NovelToon NovelToon
Langit Yang Menyimpan Janji

Langit Yang Menyimpan Janji

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Epik Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Dunia kultivasi terbagi menjadi banyak sekte dan keluarga besar. Orang-orang berlomba mencapai tingkat tertinggi demi keabadian.
Tapi protagonis kita?
Seorang pemuda biasa yang dianggap sampah oleh semua orang.
Dia nggak punya bakat kultivasi yang bagus. Bahkan keluarganya sendiri malu mengakuinya.
Sampai suatu hari, dia bertemu dengan seorang gadis dari sekte besar.
Cantik, dingin, berbakat, dan statusnya jauh di atasnya.
Awalnya mereka saling benci.
Lalu mulai saling peduli.
Lalu muncul masalah...
Si gadis ternyata sudah dijodohkan dengan seorang jenius dari sekte lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Xiao Hanzhou tak menjawab. Tatapannya tertuju jauh ke depan. Dari balik dinding kediaman Shen, samar-samar terdengar benturan pedang kayu yang konstan. Dia tahu betul siapa yang sedang berada di sana: Shen Yunche dan Gu Qingli.

"Pemuda itu..." gumam murid tersebut.

"Kenapa dengannya?" tanya Xiao Hanzhou tanpa menoleh.

"Shen Yunche. Beberapa hari ini dia terus-terusan berlatih bersama Nona Gu."

"Benarkah?"

"Ya. Sepertinya Nona Gu cukup sabar menghadapinya."

Xiao Hanzhou tersenyum tipis, meski tatapannya dingin. "Qingli memang selalu baik hati."

"Kalau aku jadi Nona Gu, aku tidak akan membuang waktu berharga untuk orang tak berguna seperti Shen Yunche."

Xiao Hanzhou menoleh perlahan. "Jaga bicaramu."

Murid itu langsung bungkam dan menunduk. Xiao Hanzhou berbalik hendak pergi, tetapi melangkah pelan saat menyimpulkan, "Mulai besok, aku sendiri yang akan mengajari Qingli berlatih."

Sore harinya, Yunche duduk di tepi sungai sambil memegang dua buah roti. Satu sudah dimakannya separuh, sedangkan yang utuh terus dipandanginya sembari melirik ke arah jalan setapak.

Tak lama kemudian, sosok Gu Qingli muncul. Yunche bergegas berdiri. "Kau datang!"

Gu Qingli mengangguk pelan. "Ada apa?"

Yunche menyodorkan roti yang masih utuh. "Ini untukmu."

"Apa ini?"

"Roti."

"Aku tahu ini roti. Untuk apa?"

"Tadi kau bilang belum makan siang, kan?" ujar Yunche santai.

Gu Qingli tertegun. "Kau ingat?"

"Ya."

"Kenapa dibelikan?"

"Sederhana saja—karena kau lapar."

Gu Qingli menatap roti di tangannya, lalu memandangnya pelan. "Terima kasih."

"Sama-sama!"

Mereka berdua duduk berdampingan di tepi sungai. Untuk beberapa saat, suasana begitu hening, hanya diiringi gemericik air sungai yang mengalir. Gu Qingli menikmati rotinya gigitan demi gigitan, sementara Yunche terus memperhatikannya.

"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Gu Qingli menghentikan kunyahannya.

Yunche menunjuk roti tersebut. "Enak?"

Gu Qingli sedikit menaikkan alisnya. "Ya, enak."

"Baguslah." Yunche kembali melemparkan pandangannya ke aliran sungai.

Gu Qingli terdiam. Entah mengapa, momen sederhana tanpa pertarungan, tanpa latihan keras, dan tanpa kehadiran orang lain ini terasa begitu menenangkan.

Namun, ketenangan itu mendadak buyar ketika sebuah suara tenang menginterupsi dari belakang.

"Qingli."

Keduanya menoleh. Xiao Hanzhou berjalan mendekat dengan langkah anggun.

Tatapannya langsung tertuju pada Yunche, lalu beralih pada roti di tangan Gu Qingli. Meski raut wajahnya tetap tenang, kilat matanya tak bisa dibohongi.

"Qingli," panggil Xiao Hanzhou lagi.

"Ya, Kakak Xiao?"

