NovelToon NovelToon
Bertransmigrasi Menjadi Grand Duches Yang Mengandung Pewaris Api Abadi

Bertransmigrasi Menjadi Grand Duches Yang Mengandung Pewaris Api Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Penyesalan Suami
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~~

Demi aliansi politik, Iris von Draewyn—putri berambut perak dari Utara—terpaksa menikah dengan Grand Duke Darian von Ravengard, Panglima Tertinggi yang dikenal kejam dan berdarah dingin. Pernikahan mereka hampa dan dipenuhi jarak, hingga sebuah tragedi mengakhiri hidup Iris dalam kesendirian.

​Namun, alih-alih mati, Iris justru terbangun di masa lalu dalam kondisi hamil muda—mengandung anak dari suami yang mengabaikannya.

~~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 2 MANGGA, OBOR, DAN SANG PANGLIMA

****

Malam semakin larut. Kastil Ravengard yang megah merayap masuk ke dalam keheningan yang mencekam. Angin malam bertiup kencang di luar, menyiulkan nada-nada dingin yang menggetarkan kaca-kaca jendela tinggi.

Di dalam kamar utama yang amat luas, Intan—yang kini secara resmi mendiami tubuh Iris von Draewyn—sedang duduk anggun di depan meja rias berukir emas. Tangannya yang halus dan jemari lentiknya memegang sebuah sisir kayu bermotif rumit, membelai pelan tiap helai rambut panjang peraknya yang jatuh indah melampaui pinggang.

Lilin-lilin beraroma terapi memancarkan cahaya keemasan yang hangat, memantulkan bayangan wajahnya di cermin perak.

"Gila..." gumam Iris—ia memutuskan untuk menyebut dirinya Iris mulai sekarang—sambil menggeleng-gelengkan kepala. Matanya tak henti mengagumi pantulan diri di cermin. "Coba lu bayangin, wanita secantik ini, dengan kulit porselen bening glowing alami dan rambut perak berkilau bagai perhiasan berjalan begini... bisa-bisanya disia-siain sama suaminya? Apalagi gue yang dulu? Muka kusam akibat sering kena asap knalpot dan begadang ngerjain spreadsheet BUMC, makin degil nggak ada obat!"

Ia menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi berlapis bludru. Tangannya berganti meraba perutnya yang masih terasa datar.

"Mana nasib gue ngenes banget lagi," gerutusnya pelan. "Di dunia nyata jomblo akut dari lahir, boro-boro pacaran, ditembak cowok aja cuma pas masa orientasi siswa buat bahan taruhan. Baru juga keterima kerja, belum sebulan kena efisiensi PHK massal. Mati ditabrak tronton, eh... bangun-bangun malah nyasar jadi istri orang! Hamil muda pula!"

Iris menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Pipinya mendadak terasa panas bagai dibakar api.

"Aduh... pegangan tangan sama cowok aja nggak pernah secara romantis, ini malah udah mau jadi ibu. Masa gue langsung lewatin tahapan pacaran? Mana suaminya modelan pembantai berdarah dingin begini lagi!" pekiknya dalam bisikan yang tertahan, rasa malu dan absurd bercampur aduk di dalam dadanya.

Kruuukkk...

Suara nyaring dari perutnya memecah kesunyian malam. Iris menghentikan gerakannya, memegang perutnya yang mendadak terasa perih dan kosong.

"Duh, lapar lagi..." bisiknya. Ia melirik jam dinding kuno berukir yang menunjukkan pukul satu malam. "Tapi kok... tiba-tiba gue pengin banget makan puding mangga, ya? Manis, dingin, kenyal... aduh, bayanginnya aja ludah gue mau menetes."

Iris menoleh ke sudut ruangan. Di atas sofa panjang, Lisa—pelayanan setianya—tertidur lelap dengan selimut tipis membungkus tubuhnya. Gadis muda itu pasti sangat kelelahan setelah tiga hari berturut-turut menjaganya tanpa istirahat.

"Kasian Lisa kalau dibangunin cuma gara-gara gue ngidam jam satu malam," gumam Iris lirih. Ia bangkit berdiri dari kursi rias. "Apa gue cari sendiri aja ke dapur, ya? Harusnya dapur kastil sebesar ini punya persediaan buah atau makanan manis, kan?"

Dengan memantapkan hati, Iris berjalan pelan menuju pintu. Ia mengenakan gaun tidur sutra berwarna putih bersih dengan potongan melayang yang menyapu lantai marmer dingin. Rambut peraknya dibiarkan tergerai bebas, terurai indah di sepanjang punggungnya bagai jubah cahaya.

Ia mendorong pintu kayu ganda yang berat itu perlahan agar tidak menimbulkan suara decitan, lalu melangkah keluar.

Lorong kastil di malam hari terasa luar biasa megah sekaligus agak mengerikan. Dinding-dinding batu obsidian yang tinggi dihiasi oleh obor-obor dinding yang menyala remang-remang, menciptakan tarian bayangan yang panjang di sepanjang jalan.

