selalu mengisi kekosongan itu.Menghadirkan kasih sayang yang tulus kepada Kalandra.
Setelah selesai makan, Tamara merapikan selimut Kalandra. "Kalau ada yang sakit, bilang ya dek."
"Iya."
"Jangan sok kuat!."
Kalandra tersenyum kecil. "Iya,Mami."
Ucapan itu membuat Tamara terdiam. "Kamu manggil apa?"
Kalandra tersenyum malu."Mami."
Air mata Tamara langsung menggenang.Ia mengusap pipi Kalandra dengan lembut. "Terima kasih itu yang selama ini mami tunggu." Suaranya bergetar.
"Kamu enggak akan pernah kurang kasih sayang, dek.Karena kamu punya banyak orang yang sayang sama kamu."
Kalandra mengangguk pelan."Aku tahu.Dan aku enggak butuh ibu yang lain karena aku udah punya Mami."
Semua yang ada di ruangan langsung terdiam.
"Buat aku...Mami adalah mami aku.Ada Papa,Papi,Kakek dan abang di hidupku."
Tatapan Kalandra penuh kehangatan
Tangis Tamara pecah.Ia memeluk Kalandra dengan sangat hati-hati agar tidak mengenai bagian tubuh yang masih terluka. "Terima kasih, dek.Terima kasih..."
Arsen yang berdiri di samping Ages menepuk bahu adiknya. "Dengar sendiri, kan?"
Ages mengangguk pelan.
"Lo enggak pernah sendirian.Begitu juga Kala." lanjut Arsen
"Kita semua keluarga."
Ages menundukkan kepala. "Iya."
Arsen tersenyum tipis. "Jadi berhenti berpikir lo harus memikul semuanya sendirian.Selama ini lo kerja sampai lupa istirahat.Lupa makan,bahkan hampir lupa sama anak sendiri."
Ages memejamkan mata."Gue tahu."
Tamara menoleh ke arah Ages. "Ges."
Ages mengangkat kepalanya.
"Kamu tidak membutuhkan seseorang untuk melengkapi hidupmu.Kamu sudah punya keluarga.Dan keluarga ini akan selalu berdiri di belakangmu."
"Aku memang kakak iparmu.Tapi sejak kamu di tinggalkan wanita itu...Aku menganggapmu seperti adik kandungku sendiri.Kalau kamu salah, aku akan menegur.Kalau kamu lelah, aku akan mengingatkan.Kalau kamu jatuh, aku akan membantumu berdiri."
Tamara tersenyum hangat. "Itulah tugas keluarga."
Ages tidak mampu berkata apa-apa lagi.Ia hanya mengangguk sambil mengusap air matanya.
Ruangan kembali dipenuhi tawa ketika Sean mulai menggoda Kalandra. "Eh, nanti kalau udah sembuh...gue bakal siap jadi asisten lo."
"Asisten paan?"
"Asisten buat bawain coklat atau cake dari barisan para pengagum lo."
Kalandra mendengus pelan. "Emang kampret lo!"
Sean hanya tertawa mendengarnya.
Raka dan Jevan yang baru datang dari luar langsung ikut menimpali.
"Wah, kalau gitu gue juga siap jadi asisten lo." Sela Raka
"Setuju."
Semua tertawa mendengarnya,sedangkan Kala hanya menepuk keningnya.
Melihat senyum yang kembali menghiasi wajah Kalandra, Ages menarik napas panjang.
Baru kali ini ia benar-benar mengerti.Keluarga bukan hanya tentang siapa yang melahirkan.Bukan pula tentang siapa yang memiliki hubungan darah.Keluarga adalah mereka yang tetap tinggal saat hidup sedang berada di titik paling sulit.
Dan Ages bersyukur.Di saat ia hampir kehilangan arah, ia masih memiliki rumah yang bernama keluarga.
.......
.......
.......
...♡Sabiru♡...
🦋 Jangan lupa tinggalkan jejak readersku..🦋