Arifah yang masih duduk dibangku Sekolah Dasar seringkali mendapatkan kenakalan teman-temannya bahkan gurunya sendiri pernah sesekali mempermalukannya.
Puncaknya, Aska sebagai saudara kandung Arifah tidak memberitahunya bahwa kedua orang tuanya sudah meninggal karena kecelakaan sebuah pesawat. Tidak sampai disitu, Aska sebagai keluarga satu-satunya yang ia punya pun juga pergi meninggalkannya. Belum lagi menghadapi anak angkat Mami yang ternyata seseorang yang datang hanya untuk mengambil keuntungan dari keluarganya.
Lalu mampukah Arifah berdamai dengan takdir yang telah digariskan? Dan apakah dengan hadirnya malaikat pelindung disisinya mampu membuatnya menjadi pribadi kuat dan tangguh?
Saksikan kisah selengkapnya ya, jangan lupa like dan vote juga. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sariyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 21 Si Biang Kerok
Tapi sepertinya aku tidak akan sanggup jika mengolahnya sendiri, aku butuh Morgan" ucap Melati menjelaskan.
"Tidak masalah" ucap Aska santai.
Sebenarnya Aska ingin bertanya pada Melati mengapa ia bisa dianggap anak angkat oleh Mami, dimana mereka bertemu? dan pertanyaan lain yang menganggu pikirannya. Namun Aska merasa hari ini malas menanyakan itu, mengingat rencananya yang gagal melamar Viona.
"Mbak Melati, Mas Morgan" ucap Arifah tiba-tiba muncul diruang tamu.
"Halo adik, kamu apa kabar?" tanya Melati ramah.
"Tumben kemari" ucap Arifah sembari mencium punggung tangan Melati dan Morgan.
"Hehee iya kami rindu kalian. Oh ya mulai besok Mbak dan Mas Morgan akan mulai mengolah butik dan apartemen almarhumah Mami." ucap Melati menjelaskan maksud kedatangannya.
"Dengan Mas Morgan?"
"Iya, karena Mbak tidak sanggup jika harus menangani semuanya sendirian. Tidak masalah kan?" tanya Melati.
"Oh ya tidak apa."
"Kalau begitu kami permisi pulang"
Morgan dan Melati pun pulang dengan perasaan senang, akhirnya Melati dan Morgan mendapatkan kepercayaan dari Mami untuk mengolah warisannya. Mereka pun menyusun rencana apik mulai saat ini, mumpung umur Arifah belum menginjak 19 tahun.
"Beruntung sekali kamu bertemu Mami saat itu sayang" ucap Morgan sesampainya dikediaman mereka.
"Iya Mami sangat bodoh dan naif hahahaa" ucap Melati dengan tawa kemenangan.
***
Malam harinya dikamar Arifah..
"Putri.." Arifah memanggil malaikat pelindungnya, ia akan menagih janji.
Tring..
Seketika Putri muncul dihadapan Arifah.
"Ya.."
"Huhh kamu ini selalu muncul tiba-tiba dan mengagetkanku, jantungku hampir copot tahu tidak" ucap Arifah kesal.
Arifah pun duduk ditepi tempat tidurnya.
"Aku mau menagih janjimu" ucap Arifah yang sudah tidak sabaran.
"Oh itu, tentu saja aku akan menepati janjiku"
"Jadi katakan padaku, siapa yang menjebakku?"
"Vika dan Siska" ucap Putri.
Arifah tersenyum sinis, sudah aku duga pasti mereka berdua biang keroknya.
"Bisakah kamu membawaku bertemu mereka malam ini?" tanya Arifah yang sudah geram ingin memarahi Vika dan Siska.
"Tidak bisa, tugasku hanya menjaga dan melindungimu. Selebihnya bukan urusanku" ucap Putri.
Huhh dasar, susah sekali rasanya memanfaatkan Putri, gerutu Arifah dalam hati. Ia pun memilih tidur dengan memeluk guling kesayangannya.
***
Pagi hari..
"Ayo cepat, jangan lama-lama" ucap Aska yang sudah menunggu Arifah didalam mobil.
"Iya, bawel" Arifah lari terburu-buru menghampiri Aska.
"Ayo berangkat" perintah Arifah sesampainya didalam mobil bersama Aska.
Sesampainya dimall, Aska memakirkan mobilnya dan membawa Arifah masuk kedalam.
"Ingat jangan main bola-bola" Aska mengingatkan.
"Iya iyaa.."
Aska berjalan merangkul Arifah dengan tangan kanannya, karena berhubung dimall ramai sekali ia takut Arifah akan hilang. Dulu pernah saat Arifah dan Aska pergi jalan-jalan dimall yang sama disituasi juga sangat ramai, Arifah yang berada dibelakang Aska tiba-tiba sudah tidak ada. Alhasil Aska kelimpungan mencari Arifah kesana kemari, dan hari ini ia tidak mau kalau sampai hal serupa terulang kembali.
Mereka berkeliling menyusuri mall, mata Arifah tertuju pada sepeda terpajang disebuah toko. Ia pun mengajak Aska masuk kesana dan memilih salah satu sepeda untuk ia miliki.
"Aku mau yang ini Mas" Arifah menunjuk salah satu sepede berwarna hitam.
