Kirana cuma pengen kuliah tenang. Tapi dosen paling galak sekampus malah jadi orang yang bikin jantungnya berdebar tanpa alasan.
Status dosen dan mahasiswi jadi tembok pemisah. Masa lalu kelam Alden jadi ancaman yang siap menghancurkan semuanya.
Satu pertanyaan tersisa: berani nggak, Kirana, jatuh cinta pada orang yang paling dilarang buat dicintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W_ Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: KAMPUS DIGEGERKAN KABAR PEMBELAAN ITU
Pagi berikutnya, Kirana baru saja memarkir motornya ketika Nadia berlari kecil menghampirinya dengan wajah cemas bercampur antusias.
"Kir! Kamu udah liat belum? Kejadian kemarin di ruang seminar udah nyebar lagi," kata Nadia, menyodorkan ponselnya yang menampilkan sebuah utas panjang di forum mahasiswa kampus.
Kirana membaca cepat, jantungnya berdebar tidak enak melihat judul utas itu. "Dosen Bela Mahasiswinya Habis Habisan, Publik Bertanya Tanya."
"Astaga," gumam Kirana, menggulir layar dengan tangan gemetar, membaca komentar demi komentar yang beragam, sebagian membela, sebagian lagi semakin menyudutkan.
"...salut sih kalau emang bener cuma bela karena keadilan..."
"...tapi kok kesannya lebih dari sekadar bela mahasiswa biasa ya..."
"...btw itu yang di foto minggu lalu kan? Jangan jangan emang beneran ada apa apa..."
"Kir, tenang dulu," Nadia mencoba menenangkan, melihat raut wajah sahabatnya yang semakin pucat. "Ini kan cuma forum anonim, nggak semua orang percaya isinya."
"Tapi ini nyebar cepet banget, Nad," Kirana menjawab, suaranya bergetar. "Kalau ini sampe ke telinga dekanat lagi, gimana nasib Pak Alden?"
Mereka berjalan bersama menuju gedung fakultas, dan Kirana bisa merasakan tatapan tatapan yang lebih intens dari biasanya, beberapa mahasiswa bahkan berhenti sejenak untuk berbisik begitu melihatnya lewat.
Di kelas, suasana terasa lebih tegang dari hari hari sebelumnya. Kirana duduk di bangkunya, mencoba mengabaikan bisik bisik yang masih terdengar dari beberapa sudut ruangan, tapi tekanan itu terasa semakin berat setiap menitnya.
Alden masuk tepat waktu seperti biasa, tapi kali ini raut wajahnya terlihat lebih serius, seolah sudah mengetahui tentang utas yang beredar sejak pagi. Dia meletakkan map di meja, menatap seisi kelas sejenak sebelum mulai bicara.
"Sebelum kita mulai materi hari ini, saya ingin klarifikasi sesuatu," katanya, suaranya tegas dan jelas. "Beberapa dari kalian mungkin sudah baca postingan yang beredar soal kejadian kemarin di ruang seminar."
Kelas hening, semua mata tertuju padanya, termasuk Kirana yang merasakan jantungnya berdebar kencang menunggu kelanjutan kalimat itu.
"Yang saya lakukan kemarin adalah menegakkan kode etik akademik, menegur mahasiswa yang menyebarkan tuduhan tanpa dasar terhadap mahasiswa lain," lanjut Alden, nadanya tetap tenang meski tegas. "Itu bagian dari tanggung jawab saya sebagai dosen, untuk siapa pun, tanpa terkecuali."
Dia berhenti sejenak, matanya menyapu seisi ruangan dengan tatapan yang tidak bisa dibantah. "Kalau ada yang masih meragukan objektivitas penilaian saya, silakan ajukan komplain resmi lewat jalur yang benar. Tapi saya tidak akan mentolerir gosip yang merusak reputasi mahasiswa tanpa bukti."
Tidak ada yang berani angkat suara setelah penjelasan itu, suasana kelas tetap hening beberapa saat sebelum akhirnya Alden melanjutkan materi seperti biasa, seolah ingin segera mengembalikan suasana ke rutinitas normal.
Kirana mencoba fokus mencatat, tapi pikirannya masih dipenuhi kekhawatiran tentang dampak yang mungkin timbul dari penjelasan terbuka itu. Di satu sisi, dia menghargai keberanian Alden untuk kembali menegaskan posisinya, tapi di sisi lain, dia juga khawatir langkah itu justru semakin memperkuat sorotan publik terhadap mereka berdua.
Jam istirahat, Kirana duduk sendirian di taman belakang gedung fakultas, mencoba menenangkan pikiran yang sejak pagi terus dipenuhi kekhawatiran. Ponselnya bergetar, pesan dari Sarah muncul kembali di layar.
"Kirana, saya denger soal kejadian di kampus. Ini semakin menguatkan alasan kenapa saya perlu ngomong sama kamu. Boleh kita ketemu besok sore?"
Kirana menatap pesan itu lama, mempertimbangkan berbagai kemungkinan. Rasa penasarannya tentang Sarah semakin besar, terutama setelah melihat bagaimana situasi ini semakin rumit dan penuh tekanan dari berbagai arah.