Iris berjalan menyusuri koridor lantai dua dengan langkah hati-hati. Gaun tidurnya meliuk-liuk mengikut langkahnya. Meskipun dinginnya malam menembus kain sutranya, rasa penasaran dan decak kagum Iris terhadap bangunan klasik ini sedikit mengalihkan rasa takutnya.

"Gila, ini kastil beneran have-have banget yang punya," bisik Iris terkagum-kagum sembari memperhatikan setiap deretan zirah besi dekoratif yang berdiri gagah di sisi koridor. "Kalo ini dijual di dunia nyata, harganya bisa buat beli satu kabupaten kali, ya? Darian von Ravengard ini tajir melintir tapi sayang hatinya sekeras batu bata."

Langkahnya terhenti tepat di ujung lorong utama, di mana koridor bercabang dua. Matanya tertuju pada sebuah lukisan minyak raksasa berbingkai emas tebal yang terpajang megah di dinding utama.

Iris melangkah mendekat, mendongakkan kepala untuk mengamati lukisan itu lebih jelas.

Di dalam lukisan tersebut, digambarkan seorang pria gagah berbalut seragam militer hitam keemasan. Jubah panjang berwarna merah gelap melingkupi bahunya yang tegap. Pria itu memiliki garis rahang yang tegas, hidung mancung yang sempurna, serta mata berwarna kelabu tajam bagai mata pisau yang siap mengoyak siapa saja yang menatapnya. Ketampanannya sangat tidak masuk akal, namun aura dingin yang dipancarkan dari lukisan itu sanggup membuat bulu kuduk berdiri.

"Ck, ck, ck..." Iris menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ganteng sih ganteng, tapi raut mukanya datar banget kayak papan gilas. Kelihatan galak dan nggak punya perasaan. Tampan-tampan begini kelakuannya mirip banget sama atasan gue di BUMC dulu—muka rata, nggak pernah senyum, hobinya bikin orang kena mental."

Iris menghela napas, hendak berbalik mencari tangga menuju dapur. "Nggak heran si Iris asli stres hidup sama kanebo kering kayak gini—"

"Apa yang sedang kau rencanakan lagi malam ini, Iris?"

Sebuah suara bariton yang berat, dalam, dan teramat dingin tiba-tiba berbisik dari arah belakang tubuhnya, sangat dekat dengan telinganya.

Iris melonjak kaget, hampir saja melompat dari pijakannya. Jantungnya serasa mau copot dan melompat keluar dari dada. Dengan napas memburu, ia berbalik secara mendadak hingga gaun putihnya terkibar tajam.

Di depannya, berdiri sesosok pria tinggi besar yang seolah-olah baru saja melangkah keluar dari lukisan raksasa di dinding itu.

Pria itu mengenakan kemeja hitam yang lengannya tergulung hingga siku, memperlihatkan otot-otot lengan yang keras dan kuat. Bahunya lebar, mendominasi pandangan Iris yang harus mendongak cukup tinggi untuk menatap wajahnya. Mata berwarna kelabu tajam itu kini menatapnya lurus-lurus tanpa emosi—persis seperti mata serigala yang sedang mengawasi mangsanya di tengah malam.

Darian von Ravengard. Sang Grand Duke sekaligus Panglima Tertinggi Kekaisaran.

Aura keberadaan pria di depannya ini begitu menekan, jauh lebih intimidatif daripada yang ia bayangkan dari sekadar tulisan di novel.

Darian melangkah maju satu tapak. Sepatu boots kulitnya menghantam lantai marmer, menimbulkan suara benturan kaku yang menggema di lorong sepi.

"Kau baru saja bangun dari pingsanmu selama tiga hari," ucap Darian dengan suara bernada rendah, tak ada sedikit pun kehangatan di dalamnya. "Dan bukannya beristirahat di kamar, kau malah berkeliaran di lorong kastil dengan gaun tidur tipis di tengah malam... sambil bergumam sendiri di depan lukisanku?"

Mata kelabu Darian menyapu penampilan Iris dari atas ke bawah. Tatapannya tertahan sejenak pada rambut perak yang terurai bebas dan gaun putih tipis yang mencetak siluet tubuh wanita itu, sebelum akhirnya kembali menatap manik mata violet Iris yang bergetar panik.

"Katakan padaku," lanjut Darian dingin, memiringkan kepalanya sedikit. "Rencana kekanakan apa lagi yang sedang kau susun untuk menarik perhatianku kali ini, Grand Duchess?"

Alis Darian bertaut tipis. Ada kilatan terkejut yang sangat tipis di matanya saat mendengar nada bicara Iris yang tidak seperti biasanya—tidak ada getaran ketakutan, tidak ada nada merajuk yang menyebalkan.

****

Bersambung....

1
Yue Li MZy
Cerita sebagus dan sekeren ini jarang didapatkan,tapi sekali didapatkan langsung haitus kadang gak dilanjutkan ditengah ².semoga KA uthor melanjutkan cerita nya sampai ending
Heresnanaa_: hai Kaka, stay tune terus yaaaa😚😚🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!