elama dua belas tahun, Nan Shin Sim mengabdikan hidupnya untuk keluarga.
Ia bekerja sebagai perawat, melayani ibu mertua, membesarkan dua anak, sementara suaminya, dr. Cheng An Kho, diam-diam membangun keluarga lain bersama wanita yang dicintainya.
Ketika perselingkuhan itu terbongkar, Nan Shin kehilangan segalanya.
Rumah.
Harta.
Bahkan hak asuh kedua putranya.
Semua orang mengira wanita itu telah benar-benar hancur.
Namun tepat ketika ia meninggalkan keluarga Kho dengan tangan kosong, sebuah telepon misterius dari Singapura mengubah jalan hidupnya.
Sejak hari itu, Nan Shin mulai menyembunyikan sesuatu.
Sesuatu yang cukup besar untuk membalikkan nasibnya.
Dan ketika mantan suami, ibu mertua, serta orang-orang yang pernah menginjaknya mulai menyadari ada yang tidak beres...
sudah terlambat.
Karena wanita yang mereka kenal...
bukan lagi Nan Shin Sim yang dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 10
Tidak Ada Tempat untuk Saya di Rumah Ini
Botol di tangan Nan Shin hampir terlepas ketika cahaya perlahan kembali ke pandangannya.
Ia segera meletakkan Yi Chen dengan aman, duduk sampai denging di telinganya reda, lalu meminum teh manis yang sudah dingin. Pada jadwal kontrol pengganti, dokter menyuruhnya memperbaiki pola makan dan beristirahat cukup. Nasihat itu tidak pernah mengubah pembagian kerja di rumah.
Lima tahun berlalu.
Dua hari setelah Cheng An membatalkan makan malam, seluruh keluarga akhirnya duduk bersama di meja makan Cluster Verona.
Nan Shin menyajikan ikan kukus dan sayur bening. Yi Ming, yang kini berusia sembilan tahun, duduk di samping adiknya. Yi Chen sudah hampir enam tahun dan masih harus diingatkan agar tidak mengaduk nasi terlalu lama.
“Makan sayurnya,” kata Nan Shin.
Yi Chen menggeleng. “Nggak suka hijau.”
“Dua sendok.”
“Satu.”
“Dua.”
Yi Chen mengangkat satu jari, lalu menambahkan satu lagi dengan enggan. Nan Shin tersenyum tipis dan menyendokkan sayur ke piringnya.
Di seberang meja, Ibu Kho sedang menunjukkan sesuatu di ponsel kepada Cheng An.
“Tempat les ini bagus,” katanya. “Anak salah satu kerabat Mama masuk sini, nilai matematikanya naik.”
Cheng An membaca brosur digital itu. “Dekat?”
“Nggak jauh dari sekolah Yi Ming. Kelasnya Sabtu pagi.”
Yi Ming berhenti mengunyah dan melihat mereka.
“Mulai bulan depan saja,” kata Cheng An. “Biar dia siap ujian.”
Nan Shin meletakkan sendok. “Sabtu pagi aku sering jaga.”
Ibu Kho tidak menoleh. “Mama bisa atur antar-jemput.”
“Yi Ming sudah ditanya mau ikut?”
Kali ini Cheng An mengangkat kepala. “Ini untuk dia juga.”
“Aku tahu. Tapi dia yang menjalani.”
Semua mata berpindah kepada Yi Ming. Anak itu menunduk pada nasi.
“Aku ikut aja,” katanya pelan.
Nan Shin menatapnya. “Mama tanya sekali lagi. Kamu memang mau, atau takut mengecewakan Popo dan Papa?”
Yi Ming menggeser nasi dengan ujung sendok. “Aku belum tahu. Aku mau lihat tempatnya dulu.”
“Nah, itu jawaban. Kita bisa lihat dulu sebelum membayar.”
Jawaban tersebut segera dianggap persetujuan.
Ibu Kho menggulir layar ponselnya lagi. “Sekalian Yi Chen masuk kelas baca-tulis. Di kompleks sebelah ada yang bagus.”