"Besok pagi, aku ingin mengajakmu berlatih bersama."

Gu Qingli terdiam sejenak. Yunche menatap mereka bergantian sebelum akhirnya bersuara santai, "Oh... dia mengajakmu latihan."

Gu Qingli menoleh pada Yunche. "Kenapa?"

"Ya tidak apa-apa," jawab Yunche seraya bangkit berdiri.

"Kau mau ke mana?" tanya Gu Qingli kaget.

Yunche menunjuk ke arah kediaman. "Pulang. Besok kan kau latihan bersamanya."

Gu Qingli mengerutkan kening. "Lalu?"

"Ya tidak apa-apa." Yunche mulai melangkah pergi.

"Shen Yunche!" panggil Gu Qingli tegas.

Yunche menghentikan langkah dan menoleh kembali. Gu Qingli menatapnya lurus.

"Besok..." Gadis itu menggantung kalimatnya sejenak. "...besok aku tetap akan berlatih denganmu lebih dulu."

Yunche tertegun. Xiao Hanzhou pun ikut terdiam, keterkejutan mengelus wajahnya.

Gu Qingli melanjutkan dengan nada datar, "Setelah selesai denganmu, baru aku akan berlatih dengan Kakak Xiao."

Bibir Yunche perlahan terkembang membentuk ukiran senyum. "Oh, baiklah kalau begitu!" Ucapnya ceria sebelum benar-benar berlalu.

Gu Qingli menatap punggung Yunche hingga menghilang di belokan jalan.

Xiao Hanzhou yang memperhatikan gerak-gerik itu akhirnya bersuara, "Qingli, kau tidak perlu memaksakan diri jika merasa tidak nyaman."

"Aku tidak memaksakan diri, Kakak Xiao."

"Kalau begitu..." Xiao Hanzhou menatap dingin ke arah perginya Yunche. "...kenapa kau masih ingin berlatih dengannya?"

Gu Qingli bungkam. Dia sendiri tak menemukan jawaban yang pasti. Awalnya, semua ini hanya berlandaskan rasa penasaran dan keinginan melihat sejauh mana pemuda itu bisa bertahan. Namun kini, dia ragu.

Mungkin... karena jika Yunche tidak muncul esok pagi, harinya akan terasa ada yang kurang.

Gu Qingli menggelengkan kepala cepat, menepis pikiran aneh itu. "Dia sudah terbiasa berlatih denganku, itu saja."

"Begitukah?" Xiao Hanzhou tersenyum, tetapi senyuman itu sama sekali tidak sampai ke matanya.

Malam harinya, Yunche duduk bersandar di atas atap rumahnya sambil menatap rembulan.

"Besok..." Dia menghela napas panjang.

Entah mengapa, benaknya terus terngiang percakapan di tepi sungai tadi sore. Gu Qingli, Xiao Hanzhou, dan sesi latihan mereka.

Yunche menggaruk kepalanya frustrasi. "Kenapa aku harus peduli?"

Dia mencoba mencari alasan logis, tetapi nihil. Gu Qingli bukanlah siapa-siapa baginya. Mereka hanya sepasang rekan yang kebetulan berlatih bersama setiap pagi. Tidak lebih.

"Benar," gumam Yunche menyakinkan dirinya sendiri. "Cuma teman latihan."

Dia bangkit dan melompat turun menuju kamarnya. Namun tepat sebelum menutup pintu rapat-rapat, Yunche mendongak menatap langit malam.

"Besok jangan lupa datang..." bisiknya pelan.

Dia sendiri tidak tahu, ucapan itu ditujukan untuk menasihati dirinya sendiri—atau untuk seseorang yang lain.

Keesokan paginya, Gu Qingli sudah tiba di halaman latihan seperti biasa. Dia menunggu. Lima menit, sepuluh menit, hingga lima belas menit berlalu, tetapi Yunche belum juga menampakkan batang hidungnya.

Gu Qingli mengerutkan kening. "Jangan-jangan dia membuat masalah lagi?"

Langkah kaki terdengar mendekat. Saat Gu Qingli menoleh penuh harap, ternyata bukan Yunche yang datang, melainkan Xiao Hanzhou.

"Selamat pagi, Qingli."

