Hito diperlakukan secara tidak adil oleh keluarga istrinya. Segala hal buruk ia dapatkan, tetapi pria itu tetap setia demi cintanya.
Namun, seiring berjalannya waktu. Hito semakin tidak dianggap. Secara terang-terangan sang istri berselingkuh dengan pria lain.
Hito direndahkan, dan dianggap pria sampah yang hanya menumpang. Namun, mereka semua tidak menyadari jika Hito, adalah seorang penguasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miracle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sudah Sombong
"Bagaimana hasilnya? Kamu mendapat pekerjaan tidak?" tanya Wito kepada putrinya.
Xavera tersenyum, "Aku ingin memberi kabar setelah Hito pulang."
"Artinya Papa harus menunggu Hito pulang, dong."
Xavera tertawa kecil, "Besok aku mulai bekerja. Aku diterima dibagian keuangan sesuai dengan bidangku."
Wito bernapas lega, "Syukurlah. Setidaknya akan ada pemasukan dalam keluarga kita, dan ada biaya untuk pengobatan ibumu."
Wito menundukkan kepala, merasa ia telah gagal menjadi seorang kepala keluarga yang bisa membahagiakan anak serta istrinya.
"Papa tidak perlu memikirkan apa-apa lagi. Perusahaan itu sangat besar, dan pasti gajinya akan besar pula. Semoga dengan ini kita bisa melunasi hutang-hutang kita yang ada di negara C," ucap Xavera.
Wito mengangguk, "Iya."
"Aku pulang!" seru Hilman.
Xavera mengernyit melihat kakak iparnya yang baru saja datang dengan wajar sumringah. Pria itu tampak bahagia, seperti memenangkan sebuah jackpot undian berhadiah.
"Kakak dari mencari pekerjaan?" tanya Xava yang melihat penampilan Hilman memakai setelan jas.
Hilman mendaratkan tubuhnya di sofa single. Ia bersandar dengan tangan melepas dasi dari kerah bajunya. Sang istri Zaya menghampiri suaminya dengan membantu melepaskan jas.
"Bagaimana?" tanya Zaya.
"Ambilkan aku air dingin dulu. Haus ini," kata Hilman.
Zaya bergegas meninggalkan suami, adik serta papanya menuju dapur untuk membuat minuman. Sebagai putri tertua, Zaya tidak bekerja sebab ia harus membantu merawat ibunya yang sakit.
"Kamu tampak senang, Hilman," tegur Wito.
Pria itu tersenyum, "Tentu, Pa. Hari ini aku diterima bekerja. Tidak sangka mereka menerimaku sebagai karyawan dibidang pemasaran. Aku harap nanti bisa diangkat menjadi manajer pemasaran."
"Wah! Selamat, Kak. Aku juga diterima," kata Xava.
Hilman mengerutkan dahi. "Bagian apa?"
"Keuangan. Hanya sebatas anak buah saja," jawab Xava.
"Baguslah," kata Hilman.
Zaya datang dengan membawa minuman dingin untuk suami serta cemilan untuk ayah, dan adiknya.
"Bagaimana, Sayang?" tanya Zaya.
"Baru pertama melamar kerja sudah diterima. Aku benar-benar beruntung," kata Hilman.
Zaya langsung memeluk suaminya karena bahagia. "Apa mereka tidak tahu kamu telah berada di daftar hitam? Mereka pasti menyelidiki riwayat pekerjaanmu dulu."
Hilman baru tersadar dengan apa yang diucapkan oleh Zaya. Begitu juga halnya dengam Xavera serta Wito.
"Aku juga tidak tahu. Sudahlah, yang penting aku diterima kerja," ucap Hilman.
Mereka tidak tahu saja jika dibalik semua itu, ada Hito yang merencanakan semuanya. Pria itu yang menghapus daftar hitam Hilman agar bisa diterima di perusahaan, serta menerima Xavera yang melamar di perusahaannya sendiri.
...****************...
"Suamimu belum pulang juga?" tanya Zaya.
"Belum. Kalian makan malam saja duluan. Biar nanti aku makan belakangan," kata Xava.
"Ya, sudah. Kamu tunggu saja suamimu di luar rumah." Zaya masuk ke dalam rumah meninggalkan Xavera yang menunggu Hito pulang.
"Sayang!" seru Wito.
"Papa, kenapa ada di sini?" tanya Xava.
"Sepertinya Papa sangat menyukai suamimu. Dia seperti pria yang bertanggung jawab."
Xava terkesiap, "Benarkah?!"
"Awalnya kesal karena kamu tidak jadi menikah dengan Koh Alee. Papa begitu karena memikirkan hutang serta balas budi, tetapi suamimu mampu membebaskan kita dari sana. Papa jadi kagum padanya."