“Aku sudah latihan sama dia di rumah,” kata Nan Shin.
“Makanya perlu guru. Biar metodenya benar.”
Ucapan itu terdengar ringan, tetapi tangan Nan Shin berhenti di atas mangkuk.
“Metode yang kupakai dari buku sekolahnya.”
“Mama nggak bilang salah.” Ibu Kho tersenyum tipis. “Cuma kalau ada yang lebih ahli, kenapa nggak?”
Cheng An mengangguk. “Daftarkan saja dua-duanya. Soal biaya nanti aku transfer.”
Keputusan kedua selesai.
Tidak ada yang bertanya siapa yang akan menyiapkan dua anak setiap Sabtu, memastikan mereka sarapan, membawa buku, menunggu kelas selesai, dan mengatur ulang jadwal ketika Nan Shin mendapat shift.
Mereka hanya membahas siapa yang membayar.
Nan Shin menyendok nasi tanpa benar-benar merasa lapar.
Ibu Kho belum selesai. “Minggu depan keluarga sepupu Mama mau datang. Sudah lama nggak kumpul.”
“Minggu depan?” tanya Nan Shin.
“Hari Minggu. Makan siang di sini.”
“Aku dapat shift pagi.”
“Tukar saja.”
“Belum tentu ada yang bisa tukar.”
Ibu Kho menghela napas. “Nan Shin, keluarga jarang datang. Masa kamu nggak bisa sekali ini atur waktu?”
“Kenapa tanggalnya ditentukan sebelum tanya jadwalku?”
Suasana meja makan berubah hening.
Cheng An meletakkan gelas. “Jangan dibesar-besarkan. Kalau kamu nggak bisa, Mama bisa pesan makanan.”
Nan Shin menatapnya. “Bukan soal makanan.”
“Lalu apa?”
“Siapa yang membersihkan rumah sebelum tamu datang?”
Ibu Kho menjawab lebih dulu. “Kita kerjakan bersama.”
“Bersama siapa? Cheng An ada rapat Sabtu. Saya jaga Minggu pagi.”
“Mama bisa menyapu dan memesan makanan.”
“Siapa menyiapkan piring, menerima tamu, menjaga anak-anak, lalu membereskan setelah semua pulang?”
Cheng An mengembuskan napas. “Aku bantu kalau sudah di rumah.”
“Jam berapa?”
“Aku belum tahu jadwalku.”
“Itu maksudku. Jadwal kalian belum jelas, tapi waktu saya sudah dianggap tersedia.”
Ibu Kho mengetuk meja dengan kuku. “Kalau keluarga datang, masa harus rapat dulu?”
“Cukup tanya sebelum menentukan tanggal.”
“Mama sudah bilang mereka jarang datang.”
“Dan saya jarang punya hari libur. Keduanya bisa dipertimbangkan kalau saya diajak bicara.”
Cheng An menatap anak-anak. “Kita bahas setelah makan.”
“Setelah makan biasanya semua pergi, lalu saya membereskan meja sendirian.”
Ia ingin menjawab bahwa rumah ini juga rumahnya. Waktunya juga punya nilai. Setiap keputusan tentang anak, tamu, uang, dan jadwal akan berakhir menjadi pekerjaan yang harus ia selesaikan. Namun empat pasang mata menunggu, dan dua di antaranya milik anak-anak.
Nan Shin menelan kalimat itu.
“Nggak apa-apa,” katanya.
Ibu Kho langsung kembali membicarakan menu untuk tamu. Cheng An mengecek pesan di ponselnya. Yi Ming makan dalam diam.
Yi Chen menyentuh lengan ibunya.
“Mama marah?”
“Nggak.”
“Popo bilang Mama nggak ngerti.”
Sendok Nan Shin terlepas dari jarinya dan membentur piring.
Bunyinya tidak keras, tetapi cukup membuat semua orang berhenti.
Ibu Kho menatap Yi Chen. “Popo bilang apa?”
Anak itu menunjuk brosur kelas di ponsel. “Mama nggak ngerti pilih.”