"Kamu yakin mau yang ini?"
Arifah mengangguk senang.
"Sepeda ini sangat mahal. Memang kamu tidak takut kalau sampai sepedamu ini diincar orang jahat?" ucap Aska memberitahu bahwa memang sepeda yang Arifah pegang adalah sepeda yang mahal.
"Berapa sih harganya Mas?" tanya Arifah polos.
"Ini harganya puluhan juta"
Arifah kaget bukan main, padahal ia sudah sangat menyukainya. Dengan raut wajah kecewa ia pun meletakkan kembali sepeda itu ditempatnya.
"Cari yang murah aja Mas"
Aska jadi tidak tega melihat Arifah.
"Kalau misalnya sepeda itu Mas beli, kamu harus bisa menjaganya dengan baik. Kamu harus janji dulu dengan Mas"
"Itu mahal sekali Mas, aku susah memegang janji. Bagaimana kalau tiba-tiba hilang, Mas pasti memarahi ku kan?"
"Gini, kamu jangan bawa sepeda ini main diluar kompleks. Kamu cukup sepedaan dihalaman rumah saja. Bagaimana?"
Raut wajahnya kembali ceria, Aska sangat suka melihat Arifah ceria kembali. Ia pun membayar sepeda itu dan membawanya pulang.
"Kamu mau apa lagi?" tawar Aska.
"Sudah Mas ini aja cukup"
"Baiklah, sekarang kita pulang?"
"Kita ketaman kota yuk Mas, aku mau coba sepeda ini disana" ucap Arifah setelah menemukan ide cemerlangnya.
"Oke, ayo kita kesana" jawab Aska bersemangat.
Aska melajukan mobilnya menuju taman kota, sesampainya disana Ia duduk dibangku taman menunggu Arifah yang asyik bermain dengan sepeda barunya.
Drrt.. Drrt..
"Halo" suara lembut dari seberang sana berhasil membuat bibir Aska terangkat.
"Halo Viona.."
"Kamu dimana?"
"Aku ditaman kota" ucap Aska.
"Ngapain? Sama siapa?" tanya Viona lagi.
"Arifah, dia sedang bermain sepeda. Kemarilah, aku bosan"
Diseberang sana Viona iri dengan Arifah yang mendapatkan perhatian lebih dari Aska. Ditambah lagi Aska lebih memilih Arifah dari pada dirinya. Lihat saja nanti, kamu tidak akan bisa bermanja-manja dengan Aska lagi, Viona membatin.
"Halloo" ucap Aska membuyarkan lamunan Viona.
"Besok saja kita bertemu dikantor, bye!"
Tut.. Tut.. Tutt..
"Hobi sekali mematikan telepon dadakan, dasar cewek" gumam Aska kesal.
Arifah tampak bahagia dengan sepeda baru. Sampai lupa dengan komik yang dijanjikan Aska.
"Arifah!"
"Seperti ada yang memanggil" gumamnya. Ia menghentikan sepedanya.
Arifah pun celingak celinguk mencari orang yang memanggilnya. Diarah yang tidak begitu jauh ia melihat seseorang yang seusianya melambai-lambaikan tangannya.
"Vika!" ucap Arifah. Ia pun menuju mendekati Vika.
"Mau kemana kamu!" tanya Aska yang melihat Arifah berjalan menjauh darinya.
"Ada temanku Mas, aku mau kesana" jelasnya.
Aska yang tidak mau mengambil resiko mengikuti Arifah dibelakang. Apalagi sekarang musim pencurian anak, jadi ia harus sewaspada mungkin.
"Kamu disini juga?" tanya Vika setelah Arifah sampai didekatnya.
Arifah mengangguk.
"Akhirnya kita bertemu juga setelah sekian lama tidak saling sapa" ucap Arifah tersenyum kecut.
"Selamat ya akhirnya kamu mendapatkan juara umum ketiga" ucap Vika yang sebenarnya malas memberi ucapan selamat, ia tidak suka dengan keberhasilan yang dicapai Arifah.
Mereka berjabat tangan.
"Terima kasih" ucap Arifah cuek.
Arifah tampak berbeda, apa dia sudah tahu siapa yang membuatnya bermasalah disekolah? batin Vika menduga-duga.
"Aku ingin bertanya padamu" ucap Arifah menatap tajam Vika, penuh kebencian.
Vika ketakutan dengan tatapan Arifah, apalagi dibelakangnya ada Aska - saudara kandungnya. Mampus aku, batin Vika.
Sadar Vika yang ketakutan, akhirnya Arifah mengurungkan niatnya.
"Ayo kita pulang saja Mas, aku sudah sangat bosan dan peritku juga sangat lapar" ucap Arifah pada Aska.
Mereka pun pergi meninggalkan Vika, Arifah memandangnya dengan senyum kebencian.
"Lihat saja nanti tanggal mainnya" gumam Arifah.
"Apa?" tanya Aska yang mendengar ucapan Arifah.
"Hahaha tidak Mas, ayo kita pulang. Aku lapar sekali"
.
.
.
Jangan lupa like 👍
jangan lupa jaga kesehatan jugaa
like nya sudah mendarat
lanjut dan semangat selalu💪😍💜
Semangat tuk karyanya ya kak 🤗❤️