Orangtua mana yang mau menyerahkan putrinya pada pria bandot tua yang memiliki istri lebih dari satu. Wito selalu memperhatikan menantu barunya itu.
Hito pria bertanggung jawab. Segala sindiran yang dialamatkan padanya, sama sekali tidak pria itu hiraukan, dan malah menganggapnya sebagai angin lalu.
"Xava sangat senang Papa sudah menerima Hito. Bagaimanapun kami perlu restu."
"Apa Hito tidak punya keluarga?" tanya Wito.
"Itu, aku akan menanyakannya," jawab Xavera.
Setahuku Hito hanya punya orangtua pria saja. Kenapa Hito belum memperkenalkan aku kepada orangtuanya? Aku malah main nikah saja.
...****************...
Lampu sein motor butut masuk ke dalam halaman rumah. Xavera tersenyum melihat kedatangan suaminya, dan langsung menghampiri Hito.
"Kamu sengaja menungguku?" kata Hito.
"Iya, aku tidak sabar menunggumu pulang," jawab Xava.
Hito bahagia diperlakukan Xava seperti ini. Saat pagi ada yang menyambutnya dengan senyum, dan pada saat pulang, juga ada yang menyambut dengan senyuman. Harta memang memberikan segala apa yang diinginkan, tetapi kebahagian itu didapat dari rasa mensyukuri apa yang didapat.
"Aku mau mandi. Rasanya gerah karena selalu berkutat dengan debu," kata Hito.
"Aku akan siapkan air hangat untukmu. Kita masuk dulu," ucap Xava.
Di dalam rumah kecil itu, hanya ada satu kamar mandi, dan satu toilet yang terpisah. Itu pun terletak dibagian dapur.
"Apa rumah ini tidak nyaman bagimu? Kamar mandinya kita gunakan bersama," kata Hito.
"Aku suka, kok. Yang penting kita bisa tidur dan tinggal tanpa kena panas serta hujan," jawab Xavera.
Hito mengusap puncak kepala istrinya. "Aku tidak salah memilih istri."
Wajah Xava merona malu. Sebenarnya saat mengenal Hito, wanita itu memang menyimpan rasa suka, tetapi saat itu Hito sudah memiliki seorang istri.
"Cepat mandi sana. Setelah itu kita makan malam."
"Iya, aku mandi dulu," kata Hito.
Selagi menunggu sang suami mandi, Xavera menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. Beberapa saat Hito keluar dengan rambutnya yang basah. Pria itu belum memakai pakaian hanya celana panjang saja.
"Pakai pakaianmu," kata Xavera.
"Tubuhku belum berbentuk, tetapi kamu jangan khawatir. Aku kuat, kok."
"Kamu bicara apa, sih? Cepat duduk dan makan." Xava mendorong suaminya agar segera duduk.
"Oh, ya, kamu ingin memberitahu aku apa?" tanya Hito.
"Aku diterima bekerja di perusahaan Astavi Corp. Bagian keuangan dan rasanya aku sangat bahagia sekali. Semoga saja aku dapat mengumpulkan uang agar bisa membayar hutang kami di negara asal," tutur Xava.
Aku lupa jika keluarga Xavera masih punya hutang yang lain. Aku harus membayarnya agar keluarga istriku tidak merasa susah lagi.
"Kamu baru pulang, Hito," tegur Hilman yang langsung mendaratkan tubuhnya di kursi.
"Kakak ipar sudah makan malam?" tanya Hito.
"Sudah, kamu makanlah. Aku hanya ingin mengambil air."
"Biar aku ambilkan, Kak." Xava beranjak dari duduknya, lalu mengambilkan air minum dingin untuk Hilman.
"Pekerjaanmu apa, sih, Hito?" tanya Hilman dengan senyum sinisnya.
"Hanya tukang bersih-bersih," jawab Hito.
"Berapa gaji tukang bersih-bersih? Oh, ya, aku sudah mendapatkan pekerjaan di sini. Ternyata sangat mudah aku mendapatkannya," kata Hilman.
"Wah! Selamat kalau begitu, Kak," kata Hito.
Hilman beralih pada Xavera. "Kamu tidak malu suamimu bekerja sebagai tukang bersih-bersih di kantor?"
"Kak Hilman! Kenapa bicara seperti itu, sih?"
"Oh, maaf. Kalian lanjutkan saja makannya." Hilman beranjak dari duduknya setelah menegak habis minuman yang Xava berikan.
Kamu tidak bisa mengalahkanku, Hito.
"Jangan ambil hati ucapan kak Hilman. Dia memang seperti itu," kata Xava.
Hito tersenyum, "Aku tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa dengan ucapan merendahkan seperti itu."
Lalat pengganggu itu! Baru saja mendapat pekerjaan sudah sombong. Coba saja dia bukan suami dari Zaya, sudah pasti aku akan menghancurkannya.
Bersambung.