"Selamat pagi, Kakak Xiao."

Xiao Hanzhou melirik sekeliling. "Yunche belum datang?"

"Belum."

Xiao Hanzhou tersenyum hangat. "Kalau begitu, bagaimana kalau kita mulai saja lebih dulu?"

Gu Qingli tidak langsung menjawab. Matanya masih tertuju pada gerbang halaman yang kosong. Untuk pertama kalinya, muncul perasaan tidak sabar yang asing di dadanya—bukan karena kehadiran Xiao Hanzhou, melainkan karena absennya seseorang.

Tiba-tiba, derap langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar menggelegar dari luar!

"GU QINGLI!"

Yunche muncul dengan napas memburu dan raut wajah panik.

Gu Qingli bernapas lega, meski tetap mendesis dingin, "Kau terlambat lagi."

Yunche berhenti tepat di depan mereka sambil memegangi lututnya. "Aku tahu... maaf..."

"Kenapa lagi kali ini?"

Yunche menunjuk ke arah gerbang depan keluarga Shen. "Ada masalah besar!"

"Masalah apa?"

Yunche menarik napas dalam-dalam. "Orang-orang dari keluarga Zhou datang!"

Ekspresi tenang Gu Qingli seketika berubah serius. "Keluarga Zhou?"

"Ya! Mereka datang menantang keluarga Shen!"

Xiao Hanzhou menyipitkan mata curiga. "Untuk alasan apa?"

Yunche menatap mereka bergantian dengan raut keruh. "Katanya... mereka ingin merebut paksa hak pengelolaan tambang Batu Roh milik keluarga Shen."

Gu Qingli langsung memahami gawatnya situasi ini. Batu Roh adalah pilar sumber daya paling vital bagi para kultivator. Jika tambang Gunung Qingmu jatuh ke tangan keluarga Zhou, posisi dan kekuatan keluarga Shen akan merosot tajam.

"Siapa yang mereka utus?" tanya Gu Qingli cepat.

Yunche tersenyum kecut. "Seorang pemuda."

"Siapa namanya?"

"Zhou Minghao."

Xiao Hanzhou mengernyit. "Zhou Minghao?"

Yunche mengangguk. "Kau kenal?"

Xiao Hanzhou menatap Yunche dingin. "Dia sudah mencapai ranah Pengumpulan Qi tingkat kesembilan."

Yunche mendadak bungkam, begitu pula dengan Gu Qingli.

Yunche menghela napas panjang. "Yah..." Dia melirik ke arah gerbang utama. "Sepertinya latihan kita hari ini harus ditunda dulu."

Namun Gu Qingli menahan pergelangan tangannya. "Shen Yunche, jangan pergi."

Yunche menoleh bingung. "Ikut denganku ke gerbang utama," tegas Gu Qingli.

"Untuk apa?"

"Melihat apa yang sebenarnya terjadi."

"Kenapa aku harus ikut?"

Gu Qingli terdiam sejenak mencari alasan, sebelum akhirnya menjawab mantap, "Karena... kau adalah anggota keluarga Shen."

Yunche mengangguk pasrah. "Oh, benar juga."

Gu Qingli langsung memimpin jalan dengan langkah lebar, diikuti oleh Yunche. Tanpa mereka sadari, Xiao Hanzhou ditinggalkan sendirian di belakang. Tatapan pemuda dari Sekte Awan Biru itu menajam menembus punggung keduanya, dan kali ini, senyuman ramah di wajahnya benar-benar sirna tanpa sisa.

Di gerbang utama keluarga Shen, seorang pemuda berjubah hitam berdiri congkak dengan tangan terlipat di belakang punggung. Di belakangnya, belasan pengawal bernapas berat memancarkan aura intimidasi yang kuat.

Patriark Shen berdiri melangkah maju menemuinya. "Zhou Minghao! Sudah lama."

"Langsung pada intinya saja, Patriark Shen," sahut Zhou Minghao arogan.

"Apa mau keluarga Zhou sebenarnya?"

Zhou Minghao tertawa meremehkan sambil menunjuk ke puncak Gunung Qingmu di kejauhan. "Sederhana. Serahkan tambang Batu Roh Gunung Qingmu kepada kami."