Kalimatnya pendek. Polos. Ia hanya mengulang apa yang pernah didengar.
Nan Shin menatap Ibu Kho. “Mama bilang begitu di depan Yi Chen?”
“Mama cuma bilang soal tempat les. Anak kecil suka salah tangkap.”
“Dia mengulang cukup jelas.”
Cheng An menyela, “Sudah. Jangan berdebat di depan anak-anak.”
Nan Shin menoleh kepadanya. Lagi-lagi, ia yang dianggap sedang memulai perdebatan hanya karena menanyakan sesuatu.
“Aku cuma mau tahu kenapa keputusan tentang anak-anak dibicarakan tanpa aku.”
“Kamu ada di sini sekarang,” kata Cheng An.
“Saat semuanya sudah diputuskan.”
Rahang Cheng An menegang. “Kami mencari yang terbaik. Jangan anggap semua hal sebagai serangan.”
Kami.
Satu kata itu membelah meja makan dengan sangat jelas.
Cheng An dan Mama adalah kami.
Nan Shin adalah kamu.
Ia melihat sekeliling. Foto keluarga tergantung di dinding. Lemari pendingin berisi jadwal yang ditulis Ibu Kho. Cicilan rumah dibayar dari dua penghasilan, tetapi nama Cheng An yang selalu disebut ketika orang membicarakan pemilik rumah. Anak-anak lahir dari tubuh Nan Shin, tetapi keputusan tentang mereka dibuat dalam percakapan yang tidak membutuhkan suaranya.
Ia berada di tengah rumah sendiri, tetapi tidak memiliki tempat dalam keputusan apa pun.
Nan Shin berdiri dan mengangkat piring kotor.
“Mau ke mana?” tanya Cheng An.
“Cuci piring.”
Tidak ada yang menghentikannya.
Beberapa menit kemudian, Yi Ming masuk membawa piringnya sendiri.
“Taruh di sini,” kata Nan Shin.
Anak itu meletakkan piring, tetapi tidak langsung pergi. “Mama, aku boleh nggak ikut les kalau nggak mau?”
Nan Shin mematikan keran. “Kamu memang nggak mau?”
Yi Ming mengangkat bahu. “Aku belum tahu. Tadi aku bilang ikut supaya Papa sama Popo nggak kecewa.”
Nan Shin mengeringkan tangan, lalu berjongkok di depannya. “Kamu boleh pikir dulu. Orang dewasa juga harus tanya sebelum memutuskan.”
“Mama marah karena aku bilang iya?”
“Bukan sama kamu.” Nan Shin merapikan rambutnya. “Mama cuma ingin suara kamu didengar.”
“Kalau aku mau coba satu kali, boleh?”
“Boleh. Mencoba satu kelas bukan berarti harus langsung membeli paket tiga bulan.”
“Kalau aku nggak suka, Mama yang bilang ke Popo?”
“Kita bilang bersama. Kamu boleh bicara, Mama akan berdiri di sampingmu.”
Yi Ming mengangguk pelan, lalu memeluk ibunya singkat sebelum kembali ke kamar.
Setelah dapur bersih dan anak-anak masuk kamar, Nan Shin membuka laci meja kecil di dekat tempat tidur. Di dalamnya ada buku catatan biru bersampul kecil dengan gambar perahu putih. Buku itu dibelinya beberapa waktu lalu, tetapi belum pernah dipakai.
Malam itu ia membuka halaman pertama.
Ia menulis tanggal, lalu tiga keputusan yang dibuat tanpa dirinya: les Yi Ming, kelas Yi Chen, makan keluarga hari Minggu.
Di bawahnya, ia menulis satu kalimat.
Kalau suatu hari saya perlu menjelaskan, saya harus punya catatan.
Nan Shin menutup buku itu. Untuk pertama kalinya, ia tidak mengembalikannya ke laci biasa.
Ia meletakkan buku biru tersebut di dasar laci paling bawah, menutupnya, lalu memutar kunci kecil.
Untuk pertama kalinya pula, ia berpikir bahwa dirinya perlu menyimpan jalan keluar.