NovelToon NovelToon
Bayangan Di Atas Atap

Bayangan Di Atas Atap

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam
Popularitas:152
Nilai: 5
Nama Author: Kamal Fajar001

Rendra, mantan polisi jujur yang dijebak dan dicap pengkhianat oleh atasannya sendiri, Inspektur Bagas, yang ternyata pemimpin sindikat kriminal. Rendra kehilangan adik perempuannya yang tewas dalam kebakaran pabrik yang disengaja untuk menutup kejahatan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kamal Fajar001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Matahari mulai condong ke barat saat mobil yang dipinjam Asep melaju meninggalkan jalan aspal, masuk ke jalan tanah yang berdebu menuju desa pesisir Lamongan. Rendra menyetir dengan tenang, matanya sesekali melirik spion—tidak ada mobil lain yang mengikuti sejauh ini, tapi rasa waswas tak pernah hilang.

“Desa ini sulit dijangkau dari darat,” kata Surya yang sedang memeriksa peta tua di pangkuannya. “Warga di sini kebanyakan nelayan, mereka tidak terlalu suka campur tangan orang luar. Jika Bapak Harun memang bersembunyi di sini, kemungkinan besar dia sudah diterima oleh warga dan dilindungi diam-diam.”

“Tapi Bagas juga pasti tahu hal ini,” timpal Dika dari kursi belakang. “Jika dia mengirim pasukan ke sini, mereka tidak akan main-main—bisa saja mereka menyamar sebagai petugas dinas atau pedagang untuk tidak mencurigakan.”

Mereka sampai di bibir pantai. Ombak bergulung pelan menyapu pasir putih, dan deretan perahu kayu berjejer rapi di pinggir pantai. Tidak ada gedung tinggi, hanya rumah-rumah panggung kayu beratap rumbia yang tersebar di antara pohon kelapa.

Mereka memarkir mobil di balik rimbunan semak, lalu berjalan kaki menuju kedai kecil di pinggir pantai untuk mencari informasi. Pemilik kedai adalah seorang nenek tua yang sedang mengupas udang di depan pintu. Saat Rendra bertanya tentang Bapak Harun, nenek itu hanya menggeleng pelan tanpa menatap mereka.

“Tidak ada orang dengan nama itu di sini,” jawabnya singkat. “Pulanglah sebelum matahari terbenam. Orang asing tidak aman berjalan di desa ini malam-malam.”

Rendra belum sempat menjawab, suara langkah kaki terdengar dari belakang. Seorang pemuda nelayan dengan wajah cokelat terbakar matahari berdiri di sana, menatap mereka dengan curiga. “Kalian dikirim oleh siapa? Bukan orang dari sini kan?”

“Kami kawan lama,” jawab Rendra lembut. “Kami membawa pesan penting. Ada orang yang mengancam nyawanya, kami ingin menyelamatkannya sebelum terlambat.”

Pemuda itu diam sejenak, lalu melirik ke arah jalan masuk desa. “Banyak orang bilang membawa pesan, tapi yang datang malah membawa masalah. Tiga hari lalu ada sekelompok orang berjas hitam bertanya hal yang sama. Mereka mengancam akan membakar perahu kami jika tidak memberitahu keberadaan Pak Harun.”

Jantung Rendra berdenyut kencang. “Mereka sudah ke sini?”

“Belum sempat menemukan tempat persembunyiannya,” jawab pemuda itu. “Tapi mereka kembali lagi besok pagi. Katanya kalau tidak diberitahu, mereka akan menutup akses pasar untuk hasil tangkapan kami.”

Melihat ketulusan di wajah Rendra, pemuda itu akhirnya mengangguk. “Ikut saya. Tapi jangan bicara banyak-banyak di jalan.”

Mereka berjalan menyusuri jalan setapak di balik semak belukar, menuju gua kecil di tebing pantai yang tertutup tanaman merambat. Di dalam sana, duduk seorang pria paruh baya yang terlihat kurus namun matanya tajam—itu Bapak Harun. Saat melihat Rendra, ia sedikit terkejut, lalu menghela napas lega.

“Sudah lama saya menunggu orang yang berani datang,” katanya pelan. “Saya tahu suatu hari kebenaran akan dicari, walau harus menunggu sampai rambut memutih.”

Rendra duduk di hadapannya. “Kami membawa bukti tertulis. Tapi kami butuh kesaksian lisanmu untuk menjatuhkan mereka sepenuhnya. Namun saat ini, mereka sudah tahu kau ada di sini. Kami harus memindahkanmu ke tempat aman sebelum besok pagi.”

Bapak Harun menggeleng pelan. “Saya tidak takut pada nyawa saya. Tapi ada satu hal yang belum kalian ketahui. Kebakaran pabrik itu bukan cuma untuk menutup limbah beracun. Di bawah fondasi pabrik itu, ada terowongan rahasia yang dipakai untuk menyelundupkan barang selundupan lintas pulau. Dan pemilik sebenarnya dari jalur itu bukan Bagas saja—dia hanya perantara.”

Kabar itu membuat ketiganya terdiam. Ternyata musuh yang mereka hadapi jauh lebih besar dan tersembunyi dari yang dibayangkan. Bagas bukanlah puncak gunung es, melainkan hanya ujungnya yang terlihat di permukaan.

Belum sempat mereka bertanya lebih lanjut, suara kendaraan berat terdengar dari arah pantai. Dika berlari ke mulut gua, lalu kembali dengan wajah tegang. “Mereka sudah datang! Lebih cepat dari dugaan!”

Rendra menatap Bapak Harun, lalu berbalik pada teman-temannya. “Kita tidak bisa lari lewat jalan depan. Kita gunakan jalan rahasia yang nelayan sebutkan tadi. Tapi ingat—kita tidak boleh melawan di sini. Jangan sampai warga desa ikut terlibat bahaya.”

Mereka segera bergerak, menyusuri lorong gelap di dalam gua yang konon menghubungkan pantai dengan hutan di sisi lain desa. Di luar, suara teriakan dan langkah kaki berat semakin mendekat. Perjalanan mereka baru saja bertambah berat—karena kini mereka tahu, setiap langkah yang diambil akan membawa mereka mendekat pada rahasia yang jauh lebih berbahaya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!