Dia akhirnya memutuskan untuk membalas. "Baiklah, saya bisa ketemu besok sore. Di mana?"
"Kafe Kopi Senja, jam empat sore. Terima kasih udah mau ketemu," balas Sarah cepat.
Kirana meletakkan ponselnya, menghela napas panjang. Dia belum memberitahu Alden tentang rencana pertemuan ini, dan sebagian dirinya merasa harus jujur, tapi bagian lain merasa perlu bertemu Sarah dulu sebelum melibatkan Alden, untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang apa yang sebenarnya diinginkan wanita itu.
"Kir," suara Tesa mengejutkannya dari belakang, membuat Kirana buru buru memasukkan ponselnya. "Kamu ngapain sendirian di sini?"
"Cuma pengen nenangin pikiran aja, Tes," jawab Kirana, mencoba tersenyum meski hatinya masih dipenuhi berbagai kekhawatiran.
Tesa duduk di sebelahnya, memperhatikan raut wajah sahabatnya dengan seksama. "Kir, ada yang kamu sembunyiin dari aku ya?"
Kirana terdiam sejenak, mempertimbangkan apakah harus jujur atau tidak. Akhirnya dia menghela napas, memutuskan untuk berbagi.
"Sarah, mantan calon istrinya Pak Alden, dia hubungin aku, Tes. Katanya mau ketemu, ngomongin soal Pak Alden."
"HAH?" Tesa hampir berteriak, buru buru menutup mulutnya sendiri begitu sadar suaranya terlalu keras. "Kir, serius? Kapan ini terjadi?"
"Udah dari beberapa hari lalu, tapi aku belum berani cerita ke siapa siapa," Kirana mengaku, meremas ujung roknya. "Besok sore aku bakal ketemu dia."
"Kir, kamu yakin ini ide bagus?" Tesa bertanya, khawatir jelas terlihat di wajahnya. "Kamu nggak tau maksud sebenarnya Sarah apa. Bisa aja dia punya niat buruk."
"Aku juga mikirin itu, Tes," Kirana mengangguk, "tapi aku juga penasaran banget. Lagian, mungkin ini kesempatan buat aku ngerti lebih jauh soal masa lalu Pak Alden, dari sudut pandang yang beda."
"Kamu udah bilang ke Pak Alden soal ini?" Tesa bertanya lagi.
"Belum," Kirana menggeleng pelan. "Aku takut kalau aku bilang, dia bakal ngelarang aku ketemu Sarah, atau malah jadi tambah stres mikirin ini."
Tesa terdiam, mempertimbangkan situasi yang semakin rumit itu. "Kir, aku ngerti alasan kamu, tapi menurutku, kamu tetep harus hati hati. Kalau bisa, kabarin aku pas kamu lagi ketemu dia, biar aku bisa standby kalau kamu butuh bantuan."
"Makasih, Tes," Kirana tersenyum kecil, merasa sedikit lega mendapat dukungan itu meski kekhawatirannya belum sepenuhnya hilang. "Aku janji bakal hati hati."
Sore harinya, ketika Kirana kembali ke kosnya setelah seharian penuh tekanan dari berbagai arah, dia mendapati pesan dari Alden yang membuat hatinya semakin berat memikirkan rahasia yang dia simpan tentang rencana pertemuan dengan Sarah.
"Kirana, saya denger soal utas yang beredar hari ini. Maaf kalau ini bikin kamu makin tertekan. Gimana kabarmu?"
Kirana menatap pesan itu lama, mempertimbangkan apakah ini saat yang tepat untuk jujur soal Sarah. Tapi keraguan masih menguasainya, membuatnya memilih untuk membalas dengan jawaban yang lebih aman untuk saat ini.
"Saya baik baik aja, Pak. Cuma agak capek aja ngadepin semua tekanan ini. Bapak sendiri gimana?"
"Saya juga capek, tapi saya coba tetap kuat," balas Alden. "Kita lewatin ini bareng bareng, Kirana. Jangan ragu buat cerita kalau ada apa apa."
Kalimat itu membuat rasa bersalah Kirana semakin membesar, menyadari betapa dia sedang menyembunyikan sesuatu yang cukup besar dari orang yang begitu peduli padanya. Tapi dia tetap memutuskan untuk menunggu sampai setelah pertemuan dengan Sarah besok, berharap bisa mendapatkan kejelasan lebih dulu sebelum melibatkan Alden dalam situasi yang mungkin akan semakin rumit.
"Terima kasih, Pak," dia mengetik balasan singkat, menutup percakapan itu dengan perasaan campur aduk antara harapan dan kekhawatiran tentang apa yang akan terjadi besok sore, ketika dia akhirnya bertemu langsung dengan sosok yang selama ini hanya menjadi bayangan dari masa lalu Alden yang penuh misteri dan luka yang belum sepenuhnya sembuh.
Malam itu, Kirana tidur dengan pikiran yang dipenuhi berbagai skenario tentang pertemuan besok, tidak tahu apakah keputusannya untuk menemui Sarah tanpa sepengetahuan Alden akan membawa kejelasan yang dia butuhkan, atau justru membuka babak baru yang lebih rumit dan menyakitkan dari yang pernah dia bayangkan sebelumnya.