"Mustahil! Itu wilayah sah keluarga Shen!" tegas Patriark Shen murka.

"Kalau begitu..." Zhou Minghao mengangkat satu tangannya.

BOOM!

Gelombang energi spiritual melonjak dahsyat dari tubuhnya. Aura Pengumpulan Qi tingkat kesembilan membanting udara di sekitarnya, memaksa beberapa pemuda keluarga Shen mundur beberapa langkah karena tekanan mental.

Zhou Minghao menyeringai penuh kemenangan. "Jika keluarga Shen merasa cukup kuat untuk mempertahankannya... silakan coba hentikan aku."

Suasana di gerbang berubah tegang dan mencekam.

Yunche menyelinap berdiri di antara kerumunan pemuda keluarga Shen, sementara Gu Qingli berada tak jauh di sampingnya. Tatapan mereka tertuju pada sosok Zhou Minghao yang jumawa. Saat mata Yunche dan Gu Qingli saling bertemu, tidak ada lagi candaan atau godaan jenaka di antara mereka. Hanya ada satu kesadaran yang sama: ancaman ini nyata.

Tiba-tiba, salah seorang pengikut keluarga Zhou menunjuk ke arah Yunche. "Hei, lihat itu!"

Yunche menoleh polos. "Kenapa?"

Pemuda itu tertawa terbahak-bahak. "Jadi kau yang namanya Shen Yunche? Sampah terkenal dari keluarga Shen?"

Yunche hanya diam tak membalas.

Orang-orang keluarga Zhou ikut tertawa mengejek. "Benar-benar persis seperti rumor! Tidak berdaya!"

Yunche memilih acuh, tetapi Gu Qingli tiba-tiba melangkah maju. Tatapan matanya berubah membeku sedingin es.

"Jaga mulutmu!" tegurnya tajam.

Pemuda Zhou itu terkejut dengan tekanan aura yang tiba-tiba melingkupinya. "Kau... siapa kau?!"

"Gu Qingli."

Nama itu membuat gelak tawa kelompok keluarga Zhou terhenti seketika. Bahkan Zhou Minghao kini mengalihkan pandangannya pada Gu Qingli dengan senyum tertarik. "Oh, ternyata Putri dari keluarga Gu."

Gu Qingli tak sudi merespons. Yunche menyentuh pelan lengan baju gadis itu. "Gu Qingli, sudah... biarkan saja."

"Tapi dia menghina—"

"Sudah biasa," sela Yunche santai sambil tersenyum tipis.

Gu Qingli menoleh menatap Yunche. Entah mengapa, mendengar kata "sudah biasa" keluar dari mulut pemuda itu mendadak menggores hatinya dengan rasa tidak nyaman yang menyengat.

"Kalau pun sudah biasa..." bisik Gu Qingli dengan nada getar yang tertahan, "...bukan berarti mereka boleh terus-terusan melakukannya padamu."

Yunche terpaku. Untuk pertama kalinya, dia kehabisan kata-kata.

Dan di hadapan puluhan pasang mata, Gu Qingli memilih untuk berdiri tegak di samping Shen Yunche. Bukan karena dorongan nama keluarganya, bukan pula karena tuntutan kewajiban, tapi karena satu alasan sederhana: dia tidak suka ada orang lain yang merendahkan pemuda di sisinya ini.

1
Deutsch
mantap thor
Gia Uw
lanjut lagi
Alia Chans
Datang tiba-tiba, tujuan nya Darah 😭😭
apa gk syok tuh thor
obeng min
luar biasa
obeng min
hurra
obeng min
josss
obeng min
mana nih ketua
DeZigur: besok bang. 5 bab crazy up.
total 1 replies
obeng min
joss
obeng min
mantap
obeng min
lanjut thor
obeng min
gas thor mantap💪💪💪💪👍👍👍👍👍
Semoli Ginon
blom waktunga yunche. sabar 🤭
Semoli Ginon
🤣🤣
Semoli Ginon
duh yunche celamitan pula/Cry/
Semoli Ginon
dasar mc koplak emang 🤣
Semoli Ginon
merepet aja mulutnya yunche. husss diam dulu
Semoli Ginon
sangat tidak sopan 🤣
Semoli Ginon
mc nya rada koplak ini ya? 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!